
Pria tersebut sangat terkejut melihat semua anggotanya sudah di kalahkan, walau satupun tidak ada yang mati, namun tetap saja mereka sudah tidak bisa lagi bertarung dengan sempurna.
Pedang tersebut segera melesat ke arah pria tersebut. Begitu pedang tersebut hampir sampai, pria tersebut segera menepis dengan Padang miliknya.
Trankk...!!."
Pedang Ho Chen yang terbang terbelah menjadi dua dan tergelatak di tanah.
“Kau memegang pedang bagus, namun anggota mu malah di kasih pedang murahan seperti itu..!." Kata Ho Chen sambil menggelengkan kepala.
Pedang yang di pegang oleh pria tersebut memiliki ketajaman satu sisi dan sedikit panjang, tidak seperti pedang yang di pegang oleh anggota kelompoknya yang memiliki ketajaman dua sisi.
Pria tersebut kembali menyarungkan Pedangnya dengan tangan masih memegang gagangnya seolah-olah siap untuk mencabutnya kembali.
Pria tersebut menghilang dari pandangan Ho Chen dan muncul kembali di tepat di samping Ho Chen. “Lumayan cepat." Kata Ho Chen dengan tersenyum tipis.
“Rasakan ini..!." Kata pria tersebut mencabut pedangnya dengan sangat cepat, dia menebas ke leher Ho Chen yang masih berdiri hadapanya.
Pedang tersebut hampir mengenai leher Ho Chen, namun dengan cepat juga Ho Chen membungkukan badannya kemudian melepaskan pukulannya ke perut pria tersebut.
Pria tersebut melompat mundur menghindari pukulan tersebut, dia tersenyum lebar karena serangan Ho Chen yang cukup lambat namun tiba-tiba sesuatu mengenai perutnya.
“Apa yang..?." Tubuh pria tersebut terpental ke belakang dan menghantam kayu yang ada di belakangnya.
Ho Chen melepas pukulan yang di aliri energi angin, walau lawannya mampu menjaga jarak dengan pukulanya, selama dia masih berada di hadapannya maka pukalan energi anginya akan mampu mencapainya.
Pria tersebut bangun sambil memegang perutnya yang sakit namun tetap tersenyum. “Tak kuduga aku akan terkena trik rendahan seperti ini." Ucapnya.
Di atas kuda Jiu Rui tidak menghawatirkan Ho Chen, menurutnya ini tidak ada apa-apanya, di bandingkan dengan 300 anggota Rantai Besi yang Ho Chen hadapi.
Sedangkan Qiao Lin berbeda walau dia tahu Ho Chen memiliki kekuatan besar, namun tetap saja dia masih hawatir, kehawatirnya sampai di ketahui oleh Jiu Rui. Dia tertawa kecil melihat wajah Qiao Lin yang terlihat cemas.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu cemas seperti itu, dia akan bisa menghadapinya Tampa masalah.!." Kata Jiu Rui sambil tertawa kecil.
Qiao Lin menatap Jiu Rui. “Kenapa kak Rui masih bisa tertawa melihat Chen yang sedang bertarung di depan sendirian?." Tanya Qiao Lin, dia sedikit tidak senang dengan sikap Jiu Rui yang tertawa ketika melihat saudaranya sedang menghadapi bahaya.
“Sudah ku katakan tidak ada yang perlu di hawatirkan, sebelum bertemu dengan mu kami sempat bertemu dengan kelompok Ranti Besi, bahkan jumlahnya mencapai 300 orang. Dan semuanya di kalahkan olehnya tampa perlawanan berarti." Kata Jiu Rui.
Qiao Lin memang tidak meragukan kekuatan Ho Chen, namun entah kenapa, dia masih menghawatirkan nya. Qiao Lin hanya diam melihat Ho Chen yang berada sedikit jauh di depan.
“Sepertinya kau menyembunyikan kekuatan mu." Kata pria tersebut.
Ho Chen tidak menjawab dia hanya memandang pria tersebut dengan tatapan dingin.
Pria tersebut semakin penasaran sekuat apa pemuda yang ada di hadapanya tersebut. Dia kembali meletakkan tangannya di gagang pedangnya yang sudah tersarung, dengan sekali gerak pria tersebut sudah menghilang dari hadapan Ho Chen.
Ho Chen sudah mengetahui trik dia langsung memukul ke arah samping kanan dengan kekuatan penuhnya. Ketika pria tersebut muncul, kepalan tangan Ho Chen tepat mengenai wajahnya.
Pria tersebut langsung terlempar jauh kebelakang dengan posisi telungkup, namun dia masih bisa bangkit namun dengan darah keluar dari hidung serta mulutnya.
“Kau..!." Ucapnya sambil menahan sakit di wajahnya.
Pria tersebut menjadi sangat marah, karena kalah dari seorang anak muda seperti Ho Chen, seakan tidak terima! Pria tersebut bangkit dan mengeluarkan Tehnik Rahasianya.
“Kau harus mati..!."
“Tehnik Pedang Langit - Membelah Langit."
Ho Chen yang sedang berjalan ke arah Jiu Rui terkejut ketika pria tersebut mengunakan Tehnik Pedang Langit.
Pria tersebut mengayunkan pedangnya lurus ke depan, seketika energi putih melesat lurus ke arah Ho Chen.
Dengan jarak yang agak jauh, Ho Chen mengeluarkan pedangnya dan melakukan gerakan tehnik yang sama.
__ADS_1
“Tehnik Pedang Langit - Membelah Langit."
Ho Chen juga melepaskan energi yang sama namun jauh lebih besar, energi putih milik Ho Chen melesat kedepan dan menghantam energi putih milik pria tersebut.
Jdeaarrr.!!!
Kedua energi tersebut berbenturan menimbulkan ledakan dan angin kencang di sekitar mereka, Energi milik Ho Chen ternyata tidak menghilang namun terus bergerak menuju pria tersebut.
“Ti-tidak mungkin..!." Pria tersebut kaget ketika melihat energi yang di lepas oleh Ho Chen masih bergerak dan menuju ke arahnya.
Ketika energi tersebut hampir mengenai pria tersebut, Ho Chen muncul dan menariknya sehingga energi tersebut mengenai pohon di belakang pria tadi dan pohon tersebut terbelah menjadi dua.
“Kau..! Kenapa kau menyelamatkanku?." Tanya pria tersebut.
“Aku menyelamtkan mu karena ingin tahu, dari mana kamu bisa menguasai Tehnik Pedang Langit.!." Kata Ho Chen dengan nada serius.
Pria tersebut juga sama kagetnya dengan Ho Chen ketika mengetahui Ho Chen juga mengunakan tehnik yang sama, selama ini tehnik tersebut menjadi tehnik andalanya dan selalu menjadi tehnik Rahasia terakhir jika menemui musuh yang lebih kuat.
“Ini adalah Tehnik rahasia milik keluarga ku. Aku memang tidak memiliki kitabnya, namun leluhur dari keluargaku sudah mengetahui Tehnik ini dan mewariskanya kepada keturunannya." Kata pria tersebut.
Ho Chen mendengarkan sambi memegang dagunya. “Sudah berapa tahap yang kau kuasai?." Tanya lagi Ho Chen.
“Aku hanya menguasai du tahap saja, karena hanya itu yang kami ketahui." Jawabnya.
Qiao Lin Dan Jiu Rui juga datang menghampirinya, setelah mereka melihat pertarungan sudah berhenti.
“Chen! Apa kau baik-baik saja?." Tanya Qiao Lin yang terlihat hawatir.
“Aku baik-baik saja!." Jawab Ho Chen.
“Apa ku bilang, tidak akan terjadi apa-apa dengannya..!." Kata Jiu Rui kemudian menatap pria yang masih duduk. “Kita apakan pria ini?." Tanya Jiu Rui.
__ADS_1
Pria tersebut sedikit menelan ludah keringat dingin mulai keluar dari keningnya, bukan karena perkataan Jiu Rui atau Ho Chen, namun karena tatapan Qiao Lin yang tajam, dan di sertai dengan aura energi kematiannya.
Sejak awal Qiao Lin sudah tidak sabar ingin memotong lidah pria tersebut, karena Qiao Lin merasa jijik ketika mengingat pria tersebut menjilati lidah ketika menatapnya saat pertama kali mereka menghadang.