
Keenam pria yang berniat menyerang Kang Yelu kini menghentikan langkahnya ketika melihat seorang pemuda tiba-tiba turun dari atas mereka, mereka bingung karena tidak menyadari akan adanya pemuda tersebut.
“Siapa kamu..?. Beraninya menggangu kami, apa kamu sudah bosan hidup?" Tanya pria paruh baya tersebut.
Ho Chen tidak menjawab dia hanya memperhatikan pria paruh baya tersebut, melihat penampilannya Ho Chen yakin pria tersebut adalah pimpinannya.
Ho Chen mengalihkan perhatiannya kepada Kang Yelu yang masih berlutut di belakangnya. “Apa kamu bisa berdiri?." Tanya Ho Chen kepada Kang Yelu.
Kang Yelu hanya mengangguk. Kang Yelu akhirnya dapat melihat wajah Ho Chen dengan jelas, namun dia tidak mengenalinya.
“Hei..! pemuda ini meremehkan kita."
“berani sekali dia mengalihkan perhatian dan tidak menjawab pertanyaan kakak tertua." Mereka yang ada di belakang pria paruh baya merasa geram terhadap sikap Ho Chen, mereka berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ho Chen.
“Kalian orang bayaran dari sekte Racun Langit, atau memang anggota sekte Racun Langit?." Tanya Ho Chen sambil menatap mereka semua dengan tajam.
“Hai Anak muda, berani kamu bertanya seperti itu..? Apa kamu tau siapa kami..? Kami di juluki Pendekar Enam Kapak Bersaudara, dan kami adalah Pembunuh bayaran terhebat, hari ini adalah hari keberuntungan untukmu karena bisa mati di tangan kami.." ucap salah seorang di antara mereka dengan tersenyum sinis.
Berbeda dari kelima rekannya, pria paruh baya memperhatikan Ho Chen dengan penuh kewaspadaan, itu di karenakan dia tidak bisa membaca Tingkat Energi milik Ho Chen. Pria tersebut tidak ingin bertindak gegabah, sebab Ho Chen muncul secara tiba-tiba menandakan bahwa pemuda di hadapannya itu bukanlah Pendekar sembarangan.
“Aku tidak pernah mendengar tentang kalian, dan belum tentu hari ini adalah hari keberuntunganku, lebih baik kalian pergi sebelum kalian menyesalinya..!" Ucap Ho Chen dengan santainya. Mereka berenam menjadi geram mendengar perkataan Ho Chen yang terdengar meremehkan.
“Nyalimu sungguh besar. Aku ingin lihat apa kamu bisa berbicara seperti itu jika aku membelahmu menjadi dua." Ucap pria paruh baya yang sejak tadi diam.
“Hihihi...! Tentu saja tidak bisa karena aku pasti sudah mati, kamu sudah tua namun tetap bodoh..!" Kata Ho Chen dengan tertawa cekikikan.
Mereka berlima melotot mendengar Ho Chen membalikkan kata-kata kakak tertua mereka, sedangkan pria paruh baya wajahnya semakin buruk karena merasa di permainkan oleh Ho Chen.
__ADS_1
“Akan aku robek mulutmu..." Pria paruh baya tersebut mengangkat kapaknya dan menebas ke arah Ho Chen, Ke 5 rekannya segera ikut menyerang juga.
Ho Chen meminta Kang Yelu untuk sedikit mundur sebelum maju untuk menyambut serangan mereka. Ho Chen dapat menghindari setiap serangan kapak yang mereka tebaskan padanya tanpa kesulitan, bahkan Ho Chen berhasil mendaratkan beberapa pukulan kepada mereka.
Walau luka yang mereka dapatkan tidak terlalu serius, namun raut wajah mereka langsung begitu buruk, pasalnya tidak satupun serangan mereka yang berhasil melukai Ho Chen. Bahkan sebaliknya mereka yang terpukul mundur.
“Kakak, sepertinya pemuda ini ahli dalam pertarungan jarak dekat." Kata salah satu rekannya kepada kakak tertuanya setelah mundur beberapa meter.
“Kamu benar, sebaiknya kita menggunakan serangan gabungan jarak jauh." Kata Pria tersebut.
“Tempat ini tidak terlalu luas untuk kita bertarung, bagaimana kalau kita pindah ke tempat yang lebih luas." Ho Chen yang masih berdiri dengan santai mengajak mereka untuk pindah.
“Tidak perlu, tampat apapun sama saja." Kata pria tersebut.
Mereka berenam mundur dan mengambil jarak 5 meter, secara bersamaan mereka melempar kapak mereka ke udara. kapak tersebut berputar-putar di udara membuat Ho Chen sedikit takjub melihatnya, Ho Chen teringat akan Kitab Tehnik Pedang Terbang yang ia beli di desa Daan namun tidak sempat ia pelajari.
“Tehnik Kapak - Membelah Angin."
Kapak tersebut berpencar dan melesat secara bersamaan ke arah Ho Chen, suara putaran kapak tersebut bergemuruh sangat keras, sehingga banyak warga yang mendengar bahkan menyaksikan kemudian lari meninggalkan tempat pertarungan tersebut.
“Tehnik Pedang Langit - Menembus Bumi."
Ho Chen mengeluarkan pedangnya yang di lapisi energi, dengan sekali ayunan pedang, kapak yang mendekati Ho Chen langsung hancur dan dan tersisa gagangnya kemudian jatuh, Ho Chen segera menebas kapak yang masih tersisa sehingga semua kapak habis yang tersisa hanya gagangnya saja.
Kang Yelu yang menyaksikan di secara langsung begitu takjub melihat Ho Chen yang mampu menghancurkan semua kapak yang datang menyerangnya dengan begitu mudahnya.
“Tidak mungkin, ini mustahil." Mereka kaget melihat kapak mereka yang sudah hancur. Mereka mengetahui kualitas kapak mereka, walau hanya pusaka menengah namun akan sulit untuk menghancurkan kapak tersebut. Namun nyatanya Ho Chen mampu menghancurkannya seperti menghancurkan gundukan tanah.
__ADS_1
“Bagaimana?, apa kalian masih ingin melanjutkan?." Tanya Ho Chen sambil menatap mereka.
Mereka hanya menelan ludah dan saling berpandangan. “Aku tidak akan melupakan mu, Tunggulah pembalasanku anak muda." Setelah berkata seperti itu mereka lari tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sebenarnya bisa saja Ho Chen membunuh mereka semua, namun Ho Chen sudah merasakan ketika dia membunuh salah satu anggota Kelompok Rantai Besi, perasaan Ho Chen terasa aneh ketika membunuh manusia. Berbeda rasanya ketika dia membunuh para siluman. Dari pada membunuh Kaum sendiri, Ho Chen lebih memilih untuk membunuh Kaum iblis.
Setelah mereka tidak terlihat Ho Chen menghampiri Kang Yelu. “Terima kasih banyak, kalau bukan karena bantuan senior, mungkin saya sudah tidak ada sekarang." Ucap Kang Yelu setelah Ho Chen berada di hadapannya. Menurutnya Ho Chen adalah senior yang terlihat muda.
“Kita ini seumuran jadi tidak perlu memanggilku senior." Jawab Ho Chen dengan tersenyum.
Kang Yelu tidak percaya terhadap perkataan Ho Chen, namun dia tidak berani membantah. “Nama saya Kang Yelu, bagaimana saya memanggil pendekar?." Tanya Kang Yelu.
“Namaku Ho Chen, panggil saja Saudara Chen. Kalau boleh tau bagaimana saudara lu bisa di kejar-kejar oleh mereka?." Tanya Ho Chen.
Kang Yelu mulai bercerita. “Saat itu saya sedang pergi jalan-jalan ke taman kota, setiap sebulan sekali saya sering ke taman sendiri untuk mencari ketenangan. Namun tidak di sangka hari ini begitu sial. Ketika saya ingin pulang, ternyata saya di ikuti oleh mereka." Kang Yelu mengambil nafas sejenak dan kembali melanjutkan ceritanya.
“Awalnya saya pikir mereka ada perlu, pas saya berhenti dan ingin bertanya, secara tiba-tiba mereka mengayunkan kapak ke arah saya Tampa mengucapkan sepatah katapun, beruntungnya saya bisa menghindari tebasan itu dan segera lari, saya pikir mereka memiliki masalah dengan ayah saya, ternyata saya keliru." Kang Yelu mengakhiri ceritanya.
“Saudara lu, lebih baik kedepannya kamu harus lebih waspada, kemungkinan mereka akan kembali lagi mengingat mereka di bayar untuk membunuhmu." Kata Ho Chen mengingatkan.
“Terima kasih Saudara Chen, saya juga tidak akan melupakan bantuan yang saudara Chen perbuat barusan." Kata Kang Yelu.
“Tidak perlu di pikirkan saudara lu, bagaimana pun sudah seharusnya aku membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan." Kata Ho Chen.
“Kalau begitu mari ikut kerumahku, aku akan memperkenalkan saudara Chen kepada kakekku." Ajak Kang Yelu dengan semangat.
Ho Chen menerima ajakan Kang Yelu, mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut, beruntungnya Ho Chen bertarung tidak menggunakan seluruh kemampuannya sehingga tidak terjadi kerusakan yang parah di tempat itu.
__ADS_1