
Setelah selesai mendengarkan Qiao Lin dan Jiu Rui, dia kembali terdiam. Ho Chen termenung sesaat. "Apa tadi itu cuma mimpi?." Batin Ho Chen, dia tidak yakin jika pengalaman barusan yang ia alami bukan cuma mimpi, dia merasa mimipi nya itu begitu nyata.
"Chen, apa kamu baik-baik saja?." Qiao Lin menegur Ho Chen yang sedang ngelamun sendiri.
"Ehh...! Tentu, aku baik-baik saja!." Kata Ho Chen dengan tersenyum lembut.
Sebenarnya Ho Chen ingin bercerita kapada mereka berdua tentang mimpi nya, namun Ho Chen mengurungkan niatnya.
"Apa Guru masih belum kembali..?." Ho Chen memeriksa gelangnya dan mencoba melihat Ming Hao, namun dia tidak melihatnya sama sekali.
Ho Chen hanya menghela nafas, dia berharap semoga mimpinya bukan lah pertanda buruk. Ho Chen akhirnya hanya bisa menganggap mimpinya sebagai bunga tidurnya saja.
Mereka bertiga terpaksa bermalam di tempat itu. Keesokan pagi nya, mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk pergi ke Sekte Ular Hijau.
***
Kematian Wang Chungying menjadi pukulan keras bagi sekte Bukit Halilintar. Di tambah lagi dengan keluarnya Wang Dunrui dari sekte.
Kang Jian sendiri mengurung diri di dalam kamarnya, dia merasa sangat bersalah atas kematian Wang Chungying.
Yin Fei saat ini hanya bisa menatap ke arah bekas tempat duduk Wang Chungying, selama dia berada di sekte Bukit Halilintar. Wang Chungying terus melatihnya. Bisa di katakan Wang Chungying adalah guru yang telah memberinya sebuah harapan, di mana dulunya dia hanya manusia biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa, setelah pertemuan nya dengan Wang Chungying dan anaknya Wang Dunrui. Yin Fei merasa memiliki harapan.
"Saudari Yin, dari tadi aku mencari mu, ternyata kamu berada di sini!." Liu Wei datang menemui Yin Fei.
"Ah maaf, aku tidak tau kalau saudari ada di sini!." Yin Fei yang sedang melamun sendirian sedikit kaget atas kedatangan Liu Wei.
Liu Wei mengerti akan apa yang dipikirkan oleh Yin Fei, di samping itu dia juga tahu jika Yin Fei pasti memikirkan perkataan Wang Dunrui yang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya.
Sebagai murid dari ayah Dunrui, tentu membuat Yin Fei merasa tidak enak hati, apa lagi selama Yin Fei berada di bawah bimbingan Wang Chungying. Yin Fei menjadi lebih dekat dengan Dunrui. Namun semua itu menjadi hancur hanya waktu singkat.
"Saudari Yin, sebaiknya kamu ikut aku ketempat guru ku." Kata Liu Wei mengajak Yin Fei.
__ADS_1
"Aku akan kesana nanti, ada sesuatu yang harus aku lakukan dulu disini, jadi kamu bisa pergi duluan, nanti aku pasti menyusul." Kata Yin Fei.
Liu Wei sedikit bimbang, dia tidak tahu apa yang ingin Yin Fei lakukan di rumah Wang Chungying yang saat ini sudah kosong tersebut.
Namun dia tidak ingin membuat Yin Fei kesal sehingga dia menurutnya. "Baiklah, tapi kamu janji akan menyusul ku Nanti!." Kata Liu Wei kemudian berjalan meninggalkan Yin Fei sendiri.
Yin Fei menghela nafas kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke dalam rumah milik Wang Chungying.
Wang Chungying pernah bercerita kepada Yin Fei bahwa di kamar nya ada tiga kitab yang ia miliki. Wang Chungying pernah berpesan jika suatu hari nanti jika dirinya nanti pergi melaksanakan tugas penting yang panjang, kemungkinan dirinya akan sangat lama untuk kembali ke Sekte, sehingga meminta Yin Fei mengambil kitab teraebut yang di simpan di dalam kamarnya, Wang Chungying berpesan agar menjaga dan mempelajari kitab tersebut.
Yin Fei masuk kamar Wang Chungying yang terlihat sederhana. Di kamar tersebut tidak terlalu banyak barang-barang, hanya ada ranjang tidur, dua kursi satu meja. Di atas meja hanya ada dua cangkir kecil dan satu Teko yang terbuat dari logam kuningan.
Yin Fei memeriksa seisi kamar, setelah beberapa saat dia menemukan kotak kayu seukuran setengah meter dengan tinggi 20cm.
Setelah di buka Qiao Lin melihat Dua kitab di dalam nya. "Bukankah guru bilang Tiga, kenapa cuma dua? Kemana yang satunya?." Pikir Yin Fei.
Yin Fei mengambil dua kitab tersebut, "Kitab Neraka dab kitab Magma. Dua kitab ini memiliki kekuatan yang sama yaitu sama-sama mengandung unsur api namun bentuk nya berbeda, Kitab Magma yang lebih kuat karena bisa mengeluarkan Semburan lava yang sangat panas.
Kitab Raja Api saat ini berada di tangan Ho Chen. Wang Chungying menyerahkannya karena tidak sembarang orang yang bisa mempelajarinya.
Selama ini Wang Chungying hanya mendalami kitab Neraka saja, dia tidak mempelajari kedua nya karena memang kitab Magma dab kitab Raja Api sangat sulit untuk di pelajari.
Yin Fei membawa kedua kitab tersebut untuk mempelajarinya, saat ini Yin Fei telah menguasai Tehnik neraka tahap 2, dia ingin menyempurnakan Tehnik Neraka terlebih dahulu sebelum mempelajari Tehnik Magma. Namun Yin Fei sadar, untuk bisa menguasai Tehnik Neraka saja membutuhkan waktu yang sangat lama.
Yin Fei menyimpan kedua kitab tersebut di dalam kamarnya kemudian pergi menemui Liu Wei ketempat Jian Heeng.
"Akhirnya kau datang juga. Aku pikir kamu tidak mau menyusul ku!." Kata Liu Wei kepada Yin Fei yang baru datang.
"Mana mungkin aku tidak datang! Lagi pula aku sudah janji akan menyusul tadi." Jawab Yin Fei dengan tersenyum, namun senyumnya mengandung rasa duka dan kehilangan.
Jian Heeng yang melihat itu mengerti, dan hanya menghela nafas panjang dan kemudian menatapnya juga.
__ADS_1
"Putri Yin Fei, mulai saat ini aku akan menjadi guru pembimbing latihan mu. Aku harap kamu tidak keberatan!." Kata Jian Heeng.
"Senior Jian, terima kasih. Tentu saja saya tidak keberatan, namun untuk beberapa hari ini saya masih belum siap, jadi mohon pengertiannya!." Kata Yin Fei sambil membungkuk memberi hormat kepada Jian Heeng.
Jian Heeng mengangguk, tentu dia mengerti akan apa yang di katakan oleh Yin Fei, tidak mudah bagi Yin Fei untuk melupakan guru pertamanya. Menurut perkiraan nya, setidak nya butuh waktu sampai satu bulan bagi Yin Fei untuk bisa membiasakan diri, dan baru bisa menerima Jian Heeng sebagai guru barunya.
"Baiklah, jika nanti dirimu sudah siap, datang lah ke sini." Kata Jian Heeng.
Yin Fei mengangguk pelan kepada Jian Heeng. "Kalau begitu, kalian bisa mengobrol, aku mau pergi dulu menemui Ketua." Kata Jian Heeng kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Saudari Wei, Apa menurut mu Dunrui juga akan membeci ku?." Yin Fei bertanya kepada Liu Wei setelah Jian Heeng sudah tidak terlihat.
Liu Wei hanya menatap wajah Yin Fei sesaat sebelum kembali memandang bunga yang ada di hadapannya. "Aku tidak tahu, semoga saja dia tidak membenci mu." Jawab Liu Wei singkat, dia sendiri juga tidak tahu seperti apa jalan pikiran Dunrui.
Jawaban Liu Wei tidak bisa melegakan hati Yin Fei, dia tetap berpikir jika Dunrui pasti akan membecinya.
"Saudari Yin, apa kamu menyukainya?." Kini giliran Liu Wei yang bertanya.
Yin Fei hanya mengangguk pelan, harus dia akui jika dirinya memang menyukai Dunrui. Selama dia dan Dunrui berlatih bersama, selama itu juga muncul perasaan nya kepada Dunrui.
Yin Fei tidak tahu bagaimana dengan Dunrui, apakah dia juga merasakan hal yang sama atau tidak. Yang paling di sesalkan nya, dia belum sempat mengutarakan nya kepada Dunrui, sehingga Yin Fei mulai khawatir, jika perasaan nya tidak akan pernah tersampai kan.
"Jika ku lihat selama ini, sepertinya Senior Dunrui juga menyukai mu, mungkin dia malu untuk mengatakan nya. Namun percayalah, jika dia menyukai mu, cepat atau lambat, dia pasti akan datang untuk menemui mu." Kata Liu Wei.
Yin Fei tidak yakin namun dia tetap akan mencoba menunggu kedatangan Dunrui. "Jika suatu hari dia datang dan ingin membunuh ku juga, aku siap, aku rela mati di tangan nya." Kata Yin Fei.
Liu Wei kaget dengan perkataan Yin Fei, dia tidak menduga jika putri Ketua Sekte nya memiliki pemikiran seperti itu. "Demi cinta nyawa se akan tidak ada artinya." Batin Liu Wei.
Liu Wei terus menemani Yin Fei, dia tetap akan menghibur hatinya yang sedang galau, karena dia tahu seperti apa perasaan sesama seorang wanita.
***
__ADS_1