
Jam operasi masih terus bergulir bahkan sudah melebihi yang dokter katakan, padahal dokter Eka hanya mengatakan bahwa yang terjadi pada Elin dan juga Lucas paling hanya berlangsung paling lama hanya dua belas jam, tetapi pada kenyataanya sudah lebih dari jam delapan pagi belum ada tanda-tanda operasi selesai.
"Arya bukanya kamu dokter, kira-kira apa yang terjadi dengan Elin dan Lucas kenapa proses operasi bisa selama ini?" Eric langsung menodong pada Arya atas apa yang kira-kira terjadi pada putranya.
Wajah tiga laki-laki itu sudah sangat kusut semalaman mereka tidak tertidur sama sekali, terus melantunkan doa-doa, agar semuanya baik-baik saja.
Arya yang sedang menundukkan kepala dan fokus pada Dzikirnya. "Arya tidak tahu Om, Arya pun sedang kefikiran apa yang terjadi, dan mudah-mudahan saja mereka tidak terkena gangguan ataupun mengalami apa-apa." Arya lebih baik menjawab tidak tahu dari pada nanti malah menambah beban pikira pada Eric dan Lexi.
Dengan adanya kejadian ini Eric pun bisa menyimpulkan bahwa Lexi memang benar-benar bertaubat, benar-benar menujukan perubahanya. Itu bisa Eric lihat dari kecemasanya, sangat terlihat sekali kalau laki-laki yang menjadi ayah dari Eril itu sangat mencemaskan Elin dan juga Lucas.
Tepat pukul sembilan lampu indikator di ruang operasi pun sudah mati dan itu tandanya Elin dan Lucas sudah selesai dalam menjalankan operasinya.
"Alhamdulillah yan Allah, semoga apa yang mereka lakukan berhasil." Doa Eric dan di Aminkan oleh tiga laki-laki yang tidak kalah bahagia dari dirinya.
Seorang dokter yang menjadi pengganti dokter Eka pun datang, menghampiri Eric, Lexi dan Arya. Dengan perasaan yang berkecamuk Eric dan yang lainya pun datang untuk mendengarkan apa yang terjadi dengan Elin dan Lucas tidak hanya itu mereka juga ingin mengetahui bagaimana kondisi Elin dan Lucas paska operasi.
"Dok, bagaimana kondisi putra putri saya?" tanya Eric dengan suara bergetar dan juga suara yang setengah terbata.
Sang dokter menghela nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Eric. "Kondisi Elin saat ini bisa di bilang baik, tinggal menunggu hasil akhir saat ini di ruang recovery, untuk memulihkan alat-alat vital dan menunggu pasien sadar dari pengaruh obat anestesi, dan apabila semuanya ok tiga jam bisa kurang bisa lebih mulai bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa. Dan tinggal pemulihan yang akan di pantau langsung oleh dokter Eka."
"Lalu Lucas bagaimana Dok? Putra saya baik-baik saja kan?" tanya Eric tidak kalah cemas setelah mengetahui kondisi Elin dan bisa bernafas lega, kini tinggal kondisi Lucas yang sepertinya kurang beruntung dari kondisi Elin.
"Untuk pendonor, tadi sempat ada henti jantung dan masalah medis yang lainya, itu sebabnya operasi cukup memakan waktu yang lama, tetapi untuk saat ini Jantung dan alat vital pendonor sudah kembali bekerja dengan baik, tetapi untuk pemulihanya sepertinya akan lebih lama, dan mudah-mudahan efek operasi tidak membahayakan organ vital lainya, karena kondisi pendonor yang sebenarnya kurang baik, tetapi memaksakan diri sehingga resikonya cukup berat, tetapi mudah-mudahan dia bisa bertahan dengan hati yang setengah itu dan organ hati merespon untuk tumbuh kembali. Itu yang kami takutkan, dan akan kami pantau sampai satu minngu ke depan, dan jangan sampai Elin bisa sembuh dengan donor hati ini, justru Lucas gagal untuk berkembang lagi hatinya, tetapi kalau tidak ada virus hepatitis, tetap bisa bertahan dengan liver yang separuh, tetapi resikonya cukup tinggi dan akan membuat sakit Lucas juga." Dokter Handoko pun menjelaskan dengan pelan dan jukup detail dengan kondisi Lucas.
Wajah Eric sudah berubah semakin pucat. "Apa kira-kira hal teruburuk pada putra saya Dok?"
"Teruburuknya pasti kematian, tetapi kami akan berusaha yang terbaik."
__ADS_1
"Tolong kami Dok, tolong berikan yang terbaik untuk putra saya." Eric bahkan hendak bersimpuh di kaki dokter Handoko tetapi buru-buru ditahanya.
"Om, jangan begini, kita pasrahkan saja pada Tuhan apa pun yang terjadi pada Lucas pasti sudah jalan yang terbaik untuk kita." Arya mencoba menenangkan Eric, agar tidak terlalu panik.
"Tapi bagaimana kalau ternyata Lucas tidak bisa bertahan. Sedangkan om saja belum bisa membahagiakan Lucas. om ingin memberikan kebahagiaan yang sama dengan Elin."
"Iya Om, Arya paham betul apa yang Om rasakan dan Arya juga berharap kalau Lucas akan sembuh, kasihan Jiara dan Kia apabila dia menyerah." Arya mengusap-usap punggung Eric, sementara Lexi, memilih pergi menemui putranya. Eric sudah ada Arya yang mencoba menenangkanya. Tidak dipungkiri Lexi sangat bahagia ketika mendengar berita bahagia ini, tetapi dia juga sedih ketika mendengar kabar dari dokter Handoko mengenai kabar Lucas. Dokter Handoko sendiri langsung kembali dengan pekerjaannya.
Setelah meminta izin dari perawat akhirnya Lexi bisa menggendong putranya, yang kali ini sedang bangun.
"Hay Eril, maafkan papah baru datang ke ruangan kamu. Maaf papah terlalu cemas dengan kondisi Bunda kamu sampai papah lupa bahwa papah masih punya kekuatan yang lain. Eril, papah hanya ingin mengabarkan kalau operasi yang dijalani oleh Bunda, dokter katakan kemungkinan untuk berhasil cukup besar itu tandanya kita bisa berkumpul dengan Bunda, tapi kabar kurang enak justru datang dari Om Lucas saat ini kondisinya berbanding terbalik dengan Bunda. Eril, papah minta kamu doakan Om Lucas yah biar Om bangun dan sehat kembali nanti kita akan main bersama," racau Lexi pada buah hatinya yang belum tentu paham dengan apa yang dia maksud.
Namun, bayi usia dua hari itu seolah tahu apa yang dikatakan oleh laki-laki yang menjadi ayah kandungnya. Eril terus menatap Lexi dengan bibir gerak-gerak seolah bayi itu akan merespon apa yang dikatakan oleh Lexi. Padangan mata bayi itu juga tidak berkedip dari Lexi dan tidak rewel dalam gendongan papahnya.
"Sayang, kamu pintar sekali. Apa kamu paham dengan apa yang papah katakan?" Lexi terus menciumin pipi Eril yang sangat mirip dengan dirinya. Terserah orang mengatkan kalau Eril mirip dengan Elin, tetapi tidak kata Lexi. Eril tetap mirip dengan papahnya.
*******
Di rumah mewah Philip, pagi-pagi semakin heboh setelah perawat Philip mengatakan bahwa tuanya kondisinya drop dan bahkan tidak sadarkan diri. Darya yang baru bangun pun langsung belari menemui sang papah.
"Pah, kenapa Papah ikut-ikut sakit, Papah jangan sakit ingat Elin dan Lucas sedang berjuang untuk tetap hidup. Papah harus kuat dan lihat mereka sudah saling memaafkan itu kan yang Papah inginkan." Darya terus meracau ketika tubuh Philip saja sudah tidak bisa merespon apa-apa.
"Nyonya, kami akan segera membawa Tuan Philip ke rumah sakit," ucap salah seorang perawatnya.
"Apa Papah akan baik-baik saja?" Darya menatap perawat yang ditugaskan untuk menjaga Philip dua puluh empat jam.
"Kita berdoa saja yah Nyoyah, kalau Tuan Philip bisa melewati masa-masa sulit ini."
__ADS_1
Darya pun minggir dengan tubuh yng lemas. "Pah, Papah bertahan yah, Papah harus tahu kalau cucu-cucu Papah hidup bahagia dan saling memaafkan atas kesalah mereka. Papah harus tahu bagaimana bahagia keluarga Ely."
Darya pun tidak kuasa melihat papahnya di bawa dengan ambulance ke rumah sakit, wanita paruh baya itu terisak, hingga Jiara yang baru bangun dan hendak membuatkan susu untuk Zakia pun kaget ketika di lantai bawah ada kegaduhan. Wanita berhijab itu kembali masuk ke dalam kamar dan menggendong putrinya yang baru bangun tidur. Hingga Zakia pun kebingungan.
"Bunda... Bunda kenapa?" celoteh Zakia dengan suara yang serak.
"Bunda tidak tahu Sayang, tetapi kayaknya terjadi sesuatu dengan Eyang, kita lihat yah," balas Jiara dengan kaki perlahan menuruni anak tangga.
Perasaan Jiara sudah tidak enak ketika ia melihat kalau mamih mertuanya dipapah (Tuntun) menuju korsi di ruang tamu dengan tubuh yang lemah.
"Mah, ini ada apa?" tanya Jiara yang duduk di samping Darya dengan menggendong Zakia yang juga nampak bingung dengan keadaan omanya.
"Jia... Papah pingsan dan tidak sadarkan diri saat ini di bawa ke rumah sakit. Jia, mamah takut kalau kakek kamu terjadi apa-apa Papah belum melihat Elin dan Lucas berdmai." Tangis Darya pun pecah ketika ia kembali mengingat kalau keinginan papahnya selama ini adalah Elin dan Lucas dapat berbaikan, karena selamaa ini Philip sudah dilanda perasaan bersalah.
Jiara pun langsung memeluk tubuh mamih mertuanya dan mengusapnya dengan pelan dan hangat punggung wanita paruh baya itu, untuk memberikan kekuatan. Zakia yang bingung pun hanya bisa diam bocah itu sudah dilatih untuk tidak bertanya apabila dalam situasi yang kurang memungkinkan. Dan kali ini dia pun mempraktekan apa yang Jiara ajarkan, dan dia akan bertanya ketika suasana sudah kondusif.
"Mamah, yang sabar yah, keluarga kita sedang diuji, tetapi Mamah harus tahu ujian datang ketika kita akan naik kelas. Mamah harus percaya bahwa akan ada pelangi yang indah setelah badai yang datang. Semuanya akan baik-baik saja. Kita berdoa bareng-bareng yah."
Darya pun mengangguk dan kembali melafalkan doa untuk papahnya.
"Kalau gitu kita siap-siap Mah, Kita harus susul Kakek, dan juga lihat kondisi Elin dan Lucas, seharusnya mereka sudah selesai menjalani operasi. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan." Jiara pun membantu mamih mertuanya bangun dan mengantarkanya ke kamar di lantai bawah berdekatan dengan Elin, sebentara Jiara sendiri berada di lantai atas seorang diri. Eh ada bebera pekerja rumah yang kamarnya ada di lantai atas ko jadi tidak horor.
"Bunda, Oma kenapa nangis?" tanya Zakia ketika sang Bunda sudah kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih dan akan kembali ke rumah sakit, bahkan Jiara harus minum obat tidur untuk bisa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah tetapi pikiranya masih melayang-layang memikirkan suami dan adik iparnya.
"Oma hanya sedih, Eyang sedang sakit, jadi sekarang Kia mandi yah nanti kita ke rumah sakit sekalian lihat Tante Elin, dan Papah juga. Kia harus berdoa terus agar Papah cepat sembuh," Jiara tidak lupa mengajarkan agar Zakia terus mendoakan papahnya yang saat ini berjuang untuk kesembuhanya.
"Siap Bunda, Kia akan doakan Papah, Eyang dan Tante Elin agar cepat sembuh. Yeh, Kia akan beltemu Papah." Zakia pun berjingkrak-jingkar di atas kasur karena terlalu bahagia akan bertemu papahnya.
__ADS_1
Jiara kembali mengembangkan senyum bahagianya melihat kehebohan buah hati tercinta.