
Jian Heeng yang sedang bertarung dengan salah satu dari jagoan Racun Langit terlihat berat sebelah.
Jian Heeng di pukul mundur oleh jagoan tersebut sehingga dia mengalami beberapa luka akibat terkena senjata bulatan rantai yang memiliki banyak duri kecil dan beracun.
Jian Heeng segera meminum pil penawar racun dan kemudian kembali bangkit. “Aku tidak peduli kau lebih kuat dariku atau tidak. Yang jelas aku akan mengalahkan mu malam ini.
Kata Jian Heeng kemudian kembali menyerang mengunakan pedangnya.
Kali ini pedang Jian Heeng mulai di aliri petir kecil.
“Kau terlalu percaya diri." Kata jagoan tersebut kemudian menangkis pedang Kang Jian.
Jagoan tersebut melompat mundur setelah rantainya berbenturan dengan pedang Jian Heeng. Petir di pedang Jian menjalar dan menghantam tangan tersebut.
Jagoan tersebut melihat ketangan nya karena sangat kesemutan. Dia pikir Jian Heeng hanya memiliki tehnik pedang. Namun nyatanya, Jian Heeng juga menguasai Tehnik Halilintar.
Jian Heeng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera menarik pedang satunya. Kini kedua pedang Jian Heeng sudah di selimuti petir.
“Sekarang aku ingin lihat seberapa kuat dirimu itu!." Kata Jian Heeng kemudian segera maju.
“Tehnik Pedang Bulan - tebasan bulan sabit."
Jian Heeng melepaskan energi yang di diselimuti energi petir dan melesat ke arah jagoan tersebut. Terlihat energi menyerupai sabit melesat menuju ke arah jagoan tersebut.
“Itu tidak ada gunanya untukku." Kata jagoan tersebut kemudian menangkis energi yang mengarah padanya.
Jagoan tersebut kaget setelah rantai yang dia buat bertahan terputus setelah terkena energi yang dilepaskan Jian Heeng. Dan bukan hanya itu! Bahkan energi tersebut menembus tubuhnya.
Tubuh jagoan tersebut terbelah menjadi dua, dan mati seketika itu juga. Bahkan dia tidak sempat berbicara.
__ADS_1
Energi listrik yang menyelimuti kedua pedang kini mulai menghilang. Energi Jian Heeng sedikit terkuras akibat mengeluarkan Tehnik tersebut.
“Aku harus membantu yang lainya." Kata Jian Heeng.
Jian Heeng menoleh ke arah Kang Jian yang sedang bertarung dengan Peiyu, dia bisa melihat pertarungan mereka berimbang. Dia melihat ke arah Ho Chen yang sudah berhasil melemahkan beberapa anggota sekte Racun Langit.
Ho Chen datang menghampiri Jian Heeng setelah selesai melumpuhkan musuh-musuhnya. “Paman! Apa kau tidak apa-apa?." Tanya Ho Chen setelah tiba di depan Jian Heeng.
Jian Heeng menoleh ke arah musuh yang telah di hadapi Ho Chen lalu bertanya. “Kenapa tidak kau bunuh saja mereka?."
Ho Chen menjawab. “Andai aku membunuh mereka semua, apa kejahatan di dunia ini akan benar-benar berkurang?."
Jian Heeng diam dan berpikir sejenak, kemudian menggelengkan kepala. “Mungkin tidak! Namun setidaknya musuh kita mungkin bisa berkurang." Kata Jian Heeng dengan sedikit tidak yakin.
“Baiklah paman! mungkin pemahaman kita berbeda. Dari pada kita membicarakan hal ini lebih baik kita membantu yang lainya." Kata Ho.
Jian Heeng setuju dan berniat untuk pergi membantu yang lainnya. Namun sebelum dia bergerak, Jian Heeng melihat Kang Jian yang mulai berubah, tubuhnya berwarna biru terang dan di aliri petir.
“Bukankah itu ibunya Yin Fei..?." Gumam Ho Chen kemudian dia berencana ingin bertanya kepada Jian Heeng.
Namun ketika dia hendak pergi ke Jian Heeng, Kang Jian dan Peiyu sudah melayang di udara. Ho Chen mengeluarkan pedang lidah apinya kemudian terbang ke arah mereka yang sudah mulai melepaskan Tehnik mereka.
Ho Chen melesat dengan cepat. Namun dia tetap berhasil mencapainya. Ketika kedua tehnik tersebut saling berbenturan, ledakan besar dengan gelombang kejut menghantam tubuh Ho Chen yang sedang menuju ke arahnya.
Tubuh Ho Chen terpental hingga belasan meter. Ho Chen kembali menstabilkan pedang terbangnya. Kemudian dia memandang kepulan asap hitam dan tebal serta percikan petir.
Jian Heeng dan semua yang sedang bertempur menghentikan pertarungannya, mereka semua menatap ke langit dengan penasaran.
Asap tebal mulai menipis, sedikit demi sedikit. Terlihat dua orang yang sedang dalam posisi berbeda.
__ADS_1
Setelah asap sudah menghilang, barulah bisa terlihat dengan jelas. Ho Chen melihat Kang Jian masih berdiri dan petir di tubuhnya juga mulai menghilang, dia perlahan-lahan turun kebawah setelah tiba di bawah, dia segera bergerak menangkap tubuh Peiyu yang juga terjatuh.
Peiyu mengalami luka yang sangat serius. Kang Jian berhasil mendaratkan pukulannya tepat ke perut Peiyu. Kang Jian sedikit heran ketika dia dengan mudahnya bisa memukul perut Peiyu.
“Peiyu! Apa maksud dari semua ini?." Kata Kang Jian setelah berhasil menangkap tubuh Peiyu.
Peiyu terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari batuknya, kemudian dia menatap wajah Kang Jian sebelum menjawabnya.
“Jian..! Uhuk! Uhuk! Uhuk! Aku mungkin bisa melukaimu..! Uhuk! Uhuk!." Peiyu tidak henti-hentinya batuk akibat luka dalamnya.
Ho Chen tiba di dekat Peiyu dan Kang Jian. “Bukankah anda ibunya Yin Fei?." Tanya Ho Chen setelah berhadapan dengan Peiyu dan Kang Jian.
Peiyu hanya mengengguk, sedangkan Kang Jian sedikit bingung. Ho Chen melihat seluruh luka yang di alami oleh Peiyu, kemudian dia mencoba menyembuhkannya.
Ho Chen terus mengobati luka Peiyu. Namun bagaimanapun usaha yang Ho Chen lakukan tidak membuat Peiyu sembuh, itu di karenakan Tehnik terlarang yang di gunakan oleh Peiyu, perlahan-lahan tubuhnya semakin lama semakin membusuk.
“Jian! Aku tahu kau tidak akan memaafkan ku, tapi ku mohon saat ini aku ingin. Uhuk! Uhuk! Uhuk!."
Kang Jian sedikit iba setelah melihat tubuh Peiyu yang semakin lama semakin membusuk. “Katakanlah apa yang kau inginkan..!." Kata Kang Jian.
Belum selesai Peiyu menjelaskan, Yin Fei datang sambil berlari ke arah peiyu. “Ibu..! Kenapa ibu bisa seperti ini..?." Yin Fei bertanya sambil menangis.
Peiyu berusaha tersenyum di depan putrinya lalu berkata. “Fei'er! maafkan jika selama ini ibu tidak. Uhuk! Uhuk! Tidak bisa membuatmu bahagia." Kata Peiyu.
“Ibu bicara apa..? Aku-aku sudah sangat bahagia bersama ibu." Kata Yin Fei yang masih menangis.
Peiyu ingin sekali mengusap kepala putrinya, namun tangannya sudah tidak bisa di gerakkan, dia hanya bisa memandangi putrinya dengan pandangan sedih.
“Fei'er setelah kepergian ku nanti, aku harap. Uhuk! Uhuk! Aku harap kau mau tinggal bersama ayah kandung mu Kang Jian..!." Kata Peiyu dengan suara sedikit serak karena darah.
__ADS_1
Kang Jian dan Ho Chen juga Yin Fei seperti tersambar petir setelah mendengar Peiyu mengatakan kepada Yin Fei bahwa dia harus tinggal bersama Kang Jian.
Ho Chen ingat jika nama Yin Fei sebenarnya adalah Kang Yin Fei.