Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Aku mencintaimu!


__ADS_3

Qiao Lin mengira Ho Chen Adalah salah satu pendekar dari Sekte Pedang Mata Dewa sehingga tidak memperhatikannya, namun kini dia hanya bisa memandang Ho Chen dengan tatapan lain.


Ho Chen berjalan ke arahnya namun Qiao Ho dan Qiao Jin menyapanya membuat dirinya menghentikan langkahnya.


"Kau sudah sangat berubah dari terakhir kita bertemu! Aku benar-benar hampir tidak mengenalimu," kata Qiao Ho disertai dengan senyuman lebar.


"Benar sekali, kamu terlihat berubah!" Qiao Jin juga ikut berkata.


Dari segi fisik, Ho Chen memang banyak berubah, dia jelas berbeda dari terakhir kali bersama dengan Qiao Lin, selama hampir lima tahun, wajah Ho Chen sudah berubah, ditambah dengan auranya, Ho Chen terlihat seperti putra bangsawan.


"Guru sepuh, anda berada disini juga?" Kang Jian beserta yang lainnya sudah tiba di tempat mereka, dia terkejut ketika melihat lima orang muncul secara tiba-tiba.


"Kamu membawa semua jagoan yang kamu miliki! Lalu siapa yang menjaga sektemu sekarang?" tanya Feng Ying.


"Ada satu jagoan yang menjaganya!" kata Kang Jian kemudian dia menyapa Xiu Huan.


"Saudara Xiu, lama tidak berjumpa!"


"Benar saudara Jian, terkahir kita bertemu saat sektemu diserang bukan? sudah berapa tahun dari hari itu hingga sekarang?" kata Xiu Huan dengan tertawa.


"Kamu membawa tiga jagoan, berarti di Sekte Pedang Mata Dewa sekarang banyak yang menjaganya!" Kang Jian mengamati dua jagoan yang berdiri disebelah Xiu Huan sekaligus menatap Ho Chen yang berada disamping Qiao Ho, namun dia merasa sangat familiar dengan wajah Ho Chen.


"Aku hanya membawa dua saja!" kata Xiu Huan.


"Dua? lalu pendekar muda ini?" Kang Jian menunjuk ke arah Ho Chen.


"Ketua Jian, apa ketua tidak mengenaliku?" tanya Ho Chen.


"Hem..!?" Kang Jian menaikan alisnya, dia merasa tidak asing dengan wajah tersebut.


Jian Heeng dan Liu Yin yang berada di belakang Kang Jian juga merasa tidak asing dengan wajah pemuda yang berada di depan mereka.


Ho Chen tertawa kecil kemudian mengenalkan dirinya. "Ketua ini aku Ho Chen!" kata Ho Chen.


Mata Kang Jian, Liu Yin, dan Jian Heeng terbuka lebar, kini mereka mulai mengingat wajah Ho Chen.


"Guru be..! Eh maksudku Chen'er! Kamu sudah kembali? Kamu terlihat berbeda, aku sampai tidak mengenalimu," kata Kang Jian.


Liu Yin juga terpana melihat perubahan tubuh Ho Chen, terakhir dia melihat Ho Chen ketika Ho Chen masih berumur 13 tahun, sekarang Ho Chen sudah berumur 22 tahun, tentu akan banyak yang berubah.

__ADS_1


"Guru, Ketua Jian, Senior Ho, Ketua Xiu selagi musuh belum datang, bukankah sebaiknya kalian membahas masalah strategis yang baik untuk menghadapi musuh nantinya?" kata Ho Chen, karena merasa pembicaraan ini tidak penting.


"Ah benar sekali! Aku sampai lupa," kata Qiao Ho sambil menepuk jidatnya.


"Apa yang perlu kami khawatirkan, selama ada kamu di sini maka kita pasti akan menang!" kata Kang Jian.


"Saudara Heeng, bagaimana dengan para burung-burung itu?" Liu Yin berbisik kepada Jian Heeng sambil melirik kearah para siluman burung yang masih berdiri di depan Sekte.


Jian Heeng baru ingat dan segera kearah para siluman burung tersebut, memintanya untuk kembali ke Sekte Hutan Siluman.


Ke sepuluh siluman burung segera terbang meninggalkan Sekte Gunung Es setelah Jian Heeng menyuruh mereka untuk kembali.


"Semuanya silahkan mengobrol dulu! Saya tinggal dulu sebentar karena ada yang ingin saya bicarakan dengan Nona Lin," kata Ho Chen yang sejak tadi melihat Qiao Lin yang juga terus menatapnya tanpa henti.


Wajah Qiao Lin berubah menjadi marah setelah Ho Chen memanggilnya Nona Lin, dia sampai mengepalkan kedua tangannya erat-erat.


"Silahkan Chen'er!" kata Qiao Ho dengan tersenyum penuh makna.


Ho Chen segera berjalan mendekati Qiao Lin yang wajahnya sudah terlihat berubah, Ho Chen sedikit bingung dengan perubahan wajah Qiao Lin, seakan-akan dia marah padanya.


"Lin, aku..!"


Ho Chen menggaruk kepalanya kemudian mengikuti Qiao Lin pergi kearah pohon yang hanya terlihat kayunya saja.


"Lin, aku..!


"Lin? bukannya kamu tadi memanggilku Nona Lin? kenapa sekarang jadi berubah menjadi Lin?" tanya Qiao Lin yang terlihat sangat kesal.


"Itu tadi! Itu karena Aku!"


"Kerena apa? kamu janji padaku setelah kembali dari latihanmu akan datang menemuiku terlebih dahulu, apa kamu lupa? Atau kamu memang sengaja?"


"Lin, kenapa kamu berubah menjadi galak seperti ini? Apa kamu salah makan sesuatu, atau salah latihan?"


"Kau..! Dasar laki-laki tidak peka terhadap wanita,"


Bukannya berusaha menjelaskan atau meminta maaf, Ho Chen justru berkata aneh yang membuat Qiao Lin ingin marah lagi padanya.


"Lin, maafkan aku, sebenarnya aku ingin menemui terlebih dahulu, namun ketika aku kembali, ternyata aku tidak kembali muncul didanau desa Tirai Kabut, melainkan muncul di kekaisaran Liu!" kata Ho Chen menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu tidak sedang mencari alasan agar aku tidak marah padamu bukan?" tanya Qiao Lin.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, namun sejujurnya aku sangat merindukanmu!" entah apa yang terjadi dengan pikiran Ho Chen yang tiba-tiba berkata demikian, sadar atau tidak, namun perkataannya membuat Qiao Lin terkejut.


"Chen..! Ulangi lagi, aku ingin mendengarkannya sekali lagi!" kata Qiao Lin.


"Aku sangat merindukanmu, rindu saat-saat kita bersa..!" Ho Chen belum menyelesaikan kalimatnya, namun Qiao Lin sudah berada tepat di depan wajahnya.


"Apa aku tidak salah dengar?" kata Qiao Lin pelan.


Ho Chen menggelengkan kepala, dia memang berkata demikian dan Qiao Lin tidak salah dengar.


Qiao Lin sungguh tersentuh dengan perkataan Ho Chen, sudah lama dia ingin mendengar Ho Chen berkata seperti itu, Qiao Lin merasa Ho Chen memiliki perasaan yang sama dengannya, dan perasaan Qiao Lin memang benar, Ho Chen nya saja yang tidak bisa mengatakannya dan terlalu bodoh untuk mengungkapkannya.


"Maafkan aku, karena telah membuatmu menungguku terlalu lama!" kata Ho Chen.


"Kamu tidak perlu meminta maaf lagi!" jawab Qiao Lin.


"Lin, aku tidak tahu harus bicara apa, namun aku akan berkata jujur padamu!" Qiao Lin menatap Ho Chen dengan tatapan penuh harap.


"Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini ada, sejak awal kita bertemu! Aku! Aku!" Qiao Lin mengangkat alisnya, dia menunggu Ho Chen menyelesaikan kalimatnya tanpa memotongnya.


"Aku tidak tahu apakah ini yang namanya cinta? Jika benar ini adalah perasaan cinta..!" Ho Chen menatap mata Qiao Lin, Qiao Lin pun juga menatap mata Ho Chen tanpa berkedip.


"Lin'er! Aku mencintaimu,"


Jantung Qiao Lin berdegup kencang, hatinya mulai ditutupi oleh butiran bunga berwarna-warni. Selama ini dia mengharapkan Ho Chen berkata seperti itu, perkataan yang selalu ia tunggu, sekarang Ho Chen sudah benar-benar mengatakannya secara terbuka.


Hati Qiao Lin yang sudah sangat bahagia membuat Qiao Lin lupa bahwa tidak jauh dari tempat dirinya berada masih ada para orang tua yang terkadang memperhatikan mereka berdua.


Qiao Lin lansung memeluk Ho Chen dengan air matanya yang mulai keluar dan membasahi pipinya.


"Chen, aku rasa kamu tidak perlu jawaban dariku, aku sudah mengatakannya dulu padamu, jadi kamu pasti juga tahu akan perasaanku ini," kata Qiao Lin sambil memeluk Ho Chen dengan erat.


"Iya, aku ingat! Setelah masalah ini selesai, aku akan melamarmu," kata Ho Chen memeluk Qiao Lin dengan hangat.


Qiao Lin mengangguk, dan semakin mempererat pelukannya. Dua remaja yang sedang kasmaran tidak menyadari jika semua para orang tua yang berada tidak jauh dari mereka sedang menatap mereka dengan mata melebar.


"Saudara Jin, sepertinya halaman sektemu akan tumbuh pohon emas!" kata Xiu Huan.

__ADS_1


__ADS_2