Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Sekte Pedang Hitam.


__ADS_3

Ke empat pendekar tersebut melompat tinggi dan mengangkat pedang mereka keatas berniat memberi tebasan dari arah atas secara bersamaan.


"Mati kau...!." Seru salah satu dari mereka kemudian menebas Ho Chen secara bersamaan.


Begitu ke empat pedang hampir menyentuh kepala Ho Chen tiba-tiba saja perut mereka berempat terasa ada yang memukul dengan keras dan mereka berempat terpental dan jatuh ke tanah dengan kondisi tersungkur sekaligus muntah darah.


"Uhuk-uhuk..! Bagaimana.. Uhuk! Bagaimana dia melakukan nya? Uhuk..!." Mereka kesulitan untuk bicara kerana rasa sakit dan batuk yang di sertai muntahan darah segar dari mulut mereka.


Mereka yakin Ho Chen tidak mengerakkan tubuhnya sama sekali, sehingga mereka merasa heran dan bertanya-tanya bagaimana cara Ho Chen melakukannya tanpa mengangkat jarinya sama sekali.


"Sepertinya dia adalah pendekar Tingkat tinggi, kita bukan tandingannya!." Kata salah satu dari mereka yang baru menyadari akan kekuatan pemuda yang ingin di tampilnya itu. Dia merasa menyesal karena mengikuti ke empat rekannya untuk merampok Ho Chen.


Ho Chen berjalan ke arah mereka membuat mereka berempat mulai merasa ketakuatan. Mereka ingin lari namun perut mereka benar-benar sangat sakit, sehingga sulit untuk berdiri.


"Maafkan aku, sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, namun aku tidak bisa membiarkan orang-orang seperti kalian terus hidup dan berbuat kejahatan yang lebih jauh lagi." Kata Ho Chen kemudian mengangkat sebelah tangannya dan mengibaskan nya kepada mereka berempat.


Mereka ingin bicara kepada Ho Chen, namun terlambat karena beberapa besi hitam yang runcing lebih dulu menghujam jantung mereka berempat, dan akhirnya mereka berempat mati dengan mata terbuka dan mulut menganga dengan darah keluar dari mulut mereka berempat.


Setelah melihat semuanya sudah tidak bergerak, Ho Chen berpindah tempat ke depan satu rekannya yang masih hidup. Pendekar tersebut yang lebih dulu terlempar jauh, dia juga melihat dengan mata kepala sendiri kematian ke empat rekannya.


"Maafkan saya pendekar, saya mohon jangan bunuh saya, saya berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Ampun saya..!!." Pendekar tersebut berusaha memelas agar tidak di bunuh, namun Ho Chen masih menatapnya dengan dingin.


"Aku sudah sering menghadapi orang-orang seperti kalian, banyak yang berjanji padaku jika mereka tidak akan melakukan kejahatan lagi. Dari sekian banyak yang berjanji hanya sedikit yang menepatinya, sisanya masih melakukan hal yang sama, bahkan lebih kejam lagi." Kata Ho Chen.


Pendekar tersebut terdiam sejenak terlihat merenungkan perkataan Ho Chen yang artinya bahwa Ho Chen tidak mempercayai ucapannya.


"Pendekar, saya bersungguh-sungguh ingin bertobat, jika pendekar memberi saya kesempatan lagi, maka saya akan berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan sekaligus melindungi yang lemah!." Kata Pendekar tersebut masih berusaha meyakinkan Ho Chen agar percaya.


"Ucapan mulut dan hati bisa berbeda, kamu pikir aku tidak tahu akan apa yang ada di pikiran mu! Bukankah kamu masih ragu dengan ucapan mu sendiri." Kata Ho Chen membuat Pendekar tersebut terperanjat kaget.


Dia tidak menduga jika Ho Chen mampu menebak apa yang ia pikirkan, lebih jelasnya Ho Chen bisa mendengar kata hatinya melalui pikirannya.

__ADS_1


"Kenapa! Apa kamu terkejut karena aku mengetahui nya!? Sudah terlambat untuk mu, lebih baik kamu bersiap menerima ajal mu!." Kata Ho Chen dan bersiap membunuh nya.


"Tunggu dulu Chen'er, jangan membunuhnya!."


"Emm! Kenapa guru..?." Tanya Ho Chen.


"Kamu itu buta arah, sebaiknya gunakan dia untuk menjadi penunjuk jalan agar kamu tidak nyasar kemana-mana!." Kata Ming Hao.


"Aku bisa pergi sendiri tampa bantuannya!." Kata Ho Chen.


"Iya kamu bisa, tapi kebanyakan nyasar." Kata Yu.


"Benar Chen'er, sebaiknya kamu jadikan dia penunjuk jalan, setidaknya hingga kamu tiba di pelabuhan, setelah itu terserah kamu mau kamu apakan nantinya!." Kata Ming Hao.


Ho Chen berpikir sejenak kemudian mengangguk menuruti perkataan Gurunya. "Baiklah aku akan mengikuti saranmu!." Kata Ho Chen kemudian kembali fokus kepada Pendekar yang berada di hadapannya.


"Aku akan memberi mu kesempatan, namun ada syaratnya! Kamu harus menemaniku dalam perjalanan hingga aku tiba di pelabuhan, jika selama itu kamu bisa mengubah pola pikir mu itu, mungkin aku akan mempertimbangkan lagi untuk membiarkan mu tetap hidup. Namun jika tidak tentu kamu sudah tahu kelanjutannya!." Kata Ho Chen dengan tersenyum dingin.


Pendekar tersebut terkejut sekaligus senang, namun dia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Ho Chen, jika ada kesempatan untuk bisa tetap hidup kenapa harus menolak!.


"Baiklah sekarang aku mau mencari penginapan dulu!." Kata Ho Chen kemudian berniat pergi.


"Tu-tunggu dulu pendekar..!."


Ho Chen segera menoleh dan menatapnya dengan heran. "Ada apa lagi?." Tanyanya.


"Desa ini adalah desa saya, jadi pendekar bisa menginap di rumah saya saja, sekaligus..!." Pendekar tersebut menoleh ke arah empat rekan-rekan yang sudah tidak bernyawa.


Ho Chen segera memahami maksud pendekar tersebut kemudian berjalan ke arah keempat mayat para pendekar yang di bunuhnya itu.


"Apa rumah mereka juga di sini?." Tanyanya.

__ADS_1


"Mereka berasal dari Sekte Pedang Hitam, sama seperti saya yang juga bergabung dengan sekte tersebut, salah satu dari mereka adalah cucu dari ketua sekte tersebut. Saya takut jika kematian mereka di ketahui oleh ketua sekte, maka desa ini bisa di hancurkan nya!." Ucapnya dengan sedih.


Pendekar tersebut bernama Yu Zhian Pemuda berasal dari Desa Chisan. Dia bergabung dengan Sekte Pedang Hitam selama lebih dari Lima tahun.


Sekte Pedang Hitam adalah Sekte aliran hitam terbesar dan terkuat dari sekte aliran hitam lainnya yang berada di kekaisaran Liu.


Mereka sama kejamnya dengan anggota Lembah Terlarang, mereka sering mengadakan ritual persembahan darah seorang gadis yang masih perawan, dan itu dilaksanakan setiap dua tahun sekali.


Mereka melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan kekuatan hebat, sekaligus agar bisa menjadi awet muda, dan semua itu adalah ulah ketua sekte mereka.


Nama ketua sekte nya adalah Ye Gou. Sedangkan cucunya yang di bunuh oleh Ho Chen bernama Ye Qiang, cucu ketiga dari Ye Gou.


Ho Chen mengerti akan ke khawatiran Yu Zhian, kemudian meminta seseorang untuk membawa ke empat mayat tersebut kembali ke sekte nya.


Sekte Pedang Hitam tidak jauh dari Desa Chisan, hanya dalam waktu setengah hari saja akan tiba di Sekte Pedang Hitam sehingga Yu Zhian khawatir jika esok pagi anggota Sekte Pedang Hitam akan datang setelah mengetahui jika Cucu dari ketua sekte telah terbunuh di Desa Chisan.


"Tenang lah, aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan desa ini!." Kata Ho Chen kemudian menepuk pundak Yu Zhian.


Yu Zhian tetap khawatir, itu karena Ho Chen hanya sendiri saja, sedangkan kemungkinan besar anggota Sekte Pedang Hitam yang datang bisa berjumlah puluhan atau bahkan ratusan.


Belum lagi para jagoan Tingkat Alam yang datang, yag jelas akan banyak pendekar Tingkat tinggi yang akan datang mengacak-acak Desa Chisan.


Ho Chen membayar beberapa orang untuk mengantarkan ke empat mayat tersebut, namun mereka tidak berani menyerahkannya secara lansung, kemungkinan akan di letakkan di dekat sekte tersebut kemudian langsung kabur.


Tidak ada orang yang berani bertemu dengan anggota Sekte Pedang Hitam, terlebih lagi jika mereka sampai mengantarkan mayat tersebut hingga kedalam, bisa-bisa para pengantar itulah yang akan di habis terlebih dahulu.


Namun sebenarnya Ho Chen sudah mengikuti mereka dengan bayangannya, sekaligus ingin mengetahui lokasi mereka berada.


"Selamat datang di rumah saya pendekar, semoga pendekar betah menginap di rumah saya ini!." Kata Yu Zhian sambil mempersilahkan Ho Chen untuk masuk.


"Siapa namamu, dan siapa saja yang tinggal di rumah ini?." Tanya Ho Chen.

__ADS_1


"Nama saya Yu Zhian, yang tinggal di rumah ini adalah ayah dan adik perempuan saya, sedangkan ibu saya sudah lama pergi meninggalkan kami bertiga." Kata Yu Zhian dengan wajah terlihat sedih.


"Lalu kemana ayah dan adikmu itu?." Tanya lagi Ho Chen.


__ADS_2