
Yin Fei masih terlihat ragu, namun dia menyampaikan dengan maksud yang lain. “Aku hanya sedikit bosan." Ucapnya, kemudian mulai melangkah keluar.
Sudah hampir seminggu semenjak pertemuannya dengan Qiao Lin. Yin Fei masih teringat kepada Qiao Lin, dia adalah teman baru yang menyenangkan bagi dirinya. Yin Fei mendatangi ibunya bermaksud mengajaknya pergi kembali ke kota. Namun melihat ibunya yang sibuk dia hanya bisa menahan ke inginannya.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, namun ibu juga tidak punya pilihan lain." Batin Peiyu.
Peiyu tidak berani keluar sebelum kekuatan sektenya bisa pulih, namun untuk bisa pulih! Di butuhkan paling tidak 10 tahun.
Yin Fei berjalan keluar dan berdiri di depan rumahnya, dia memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk membuat bangunan sekte.
“Andai aku memiliki ayah, pasti ibu tidak perlu se sibuk ini." Gumam Yin Fei. Gumaman nya terdengar oleh Peiyu yang mendekatinya.
Hati Peiyu sangat sedih ketika menyebut ayah, Peiyu sendiri tidak pernah membahas tentang Kang Jian semenjak dirinya berkata kepada Yin Fei jika ayahnya sudah meninggal.
Yin Fei yang polos hanya bisa mempercayai perkataan ibunya, dia tidak tau jika ayahnya hingga saat ini masih hidup.
“Fei'er ibu minta maaf jika selama ini tidak membuatmu bahagia." Ucap Peiyu sambil merangkul putrinya.
“Tidak Bu, yang ibu lakukan sudah cukup bagiku, aku merasa bahagia dengan apa yang ibu berikan padaku." Kata Yin Fei.
Peiyu mengelus-elus rambut Yin Fei yang panjangnya sampai di pinggang itu. Matanya sedikit berkaca-kaca karena genangan air matanya. Namun dia berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya di depan putrinya.
“Fei'er Andai ibu berumur panjang, ibu ingin berhenti jadi ketua sekte ini dan menjalani kehidupan normal denganmu hingga kau menikah bahkan sampai punya anak." Kata Peiyu.
Yin Fei kaget dengan ucapan ibunya seolah-olah itu suatu pertanda. “Kita masih di sini dan tidak terjadi apa-apa! Kenapa ibu bicara seperti itu?." Kata Yin Fei sambil bertanya.
Peiyu tersenyum pahit, dia menyadari putrinya tidak terlalu mengetahui dunia ke pendekaran. “Di dunia kami ini, semua bisa terjadi, tidak ada kata aman di dunia kami." Kata Peiyu.
Yin Fei mulai mengerti, namun dia tetap tidak ingin hal buruk terjadi kepada ibunya. “Kalau begitu ibu berhenti saja sekarang, dan menyerahkan ini semua kepada yang lain. Setelah itu kita pergi dari sini untuk memulai hidup baru."
Peiyu menggelangkan kepalanya. “Sekte ini hancur karena ibu, jadi ibu harus memperbaikinya lebih dulu. Jika sekte ini sudah pulih seperti sebelumnya! Maka ibu akan berhenti." Ucapnya.
__ADS_1
“Butuh berapa lama lagi untuk memulihkan sekte ini?." Tanya Yin Fei.
“Paling cepat 10 tahun paling lambat 50 tahun.” Kata Peiyu.
Yin Fei sontak kaget mendengar itu. Menurutnya itu waktu yang lama, bisa saja saat sekte itu sudah pulih, dia sudah menjadi nenek-nenek.
“Apa tidak ada cara yang lebih cepat?." Tanya lagi Yin Fei.
Peiyu mengerti akan maksud pertanyaan putrinya. “Kamu harus tahu! Tidak ada sesuatu yang di dapatkan dengan cepat atau secara instan. Segala sesuatu harus dari awal. Kadang kita juga harus terjatuh dulu. Butuh waktu dan usaha yang tidak mudah." Kata Peiyu.
“Aku tahu itu. Tapi 20 atau 50 tahun itu benar-benar sangat lama bagiku..!." Kata Yin Fei yang masih menolak untuk menunggu sampai selama itu.
Peiyu menghela nafas panjang. Menurutnya andai putrinya bisa jadi pendekar, waktu 20 atau 50 tahun pasti tidak akan terasa lama baginya.
Mereka berdua masih berada di depan rumahnya, sedangkan dari kejauhan ada tiga orang yang mengamati mereka semua.
“Ternyata memang benar mereka membangun sekte mereka disini!." Kata salah seorang dari mereka.
Mereka bertiga pergi secara perlahan meningalkan tempat tersebut menuju ke kota Longnan. Sedangkan Peiyu sendiri tidak mengetahui kalau ada orang yang sudah menemukan tempat mereka.
***
Ho Chen dan kedua rekannya sedang memasuki rumah makan, mereka baru selesai membeli beberapa senjata di Toko Elang Emas untuk Jiu Rui dan Qiao Lin.
Qiao Lin sebenarnya memiliki pedang sendiri, namun kualitas pedangnya tidak terlalu baik. Karena itu Ho Chen membelikannya pedang baru yang memiliki kualitas cukup baik.
Jiu Rui juga di belikan pedang yang sama kualitasnya dengan pedang yang di miliki oleh Qiao Lin.
Walau Ho Chen memiliki Sebuah giok berbentuk Elang Emas, Ho Chen tidak mau menunjukkan nya, menurutnya itu lebih baik, dia sudah merasa nyaman hidup bebas seperti ini tampa harus identitasnya di ketahui oleh orang luar.
Sudah hampir seminggu Ho Chen berada di kota Longnan, dia sengaja membatalkan perjalanannya karena dia masih ingin berlatih dengan tenang di Alam Batin.
__ADS_1
Setiap malam Ho Chen selalu latihan di Alam itu, namun dia sudah tidak meminta untuk di jaga, cukup mengunci pintu maka semuanya akan aman.
“Pelayan..!." Jiu Rui memanggil salah satu pelayan kerena dia sudah sangat lapar.
“Silahkan tuan muda, apa yang ingin di pesan?." Kata pelayan tersebut dengan nada sopan.
Jiu Rui membuka daftar menu makanan. Ho Chen dan Qiao Lin juga membuka daftar makanan tersebut. Setalah memilih makanan mereka semua kembali berbincang-bincang.
“Berapa hari lagi kita akan meninggalkan kota ini?." Tanya Qiao Lin kepada Ho Chen.
Ho Chen terlihat berpikir sambil memegang dagunya. “Emm. Mungkin besok kita akan berangkat." Jawabnya.
“Dari kemarin besok, besok terus! Tapi kenyataannya kita sudah hampir seminggu di sini." Kata Qiao Lin yang terlihat kesal.
“Iya, iya! Aku minta maaf. Aku janji besok kita akan berangkat." Kata Ho Chen dengan nada meyakinkan.
Jiu Rui hanya diam, dia lebih memilih diam sambil menunggu pesanannya datang. Tidak berselang beberapa lama, pesanan mereka sudah tiba. Mereka tidak memesan makanan terlalu banyak, karena hawatir tidak bisa menghabiskan makan tersebut.
“Selamat makan...!." Jiu Rui baru bersuara setelah mau makan, namun suara untuk makan saja.
Ho Chen dan Qiao Lin juga memakan makana yang mereka pesan, sedang enak-enak nya menikmati makana. 3 orang memasuki rumah makan tersebut. Tidak ada yang memperhatikannya kecuali Qiao Lin. “Ayah...!." Kata Qiao Lin.
Ho Chen menoleh kearah pintu setelah mendengar Qiao Lin menyebutkan nama ayahnya. Sedangkan Jiu Rui tidak peduli, dia lebih peduli dengan urusan perutnya terlebih dahulu.
Qiao Jin dan dua rekannya juga kaget ketika menemukan keberadaan Qiao Lin kemudian bergumam kecil. “Benar yang di katakan orang jika dunia ini memang kecil..!." Ucapnya pelan.
Qiao Lin segera berdiri ketiak ayahnya sudah berada di hadapanya, begitu juga Ho Chen. Jiu Rui yang sedang menikmati makanannya di teluk pundaknya oleh Ho Chen agar berdiri.
Namun tepukan nya malah membuat Jiu Rui terbatuk-batuk karena tersendat makanannya.
Uhuk.. adik uhuk uhuk uhuk...!." Jiu Rui ingin bertanya namun tidak bisa karena masih terbatuk-batuk.
__ADS_1