
Setelah lama berbincang bincang, Ho Chen kembali ke kamarnya. Ho Chen berniat ingin istirahat, namun belum sempat Ho Chen mencapai tempat tidurnya, terdengar ketukan pintu dan suara wanita memanggilnya.
“ Pendekar Dewa? Apa kamu sudah tidur?." Suara perempuan terdengar dari luar depan pintu kamar Ho Chen.
Ho Chen melangkah membukakan pintu dan dia melihat Yihua sedang berdiri menatapnya.“ Belum Tuan Putri. Apa tuan putri ada perlu dengan saya?." Tanya Ho Chen.
“ aku sedang mencari teman untuk berbincang! bisakah Pendekar Dewa menemaniku ke taman untuk mengobrol.?" Yihua bertanya dengan penuh harap.
“ kalau tuan putri menginginkannya saya akan menemani Tuan Putri.!" Jawab Ho Chen dengan tersenyum lembut.
Ho Chen dan Yihua melangkah menuju taman. Mereka duduk di pinggir kolam kecil
“Pendekar Dewa? Apa boleh aku memanggilmu Chen?" Kata Yihua sambil menatap langit.
Ho Chen segera menjawab,l. “Tentu saja Tuan putri, saya senang kalau Tuan Putri memanggilku demikian." Jawab Ho Chen dengan santai
“ Kamu juga jangan memanggilku Tuan Putri. Panggil saja aku Yihua."
Ho Chen sedikit kaget mendengarnya. Menurutnya itu tidak pantas baginya memanggil seorang putri kaisar dengan namanya saja. “ba- baik Tuan Put..! Maksud saya Yihua." Kata Ho Chen dengan suara gugup.
Yihua kembali menatap langit terlihat cahaya bulan sabit bintang dan dan sedikit awan bergerak pelan terbawa angin. “ketika aku masih kecil, aku pernah mendengar jika seseorang yang kita sayangi meninggal dia akan menjadi bintang, dan melihat kita dari sana." Yihua memulai pembicaraannya.
Yihua menatap Ho Chen yang juga ikut melihati bintang. “aku tidak tahu semua itu benar atau tidak? Namun selama kita yakin, maka orang-orang yang meninggal yang kita sayangi akan melihat kita dari atas sana." Kata Yihua dan kembali menatap bintang.
Ho Chen menatap langit dan membayangkan wajah kedua orang tuanya, seakan akan bayangan mereka tersenyum lembut menatap Ho Chen. “Yihua. Terima kasih sudah mengatakan ini, walau aku tidak tau pasti, namun aku yakin kedua orang tuaku juga pasti berada di atas sana." Kata Ho Chen dan tetap memandangi bintang.
Yihua tersenyum mendengarnya. Ketika di ruang keluarga, Yihua mendengarkan Ho Chen menceritakan tentang kematian kedua orang tuanya. Yihua merasa bersyukur karena masih memiliki orang tua.
Karena itu Yihua ingin menemui Ho Chen dan mengajaknya untuk mengobrol, namun sebenarnya Yihua ingin menghiburnya agar tidak sedih.
__ADS_1
Mereka duduk dan mengobrol cukup lama.
“ Chen terima kasih sudah mau menemaniku berbicara." Kata Yihua.
“ aku yang seharusnya berterima kasih. Sekarang Malam sudah semakin larut, sebaiknya kita istirahat." Kata Ho Chen yang juga sudah merasa mengantuk
Yihua mengangguk dan bangkit dari duduknya.“ baiklah Chen, aku kembali dulu, sampai ketemu besok. Selamat malam." Yihua melambaikan tangan
“ Selamat malam." Balas Ho Chen yang juga membalas lambaiannya.
Yihua melangkah meninggalkan Ho Chen.
Ho Chen tidak mengetahui ketika Yihua pergi, wajah Yihua terlihat sangat cerah, seperti orang yang berhasil mendapatkan sesuatu yang paling berharga.
“ehemm..." Ketika asik berjalan Yihua di kejutkan batuk dahaman Hong Li dari sampingnya. “ahh..! Ayah. Ayah bikin kaget saja." Kata Yihua yang sedikit tersentak
“Kenapa kamu terlihat bahagia hua'er.? Apa Ho Chen mengatakan sesuatu yang membuatmu bahagia.?" Tanya Hong Li yang sejak tadi mengamati mereka berdua dari tampat yang sedikit jauh.
Hong Li tertawa pelan melihat putrinya yang menjadi salah tingkah. “Kamu tidak usah menyembunyikan dari ayah. Dari wajahmu saja ayah bisa melihatnya."
“Ayahh....!" Wajah Yihua semakin memerah bagai tomat, Yihua menjadi malu lalu dan menutup wajahnya yang merah dengan kedua tangannya kemudian pergi berlari ke arah kamarnya.
Hong Li tersenyum lebar melihat sikap putrinya yang menjadi malu karena ketahuan memiliki perasaan terhadap Ho Chen.
***
sekte Bukit Halilintar mendapat surat dari kaisar tentang perencanaan pemburuan pasukan iblis. Dan kabar keberadaan Ho Chen di ibukota.
Jiu Rui segera mencari gurunya, untuk menyampaikan kabar yang di dengarnya. “hah.." hah.." Guru..“hah.." nafas Jiu Rui ngos-ngosan. “aku mendengar adik berada di ibukota?." Tanya Jiu Rui
__ADS_1
Jian Heeng menatap muridnya yang masih ngos-ngosan,“ aku juga sudah mendengarnya!" Kata Jian Heeng.
“ guru, kalau di ijinkan, aku ingin ikut dengan guru ke ibukota." Pinta Jiu Rui dengan wajah memelas.
Jian Heeng hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala.“ aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Namun aku sungguh tidak bisa membawamu." Ucap Jian Heeng dengan kembali menatap wajah Jiu Rui. “kamu pasti sudah mendengar apa yang di pesankan oleh Ho Chen kepada seluruh sekte." Kata Jian Heeng menambahkan.
Jiu Rui hanya mengangguk dengan wajah sedikit sedih karena tidak bisa ikut untuk menemui adiknya.“ Saya mengerti guru.“ ucap Jiu Rui.
“saya akan berlatih dengan Wei'er dulu guru." Kata Jiu Rui. Wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan dan melangkah pergi. Sedangkan Jian Heeng hanya memandangi Jiu Rui yang melangkah pergi.
Jiu Rui menemui Liu Wei yang sedang duduk sendirian. “Senior, apa guru mengijinkan senior ikut ke ibu kota?" Tanya Liu Wei ketika Jiu Rui baru tiba.
Jiu Rui duduk dan menggelengkan kepala “guru tidak mengijinkanku untuk ikut" kata Jiu Rui dengan tersenyum kecut. “sebaiknya aku memang tidak perlu ikut. Kalau aku masih memaksa ikut aku hanya membuat beban kepada guru." Kata Jiu Rui menambahkan.
Jian Heeng memang akan pergi ke ibukota. Dia akan pergi bersama Wang Chungying untuk menjemput Kang Yelu.
“senior, lebih baik kita latihan dan menjadi lebih kuat. Ketika kita kuat nanti kita bisa pergi menemui saudara Chen." Liu Wei berusaha menghibur kakak seperguruannya.
Jiu Rui setuju dengan ajakan Liu Wei, menurutnya dia memang harus menjadi kuat. Agar kelak tidak perlu menyusahkan orang lain.
Disisi lain Jian Heeng pergi menemui Kang Jian. Jian Heeng menyampaikan keinginan Jiu Rui yang ingin ikut ke ibukota dengannya.
“saudara Heeng.! Aku mengerti akan keinginan Jiu Rui. Bagaimanapun dia adalah kakak angkat Chen'er." Kang Jian menghela nafas pelan. “Namun situasinya yang tidak memungkinkan. Aku harap Jiu Rui mengerti akan hal itu." Tambahnya.
“ketua tidak perlu hawatir, saya yakin Rui'er pasti mengerti." Jawab Jian Heeng meyakinkan.
“ketua.? Bagai mana rencana pemburuan pasukan iblis yang sudah di sampaikan kaisar?" Tanya Jian Heeng.
Kang Jian terlihat berpikir sejenak. “aku akan melakukannya. Bagaimanpun ini semua adalah rencana Chen'er dan kaisar." Ucap Kang Jian.
__ADS_1
Memang di surat tersebut tertulis nama “Pendekar Dewa muda" sebagai perencana dan juga atas persetujuan sang kaisar.