Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Akhir Kelompok Rantai Besi


__ADS_3

Ho Chen tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dia segera menaiki Pedangnya dan terbang menyusul Gou Shen yang sudah kehilangan satu lenganya.


“Adik..!!" Gou Shen membalikan tubuh adiknya yang terbaring di tanah.


Gou Yang tewas, seluruh tulang di tubuhnya sudah banyak yang patah akibat di putar dan di banting oleh pusaran Angin milik Ho Chen.


Gou Shen sangat terpukul melihat adiknya yang sudah tidak bernyawa. Dia menggenggam erat tangan adiknya tersebut. “Adik, maafkan aku, ini semua salahku! Andai aku tidak bertindak gegabah mungkin hal ini tidak akan terjadi!." Kata Gou Shen.


Ho Chen melihat Gou Shen dari atas, awalnya dia ingin langsung membunuh Gou Shen, ketika dia melihat Gou Shen yang begitu kehilangan atas kematian adiknya, Ho Chen mengurungkan niatnya.


Ho Chen turun dan mendarat di hadapan Gou Shen yang masih meratapi jasad adiknya tersebut.


“Sebaiknya kau membunuhku sekarang! Percuma aku hidup saat ini, karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi" Gou Shen berbicara dengan nada putus asa.


Ho Chen mengerti maksud perkataan Gou Shen. Gou Shen merasa tidak ada gunanya dia hidup. Jika dia masih hidup, maka hanya penderitaan dan kesepian yang akan ia rasakan.


Ho Chen menarik nafas panjang. “Orang akan kesepian jika hanya menyendiri dan hanya mementingkan diri sendiri! Jika orang tersebut mau keluar dan berbaur dengan banyak orang maka dia pasti akan memiliki banyak teman bahkan sauadara."


Gou Shen menatap Ho Chen sesaat. “Tidak akan ada orang yang mau menerima ku! Aku sudah terlanjur berbuat kejahatn di berbagai tempat, menurutmu siapa orang bodoh yang mau menerima penjahat sepertiku?." Kata Gou Shen sambil bertanya.


“Apa sekarang kamu menyesali semua perbuatan mu?." Ho Chen malah balik bertanya.


Gou Shen meletakkan tubuh adiknya, kemudian berdiri di depan Ho Chen sambil memegang luka lengannya yang terpotong. “Menyesal..? Kalau sekarang aku menyesal itu percuma!." Kata Gou Shen dengan terswnyum kecut.


“Ingatlah! tidak ada kata terlambat jika kau memperbaiki kesalahanmu.! Jika kau mau berubah, pasti akan banyak orang yang akan menerima keberadaan mu." Ucap Ho Chen.


“Sepertinya kau tidak berniat untuk membunuhku! Kenapa? Dan apa alasanmu?." Tanya Gou Shen.


Ho Chen tersenyum. “Aku tidak akan membunuh orang yang masih memiliki harapan untuk memperbaiki kesalahannya yang pernah di lakukan di masa lalu."


“Apa kamu tidak hawatir jika nantinya aku tidak berubah?." Tanya lagi Gou Shen.


“Apa yang perlu aku hawatirkan, jika memang kamu masih berbuat hal yang sama, aku hanya tinggal membunuhmu." Kata Ho Chen dengan tatapan sedikit dingin.


“Aku tidak Akan melupakan kebaikanmu yang telah memberiku kesempatan untuk hidup! Namaku Gou Shen..!" Kata Gou Shen memperkenalkan diri sambil membungkuk.


Ho Chen mendekatinya lalu menyentuh pundak Gou Shen dan mengalirkan energinya.

__ADS_1


Gou Shen bisa merasakan energi yang begitu dingin mengalir kedalam tubuhnya. “Ini...!!." Gou Shen merasakan luka lengannya perlahan-lahan tertutup walau lengannya tidak kembali namun Gou Shen sudah tidak merasakan sakit lagi.


“Terima kasih! Aku belum mengetahui namamu anak muda!." Kata Gou Shen setelah lukanya sudah pulih.


“Panggil saja aku Ho. Sekarang kamu bisa pergi dari sini..!." Kata Ho Chen, yang hanya menyebutkan nama marga nya saja.


“Baiklah aku akan pergi..!." Kata Gou Shen dan mendekati jasad adiknya.


“Kamu tidak usah membawanya, biar aku yang akan memakamkannya dengan layak. Jika suatu hari kamu ingin mengunjunginya, kamu bisa kesini." Kata Ho Chen.


“Tidak aku akan membawanya pulang dan akan menguburnya di tempat keluarga kami." Kata Gou Shen menolak tawaran Ho Chen.


Ho Chen tidak memaksanya lagi, Ho Chen membantu mengangkat jasad Gou Yang, dan meletakkannya di atas kuda milik Gou Shen. Kemudian Gou Shen pergi meninggalkan Desa Lujhu.


Ho Chen terus memandang Gou Shen yang mulai hilang di kejauhan. “Semoga dia benar-benar mau berubah..!." Kata Ho Chen sambil menghela nafas.


Semua warga keluar setelah pertempuran selesai, banyak tanah yang berlubang akibat pertempuran tersebut, dan yang lebih parah adalah jalan utamanya yang rusak sangat parah akibat pusaran angin milik Ho Chen.


Untungnya rumah para penduduk letaknya sedikit jauh dari tempat pertempuran, jadi tidak terlalu terkena dampak pertempuran itu.


Ho Chen berjalan menuju ke tempat mereka yang sedang berkumpul. Selauruh warga segera menyambut Ho Chen, banyak yang mengucapakan rasa terima kasihnya kepada Ho Chen dan Ho Chen hanya membalas dengan senyum canggung.


Gui Fujian baru tiba dan langsung menemui Ho Chen. “Saudara Chen! Kamu sungguh hebat bisa melawan mereka semua sendirian..!." Kata Gui Fujian dengan terkagum-kagum.


“Saudara Gui.! Aku ini belum ada apa-apanya jika di bandingkan kakak Rui!." Kata Ho Chen sambil melirik ke arah Jiu Rui yang juga datang bersama Gui Fujian.


Jiu Rui hanya tersenyum kecut dan tidak berkata apa-apa. “Benar juga! Jika adiknya saja sudah sehebat ini, bagaimana dengan kakaknya? Pasti lebih hebat lagi..!" Kata Gui Fujian yang mulai mengagumi Jiu Rui.


Kepala desa juga datang dan menemui Ho Chen. “Pendekar nama saya Qiong Li, saya kepala desa ini. Sebagai kepala desa saya ucapkan terima kasih karena pendekar sudah membantu desa kami dari para kelompok itu." Kata Qiong Li.


“Tuan Li tidak tidak perlu berterima kasih pada saya, ini sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu sesama.." kata Ho Chen.


“Pendekar! Bagaimana dengan Kelompok Rantai Besi? Apa mereka semua sudah mati?." Tanya Qiong Li sambil memandangi ratusan mayat anggota Rantai Besi yang terbaring.


“Tuan Li tidak usah hawatir, ini sudah menjadi akhir dari kelompok Rantai Besi, karena kelompok mereka sudah lenyap. Jadi kalian bisa menjalani hidup kalian dengan tenang." Kata Ho Chen.


Mereka semua bersorak gembira setelah mendengar kelompok Rantai Besi sudah lenyap. Kemudian segera mengumpulkan para jenasah untuk di makamkan.

__ADS_1


Ho Chen kembali ke rumah Gui Fujian dan beristirahat sambil meditasi, memulihkan energinya yang sedikit terkuras setelah bertarung dengan Gou Yang.


Berbeda dengan Ho Chen, Jiu Rui sibuk sendiri di depan. Banyak orang yang ingin bertemu dengan-nya. Gui Fujian menceritakan kepada para warga jika Jiu Rui juga lebih hebat lagi dari Ho Chen.


Karena itu banyak warga yang berbondong-bondong ingin melihat sosok Jiu Rui yang di kabarkan lebih hebat dari Ho Chen.


***


***Catatan Author.


Sebelumnya saya minta maaf,


saya membaca beberapa komentar yang membuat saya hampir menghentikan cerita ini.


Saya sadar jika novel saya jauh dari kata menarik, dan tidak terlalu bagus.


banyak cerita-cerita yang mungkin tidak memuaskan para pembaca, karena saya sadar jika saya masih banyak kekurangannya.


sesuai yang saya katakan dari awal, saya hanya membuat cerita ini sebagai hiburan, dan berharap bisa menghibur para pembaca.


saya tidak akan memaksa para pembaca untuk memberikan Like, vote poin/koin. kalau kalian berpikir saya menulis ini hanya demi receh, maaf!! saya tidak berpikir sampai kesitu.


sekali lagi maaf jika cerita ini tidak memuaskan kalian, jadi saya mohon berkomentar lah yang sopan, dan jangan bawa-bawa nama binatang di kolom komentar.


kalau para pembaca merasa ada yang kurang silahkan memberi masukan supaya saya bisa memperbaikinya.


dan bagi para pembaca yang tidak menyukai novel ini silahkan batalkan dari daftar favoritnya. karena saya tidak memaksa kalian yang tidak suka untuk berusaha menyukai karya saya.


bagi yang masih setia saya juga ucapkan terima kasih.


besok saya masih berpikir apakah saya akan tetap up 2 chapter atau cukup 1 chapter saja, silahkan kalian yang pilih.


seperti biasa hari Minggu pasti saya akan mengirim 4 sampai 5 chapter.


untuk malam ini saya kirim 1 chapter saja dulu. menunggu permintaan kalian besok.


Terima kasih.🙏🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2