Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Sekte Hutan Bambu


__ADS_3

Jiu Rui melihat Ho Chen bersama Qiao Lin pergi ke arah tempat kudanya berada. Jiu Rui segera berlari pelan menyusul mereka berdua. "Adik Chen!." Panggil Jiu Rui dan Ho Chen segera menoleh ke belakang.


"Kak Rui kau sudah ba..!." Ho Chen berhenti berbicara karena nafasnya terasa sesak akibat di peluk oleh Jiu Rui dengan begitu erat.


"Adik Chen akhirnya kau kembali!." Kata Jiu Rui yang merasa senang melihat Ho Chen kembali.


"Ka-kak Rui, aku tidak bisa ber.. nafas..!." Kata Ho Chen dengan suara tersendat-sendat.


Jiu Rui segera melepas pelukan nya. "Ah maafkan aku Adik, mungkin karena senang jadi aku begitu bersemangat." Ucapnya.


"Iya, semangat sih semangat tapi tidak harus membuat ku jadi sesak nafas juga!." Kata Ho Chen yang kembali menstabilkan nafas nya.


"Iya maaf-maaf." Kata Jiu Rui lagi.


"Adik kamu dari mana saja selama ini, kenapa baru datang sekarang?." Tanya Jiu Rui.


"Nanti saja aku ceritakan, sekarang aku ingin melihat ke adaan Naga putih dulu." Kata Ho Chen.


Jiu Rui mengangguk kemudian ikut berjalan bersama mereka namun dia juga mendekati Qiao Lin seraya berkata sambil berbisik. "Saudari Lin, apa semalam kamu tidak memeluknya? Bukan kah kamu sudah sangat merindukan kedatangannya?." Tanya Jiu Rui sambil berbisik kepada Qiao Lin.


Qiao Lin segera menoleh ke arah Jiu Rui dengan mata melotot membuat Jiu Rui ingin tertawa melihat expresi wajah Qiao Lin.


Sebenarnya Qiao Lin juga ingin memeluk Ho Chen dan ingin melepas rasa rindunya, untung saja Qiao Lin masih sadar dan mampu mengendalikan diri, jika tidak pasti dia yang lebih dulu memeluk Ho Chen dari pada Jiu Rui.


"Kenapa Naga putih jadi pendiam seperti ini?." Tanya Ho Chen setelah tiba di tempat Naga putih, mereka berdua kebingungan mendengar pertanyaan Ho Chen.


"Adik Cheng, memangnya kapan dia pernah berbicara? Selama ini aku tidak pernah mendengar Naga putih berbicara!."


"Aku juga, tidak pernah mendengar dia berbicara!." Kata Qiao Lin yang mengatakan hal yang sama dengan Jiu Rui.


Ho Chen hanya tersenyum canggung, dia lupa jika hanya dirinya yang dapat mendengar dan mengerti akan pembicaraan Naga putih.


Ho Chen mencoba memeriksanya dengan cara memanggilnya melalui pikirannya, namun Naga putih tidak menjawab kemudian Ho Chen memeriksa energi Naga putih.

__ADS_1


"Begitu, jadi energinya lagi tertidur." Batin Ho Chen dengan mengangguk-anggukan kepala membuat Qiao Lin dan Jiu Rui jadi terheran-heran.


Saat ini Naga putih akan terlihat seperti kuda biasa karena kekuatan Energi Kun sedang tertidur, Energi Kun tertidur setelah berada di Desa Hutan Bambu karena menurutnya tidak ada yang bisa ia lakukan di desa tersebut.


"Aku ingin berkeliling Desa ingin melihat situasi dan kondisi di desa ini, apa kalian mau ikut?." Tanya Ho Chen kepada mereka berdua.


Tentu saja mereka mau ikut, Walau mereka sudah sangat mengenal desa tersebut, namun mereka tetap akan menemani Ho Chen untuk berkeliling di Desa Hutan Bambu sambil menceritakan akan apa saja dan siapa saja yang berada di desa tersebut.


Desa Hutan Bambu sangat mirip sekali dengan Desa Air Bukit desa tempat Ho Chen berada, desa tersebut terpencil dan juga kecil, hanya terdapat sekitar 200 warga yang tinggal di desa tersebut, terlebih lagi lokasinya yang berdampingan dengan Hutan.


Para warga desa berprofesi sebagai tukang pengambil kayu hutan, ada juga yang berburu dan bertani. Bukan hanya itu, di desa tersebut juga ada orang yang jago dalam membuat kerajinan dari bambu dengan berbagai bentuk yang unik. Hasil dari usaha mereka akan di jemput dan di bayar oleh orang-orang suruhan Zhu Yu kemudian akan di jual di kota Dayuan.


"Selamat pagi pendekar Chen." Sui Long menyapa mereka ketika mereka sudah sampai di ujung desa.


Sui Long tidak sendiri, dia bersama-sama dengan ke tujuh muridnya sedang membuat bangunan untuk mendirikan sekte mereka.


"Selamat pagi Senior Long." Balas Ho Chen dengan tersenyum hangat.


"Pendekar Chen, kami berencana membangun sekte di desa paling ujung karena menurutku di sini sangat cocok dan strategi nya pas." Kata Sui Long sambil memandangi ke sekelilingnya.


Ho Chen juga ikut memperhatikan ke sekeliling kemudian mengangguk, tempatnya sedikit tinggi  dan halaman yang nantinya akan di buat berlatih oleh calon-calon murid dan anggota sangatlah lebar dan luas.


Jiu Rui sendiri berbeda, sikapnya berubah dingin menatap Liang Yin yang berdiri di belakang Sui Long, dia tidak bisa melupakan kejadian semalam dimana dia hampir kehilangan nyawa karena Liang Yin.


"Pendekar Chen, jika tidak keberatan tolong berikan nama untuk sekte baru kami ini, supaya nanti kami bisa mengenang pendekar sebagai salah satu pendiri sekte ini." Pinta Liang Yin.


Ho Chen terdiam kemudian segera berpikir untuk mencari nama yang pas. "Em.. aku tidak tahu, namun alangkah baiknya jika nama sekte ini di beri nama sesuai dengan nama desanya, Yaitu Sekte Hutan Bambu!." Kata Ho Chen.


"Baiklah pendekar Chen, saya akan memberi nama Sekte ini sekte Hutan Bambu." Kata Sui Long menyetujui nama yang di usulkan Ho Chen.


Ho Chen memeriksa bangunan yang belum jadi tersebut dia melihat semua bahan-bahan yang di gunakan adalah berbahan dasar kayu, karena hutan yang berdampingan jadi mengumpulkan kayu tidaklah sulit.


"Berapa lama kira-kira bangunan ini akan selesai?." Tanya Ho Chen.

__ADS_1


"Mungkin akan butuh waktu cukup lama, karena keterbatasan biaya dan juga pekerja." Kata Sui Long dengan menggelengkan kepala.


"Soal Biaya aku akan membantu, namun jika soal pekerja mungkin sedikit sulit, karena kemungkinan di desa ini hanya satu atau dua orang yang mengerti akan instruktur bangunan." Kata Ho Chen.


Ho Chen memegang salah satu balok tersebut kemudian menancapkan balok tersebut kedalam tanah.


"Sihir Kayu."


Semua kayu tiba-tiba bergerak dan menyusun dengan sendirinya, setiap balok dan papan mulia melebar membentuk dinding yang begitu kuat dan kokoh.


Liang Yin bersama yang lain jelas kaget serta terpana melihat apa yang di lakukan oleh Ho Chen. "Sebanyak apa Tehnik yang ia kuasai!." Pikir Liang Yin.


Nyatanya Ho Chen tidak sampai di situ, dia juga membuat beberpa bangunan lainnya mengunakan Sihir Kayu tanah api dan juga Logam.


Jiu Rui dan Qiao Lin tidak berkedip melihat nya, mereka baru tahu jika Ho Chen menguasai Tehnik lainnya yang bahkan di kekaisaran Yun tidak ada yang memiliki nya.


"Latihan seperti apa yang telah kamu pelajari Chen?." Batin Qiao Lin, dia bersama Jiu Rui saling berpandangan heran dan memiliki banyak pertanyaan di pikiran mereka berdua.


Liang Yin bersama Sui Long dan ke enam murid lainnya saling berpandangan, kini mereka sadar, andai saja semalam Ho Chen memutuskan untuk tetap membunuh Mereka, maka tidak satupun yang akan mampu menghentikannya walau Sui Long sekalipun.


Mereka berpikir kedepannya mereka tidak akan lagi menjadikan Ho Chen sebagai musuh, dan sebisa mungkin membangun hubungan sebaik mungkin.


Ho Chen menyelesaikan pekerjaan nya dengan membuat tulisan papan nama yang tertulis Sekte Hutan Bambu.


Ho Chen menghampiri Sui Long yang masih terpana akan bangunan besar yang di buat oleh Ho Chen hanya dalam waktu setengah haru saja.


"Senior, sekarang bangunan sudah selesai, jadi sekarang senior tidak usah memikirkan tentang mencari pekerja lagi."


Ho Chen melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut dan berjalan ke arah gudang yang sudah ia buat, dengan satu kali kibasan tangan, keluar berbagai macam senjata pusaka dari yang biasa sampai pusaka sekelas menengah.


"Ini sebagai modal awalnya, jadi pergunakan lah dengan baik." Kata Ho Chen kemudian menyerahkan satu peti Koin emas pemberian dari salah satu bangsawan yang bernama Chang Zhu.


Liang Yin dan yang lainnya menganga lebar dan mata melotot melihat Koin emas sebanyak itu, bahkan Jiu Rui dan Qiao Lin juga sama terkejutnya, mereka tidak mengetahui jika Ho Chen sangat kaya, mereka berdua masih belum tahu akan kekayaan yang masih tersimpan di dalam gelang Ho Chen, andai mereka berdua mengetahui nya pasti mereka akan lebih kaget lagi.

__ADS_1


__ADS_2