
“Aku akan pergi untuk melanjutkan tugasku pergi ke Utara, disana guruku sedang menunggu kedatanganku, kalau semakin lama aku disini bukankah guruku akan semakin lama menungguku disana? Apa kamu tega melihat ku di hukum oleh guruku?." Kata Ho Chen yang mencari alasan agar Yihua tidak bersikeras menahannya untuk pergi.
Yihua hanya menggelengkan kepala. “Berapa lama kamu akan pergi? Apakah kamu tidak akan kembali kesini lagi?." Yihua kembali melempar pertanyaan namun kali ini dengan nada sedikit sedih.
“Butuh waktu lama bagiku untuk tiba disana. Kalau ada kesempatan kemungkinan aku akan main kesini lagi untuk menemui mu." Jawab Ho Chen.
“Benarkah..? Kamu tidak sedang bercanda bukan..?" Yihua penasaran akan perkataan Ho Chen.
“Tentu saja..!" Kata Ho Chen namun di dalam hatinya berkata (“Mungkin..!").
“Aku akan menu...!" Ucapan Yihua terhenti ketika dirinya hampir memeluk Ho Chen. Untungnya dia cepat sadar dan mengurungkan niatnya.
“Aku akan menunggumu." Yihua kembali mengucapkan kata-katanya yang terhenti dengan wajah tertunduk malu.
“Maaf Tuan putri dan Tuan muda..! Ada yang mencari Tuan muda." Ketika mereka berdua sedang asik berbincang seorang pelayan istana datang menemui mereka.
“Baiklah.. Sekarang ada di mana?." Tanya Ho Chen.
“Mereka berada di aula utama bersama Kaisar." Jawab sang pelayan.
“Mereka..?" Ho Chen mengerutkan alis, kemudian pergi bersama Yihua berjalan ke aula utama istana.
“Paman... Senior Chungying.." Ho Chen dan Yihua tiba di aula utama, dia melihat Jian Heeng, Wang Chungying dan Jiu Rui.
“Kenapa kamu tidak menyapaku juga?." Jiu Rui protes karena Ho Chen tidak menyebutnya.
“Tentu Kakak, jangan dulu cepat tersinggung, aku kan butuh bernafas untuk mengeluarkan suara." Kata Ho Chen dengan tertawa melihat sikap Jiu Rui yang seperti ke kekanak-kanakan.
Semua yang hadir tertawa mendengar nya, sedangkan Jiu Rui langsung sadar dan menjadi malu.
Jiu Rui kini melirik Yihua yang berada di samping Ho Chen. Wajah Yihua begitu cantik dan sedikit lebih cantik dari Liu Wei, kulitnya begitu putih bagai giok, di tambah dengan gaun yang dikenakannya yang begitu indah. Membuat Jiu Rui sedikit terpana.
Ho Chen melihat tatapan Jiu Rui yang tidak lepas dari Yihua, kemudian dia melirik Yihua di sampingnya yang tidak mengetahui kalau Jiu Rui sedang memperhatikannya.
Ho Chen berjalan mendekati Jiu Rui kemudian menjetikkan jarinya, seketika Jiu Rui langsung tersadar dan menunduk.
“Ma- maafkan atas kelancangan saya Tuan putri." Kata Jiu Rui dengan sedikit malu.
Yihua yang tidak memperhatikan Jiu Rui menjadi heran, namun dia tetap membalas dengan anggukan.
“Yihua kamu duduklah di atas, aku akan berbicara dengan mereka." Kata Ho Chen yang menyuruhnya duduk di tempat kursi keluarga kaisar. Yihua ingin protes namun tidak jadi dan menuruti perkataan Ho Chen.
Jian Heeng dan Yang lainnya melotot dengan mulut sedikit menganga ketika mendengar Ho Chen menyebut Tuan putri dengan namanya saja.
__ADS_1
“Ehem.. Adik Chen, sepertinya kamu sangat beruntung..!" Kata Jiu Rui menggoda.
“Beruntung? Apa maksud Kakak dengan beruntung?." Tanya Ho Chen yang kebingungan.
“Lihatlah betapa cantiknya Tuan putri, bukankah itu keberuntungan mu?." Jiu Rui menggoda dengan berbisik.
Ho Chen memandangi Yihua sejenak. “Aku tahu dia cantik. Tapi apa hubungannya dengan keberuntunganku?." Tanya Ho Chen Setelah selesai memandangi Yihua.
Jiu Rui tersendat ludahnya dan sedikit terbatuk-batuk, sekarang Jiu Rui yang jadi kebingungan dengan Ho Chen. “Anak ini yang bodoh, atau memang aku yang salah bicara?" Pikir Jiu Rui.
“Chan'er, semalam ketika kami bermalam di hutan, kami bertemu dengan pasukan iblis dan bertarung dengan mereka." Kata Wang Chungying.
“Benarkah? Apa kalian berhasil membunuhnya?." Kaisar langsung ikut bertanya.
“Benar Kami memang berhasil menghabisi semuanya." Jian Heeng menjawab.
“Bisa Senior ceritakan?." Kata Ho Chen.
“Tentu..." Kemudian Wang Chungying menceritakan kronologi kejadiannya, sekaligus rencana kerja sama dengan Sekate Gagak Hitam.
Ho Chen mendengar cerita tersebut hanya mengangguk-angguk, Ho Chen terlihat memikirkan hal lain.
“Chen bagaimana menurut mu?." Kaisar mencoba bertanya pendapat Ho Chen.
“Tidak lama lagi pihak yang bersekutu dengan Raja iblis akan menunjukkan diri mereka." Kata Ho Chen menambahkan.
“menunjukkan diri? Apa maksudnya?." Tanya Jian Heeng.
“Semuanya ini masih dalam dugaan saya saja, jika benar maka pihak yang bersekutu dengan iblis akan mengumumkan dirinya secara terang-terangan. Namun jika dugaan saya salah, maka kita sendiri yang harus mencarinya." Kata Ho selesai menjelaskan.
Mereka semua mengerutkan kan dahi dan merasa kebingungan. Jiu Rui yang ikut mendengarkan juga ikut bingung di buatnya.
“Aku tahu kalian semua bingung. Sekarang saya mau bertanya, siapa yang merasakan goncangan gempa semalam?." Tanya Ho Chen.
“Aku merasakannya!." Jawab Kaisar.
“Ya aku juga!."
“Aku juga!."
Semua menyatakan kalau mereka merasakan gempa termasuk Jiu Rui dan juga Yihua.
“Kemungkinan itu bukan gempa biasa. Sepertinya itu pertanda bahwa Raja iblis memanggil pengikut terkuatnya yang kekuatannya setara dengan guruku." Kata Ho Chen.
__ADS_1
Mereka semua menahan nafas mendengar penjelasan Ho Chen. Siapa yang tidak mengetahui akan kekuatan Feng Ying orang yang di juluki Sang Legenda, tidak satupun yang bisa menandinginya. Namun jika Raja iblis memiliki pasukan yang mampu menandingi Feng Ying, maka mereka tidak habis pikir, seberapa besar kekuatan Raja iblis itu sendiri.
“Ini benar-benar sangat sulit, dan seluruh dunia akan menjadi kacau..!" Kata Kaisar dengan lesu.
Wang Chungying hanya menghela nafas, dia mengingat pertarungannya dengan pasukan iblis, hanya pasukan itu saja Wang Chungying di buat sedikit kesulitan menghadapinya, apa lagi kalau sampai ada yang lebih kuat, bahkan setara dengan kekuatan Feng Ying.
“Aku berharap dugaan ku keliru." Kata Ho Chen.
Kaisar memijat kepalanya yang terasa sakit, pikirannya kali ini sungguh penuh, belum selesai masalah pasukan iblis yang pertama! Kini muncul masalah iblis yang baru.
“Aku ingin pamit undur diri dulu..! Kalian lanjutkan saja ngobrolnya.!" Kata Kaisar.
Mereka semua membungkuk. Dan Kaisar pergi bersama Yihua meninggalkan mereka.
Jiu Rui terus memandangi Yihua, dia menyayangkan Ho Chen yang tidak Pekka terhadap perasaan wanita. Jiu Rui menyadari kalau Putri Yihua menyukai Ho Chen, masalahnya adalah Ho Chen nya yang seakan tidak peduli akan hal itu.
“Senior Chungying. Apa saya bisa meminta bantuanmu?." Tanya Ho Chen setelah Kaisar tidak terlihat lagi.
“Tentu saja, katakanlah apa yang bisa aku bantu?." Kata Wang Chungying.
“Bukankah senior pengguna Tehnik Api?. Bisakah senior mengajariku?." Kata Ho Chen sambil memandang Wang Chungying.
“Ini..." Wang Chungying terlihat ragu.
“Kalau senior merasa keberatan maka tidak usah..!." Ho Chen merasakan keraguan Wang Chungying.
“Ah tidak, aku tidak merasa keberatan, masalahnya kamu akan berangkat besok, bagaimana caranya agar aku bisa mengajarkanmu dalam semalam?." Jawab Wang Chungying.
Ho Chen lupa akan hal itu. “Benar juga ya..!" Kata Ho Chen sambil tertawa kecil.
“Begini saja lebih baik kamu membawa kitab ini saja, Ini kitab Tehnik Dewa Api, hingga saat ini aku belum bisa menguasainya, mungkin kamu bisa, bawalah..!" Kata Wang Chungying sambil menyerahkan kitab tersebut.
“Senior yakin ingin menyerahkan kitab ini padaku?." Tanya Ho Chen setelah menerima kitab tersebut
***
Maaf malam ini cuma Dua Bab saja.
di karenakan waktu yang sedikit.
kemungkinan Minggu depan saya usahankan Crezy up nya.
Terima kasih masih membaca Pendekar Dewa Abadi.
__ADS_1