
Ho Chen baru mengetahui fungsi dari kalung tersebut, mungkin karena ayahnya tidak sempat menjelaskan ketika memberikannya kepada Ho Chen.
“Kita punya banyak waktu, jadi ayo ceritakanlah pengalaman mu kepada kami!." Kata Ho Jun.
“Tidak ayah, kita tidak punya banyak waktu, saat ini tubuhku yang ada di luar.."
“Ah kamu tenang saja, waktu di sini berbeda dengan dunia luar, di sini kita bisa bicara seberapa lamapun yang kita mau. Sedangkan di dunia luar belum ada perubahan walau itu satu tarikan nafas sekalipun."
Mendengar penjelasan ayahnya, Ho Chen menjadi lega, itu artinya dia seperti menghentikan waktu.
Ho Chen kemudian menceritakan pengalamannya ketika mulai di tinggal mati oleh mereka berdua. Mendengar cerita Ho Chen, kadang expresi wajah kedua orangtuanya menjadi senang, dan kadang juga sedih, bahkan sampai tertawa terbahak-bahak.
Entah sudah berapa lama Ho Chen bercerita pengalaman hidupnya, dari mengalami kekalahan ketika bertarung, harus membunuh orang jika itu di perlukan, dan bahkan bertemu dengan orang-orang yang baik selama hidupnya.
Hingga akhirnya Ho Chen berada di situasi sulit seperti saat ini, diamana dia harus bisa melepas kan ikatan pertemanan, dan persaudaraan hanya karna ingin membuka pintu ke abadian.
Ho Chen bahkan sempat berpikir ingin membatalkan membuka pintu ke lima tersebut, karena dia harus membayar mahal atas keinginannya untuk membuka pintu ke abadian.
Ho Jun tersenyum lalu berkata kapada Ho Chen. “Chen'er! Coba kau pikir dengan baik. Kau takut jika akan memutuskan ikatan tersebut. Sebenarnya itu bukan untuk selamanya, apa kau lupa jika kau bisa memutuskan hubungan tersebut dan berhasil membuka pintu ke abadian. Setelah itu kau bisa mengembalikannya kembali."
Ho Chen merenung sesaat. Dia tidak yakin akan perkataan ayahnya itu benar atau tidak. Dia takut jika dia bisa membuka pintu tersebut, ikatan dengan semua orang yang ia sayangi akan benar-benar terputus dan tidak bisa kembali memiliki rasa ikatan tersebut.
“Apa kau masih ragu?." Tanya Wei Shuan.
Ho Chen mengangguk kemudian Wei Shuan juga bicara lagi. “Kau tidak perlu ragu. Jika kau yakin akan apa yang kau yakini, percayalah, tidak ada kata tidak mungkin di dunia ini, namun tergantung seberapa besar keyakinan mu itu."
“Chen'er! Jika memang benar kau di takdirkan untuk memiliki kekuatan yang kau maksud itu, itu berarti kau akan memikul tanggung jawab yang besar. Bisa dibilang Saat ini keselamatan dunia bergantung kepadamu. Jadi kau jangan ragu, karna kami akan selalu berada di hatimu."
__ADS_1
Ho Jun memberi dorongan semangat kepada putranya, namun secara perlahan-lahan tubuhnya sedikit menghilang.
“Sepertinya sudah waktunya, padahal aku masih ingin melihatmu lebih lama namun waktuku sudah habis." Kata Wei Shuan kemudian berjalan mendekati Ho Chen dan memegang wajah putranya dengan kedua tanganya.
“Janganlah ragu, lakukan semuanya demi melindungi semua orang yang kau sayangi, jika kamu gagal maka semuanya akan hilang. Jadi yakinlah akan keputusanmu sendiri." Ucap Wei Shuan dan tubuhnya juga sama seperti Ho Jun yang mulai menghilang secara perlahan.
Ho Chen mengangguk. “Aku akan berusaha yang terbaik, terima kasih kalian sudah mau datang menemui ku." Kata Ho Chen dia memegang tangan ibunya yang berada di pipinya.
Wei Shuan dan Ho Jun tersenyum lembut. “Kami menyayangi mu." Kata mereka secara bersamaan dan kemudian tubuh mereka menghilang menjadi butiran-butiran cahaya kecil.
“Aku juga menyangi kalian berdua, istirahat di sana dengan tenang dan lihatlah diriku dari sana." Kata Ho Chen setelah kedua orang tuanya menghilang.
Ho Chen sedikit berat untuk berpisah dengan mereka untuk yang kedua kalinya, namun dia sadar jika dia masih memiliki tanggung jawab yang lebih utama.
Ho Chen menghela nafas pelan kemudian kembali duduk bersila, dia berusaha untuk menghilangkan perasaan ikatannya kepada semua orang yang ia sayangi.
Naga putih yang tidak mengetahui apa yang sudah terjadi kepada Ho Chen masih menunggunya di alam batin milik Ho Chen. Secara perlahan-lahan tubuh Ho Chen mengeluarkan cahaya terang, samakin lama cahaya itu semakin bercahaya, bahkan hampir mendominasi cahaya miliki naga putih.
“Bagus Ho Chen, ternyata kau sanggup melakukannya." Kata naga putih.
Ho Chen merasakan energi di dalam tubuhnya seperti meluap-luap ingin meledak, seluruh Alam batin bergetar merasakan energi yang kini di miliki oleh Ho Chen.
Sensasi panas dan dingin terasa olehnya seolah-olah ada benda-benda kecil yang ia rasakan di dalam tubuhnya yang ikut memberikan energi tambahan untuknya, Ho Chen tidak bisa menghitung jumlahnya, namun di perkirakan jumlahnya mencapai ratusan.
Cahaya di tubuh Ho Chen mulai meredup dan secara perlahan mulai menghilang. Dia membuka matanya dan melihat naga putih berada di depannya.
“Tubuh ini..?." Ho Chen merasakan tubuhnya seperti terasa asing baginya, kekuatan barunya ini membuat tubuhnya lebih kuat dan ringan.
__ADS_1
“Selamat Ho Chen kini kau sudah berhasil membuka pintu ke abadian, bahkan Energi mu sudah berada di Tingkat Alam." Kata naga putih.
Ho Chen tidak menjawab dia menggerak-gerakkan tubuhnya. Kemudia mengulurkan tapak kedepan.
“Tehnik Raja Api - Tujuh Bola Api."
Dari telapak tangan Ho Chen muncul bola-bola api kecil berwarna biru, ini adalah tehnik raja api tahap 3 yang ia kuasai dari kitab Raja api.
Ho Chen mengerakkan ke tujuh bola api itu mengelilingi tubuhnya membentuk sebuah lingkaran, tehnik tersebut bisa menjadi tameng pelindung sekaligus menjadi senjata yang sangat mematikan.
“Ternyata benar kekuatanku juga ikut meningkat." Kata Ho Chen.
Sekarang Ho Chen sudah memasuki Tingkat Alam awal 1. Dengan kekuatanya saat ini walau tampa menggunakan energi gabungan, dia bisa melawan pendekar Tingkat alam puncak 3 Tampa kesulitan.
Ho Chen menghilangkan ke tujuh bola api tersebut dan kemudian memandang naga putih yang masih melayang di depannya.
“Mari kita kembali..!." Kata Ho Chen Tampa expresi.
Naga putih sadar ini di akibat efek latihan pemutusan ikatan untuk membuka pintu ke abadian, jadi sikap Ho Chen sedikit dingin dari biasanya.
Ho Chen dan naga putih menghilang dari Alam batin, setelah Ho Chen bisa mendengar suara dering belalang malam dan bunyi jangkrik, dia membuka mata dan melihat Jiu Rui yang tertidur pulas sedangkan Qiao Lin masih duduk sendiri di dekat api unggun.
“Chen.! Kamu sudah selesai?." Tanya Qiao Lin setelah melihat Ho Chen yang sudah berdiri.
Ho Chen hanya mengangguk dia tidak menjawab sepatah katapun membuat Qiao Lin mengerutkan dahi. “Apa yang terjadi dengannya?." Batin Qiao Lin.
Ho Chen tidak terganggu dengan apa yang dipikirkan oleh Qiao Lin. Dia menoleh ke satu arah dan tersenyum ke arah tersebut.
__ADS_1