
Darya pun meletakan Eril di atas pangkuan Zakia setelah Elin memberikan izinya, dan bocah kecil itu juga berjanji tidak akan menyakiti adik bayinya. Seolah Eril tahu bahwa yang memangkunya adalah sodara, bayi itu tersenyum dengan mata yang masih memejam dengan sempurna.
"Om, adek bayinya senyum, Dede bayi suka kalau Kia yang gendong," celoteh anak itu dengan terus mengusap-usap Eril dengan lembut. Cukup lama Kia memangku Eril hingga bayi itu yang merasa haus pun mulai tidak nyaman. Sedangkan Elin, seperti yang dikatakan dokter Eka, bahwa sakitnya memang sudah cukup parah. Keringat di keningnya menadakan bahwa wanita itu sedang merasakan kurang nyaman.
"Sayang, apa yang kamu rasakan, kenapa kening kamu berkeringat." Darya memberikan Eril pada Lexi dan wanita itu mengusap kening Elin, bahkan wajah wanita itu terlihat pucat.
Perasaan Lexi pun semakin tidak karuan, dan juga Eril seolah tahu bahwa wanita yang melahirkanya sedang tidak baik-baik saja sehingga bayi itu ikut menangis dengan nyaring.
Dokter pun langsung datang setelah Darya memanggilnya, bahkan Eric yang sedang berjalan menuju ruangan putrinya langsung berlari mengekor di belakang dokter.
"Mah, ini ada apa?" tanya Eric yang ikut panik dengan kehebohan ini.
Darya sendiri langsung menghambur di dalam pelukan Eric. "Elin tiba-tiba sesak nafas Pah, gimana kalau terjadi apa-apa." Darya terus merancau dengan keadaan Elin ia sangat cemas dan takut kalau semuanya akan terjadi hal yang sangat di takutkan.
Sementara Lucas sendiri yang baru duduk juga langsung tersentak kaget ketika dokter Eka menghampirinya dengan wajah yang terlihat panik.
"Lucas, Elin kondisinya memburuk sebaiknya kamu segera bicarakan pada istri kamu dan setelah itu temui saya." Tanpa menunggu lama dokter Eka langsung pergi meninggalkan Lucas yang masih mematung bingung. Namun tidak lama juga Lucas langsung tersentak sadar dengan apa yang dikatakan dokter Eka. Dengan langkah panjang Lucas langsung mengikuti dokter Eka yang ternyata menuju ke ruangan Elin.
Perasaan Lucas semakin tidak menentu setelah apa yang ia lihat. "Bagaimana kalau Elin tidak bisa bertahan, bagaimana kalau Elin menyerah dan dia belum di berikan kesempatan untuk meminta maaf?"
Pandangan Lucas langsung menangkap Jiara yang sedang menggendong putrinya, sementara Lexi berada di depan jendela melihat pemandangan istrinya yang sedang ditangani oleh dokter. Eril sendiri sudah kembali dibawa perawat ke ruangan bayi.
"Jia, apa kita bisa berbicara?" tanya Lucas dengan sangat berhati-hati. Sementara Jiara sendiri yang sedang panik dan ketakutan terkejut dengan suara Lucas yang tiba-tiba.
"Elin di dalam sana sedang drop, kesehatannya mwnurun," balas Jiara dengan pandangan mata yang tetap melihat ke dalam ruangan Elin.
__ADS_1
"Papah." Zakia merentangkan tanganya ingin berpindah dalam gendongan Lucas, dan Lucas pun langsung meraihnya dan memeluknya agar gadis itu jangan panik dan jangan cemas.
"Tante Elin, pasti akan baik-baik saja, Kia tidak boleh sedih yah," ucap Lucas dengan memeluk Zakia dengan damai. Zakia pun hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan meletakan kepalanya di dalam dekapan papahnya.
"Jia, kita bicara sebentar, ini semua demi kesembuhan Elin." Lucas menggandeng tangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya, mau tidak mau Jiara pun langsung mengikuti apa kata Lucas.
Lucas pun meminta Jiara duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan Elin. Jiara sendiri seperti kerbau yang dicocok hidungnya mau tidak mau harus mau mengikuti apa yang Lucas minta.
"Ini ada apa lagi sih Mas, kenapa kamu itu aku lihat sekarang-sekarang sangat jauh berbeda, kamu seperti orang yang sedang bingung dan sedang menutupi masalah," cecar Jiara langsung menatap Lucas dengan dalam.
"Yah, tebakan kamu memang selalu benar. Aku memang sedang ada masalah dan sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi mulai detik ini aku akan mengatakanya pada kamu, dan besar harapan aku kalau kamu itu akan mengizinkan apa yang akan aku ambil nanti keputusanya." Lucas menjeda sejenak apa yang akan dia katakan hal ini karena Zakia, dia harus memastikan kalau putrinya tidak tahu dengan apa yang ia katakan.
Ternyata semesta menjawab doanya. Kia langsung tertidur di dalam gendongan ayahnya. Cup... Lucas mencium pucuk kepala putrinya sebagai kekuatan untuk dirinya. Hanya Zakia yang membuatnya senyaman ini.
"Mas ini ada apa sih?" Jova kembali menyadarkan Lucas.
"Elin, dia sakit gagal hati dan aku berniat untuk mendonorkan hati aku yang sebagian untuk menutupi hati Elin yang rusak itu." Entah mendapatkan keberanian dari mana Lucas langsung lancar untuk membicarakaan apa yang sejak tadi rasanya sangat berat ia jabarkan.
Wanita berhijab panjang itu langsung tersentak kaget dengan apa yang Lucas katakan. Bahkan ia tidak sama sekali terpikirkan kalau Lucas akan melakukan itu semua.
"Apa resiko kalau kamu melakukan donor hati?" tanya Jiara dia juga tidak mau egois bilang jangan, sedangkan dia sendiri juga tahu dan bisa lihat kondisi Elin yang tidak baik-baik saja.
"Sebenarnya untuk pendonor kemungkinan untuk gagal hanya tiga puluh persen. berbeda dengan yang menerima akan ada penyesuaian organ baru yang tidak bisa lngsung bekerja, dengan kata lain organ baru yang baru dilakukan transplantasi akan ada penyesuian dan waktu penyesuaianya tergantung masing-msing organ, setamina tubuh dan kesamaan jaringan pada organ hati itu sendiri, serta akan ada kemungkinan organ tidak sejalan dalam kata lain akan ada penolakan organ dan itu bisa diartikan cangkok gagal." Lucas menghentikan ucapanya, membiarkan Jiara mengerti dulu apa yang akan Elin dan dirinya alami.
"Terus untuk pendonor berati aman?" tanya Jiara yang seolah tidak sabar untuk mendengarkan lanjutan dari yang Lucas katakan.
__ADS_1
"Meskipun kemungkinan gagal itu dibawah lima puluh persen, tetapi tidak bisa dipungkiri akan selalu berhasil, ada kemungkinan gagal, meskipun kecil, bisa juga organ hati yang diambil tidak berkembang lagi atau tidak tumbuh lagi seperti seharusnya yang terjadi pada hati apabila ada kerusakan pasti akan tumbuh memperbaiki jaringan yang rusak tetapi bisa saja tidak seperti itu tetapi biasanya itu terjadi karena virus seperti hepatitis, maka dari itu kita sebelum melakukan donor harus memastikan tidak ada virus yang menyerang liver atau hati. Atau ada pendarahan di meja operasi pada saat operasi terjadi, bisa dari kesalahan dokter atau justru fisik pasien yang tiba-tiba drop. Tetapi kemungkinan itu hanya kecil. Aku hanya ingin meminta izin pada kamu untuk menebus kesalahan aku pada Elin dengan memberikan hati aku yang sebagian untuk Elin karena besar kemungkinan jaringan organ tubuh kita pasti sama mengingat kita kembar sehingga proses penyembuhan Elin akan lebih cepat dan lebih besar kemungkinan besar hati kita cocok. Aku ingin kalau kamu mengizinkanya, untuk kesembuhan Elin, dan kamu doa kan agar prosesnya lancar."
Wanita berhijab panjang itu hanya diam, air matanya jatuh membayangkan hal buruk akan terjadi pada suaminya. Tetapi dia juga tidak bisa melarang karena Elin membutuhkan bantuan Lucas.
"Tapi kamu janji, kamu akan baik-baik saja untuk Kia, dan...(Ucapan Jiara terjeda karena ragu) dan untuk aku yang sudah berjuang melawan rasa marah kamu, rasa kecewa yang telah kamu perbuat dan bukanya seharusnya kamu menghargai perjuangan aku," isak Jiara tidak bisa ia menyerahkan Lucas begitu saja sedangkan hampir tiap malam dia berdoa pada Tuhan, agar dia bisa memaafkan Lucas, agar dia bisa melupakan masa lalunya yang buruk.
Namun, kenapa ketika dirinya sudah berdamai dengan masa lalunya, Lucas justru pergi itu yang memuat sesak Jiara saat ini, ia terlalu takut kalau Lucas akan pergi meninggalkanya.
"Aku janji akan tetap baik-baik saja untuk kamu. Aku akan menebus semua kejahatan yang telah aku perbuat sama kamu. Aku akan buat kesedihan kamu setelah malam terlarang itu menjadi kebahagiaan yang abadi." Lucas menggenggam tangan Jiara, biasanya wanita itu akan menariknya karena tidak nyaman di pegang oleh Lucas apalagi di tempat umum, tetapi kali ini Jiara hanya bisa diam saja dengan apa yang Lucas lakukan.
"Izinkan aku membahagiakan kalian. Aku berjanji pada kamu dan pada Zakia. (Mata Lucas menatap pada buah hatinya yang sedang pulas tertidur di dalam pangkuanya) Aku berjanji kalau aku kan memberikan kebahagiaan yang abadi. Kalian sumber kebahagian aku." Lucas mencium punggung tangan Jiara berkali-kali hingga Jiara tidak bisa lagi menahan tangisanya. Wanita itu bisa menjadi wanita yang sangat kuat dan tegar, tetapi bisa jadi wanita yang sangat melow seperti saat ini.
"Bulan depan Zakia ulang tahun, dia sudah meminta ingin merayakan ulang tahunya di pesantren Abu dan Abah, saya juga sudah mengatakan kesanggupanya. Kamu harus berjanji kalau semuanya baik-baik saja dan bisa berkumpul di acara yang Zakia tunggu tunggu."
Lucas teriris kembali hatinya dan itu tandanya ia sudah membuat Jiara menderita selama empat tahun, dan ini adalah waktu dia untuk membuktikan kalau dia harus memberikan bahagia kedepanya. "Iya aku janji akan sehat dan sembuh untuk Kia dan kamu."
"Kamu juga masih punya hutang pada Zakia untuk mengajaak jalan-jalan ke kebun binatang, anak kita selalu menunggu kamu menepati janjinya. Tolong jangan buat dia bersedih, karena kamu tidak bisa menepati janji-janji kamu. Untuk kamu mungkin ini adalah hal yang biasa, tetapi untuk Zakia kalau kamu menepati janjinya maka dia akan bahagia sepanjang hidupnya. Kenangan itu akan terekam dalam memori-nya dengan ingatan yang kuat selama hidupnya."
Serrr... Darah Lucas seolah mengalir dengar deras. Ketika mendengar untuk pertama kalinya Jiara menyebut Zakia 'anak kita', memang ucapan itu sepele, tetapi mampu membuat Lucas bersemangat.
"Kalau gitu aku akan segera ke ruangan dokter Eka, untuk melakukan pemeriksaan agar Elin segera mendapatkan penanganan," ucap Lucas, ia juga menghemat waktu dan perasaan karena kalau terus-terusan dekat dengan Jiara dia akan terus berat untuk meninggalkanya.
"Apa aku boleh menemani kamu untuk ikut melakukan pemeriksaan, untuk memberikaan dukungan," balas Jiara dengan suara yang lirih.
Lucas pun langsung mengembangkan senyumnya dan hatinya serasa damai. "Aku akan lebih semangat untuk sembuh." Lucas segera beranjak dari duduknya dan mengulurkan tanganya untuk meraih Jiara. Wanita berhijab itu pun langsung bangkit dan menggandengkan tangan suaminya dengan senyum tebaiknya.
__ADS_1
"Ya Tuhan jangan biarkan aku pergi, biarkan aku menebus semua kesalahanku pada istri dan putriku dulu."