
Yuen menjelaskan kepada Ho Chen tentang tujuannya mengajak Ho Chen ke belakang sektenya. Setelah mendengarkan penjelasan dari Yuen, Ho Chen merasa sedikit tidak enak untuk menerima semua itu, dia merasa terlalu membuat repot orang lain.
“Saya tidak pantas untuk memasuki tempat tersebut senior. Lebih baik murid-murid yang berbakat yang di miliki sekte ini saja yang memasukinya dan berlatih meningkatkan Kekuatannya." Kata Ho Chen menolak tawaran Yuen.
“Chen'er bukankah kamu pernah bilang padaku kalau kamu ingin mempelajari Tehnik Es untuk melawan pasukan iblis?." Qiao Ho bertanya sambil menepuk pundak Ho Chen.
“Benar senior.." Ucap Ho Chen sambil mengangguk.
“Kalau begitu terimalah niat baik saudara Yuen. Jika nanti pasukan iblis menyerang dan kamu belum menguasai tehnik es, bukankah akan sangat sulit bagimu untuk mengalahkannya." Qiao Ho mencoba membujuk Ho Chen dan meyakinkannya.
Ho Chen terdiam, dia merasa perkataan Qiao Ho ada benarnya, bagaimana pun dia tidak mau mengandalkan orang lain lagi jika ada masalah yang sangat berbahaya.
”Baiklah senior, saya akan berlatih di tempat itu, namun sebelum saya pergi, saya akan menemui kakak Rui terlebih dahulu ada yang ingin saya bicarakan denganya sebentar."
Tidak mungkin Ho Chen tidak memberitahukan Jiu Rui. Jiu Rui sudah mengikutinya sampai sejauh ini, kalau sampai Ho Chen pergi tanpa sepengetahuan Jiu Rui, pastinya Jiu Rui akan sangat kecewa.
“Tunggulah di sini, biar muridku menjemputnya." Kata Yuen dan berjalan menuju ke salah satu muridnya yang sedang berbincang dengan saudara seperguruannya.
Setelah Yuen berbicara dengan salah satu muridnya, murid tersebut segera pergi, dan Yuen kembali menuju ke tempat Ho Chen.
”Senior apa saya bisa meminta satu hal..?." Ho Chen bertanya kepada Ming Mei.
“Apa itu? Katakanlah..!" Ucap Ming Mei.
“Selama saya berlatih nanti, tolong lindungi Kakak Rui jika ada masalah nantinya."
“Baiklah, serahkan itu pada kami, sekarang kamu harus fokus berlatih.." kata Ming Mei meyakinkan.
“Terima kasih senior.." kata Ho Chen dengan tulus.
Kemudian Jiu Rui datang menemui Ho Chen, dia datang bersama dengan Kang Jian.
__ADS_1
“Saudara Jian, sesuai janjiku, aku akan menjelaskannya." Yuen segera menjelaskan kepada Kang Jian tentang apa yang sudah mereka rencanakan.
“Adik, kenapa kamu memanggilku kesini?." Tanya Jiu Rui setelah tiba di hadapan Ho Chen.
“Kak Rui, untuk sementara kita berpisah dulu sebentar."
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Memangnya kamu mau kemana?." Jiu Rui terkejut mendengar perkataan adiknya tersebut.
“Kak Rui, aku akan pergi berlatih, dan selama aku berlatih, kakak bisa menungguku di sini atau bisa juga kembali dulu ke sekte Bukit Halilintar."
“Apa aku tidak boleh ikut berlatih?." Tanya Jiu Rui dengan nada kesal.
“Maafkan aku, untuk kali ini tidak bisa. Namun nanti setelah aku selesai latihan, aku akan kembali mengajakmu pergi, bagaimana?." Walau Ho Chen sedikit menyesal, dia tetap berusaha meyakinkan kakaknya.
Jiu Rui diam sejenak, dia ingin protes, namun begitu melihat Ho Chen yang begitu serius, Jiu Rui langsung menyadari kalau Ho Chen akan melakukan latihan yang berat, dan mungkin tidak bisa di ganggu.
Kang Jian terkejut mendengar penjelasan Yuen, dia segera menghampiri Ho Chen. “Chen'er apa kamu yakin?." Tanya Kang Jian memastikan.
“Tentu saja ketua, saya sudah memikirkannya sebelumnya, dan menurut saya, hanya ini yang menjadi solusi yang tepat." Jawab Ho Chen.
“Pelajarilah Kitab Tehnik Halilintar ini, dan hanya ini yang bisa aku berikan kepadamu."
Kali ini Ho Chen tidak menolaknya, Walau begitu, Ho Chen merasa seperti tukang pengumpul barang-barang antik Saja. Ho Chen merasa bingung, sebaiknya kitab mana yang terlebih dahulu harus ia pelajari.
Setelah memastikan beberapa hal, akhirnya Ho Chen melangkah menuju ke arah pintu yang terbuat dari batu gunung.
Biksu Shao Sheng mendekati batu tersebut dan menyentuh pintu batu, dengan mengalirkan energi ke pintu tersebut.
“Tehnik Bumi - Penyatuan Bumi."
Tangan Biksu Shao Sheng menyatu dengan pintu batu tersebut, dan secara perlahan pintu tersebut terbuka. Setelah pintu terbuka yang terlihat adalah pusaran hitam yang berputar di dalamnya.
__ADS_1
“Kakak aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi nanti." Kata Ho Chen, seolah-olah dia akan pergi hanya setengah hari saja.
“Adik. Pergilah, aku akan menunggumu di sekte ini hingga kamu kembali dari latihanmu." Jiu Rui berkata sambil tersenyum, namun di hatinya begitu sedih.
“Masuklah Saudara Chen, setelah ini pintu akan kami tutup, dan nanti akan ada yang menjaga pintu, agar tidak ada yang berusaha merusak pintu itu dari luar." Kata Yuen.
“Terima kasih. Saya tidak akan melupakan semua kebaikan senior, dan akan membalas kebaikan ini suatu saat nanti."
Kata Ho Chen.
“Sudahlah, kita ini adalah Saudara, jadi selayaknya kita saling membantu." Jawab Yuen dengan tersenyum lebar.
“Chen'er, berlatihlah dengan giat, saat kamu keluar nanti kami berharap kamu sudah menjadi lebih kuat." Kata Qiao Ho.
“Terima kasih atas kepercayaan senior semua, saya akan pergi." Kata Ho Chen sambil melangkah memasuki pusaran hitam tersebut.
Ho Chen melangkahkan kakinya ke arah pusaran hitam, jantungnya berdetak kencang ketika memandangi pusaran hitam tersebut. ketika pusaran tersebut sudah tinggal selangkah lagi darinya. Ho Chen menghentikan langkahnya.
“Aku harus yakin, mereka semua menaruh harapan banyak pada diriku." Ho Chen memberanikan diri dan memantapkan hatinya. Ho Chen menutup kedua matanya dan melangkah memasuki pusaran tersebut.
Dalam sekejap Ho Chen menghilang dari pandangan semua orang, seolah-olah di hisap oleh pusaran hitam tersebut.
Pintu batu secara pelahan di tutup oleh Biksu Shao Sheng dan memasang segel dari luar agar tidak mudah di hancurkan oleh orang yang berniat buruk pada Ho Chen.
Yang mampu membuka pintu tersebut hanya biksu Shao Sheng, dan yang paling mudah adalah orang yang berada di dalamnya. Ho Chen bisa keluar kapan saja jika sudah selesai melakukan latihanya, itu di karenakan membuka pintu dari dalam tidak sesulit membuka dari luar.
Ho Chen terus berjalan sambil menutup kedua matanya, namun dia tidak merasakan apa-apa. Yang ia rasakan hanya seperti melewati hembusan angin kecil yang lembut. Ho Chen menghentikan langkahnya dan secara perlahan membuka matanya. setelah membuka mata, alangkah terkejutnyaa dia ketika melihat pemandangan di sekelilingnya.
***
“Semoga latihannya berjalan dengan lancar." Kata Qiao Ho setelah pintu batu tersebut sudah selesai di segel oleh biksu Shao.
__ADS_1
“Baiklah, malam ini kami akan menginap di sini, dan besok pagi aku akan pulang ke sekte, dan meninggalkan dua orang jagoan ku di sini." Kata Ming Mei.
Mereka semua sependapat dengan Ming Mei. Mereka berencana akan melakukan penjagaan secara bergantian. Setiap satu bulan sekali dua jagoan yang pertama akan pulang ke sekte mereka untuk istirahat, dan di gantikan oleh dua jagoan berikutnya.