
Jiu Rui selalu berhenti setiap menaiki 20 anak tangga, nafas Jiu Rui terengah-engah. Sedangkan Ho Chen berjalan santai di depan dan Tidak terlihat kelelahan.
“Sedikit lagi, aku harus bisa..!" Gumam Jiu Rui menyemangati dirinya sendiri
Ho Chen melihat itu hanya tersenyum kecil.
Dengan tenaga yang tersisa, Jiu Rui kembali mendaki, dan mereka tiba di puncak.
Setelah menginjakkan kaki di anak tangga yang terkahir, Jiu Rui membungkuk dengan nafasnya yang terasa mau habis. “Tangga.. sialan...!" Jiu Rui mengutuk tangga sambil kembali menoleh kebawah melihat tangga yang begitu panjang ke bawah.
“Adik sekarang kamu bisa masuk, aku mau istirahat dulu disini.."
Ho Chen mengangguk setelah melihat ke sekelilingnya. Ho Chen yakin Jiu Rui akan baik-baik saja karena penjaganya sangat banyak.
“Kalau begitu aku masuk lebih dulu." Ho Chen melangkah menuju aula pertemuan. Namun sebelum tiba di pintu, seseorang menyapanya.
“Junior Chen, ternyata anda juga datang?."
Ho Chen menyipitkan matanya, dia mencoba mengingat orang tersebut, namun tidak juga berhasil. “Maaf, senior mengenali saya?."
Orang tersebut tersenyum. “Tentu saya tahu, walau anda sedikit berubah dari yang saya ingat dulu Ketika di sekte Bukit Halilintar."
“maaf kalau saya tidak mengenali senior..!"
“Tidak apa-apa, owh iya nama saya Xia Yuyien, mari saya antarkan anda untuk masuk ke dalam." Ho Chen mengangguk dan kemudian mengikuti Xia Yuyien.
***
Di dalam ruangan suasana masih saling berdebat dan saling mencari solusi.
“Jika perkataanmu benar, itu akan sangat sulit bagi kami untuk meninggalkan sekte."
“Benar, bisa saja mereka menyerang sekte kami, ketika kami sedang tidak ada di sekte."
Mereka semua sedikit tidak setuju untuk membantu sekte Bunga teratai dan sekte Gunung Es. Sesuai yang di perkirakan oleh Kang Jian.
__ADS_1
“Semuanya, Kami tidak akan meminta semua pergi memberi bantuan, setidaknya satu atau dua orang yang di kirim untuk membantu, dan sisanya masih bisa menjaga sekte masing-masing." Kata Kang Jian memberi pendapat.
“Aku akan mengirim 3 orang untuk menjaga sekte Bunga teratai, dan aku bersama saudara Lu Mingfei akan menjaga sekte Gunung Es." Ucap Shilin.
Mendengar perkataan Shilin semua para sekte aliran hitam saling berpandangan. “Saudara Shilin. Terima kasih sudah ingin membantu sekte kami. Namun bagaimana dengan keamanan di sektemu sendiri?." Kata Ming Mei.
“Saudari Tidak perlu memikirkan itu. Aku yakin mereka tidak akan menyerang sekte aliran hitam terlebih dahulu, karena itu aku siap membantu demi ke amanan kita bersama." Ucap Shilin.
“Aku akan membantu sekte Gunung Es, dan akan mengirim tiga orang kesana." Lun Whilin ikut bersuara. Namun dia tidak mengatakan akan ikut menjaga sekte Bunga teratai.
“Kalian terlalu cepat mengambil keputusan. Apa tidak lebih baik kita mengirim penyusup untuk memata-matai mereka, agar kita bisa tahu siapa target yang akan di incar terlebih dahulu."
“Saudara Qian, kami sudah mengirim orang kesana, namun hingga saat ini tidak ada kabarnya." Xiu Huan menjelaskan.
“Saudara Ho, bagai mana menurut anda?." Biksu Shao sheng bertanya.
Qiao Ho sejak tadi hanya diam tidak memberikan pendapat apapun kini memandangi biksu Shao sheng. “Aku tidak memiliki pendapat apapun, namun kalau boleh aku bicara, sebenarnya para pengikut raja iblis tidak akan secepat itu menyerang sekte ku, atau menyerang sekte Bunga teratai."
Ucapan Qiao Ho membuat semua menatap heran. “Bisa anda jelaskan alasannya senior Ho?." Tanya salah satu orang yang menemani Shilin.
Seseorang berbisik kepada Yuen menyampaikan sesuatu. “Benarkah..? Kalau begitu suruh dia masuk..!"
“Ada apa saudara Yuen? Siapa yang datang?."
Tanya Kang Jian keheranan.
“Sebentar lagi kalian akan mengetahuinya." Kata Yuen membuat semua jadi ikut penasaran.
Pintu terbuka, dan terlihat seorang pemuda melangkah memasuki ruangan tersebut. Kini semua orang menoleh dan menatap pemuda tersebut.
Sebagian orang bertanya-tanya tentang siapa pemuda tersebut, namun sebagian lagi mengenalinya.
Ming Mei juga kaget, sebenarnya dia ingin memberitahukan kepada Qiao Ho tentang Ho Chen yang mencarinya. Namun begitu masuk, Ming Mei malah mendengar perkataan Lun Whilin yang membuatnya tersulut emosi, dan akhirnya lupa akan apa yang ia ingin sampaikan.
“Chen'er.. kenapa kamu ada di sini?." Kang Jian menghampiri Ho Chen.
__ADS_1
“Saya hanya ingin menemui ketua Ho."
“Menemuiku..?." Kata Qiao Ho heran.
“Baiklah kita bahas nanti tentang ke inginan mu untuk menemui saudara Ho. Mari kita duduk dulu untuk melanjutkan pertemuan ini." Kata Kang Jian. Sebenarnya banyak yang ingin Kang Jian bicarakan dengan Ho Chen. Karena kondisinya tidak memungkinkan Kang Jian juga menunda ke inginannya.
“Kenapa dia menatapku seperti itu?." Batin Ho Chen ketika merasakan tatapan Xinxin seperti menyimpan masalah pada dirinya.
“Namaku Xiu Huan, senang bisa bertemu langsung dengan mu." Xiu Huan mengenalkan dirinya kepada Ho Chen ketika Ho Chen mendekatinya.
“Nama saya Ho Chen. Mari senior Huan kita duduk terlebih dahulu..!" Kata Ho Chen dengan tersenyum, namun dia sendiri juga bingung, karena dia tidak pernah mendengar nama Xiu Huan.
Semua yang hadir saling berbicara sendiri-sendiri. Bagi yang tidak mengenali Ho Chen, mereka bertanya kepada orang yang mengenalinya, pembicaraan semakin tidak terarah membuat ruangan tersebut seperti suasana di dalam pasar.
Jendral Yin Lun melambaikan tangan kepada Ho Chen, dan Ho Chen juga membalas dengan lambaian.
Ho Chen duduk di sebelah Whu Zhi dan Kang Jian. Mereka menceritakan apa yang sudah mereka rencanakan. Ho Chen mendengarkan dengan antusias.
“Bagaimana pendapatmu Chen'er?." Tanya Kang Jian setelah selesai menceritakannya.
Karena suasana pembicaraan yang begitu ramai, Ho Chen jadi tidak bisa menyampaikan pendapatnya.
“Saudara-saudara semua tenang, saudara muda kita ini ingin menyampaikan sesuatu..!" Whu Zhi berbicara sedikit keras dengan menggunakan energinya agar semua bisa mendengar. “Silahkan Saudara muda..!" Kata Whu Zhi mempersilahkan Ho Chen untuk menyampaikan pendapatnya setelah suasana menjadi tenang.
Ho Chen bangkit dari tempat duduknya. “Terima kasih kepada para senior semua yang telah memberi kesempatan junior untuk menyampaikan pendapat."
Setelah berbicara seperti itu, Ho Chen mengerutkan dahi, ketika memandangi seluruh para undangan yang hadir, kini tatapnnya terarah ke seorang gadis yang duduk dan juga menatapnya.
Qiao Lin yang sejak tadi tidak bersuara, karena masalah yang di bahas di luar pengetahuannya maka dia lebih memilih diam dan tidak mau mengganggu kakeknya, dia memilih untuk mendengarkan.
Qiao Ho juga menyadari tatapan Ho Chen yang terarah ke cucunya, dia melirik cucunya yang ternyata juga menatap tajam ke arah Ho Chen.
“Ini sama ketika aku bertemu denganya di Di Bukit Halilintar." Batin Ho Chen dengan tersenyum lembut ke arah Qiao Lin.
Semua orang sedang menunggu perkataan Ho Chen, namun Ho Chen tidak juga bersuara. Semua yang hadir akhirnya menyadari tatapan Ho Chen. Mereka berpindah-pindah kadang menatap Ho Chen lalu berpindah menatap Qiao Lin.
__ADS_1