
Qiao Lin juga mengetahui siapa Yihua, karena Ho Chen juga pernah menceritakannya, namun Qiao Lin tidak pernah menanyakan hubungan antar keduanya.
"Nona Lin, aku dengar kamu sering ikut bertarung melawan pasukan iblis dan para pengikut-pengikutnya?," karena hanya diam saja, Yihua lebih dulu memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Aku hanya membantu kakek saja, lagi pula aku masih belum terlalu kuat!" kata Qiao Lin sambil menatap kearah kolam ikan di sampingnya.
"Nona Lin, apa boleh saya bertanya sesuatu?"
Qiao Lin menoleh kearah Yihua, dia yakin Yihua pasti akan bertanya akan hubungannya dengan Ho Chen.
"Apa yang ingin Tuan Putri tanyakan?" Qiao Lin tetap ingin mengetahui pertanyaan Yihua walau dia sudah mengetahui akan apa yang akan dipertanyakan olehnya.
"Selama beberapa tahun, kamu dan Ho Chen melakukan perjalanan bersama bukan? Apakah selama itu kamu tidak memiliki perasaan padanya?" Yihua sadar pertanyaannya tersebut cukup aneh dan tidak pantas, namun demi mengetahui kebenarannya dia akan tetap bertanya, karena dia yakin, baik Qiao Lin maupun Ho Chen sepertinya saling menyukai.
"Tuan Putri, aku..!" Qiao Lin berhenti berbicara dia masih ingin menyusun kata-kata yang baik agar bisa menyampaikannya tanpa perlu menyakiti perasaan sesama wanita.
"Katakanlah kamu tidak usah malu ataupun sungkan kepadaku!" kata Yihua.
"Tuan Putri, Ho Chen juga sering membicarakan Tuan Putri ketika kami masih berpetualang bersama, sekarang saya juga akan bertanya. Apakah Tuan Putri juga memiliki perasaan juga padanya?" bukannya menjawab, Qiao Lin justru balik bertanya kepada Yihua.
Mendapatkan pertanyaan yang sama membuat Yihua juga bingung harus menjawab apa, dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Qiao Lin.
"Tuan Putri, sepertinya kita berdua menyukai pria yang sama, aku tidak tahu Ho Chen akan memilih siapa diantara kita berdua!" Qiao Lin diam sesaat, dia menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkannya lagi.
"Jika suatu hari Ho Chen memilih Tuan Putri, saya rela dan tidak akan menyimpan dendam ataupun kebencian pada Tuan Putri," kata Qiao Lin, namun ketika berkata demikian hatinya merasa tidak rela.
Yihua sempat terkejut dan merasa senang sesaat sebelum dia sadar jika Qiao Lin berkata demikian karena terpaksa. Dia yakin Qiao Lin sengaja berkata seperti itu hanya ingin menjaga perasaannya saja.
__ADS_1
"Nona Lin, selama kita bersaing untuk mendapatkan hati Ho Chen, selama itu persaingan sehat, aku juga tidak akan menyimpan dendam padamu jika akhirnya Ho Chen memilihmu," Yihua akhirnya juga berusaha menahan perasaannya, walau hatinya juga sama, yaitu berat dan tidak rela.
Qiao Lin tersenyum lebar mendengarnya kemudian berkata. "Kita hanya akan menjadi rival untuk dia, selebihnya kita adalah teman, mulai sekarang kita akan bersaing dengan jujur dan adil. Setuju..!" Qiao Lin mengarahkan jari kelingkingnya menandakan jika dirinya siap untuk bersaing dengan Yihua.
"Setuju..!" Yihua juga mengarahkan jari kelingkingnya disatukan dan saling mengait jari kelingking dengan Qiao Lin, pertanda dia menerima tantangan Qiao Lin untuk bersaing dengan sehat merebut hati Ho Chen.
Mereka yang awalnya hanya terdiam dan merasa canggung kini tertawa lepas dan menjadi lebih akrab.
"Nona Lin, kamu tidak usah memanggilnya Tuan Putri, panggil saja Yihua agar lebih akrab!" pinta Yihua.
"Kalau begitu kamu juga jangan memanggilnya Nona Lin!" Qiao Lin pun juga meminta hal yang sama.
mereka saling bercerita pengalaman masing-masing, namun tidak menceritakan pengalaman ketika bersama Ho Chen.
Jika sampai Yihua menceritakan pengalamannya jika dirinya sempat berpelukan dengan Ho Chen, pasti hati Qiao Lin seperti tersambar petir, untungnya Yihua tidak menceritakannya dan memilih bercerita tentang pengalaman setelah memiliki adik.
begitu juga Qiao Lin yang menceritakan pengalamannya ketika berada dimedan pertempuran, keduanya menjadi sangat akrab seperti dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu, namun tidak tau nantinya jika Ho Chen sudah berada di hadapan mereka, apakah mereka masih bisa bercanda seperti itu atau justru akan saling menunjukkan ke agresifan mereka masing-masing.
***
"Ketua Jian, bagaimana? Apakah Ketua jadi untuk menjodohkan Tuan Muda Yelu?"
"Tentu saja saudara Fingyun, aku sedang mencari hari baik untuk mereka berdua,"
Di rumah Kang Jian, Fingyyun sedang berbincang-bincang dengan Kang Jian, mereka membahas masalah perjodohan antara Kang Yelu dengan Liu Wei.
Saat ini Kang Jian sudah kembali seperti Kang Jian yang dulu, semenjak para pasukan iblis dan para sekutunya sudah mulai membuat kekacauan, Kang Jian yang biasanya terus mengurung diri di kamar akhirnya keluar setelah mengetahui jika para pasukan iblis sudah mulai bergerak.
__ADS_1
Dia yakin jika Wang Dunrui pasti ada diantara mereka, dengan bujukan anaknya beserta seluruh jagoan, akhirnya Kang Jian pun bangkit dan membantu sekte-sekte lain untuk menghadapi pasukan iblis.
Tidak ada yang menang atau kalah dari masing-masing pihak, baik itu aliansi gabungan atau para sekutu iblis, mereka sama-sama kehilangan banyak anggota.
sudah seminggu tidak ada kabar tentang pasukan iblis, tidak ada tanda-tanda penyerangan dari mereka sehingga mereka juga bisa beristirahat sejenak melepas lelah.
Di waktu senggang tiba-tiba Kang Yelu datang kepada Kang Jian, dia menyampaikan kepada Kang Jian jika dirinya menyukai Liu Wei. Namun Kang Jian tidak langsung mengambil hati dan memperdulikan perkataan Kang Yelu, karena Kang Jian tau jika Liu Wei sangat menyukai Ho Chen, bahkan Liu Wei rela menunggu kedatangan Ho Chen yang sudah sangat lama tidak pernah datang lagi ke Sekte Bukit Halilintar.
Namun ternyata semua yang diketahui oleh Kang Jian berubah, ketika dirinya pergi menemui Liu Yin, ternyata di sana juga ada Liu Wei, dia mencoba berbicara kepada Liu Wei secara langsung dan bertanya apakah Liu Wei setuju jika akan dijodohkan dengan Kang Yelu.
Ternyata Liu Wei menyetujuinya membuat Kang Jian, Liu Yin terheran-heran. Tanpa ada yang mengetahui apa yang membuat hati Liu Wei berubah, ternyata semua itu dikarenakan Jiu Rui.
"Ketua Jian, sebaiknya anda pergi menemui Biksu Shao Sheng, dia pasti akan mencarikan hari baik untuk pertunangan putramu," kata Fingyun.
"Benar juga, akan teetapi..!" Kang Jian terlihat ragu.
"Ada apa lagi Ketua Jian? Kenapa Ketua terlihat ragu?" tanya Fingyun.
"Saudara Fing, bukankah kamu tahu jarak dari sini ke Kuil Lonceng Suci sangat jauh, butuh waktu 15 hari untuk tiba kesana, aku khawatir jika aku pergi mereka akan menyerang Sekte," kata Kang Jian.
Fingyun menghela nafas panjang, menurutnya keinginan Kang Yelu untuk bertunangan dengan Liu Wei berada di waktu yang sulit.
"Sebaiknya aku mencari peramal yang ada di sini saja, dan sisanya akan aku percayakan kepada takdir," kata Kang Jian.
"Ketua benar, kita serahkan semuanya kepada takdir, jika mereka berjodoh, maka mereka pasti akan menjadi Suami Istri," kata Fingyun.
Mereka berdua pergi menemui peramal yang berada di sana untuk menanyakan hari baik untuk Kang Yelu dan Liu Wei.
__ADS_1
***
Ini pengganti untuk nanti malam, karena nanti malam, malam ini saya mau pergi ngelayat dulu ada yang meninggal di samping rumah.