Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Menuju ke sekte Racun Langit


__ADS_3

“Jadi ini pemuda yang di bicarakan ayah." Batin Qiao Jin sambil memperhatikan Ho Chen dari atas sampai bawah.


Ho Chen merasa tidak enak setelah melihat tatapan Qiao Jin yang seolah-olah menyelidikinya. “Maaf senior. Nama saya Ho Chen." Ho Chen memperkenalkan diri namun dengan sedikit canggung. Dia tidak pernah se canggung ini sebelumnya, jika bertemu orang yang baru di kenalnya, namun entah kenapa kali ini sangat berbeda.


“Namaku Qiao Jin. Ayah dari Qiao Lin." Kata Qiao Jin yang juga memperkenalkan dirinya.


“Senang bisa bertemu dengan anda senior." Kata Ho Chen mengepalkan kedua tangannya.


Qiao Jin tersenyum lebar melihat Ho Chen yang berbicara dengan begitu sopan, pantas rasanya jika ayahnya menginginkannya untuk menjadi bagian dari keluarganya.


“Ada keperluan apa yang datang kesini?." Tanya Qiao Lin setelah Ho Chen selesai bicara dengan ayahnya.


“Kita bicara nanti saja. Mari kita makan dulu bersama." Kata Qiao Jin.


“Eh silakan senior kami baru saja selesai makan!." Ho Chen menolak dengan halus.


“Baiklah kalau begitu kami mau makan terlebih dahulu, nanti kita akan melanjutkan perbincangan ini."


Ho Chen mengangguk lalu kembali duduk di mejanya, sedangkan Qiao Jin duduk di meja yang bersebelahan dengan Ho Chen.


Qiao Jin dan dua orang rekannya mulai memesan makanan mereka kemudian menyantap hidangan tersebut.


Setelah selesai makan, mereka semua keluar dari rumah makan tersebut setelah selesai membayar. Mereka pergi ke penginapan di tempat Ho Chen menginap.


“Aku kesini sedang menyelidiki keberadaan sekte Racun Langit." Qiao Jin mulai menjelaskan kepada Qiao Lin Dan Ho Chen tentang keberadaanya di kota Longnan.


“Sekte Racun Langit membuat markasnya di sini?." Ho Chen bertanya setelah mendengar cerita dari Qiao Jin.


Qiao Jin mengangguk. “Kami juga sudah menemukan tempat mereka yang tidak begitu jauh dari tempat ini."


“Jadi apa rencana senior selanjutnya?." Tanya Ho Chen.


“Aku tidak mau bertindak gegabah, aku akan mengirim kabar ini kepada ayah. Biar dia yang memutuskannya nanti." Jawab Qiao Jin.

__ADS_1


Setelah mereka selesai berbicara, Jiu Rui masuk menemui Ho Chen dan yang lainya. “Adik. Lihat siapa yang datang!." Jiu Rui menunjuk ke arah pintu, kemudian terlihat beberapa orang yang memasukinya.


“Ketuan Jian! Paman Heeng!." Ho Chen langsung mengenali keduanya.


“Chen'er sudah lama kita tidak bertemu.!." Kata Jian Heeng.


Ho Chen mempersilahkan mereka untuk masuk. Kang Jian dan Jian Heeng yang masuk, sedangkan sisanya berada di luar, karena keterbatasan tempat duduk di kamar Ho Chen.


“Saudara Jin, tidak kuduga kita bertemu di sini." Kata Jian Heeng begitu melihat Qiao Jin yang sedang duduk di kursi.


Qiao Jin kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan menyapa mereka berdua. “Ketua Jian, dan saudara Heeng. Kami juga baru hari ini tiba, dan kebetulan bertemu dengan saudara muda ini." Kata Qiao Jin sambil menunjuk ke arah Ho Chen.


“Bukankah ini Qiao Lin? Kamu sudah besar dan juga sangat cantik. Aku hampir tidak mengenalimu." Ucap Kang Jian.


“Ketua terlalu memuji ku." Qiao Lin berkata dengan sedikit malu.


“Ketua Jian! Apa anda datang ke kota ini ada kaitannya dengan keberadaan sekte Racun Langit?." Tanya Qiao Jin setelah mereka berdua duduk.


Qiao Lin lebih memilih keluar dengan Jiu Rui, sedangkan Ho Chen masih berada di situ mengikuti obrolan mereka.


“Kami bertiga sudah menemukan tempat mereka tadi pagi." Kata Qiao Jin memberitahukannya.


Kang Jian dan juga Jian Heeng tersentak kaget, kemudian Kang Jian lansung bertanya. “Benarkah? Kalau begitu saudara Jin tau tempatnya?." Tanyanya, dan di jawab dengan anggukan oleh Qiao Jin.


“Kalau begitu bisakah kalian mengantarkan kami kesana, biar kami yang mengurusnya mereka nanti, kalian tidak perlu ikut bertarung." Kata Kang Jian.


“Ketua Jian! Jangan dulu terburu-buru, kita tidak mengetahui seberapa kuat mereka saat ini." Kata Ho Chen.


“Chen'er bukan kah ada kamu yang akan membantu kami untuk memberantas sisa pengikut iblis itu..!." Kata Kang Jian.


Kang Jian percaya cukup Ho Chen seorang diri saja sudah mampu menghabisi sekte Racun Langit yang tersisa.


Ho Chen hanya diam dan tidak menjawab apapun. Ho Chen juga tahu jika ini bukan hanya masalah mereka sisa dari pengikut iblis saja, namun juga ada alasan dendam pribadi antara mereka berdua.

__ADS_1


“Kita akan berangkat malam ini, dan ku harap kau mau membantu kami juga.!." Kata Jian Heeng sambil melirik ke arah Ho Chen yang hanya diam.


Kang Jian dan Jian Heeng tidak pernah menduga akan bertemu Ho Chen di kota Longnan, ini membuat mereka lebih bersemangat untuk pergi menyerang sekte Racun Langit.


Sedangkan Ho Chen hanya bisa menghela nafas, kali ini dia tidak bisa menolak permintaan kedua orang tersebut, karena mereka berdua adalah orang-orang yang sudah di anggap sebagai keluarganya sendiri.


Qiao Jin juga tidak menolak untuk mengantarkan mereka menuju sekte Racun Langit. Bahkan mereka bertiga juga menawarkan diri untuk ikut membantu.


Setelah malam sudah sedikit larut, mereka bergerak menuju ke sekte Racun Langit berada, yang tidak mengikuti rombongan mereka cuma dua orang, yaitu Jiu Rui dan Qiao Lin. Karena mereka masih kurang kuat untuk mengikuti pertempuran.


***


Sekte Racun langit saat ini sangat sepi, karena mereka semua beristirahat setelah bekerja seharian.


Peiyu belum istirahat, dia berkeliling mengamati sektenya yang baru jadi. Bangunan nya juga baru sekitar 15 persen yang sudah jadi. Kemudian kembali ke rumahnya.


Sesampainya di sana, dia melihat Yin Fei yang juga belum tertidur, dia masih duduk di kursi depan rumahnya. Cahaya obor kecil menerangi wajahnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Fei'er! Kenapa kamu belum tidur?." Tanya Peiyu setelah berada di sampingnya.


“Aku belum mengantuk, entah kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak." Kata Yin Fei sambil menatap obor di depan rumahnya.


“Itu hanya perasaan mu saja." Kata Peiyu sambil tersenyum.


Yin Fei ikut tersenyum. “Baiklah aku akan pergi tidur, semoga bisa mimpi indah malam ini." Kata Yin Fei. Kemudian melangkah ke arah pintu rumahnya.


Peiyu memandang Putri sambil tersenyum hangat, namun belum sempat senyum itu muncul kini berubah menjadi serius.


Peiyu bisa merasakan Aura Energi Kematian mengarah padanya. Peiyu segera menoleh ke arah aura tersebut, kemudiaan dia melihat sebilah pisau yang terbang mengarah lurus ke arahnya.


Peiyu segera menangkap pisau tersebut Tampa kesulitan, namun begitu dia menggenggam pisau tersebut, ternyata masih ada beberapa pisau lainya yang melesat ke arahnya, bahkan ada yang mengarah ke Yin Fei yang berada di pintu.


***

__ADS_1


maaf saya capek banget habis lembur kerja tadi sampai jam 8 malam. jadi hanya bisa mengirim satu saja.😅🙏🙏


__ADS_2