
Lexi pun berjalan menuju sofa setelah tahu bahwa Elin sudah tidur dengan meringkuk, kedua tanganya mere-mas perutnya. Sangat mirip sepert kucing kampung seperti yang selalu Lexi sebut pada dirinya.
Pandangan Lexi pun terus menatap pada Elin yang sangat meprihatinkan. Sementara itu Arya dan yang lain panik ketika ia tahu bahwa Elin tidak datang menemui Zakia.
"Apa kalian yakin Jiara, kalau Elin tidak datang hari ini?" tanya Arya sekali lagi. Sangat tidak mungkin, jelas-jelas ia datang bersama Elin. Pikiran Arya langsung tertuju pada ucapan Lucas kalau sasaran pembunuhan Tamara adalah kemungkinan besar bukan Tamara.
Seketika tubuh Arya langsung menegang ketika ia membayangkan bahwa Elin akan kembali mengalami kekerasan.
"Tidak Dok, iyakan Zakia, tante Elin tidak datang hari ini?" tanya Jiara pada putrinya, di mana anak-anak biasanya kalau berbicara pasti akan jujur, tidak mungkin dia berbohong.
"Iya Om, Tante Elin tidak datang ke sini," jawab Zakia memastikan bahwa apa yang diucapkan oleh bundanya memang benar adanya.
"Jiara, coba kamu bantu hubungin Elin! Tetapi jangan beri tahu Tante dan Om dulu kita cari saja sendiri dulu, aku tidak mau kalau mereka akan ikutan panik," ucap Arya. Saking cemasnya Arya sampai perutnya mulas.
Baik Jiara maupun Arya pun menghubungi Elin. Arya bahkan bingung mau tanya kesiapa sedangkan setahu Arya, Elin tidak ada teman untuk curhat. Selain Jiara dan juga Marni, dan Marni sendiri masih tugas, ia barusan sebelum ke kantin lebih dulu menemui kekasihnya, dan tidak ada Elin di sana.
Niatnya Arya akan melihat perkembangan Zakia, dan tentu ia akan pulang nantinya ke rumah keluarga Philip. Namun bukanya melihat kondisi Zakia, laki-laki itu justru diberi kejutan oleh Elin yang ternyata tidak ada di ruangan Zakia.
Kembali ke ruangan Elin....
Elin yang sedang tidur pun cukup terkejut dengan suara ponselnya. Dengan mata yang masih berat Elin pun meanatp Lexi yang sedang bermain ponsel di sofa. Eh bukan bermain ponsel, lebih tepatnya bertukar kabar dengan orang-orang suruhannya yang mencari tahu tentang kasus Lucas.
"Ponsel kamu bunyi!" lirih Lexi.
"Iya, bisa minta tolong ambilkan!" balas Elin dengan suara yang serak, karena baru bangun tidur. Tanpa menjawab Lexi pun langsung bangun dan mengambil tas Elin.
"Terima kasih," lirih Elin dengan suara yang pelan. Lexi hanya membalas dengan anggukan kepala, dan dia kembali menuju sofa untuk bermain dengan ponselnya kembali.
[Elin kamu ada di mana? Arya tadi bilang kalau kamu ke sini mau bertemu dengan Kia, tapi kenapa tidak ada ke sini?] cecar Jiara dari sebrang telponya.
__ADS_1
[Iya maaf Kak, aku tadi balik lagi ke rumah lama dan sekarang baru bangun tidur.] jawab Elin, terkesan tidak masuk akal alasanya, tetapi dia tidak tahu harus mencari alasan apa lagi. Dan Elin berharap dengan alasanya itu Jiara dan Arya percaya.
Arya yang tahu kalau Jiara sedang berkomunikasi dengan Elin pun langsung mengambil alin ponsel Jiara.
[Elin, kamu di mana sebenarnya? Kenapa kamu bikin aku cemas?] tanya Arya dengan nada bicara yang terlihat sangat cemas.
[Maaf Dok, Elin baik-baik saja, Elin secepatnya akan pulang ke rumah Kakek,] jawab Elin, ia sangat merasa bersalah karena dirinya Arya dan Jiara sampai cemas. Elin tahu dari nada bicara Arya dan Jiara sudah sangat cemas.
[Tidak perlu, kamu katakan ada di mana, biar aku jemput. Aku tidak percaya kalau kamu ada di rumah lama kamu. Katakan ada di mana aku akan datang menemui kamu,] potong Arya, gimana dia bisa tenang sedangkan alasan yang Elin itu sangat tidak masuk akal.
[Tidak usah Dok, Elin baik-baik saja, Elin hanya butuh sendiri dan secepatnya Elin akan pulang,] Ketika Arya dengan keras menekan di mana Elin berada, Elin dengan keras juga tidak mau kalau Arya tahu kondisinya.
Terdengar hembusan nafas kasar dari balik telefon Elin.
[Baiklah aku tidak akan memaksa kamu, tetapi aku bisa lihat kondisi kamu saat ini? Kenapa aku merasa kalau kamu ini sedang menyembunyikan sesuatu,] tanya Arya sekali lagi.
[Saya akan segera pulang Dok, dan saya tidak akan membuat Anda cemas lagi, saya benjanji kalau ini terakhir kalinya saya membuat Anda cemas,] Tanpa menunggu jawaban, Elin menutup sambungan teleponya. Elin akui untuk berbohong dari Arya memang sangat sulit, yang terpenting Arya dan Jiara sudah tidak terlalu cemas dengan kondisi Elin. Karena Elin sudah mengangkat telpon mereka.
Elin menatap Lexi yang sedang bekerja menyelidiki kasus Lucas dari ponselnya. Memang ia tidak turun tangan untuk menyelidiki langsung, tetapi orang-orangnya profesional dan terpilih sehingga Lexi tidak harus mengotori tanganya maka ia akan menemukan siapa pelaku pembunuh sesungguhnya pada Tamara.
"Apa yang barusan telpon adalah Arya?" tanya Lexi tanpa memalingkan pandanganya dari ponselnya.
"Aku ingin pulang sekarang, karena keluarga aku sudah mulai curiga dengan kepergian aku yang terlalu lama," ucap Elin tanpa menjawab pertanyaan Lexi.
Lexi membuang nafasnya kasar, dan mematikan ponselnya, lalu meletakanya ke dalam saku celananya.
"Tunggu di sini aku akan urus semuanya," balas Lexi pada akhirya laki-laki itu mengalah juga. Yah, lagi-lagi Lexi melihat diri Lucas di diri Elin, sifat yang sama seolah mereka adalah satu kesatuan.
"Heran sifatnya sangat mirip dengan Lucas," gerundel Lexi meskipun bukan hanya sifatnya yang sangat mirip dengan Lucas, tetapi juga wajahnya yang sangat persis dengan temanya itu. Lexi dan Lucas sudah kenal belasan tahun sehingga ia sudah sangat dekat, dan tahu persis sifatnya, dan itu sangat mirip dengan Elin.
__ADS_1
Lexi pun mengurus kepulangan Elin, dengan memberikan janji dan juga alasan bahwa Elin akan melakukan perawatan di rumah sakit lain, dan ia pun harus membuat surat pernyatan. Cukup lama Lexi mengurus kepulangan Elin, yang kondisinya belum setabil betul, tetapi dasar Elin yang keras kepala sehingga ia tetap ingin pulang saat ini juga.
Di tempat lain.
"Apa yang Elin katakan?" tanya Jiara kepo, terlebih raut wajah Arya itu masih terlihat sangat cemas.
"Elin, kekeh tidak mau mengatakan dia berada di mana, tetapi aku justru curiga kalau Elin itu sedang menyembunyikan sesuatu. Aku curiga Elin sedang sakit. Apalagi dia juga tidak mau memeriksakan diri ke dokter selama hamil. Setiap diberitahu agar periksa, dia akan bilang kalau di baik-baik saja. Aneh banget kan?" lirih Arya.
"Apa mungkin terjadi sesuatu dengan kandunganya?" tanya Jiara yang mana dia juga penasaran dengan yang terjadi pada adik iparnya. Meskipun ia sendiri dulu waktu hamil Zakia melakukan hal yang sama tidak mau periksa.
jiara sebenarnya tahu berada di posisi Elin karena sebelumnya ia mengalami hal yang sama. Hamil karena korban pemerkosaan itu sangat-sangat tertekan. Jangankan ingin menjaga bayinya dengan memeriksakan diri, bahkan kalau do'anya dikabulkan ia memintanya anaknya di ambil saja oleh-Nya.
Arya menggedikan bahunya, "Entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi pada dia sebenarnya, tetapi aku akan tetap mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan Elin."
"Iya Dok, kasihan kalau dia menderia terus, sudah saatnya Elin bahagia." Jiara pun setuju dengan masukan dari Arya itu.
"Yah aku tahu, maka dari itu kamu bantu aku untuk mencari kebenaran itu, dan kamu juga bantu yah, mungkin saja dia sesama wanita mau bercerita," lirih Arya, tetapi sangat disayangkan oleh Jiara, kalau Elin juga orangnya cukup tertutup kalau bukan yang terlalu penting maka dia akan menutup diri. Yah, Arya pun akui Elin memang lebih pendiam.
*****
"Gimana boleh pulang kan?" tanya Elin, dengan wajah yang terlihat sekali cemas, mungkin sepanjang Lexi menemui dokter dia juga berdoa agar usaha Elin dan Lexi tidak sia-sia.
"Berhasil, tapi setelah dipaksa, dan aku menanda tangani surat pernyatan kalau aku tidak akan menuntut apabila terjadi sesuatu dengan kamu," ucap Lexi dengan ketus.
"Maaf kalau aku justru membuat kamu kesal," ujar Elin, dengan tatapan yang serius.
"Lupakanlah, aku ikhlas membantu kamu, bahkan kalau orang tua kamu butuh kesakian, aku siap mengatakn apa yang kamu sembunyikan dari mereka."
Sontak wajah Elin langsung berubah. "Kamu jangan macam-macam yah!!!"
__ADS_1