
"Chen'er, apa yang membuat dirimu ragu untuk memberikan keputusanmu?" Feng Ying dan Qiao Ho datang menghampiri Ho Chen yang duduk di atap istana.
Ho Chen memilih berdiam diri di atap istana agar tidak terus-menerus diikuti oleh Qiao Lin dan Yihua, jadi Ho Chen bisa berpikir tenang tanpa terbebani.
"Guru, jika guru memintaku untuk melenyapkan dunia ini, aku sanggup melakuakannya.Namun jika guru memintaku untuk menikahi mereka berdua, maaf guru aku tidak sanggup!" kata Ho Chen dengan tersenyum kecut.
"Maafkan gurumu ini Chen'er, bukan maksudku untuk memaksamu menikahi mereka berdua," kata Feng Ying yang merasa bersalah, sedangkan Qiao Ho hanya terdiam, dia sungguh sangat salut akan pemikiran Ho Chen.
"Sekarang apa rencanamu selanjutnya? Sekarang musuh yang paling kuat sudah berhasil kamu kalahkan, itu berarti tugasmu sudah selesai," tanya Feng Ying.
"Tidak, tugasku belum selesai masih ada satu tugas lagi yang harus aku selesaikan," kata Ho Chen membuat mereka berdua kebingungan.
"Tugas apa lagi? bukankah Raja iblis dan Ratu Sihir sudah tidak ada?" Qiao Ho bertanya dengan penasaran.
"Ancaman yang sebenarnya bukanlah dari mereka, masih ada ancaman yang jauh lebih kuat dari Raja iblis dan Ratu Sihir, bahkan mungkin lebih kuat dariku," kata Ho Chen.
Qiao Ho dan Feng Ying terkejut dan saling berpandangan, mereka sulit membayangkan jika ada musuh yang lebih hebat dari Ho Chen.
"Se-sekarang ada dimana dia?" tanya Qiao Ho dengan suara gemetar.
"Sekarang mereka masih tersegel di Luar Alam Semesta, dan jumlah mereka ada empat dan masing-masing dari mereka lebih kuat dari pada diriku, dan mungkin dalam waktu ratusan tahun atau ratusan ribu tahun lagi, segel itu akan hancur dan mereka akan terlepas," kata Ho Chen.
Mata Qiao Ho dan Feng Ying melotot dan mereka menelan ludah, "Ra-ratusan ribu tahun? Itu waktu yang sangat lama sekali, aku tidak yakin aku masih hidup atau tidak jika sampai selama itu!" kata Feng Ying, saat ini Feng Ying adalah manusia paling tua yang masih hidup, namun Feng Ying tidak yakin jika dirinya masih mampu hidup selama ratusan tahun lagi.
"Mungkin saat waktu itu tiba, mungkin aku juga sudah tiada!" Qiao Ho juga berpikir Hal yang sama dengan Feng Ying.
"Lalu bagaiman caramu untuk mengalahkannya?" tanya Feng Ying.
"Aku tidak sendirian, masih ada empat orang lagi yang memiliki kekuatan yang sama denganku, namun mereka berada di dunia yang berbeda! Jika waktunya sudah tiba, kami akan bersatu untuk bertarung dengan mahluk itu," kata Ho Chen.
Ho Chen mengetahui informasi tersebut dari Yinfei, sehingga menjelaskan tentang apa yang dikatakan oleh Yinfei.
"Jika waktunya sudah tiba, aku hanya bisa berharap kamu bisa menyelesaikannya, walau nantinya aku sudah tiada," Feng Ying berkata dengan lemas.
__ADS_1
"Baiklah, aku sudah sudah memiliki keputusanku sendiri!" kata Ho Chen.
"Keputusan? Keputusan apa?" tanya mereka berdua serempak, mereka benar-benar tidak tahu akan maksud Ho Chen.
"Ah! tidak ada, kalian tunggulah dulu disini sebentar!" kata Ho Chen kemudian menghilang dari hadapan Feng Ying dan Qiao Ho.
"Anak ini benar-benar membuatku bingung!" kata Feng Ying setelah Ho Chen menghilang.
"Maafkan aku Yihua, aku melakukan ini untuk membuatmu bahagia!" kata Ho Chen di depan Yihua dan di sampingan ada Qiao Lin.
Ho Chen sudah menghentikan waktu, sehingga mereka berdua terlihat seperti patung.
Ho Chen menyentuh kening Yihua, dia memasuki pikiran dan ingatan Yihua. Terlihat mata dan mulut mereka berdua bercahaya terang dan akhirnya kembali normal.
Ho Chen kembali menghilang dan mengembalikan waktu berjalan seperti semula.
Ho Chen kembali muncul dihadapan Feng Ying dan juga Qiao Ho yang masih menunggu Ho Chen.
Mereka bertiga segera turun dan masuk menemui Kaisar Hong yang sedang berbicara dengan Mahaguru An Xuan.
"Chen'er, ada yang ingin aku sampaikan padamu," kata Kaisar Hong.
Ho Chen yang baru tiba lansung membaca pikiran Kaisar Hong dan kemudian menjawab sebelum kaisar Hong berbicara.
"Yang Mulia tidak perlu khawatir, aku sudah mengurus semuanya, dan tidak lama lagi, akan ada utusan dari kekaisaran Mu datang kesini untuk meminta maaf dan juga meminta kesepakatan kerja sama. Jadi batalkan rencana Yang Mulia untuk menyerang ke wilayah kekaisaran Mu, karena perang tidak akan menghasilkan apa-apa, yang ada rakyat akan kembali menderita," kata Ho Chen.
Kaisar Hong terkejut bukan main, dia belum mengutarakan niatnya, namun Ho Chen sudah lebih dulu menjawabnya.
Ho Chen tentu yakin akan perkataannya, karena dia sudah melihat sendiri akan keberhasilan Xiu Hei Kong membujuk Kaisar Xiu untuk menarik mundur pasukannya.
Karena butuh waktu titah Kaisar Xiu sampai kepada prajurit yang ada di perbatasan kekaisaran Yun, sehingga mereka sedikit terlambat.
Semenjak menguasai kekuatan Mata Dewa, Ho Chen bisa melihat ke seluruh dunianya, bahkan mencapai ke daerah kekaisaran Mu.
__ADS_1
"Apa perkataanmu benar?" tanya Kaisar Hong.
"Jika Yang Mulia mau bersabar untuk menunggu dalam waktu kurang dari dua bulan, utusan dari kekaisaran Mu akan tiba disini," kata Ho Chen meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu!" kata Kaisar Hong.
"Yang Mulia, ada yang ingin saya bicarakan dengan Yang Mulia dan juga Senior Ho!" kata Ho Chen.
"Katakanlah Chen'er apa yang ingin kamu bicarakan!" kata Kaisar Hong.
Ho Chen menarik nafas dalam-dalam sebelum mengungkapkan niatnya.
"Saya ingin membicarakan masalah Yihua dan Juga Qiao Lin," kata Ho Chen.
"Owh, kamu sudah memiliki keputusan rupanya, kalau begitu katakan apa keputusanmu?" kata Kaisar Hong dengan antusias.
"Yang Mulia, sebelumnya aku meminta kepada Yang Mulia untuk memanggil Yihua kesini!" pinta Ho Chen.
Kaisar Hong segera memerintahkan pelayannya untuk memanggil Yihua dan Qiao Lin yang saat ini berada di taman istana.
Setelah selesai menunggu beberapa saat mereka berdua datang, namun wajah Qiao Lin seperti kebingungan dan terus menerus menatap Yihua dengan heran.
"Lin'er, ada apa denganmu? kenapa kamu terlihat bingung?" tanya Qiao Ho kepada cucunya.
"Kakek, aku juga tidak tahu, namun sepertinya ada yang berubah kepada Yihua," kata Qiao Lin.
Qiao Ho menatap Yihua dengan teliti, namun dia tidak menemukan perubahan kepada Yihua.
"Ayah!" Yihua menyapa Ayahnya dengan suara lembut dan juga anggun.
Kaisar Hong mengangkat alisnya, dia bingung melihat perubahan sikap Yihua yang tiba-tiba berubah menjadi gadis lembut dan terlihat lebih anggun.
"Hua'er, Chen'er sudah memiliki keputusannya sebaiknya kita mendengarkan keputusannya itu," kata Kaisar Hong kemudian meminta Ho Chen untuk menyampaikannya.
__ADS_1