
***
Ho Chen kembali muncul di tengah-tengah sebuah desa besar yang terasa asing baginya, namun itu masih masih di wilayah kekaisaran Liu.
Beruntungnya tempat Ho Chen muncul sangat sepi karena merupakan sebuah gang rumah kayu yang sempit, sehingga tidak ada satu orang pun yang melihatnya, jika sampai ada orang yang melihatnya pasti akan lari terbirit-birit karena mengira Ho Chen adalah setan atau hantu di sore hari.
"Ternyata mencari pelabuhan dengan cara berpindah tempat lebih sulit dari pada terbang!." Gumam Ho Chen.
"Kenapa kamu sering nyasar seperti ini?." Tanya Yu, dia baru kali ini berbicara kepada Ho Chen setelah sekian lama.
"Jarang-jarang kita bisa melihat dunia seperti ini, lagi pula aku harus mengetahui semua tentang dunia ku, budayanya yang beragam, dan juga karakter mereka yang unik, jika senior Yu mau, senior bisa keluar untuk melihat-lihat pemandangan di sini!." Kata Ho Chen.
"Pemandangan paling enak di lihat hanya di dunia Astral! Lah di duniamu ini, apa yang mau di lihat?." Niu ikut bersuara.
Ho Chen hanya tertawa kecil mendengar perkataan Niu, dia akui jika di dunia Astral lebih menyenangkan dan banyak yang bisa di lihat.
Ho Chen berjalan mengikuti jalan besar di tengah-tengah desa tersebut.
Banyak orang yang berlalu lalang di desa tersebut, sedangkan Ho Chen menghentikan langkahnya di sebuah kerumunan orang banyak, seperti melihat Tontonan yang menarik. Karena penasaran, Ho Chen akhirnya mencoba melihatnya.
Ternyata mereka sedang melihat seorang pria buta yang sedang meramal, pria tersebut terlihat tua, seluruh rambut dan juga janggutnya juga berwarna putih.
"Siapa berikutnya yang ingin di ramal, cukup membayar dengan satu koin emas maka akan saya ramal!." Kata kakek tersebut menawarkan jasa ramalannya dengan mematok harga yang lumayan besar bagi kebanyakan orang.
"Aku..!." Seorang wanita paruh baya mengangkat tangan dan maju kedepan, dia meletakkan satu keping koin emas di keranjang kemudian membiarkan kakek buta tersebut meramalkan nya.
Wanita tersebut mengambil sebuah tulang dari dalam kotak yang terbungkus oleh kain kemudian menyerahkannya kepada peramal tua tersebut.
__ADS_1
"Nyonya, anda sangat beruntung karena tidak lama lagi, anda akan kedatangan seorang tamu besar dari kekaisaran. Namun akan ada masalah besar setelah kepergian tamu tersebut. Dan akan ada orang yang akan berusaha menggulingkan kedudukan suami anda nantinya!." Kata peramal buta tersebut kemudian menghentikan perkataannya karena merasa tidak pantas mengatakan hal pribadi du depan banyak orang.
"Terima kasih pak tua..!." Kata wanita paruh baya tersebut, sepertinya dia sudah mengerti akan apa yang di katakan oleh peramal tersebut.
Ho Chen hanya menggelengkan kepala nya, dia tidak menduga ternyata banyak orang yang percaya akan sebuah ramalan yang belum tentu benar. Menurut Ho Chen itu hanya mangada-ada, siapa yang tahu akan masa depan seseorang, tidak akan ada yang mengetahui takdir di masa depan.
"Kamu boleh berpikir sepeti itu, namun setiap orang memiliki kelebihan dan kemampuan masing-masing, sama seperti dirimu yang sudah mencapai Tingkat Keabadian!." Tiba-tiba kakek buta tersebut bersuara di dalam pikirannya yang bisa di dengar oleh Ho Chen.
Mata Ho Chen melebar ketika mendengar pemikiran kakek tersebut yang di tujukan padanya, atau lebih tepatnya dia juga bisa membaca pikiran orang sama seperti dirinya.
"Maafkan saya kakek, saya tidak bermaksud untuk berpikir seperti itu!." Kata Ho Chen dalam pikirannya.
"Hahaha..! Anak muda kemarilah biar aku lihat masa depanmu!." Kata kakek tersebut berbicara dengan dangan suara
Semua orang menoleh ke arah Ho Chen, mereka merasa heran karena kakek buta tersebut bisa mengetahui keberadaan seorang pemuda di sana.
Ho Chen tampak ragu, namun kakek buta tersebut kembali berbicara lewat pikirannya. "Aku memang buta, namun aku mampu melihat hati seseorang sekaligus masa depan dengan mata hati ku, itulah kemampuan ku, jadi jangan ragu!." Kata kakek tua tersebut.
Kakek tersebut meraba tulang tersebut dengan mengusap-usap tulang yang Ho Chen serahkan padanya, kemudian mengangguk-anggukan kepala.
"Emm..! Anak muda, kau memikul takdir yang begitu besar, suatu saat nanti kamu akan kehilangan salah satu orang terdekat mu, namun semua itu tergantung bagaimana cara mu mencegah agar orang tersebut tidak meninggalkan mu! Satu lagi, kamu harus bisa memilih dan memutuskan masa depanmu sendiri dengan benar." Kata kakek tua tersebut menghentikan ramalan nya.
"Terima kasih atas ramalan kakek!." Kata Ho Chen sambil membungkuk, dia bingung harus percaya atau tidak, namun perkataan sang kakek membuatnya tidak tenang, jika memang ramalan itu benar, dia tidak tahu siapa orang terdekat yang di maksud oleh kakek peramal tersebut.
"Terima Kasih..? Aku sudah meramal mu, jadi setidaknya berilah aku bayaran atas jasaku ini! Aku tahu kamu memiliki banyak harta yang kamu bawa, jadi berikan aku satu koin emas mu!." Kata kakek tersebut.
Ho Chen hanya tersenyum canggung, dia tidak meminta untuk di ramal, dan kakek tersebut justru menyuruhnya untuk di ramal. Ho Chen memberikan satu Koin emas kepada kakek tersebut sesuai yang di minta oleh sang kakek.
__ADS_1
Beberapa orang menatap Ho Chen dengan tatapan aneh setelah mendengar jika Ho Chen membawa banyak harta yang di bawa nya. Ho Chen juga merasakan tatapan mereka yang terlihat seperti tatapan penuh keserakahan.
Setelah membayar sang kakek, Ho Chen meninggalkan kerumunan tersebut dengan menelusuri desa, sedangkan lima orang yang menatap Ho Chen juga ikut membuntutinya.
"Suatu saat nanti kamu akan kehilangan salah satu orang terdekat mu, namun semua itu tergantung bagaimana cara mu mencegah agar orang tersebut tidak meninggalkan mu! ." Kata-kata tersebut terus terngiang di telinga Ho Chen.
Begitu banyak orang yang Ho Chen kenal, namun dia tidak tahu orang yang mana yang di maksud oleh kakek peramal tersebut. "Mudah-mudahan itu hanya ramalan kosong saja!." Gumam Ho Chen berusaha melupakan masalah ramalan tersebut.
Ho Chen berjalan dengan santai dan memilih jalan yang sepi, dia bisa merasakan jika dirinya di ikuti oleh lima orang dari belakang.
Setelah berada di tempat yang sangat sepi, Ho Chen menghentikan langkahnya, dan kembalikan badan menghadap kebelakang dan menemukan kelima orang yang sedang mengikutinya.
Kelima orang yang membuntuti Ho Chen mulai ragu untuk melangkah ketika Ho Chen berhenti dan membalik badan menghadap ke mereka.
"Ada keperluan apa kalian mengikuti ku?." Tanya Ho Chen dengan tersenyum ramah.
"Ternyata kamu sudah menyadari jika kami mengikuti mu, tidak perlu basa-basi lagi, cepat serahkan semua uang dan barang berharga mu kepada kami, setelah itu kamu boleh pergi!." Kata salah seorang dari mereka berbicara dengan nada garang.
Mereka semua nya adalah pendekar Tingkat Bumi, sedangkan yang berbicara kepada Ho Chen berada di Tingkat Bumi Awal 4.
"Aku tidak membawa barang apapun, kalian melihatnya sendiri bukan?." Kata Ho Chen berusaha untuk tetap tenang.
"Sudahlah, kami sudah tahu jika kamu memiliki banyak uang, cepat serahkan saja dan kami berjanji akan melepaskan mu!." Ucapnya kembali namun terlihat mulai emosi.
"Kalian ini masih muda tapi malah suka merampok, jika kalian terus di biarkan, kedepannya kalian pasti akan menjadi pendekar yang meresahkan masyarakat, jadi maaf sepertinya kalian harus berakhir di sini saja!." Kata Ho Chen dengan nada berubah menjadi dingin.
"Kurang ajar, bukannya menurut malah mengancam! Bunuh dia dan ambil semua barang yang di miliknya!." Ucap salah satu dari mereka kemudian mulai mengangkat pedang nya dan berniat menyerang Ho Chen.
__ADS_1
Ho Chen hanya menghela nafas panjang, kemudian menangkap salah satu pedang mereka dan dengan sentilan satu jari, orang tersebut terlempar jauh hingga puluhan meter dan menabrak dinding rumah salah satu warga hingga ambruk.
Melihat temannya yang sudah terlempar jauh, bukannya lari justru mereka semakin marah. Mereka beranggapan jika Ho Chen memiliki Tehnik Pukulan yang sangat kuat, sehingga berencana menyerang nya secara bersamaan.