
Awalnya Ho Chen hanya terbang dengan pelan, dia ingin memberi kejutan kepada Jiu Rui dan Qiao Lin ketika dia sudah melihat Desa Hutan Bambu sudah di depan mata, namun begitu mendengar teriakan Qiao Lin yang memanggilnya dengan sangat keras, dia langsung mempercepat terbangnya, dia bisa merasakan hal buruk terjadi di desa tersebut.
Begitu tiba dia terkejut bukan main ketika seorang pendekar mendekap Tubuh Qiao Lin, di tambah lagi bajunya robek di bagian lengannya, membuat Ho Chen tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Siapa kau..!." Pemimpin kelompok perampok tersebut sangat terkejut ketika melihat Ho Chen yang bisa melayang di udara menaiki sebilah pedang.
Ho Chen tidak menghiraukan nya dia segera melesat dan melepaskan tebasan mengunakan pedangnya yang sudah di aliri energi Angin.
Dalam waktu singkat 10 orang tewas dengan kepala terputus, tidak sampai di situ saja, dia bahkan melepaskan tebasan yang mengandung energi sangat panas, sehingga 20 orang tewas begitu saja tanpa memberikan perlawanan yang berarti.
Tersisa 8 orang pendekar dari Goa Tengkorak dan 1 orang pimpinan perampok, mereka semua mematung menyaksikan tindakan Ho Chen yang begitu singkat membunuh 20 orang perampok hanya dengan dua kali ayunan pedang.
"Berhenti di situ! Jika kau mendekat nyawa gadis ini akan melayang." Pendekar yang masih mendekap tubuh Qiao Lin menempelkan pisau di leher Qiao Lin dengan nada mengancam.
Nyatanya Ho Chen tidak menghiraukan ancaman tersebut dia kembali menyerang ketua kelompok yang berdiri agak jauh dari yang lainnya.
Sang ketua perampok jelas panik melihat Ho Chen yang datang ke arahnya, sekuat tenaga dia lari menjauhi Ho Chen, namun baru beberapa langkah saja tebasan energi angin mengenai lehernya dan sang ketua perampok tewas dalam waktu singkat.
Ho Chen menatap pendekar yang masih menempelkan pisau ke leher Qiao Lin dengan tatapan dingin. "Sedikit saja ada luka gores di kulitnya, maka kau akan membayar dengan nyawa mu!." Kata Ho Chen namun dia masih berada sekitar 15 meter dari tempat Qiao Lin.
"Hah! Coba saja kalau kau bisa, jika kau pikir aku takut dengan perkataan mu, coba kau selamat kan gadis ini sekarang!." Kata pendekar tersebut kemudian menekan pisau lebih keras sehingga ada sedikit darah yang mengalir di leher Qiao Lin.
Qiao Lin menutup matanya, ketika lehernya sudah mulai terluka dia hanya bisa menahan sakit.
"Ayo selamatkan dia, atau kau hanya..!." Belum sempat pendekar tersebut menyelesaikan kalimatnya, tangan yang memegang pisau terpotong tanpa ada yang mengetahui akan apa yang sudah terjadi.
Anehnya Qiao Lin juga sudah tidak bersamanya lagi, namun dia berada di tempat Ho Chen berdiri.
"Arrrgh!!."
Pendekar tersebut baru merasakan sakit setelah beberapa detik kemudian, kejadian tersebut begitu cepat dan tidak bisa di lihat oleh mata.
"Adik Lao..!." Salah seorang segera menghampirinya dan berusaha menolong rekannya yang kini sudah terpotong tangannya.
__ADS_1
"Bagaimana cara dia melakukannya? Apa tadi kau melihatnya?." Mereka kebingungan serta saling bertanya siapa tahu ada yang melihat Ho Chen bergerak ketika memotong lengan rekannya.
Mereka menggelengkan kepala karena memang tidak ada yang melihat cara Ho Chen bergerak atau pun menyerang. "Kekuatannya setara dengan jagoan sekte besar, jika di lihat dari tehnik nya, sepertinya dia berasal dari sekte Pilar Angin." Yang lain mulai berasumsi.
"Tidak mungkin, sepertinya dia juga menguasai Tehnik Api." Kata yang lainnya membantah.
Di sisi lain Qiao Lin jugs bingung melihat dirinya yang sudah berpindah tempat, dia menatap Ho Chen walau yang terlihat hanya matanya saja, namun cukup dengan melihat pedang dan mendengar suaranya saja, dia sudah bisa mengenalinya.
Ho Chen mengusap darah Qiao Lin mengunakan lengan bajunya dengan lembut. "Kau tunggulah di sini sebentar!." Kata Ho Chen kemudian kembali menatap kembali ke delapan pendekar tersebut dengan dingin.
Qiao Lin ingin mengatakan sesuatu namun mengurungkannya, dia menatap Jiu Rui yang masih terbaring di tanah tidak jauh darinya kemudian menghampirinya untuk membantu Jiu Rui berdiri.
Kedelapan Pendekar tersebut berkeringat dingin ketika di tatap tajam oleh Ho Chen. "Kakak Yin, apa yang akan kita lakukan sekarang?." Tanya salah seorang dari mereka kepada pendekar pemegang cambuk tersebut.
Pendekar pemegang tongkat atau yang di panggil kakak Yin oleh mereka tidak menjawab, dia juga terlihat ragu untuk maju menyerang.
"Kakak, sebaiknya kita pergi dari sini dan pulang memberi tahukan akan hal ini kepada Guru." Kata salah satu rekannya yang memegangi temannya yang sudah terpotong lengannya.
"Benar sekalian kita mengobati luka Adik Lao di Goa." Jawab yang lainnya.
"Jangan harap Kalian bisa pergi setelah apa yang telah kalian perbuat!." Kata Ho Chen setelah kembali berada di hadapan mereka.
"Kamu bisa membunuh para sampah itu dan memotong lengan rekan kami, namun jangan dulu merasa bangga dan sombong, jika kami bersatu kamu pun pasti akan kalah." Kata pendekar terpanggil kakak Yin.
"Terlalu banyak omong kosong!." Ucap Ho Chen yang kemudian langsung maju menyerang mereka.
"Tehnik Petir - Pukulan naga halilintar."
Ho Chen melepaskan pukulan yang di aliri Petir, energi yang di lepasnya juga membentuk naga petir yang siap menerkam mereka yang ada di hadapannya.
"Tehnik Tongkat - Penahan langit."
Pendekar yang bernama Yin segera memutar tongkatnya untuk menahan serangan Ho Chen, namun dengan pikiran penuh tanda tanya karena ternyata Ho Chen juga menguasai Tehnik Petir.
__ADS_1
Jdeaaaar!!!
Ledakan besar pun terjadi sehingga hampir menghancurkan bangunan yang ada di sekitarnya. Beruntung nya Ho Chen hanya mengunakan seperempat dari energinya jika tidak, desa tersebut pasti akan hancur.
Mereka semua terlempar beberapa meter karena tidak mampu menahan energi pukulan yang Ho Chen lepaskan.
"Uhuk-uhuk! Dia kuat sekali, uhuk!."
Mereka semua mengalami luka yang tidak ringan, bahkan pendekar yang bernama Lao sudah tidak mampu lagi untuk bersuara di karena kan menahan sakit dari luka bekas potongan lengannya di tambah sakit akibat ledakan.
Ho Chen menghampiri pendekar yang bernama Lao tersebut yang berusaha untuk bangkit.
"Argggh!!!."
Pendekar bernama Lao berteriak ketika pedang Ho Chen menancap di pahanya kemudia Ho Chen berbicara dengan nada dingin.
"Bukankah sudah ku katakan, jika berani kau melukai kulitnya, maka nyawa mu akan menjadi bayarannya." Ucap nya dengan dingin.
Mendengar perkataan Ho Chen yang terlihat begitu marah, pendekar tersebut hanya bisa menelan ludah kemudian melirik ke arah teman-temannya yang berusaha bangkit.
"Kau ini sangat kejam, bukan kah aliran putih dan netral tidak pernah melakukan hal sekejam ini! Kenapa kau bisa melakukannya?." Kata salah satu dari mereka.
"Aku tidak berasal dari aliran manapun, jadi aku tidak memiliki aturan, bagiku siapa yang berbuat jahat baik mereka dari aliran putih, hitam, atau netral maka mereka akan mendapat kan hukuman yang sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan, itulah hukum dan aturan ku!." Kata Ho Chen kemudian menebas leher pendekar Lao hingga kepalanya terlepas dan jatuh menggelinding di tanah dengan mata masih terbuka.
Mereka hanya bisa menyaksikan kepala teman mereka terpotong tanpa berani berbuat apa-apa, namun mata mereka penuh kebencian kepada Ho Chen.
Ho Chen tertawa keras melihat tatapan tajam mereka kepada dirinya kemudian mengarahkan pedang nya kepada mereka. "Selanjutnya adalah kalian!."
"Tahan dulu pendekar." Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari balik api yang kemudian muncul dari atas api dengan cara melompatinya.
"Guru..!." Salah seorang segera mengenali dan memanggilnya.
"Apa yang sudah kalian lakukan sehingga membuat pendekar ini marah?." Tanya orang tersebut setelah berada di hadapan ke tujuh orang yang sedang terluka.
__ADS_1
"Kami..!." Mereka tidak ada yang berani menjawab dan hanya menunduk karena takut.