
"Tehnik Petir - Tebasan Halilintar."
"Tehnik Es - Pedang Pembeku."
Jiu Rui dan Qiao Lin melepaskan energi mereka menyerang Ho Chen, mereka berdua sedang berlatih tanding dengan Ho Chen.
"Tehnik Ilusi - Cermin Dimensi."
Ho Chen menghentakkan sebelah telapak tanganya ke tanah, muncul sekitar Tiga Cermin raksasa berdiri berhadap-hadapan masing-masing sudut membentuk segi Tiga.
Kedua serangan energi dari Jiu Rui dan Qiao Lin menghantam Cermin yang sangat tebal tersebut kemudian energi tersebut terpental ke kaca depannya dan terus berputar hingga kedua energi menghilang dengan sendirinya.
"Adik, kau curang..!." Kata Jiu Rui dengan nada kesal. Sedangkan Qiao Lin hanya diam, dia memiliki pemahaman yang berbeda dengan Jiu Rui.
Ho Chen hanya tersenyum sambil melangkah ke arah Jiu Rui. "Dalam pertarungan, segala cara harus di lakukan untuk bisa bertahan jika tidak, kau bisa mati. Jika suatu saat kamu berhadapan dengan lawan yang lebih kuat dari mu, apa yang akan kamu lakukan?."
Jiu Rui berpikir sesaat, pencerahan Ho Chen menurutnya bertentangan dengan aturan Sekte nya, namun jika pikir lagi, memang perkataan Ho Chen ada benarnya.
"Jika aku bertemu dengan musuh yang lebih kuat, mungkin aku akan mencari cara agar bisa mengalahkannya dengan cara curang." Kata Jiu Rui.
Ho Chen mengangguk, Ho Chen sendiri sudah pernah mengalaminya ketika melawan Zhu Wang salah satu kelompok Rantai Besi, saat itu dia masih belum mengerti dan bertarung secara sportif. Sehingga Zhu Wang menggunakan cara licik untuk melukainya. Sejak kejadian itu Ho Chen mulai belajar, tidak ada kata jujur dalam pertarungan karena menyangkut hidup dan mati.
"Kakak, energi petir mu masih belum matang, kamu terlalu memfokuskan kepada penyerang. Sebaiknya kamu memfokuskan untuk mengumpulkan energi dalam satu titik saja dan baru melepaskan nya, begini contoh nya!."
Ho Chen mengambil pedang Jiu Rui kemudian mengalirkan Energi petir tersebut ke ujung pedangnya, setelah terkumpul di ujung, energi tersebut menyebar ke seluruh pedang sehingga pedang tersebut menjadi terang.
"Tehnik Petir - Tebasan Halilintar."
Ho Chen mengayunkan pedangnya ke batu yang sangat besar yang berada cukup jauh darinya, energi petir yang Ho Chen lepaskan melesat dan menghantam nya hingga hancur berkeping-keping.
Jiu Rui terlihat antusias, jika dia yang menggunakannya mungkin hanya bisa membuat batu itu menjadi retak. Ho Chen sendiri menggunakan energi nya yang setara dengan kekuatan milik Jiu Rui.
Qiao Lin sendiri juga mendengarkan nya, Ho Chen merasa tidak ada kesalahan dengan Qiao Lin sehingga tidak menegurnya.
__ADS_1
"Adik biar aku mencobanya." Kata Jiu Rui dengan semangat.
Ho Chen menyerahkan pedang nya kembali kepada Jiu Rui dan mempersilahkan Jiu Rui untuk mencoba nya.
Jiu Rui mencoba mengikuti cara Ho Chen, dia mencoba memfokuskan semua energi nya ke ujung pedang. Semakin lama energi nya terkumpul dan membesar namun tidak sebesar milik Ho Chen.
Dengan intruksi dari Ho Chen, Jiu Rui langsung melepaskan Energinya menjadi serangan yang mematikan.
"Tehnik Petir - Tebasan Halilintar."
Karena tidak ada batu besar untuk di coba, Jiu Rui melepaskan tebasan energi nya ke kayu besar di depannya. Tebasan energi petir mengenai kayu tersebut hingga terbakar oleh petir nya.
Ho Chen mengangguk, walau energi yang di lepaskan Jiu Rui tidak mampu membelah kayu besar tersebut menjadi dua, namun energi yang di lepaskan nya meningkat lebih tinggi di bandingkan sebelum nya.
Jiu Rui meloncat ke girangan, kini dia selangkah lebih maju. Sedangkan Ho Chen ikut senang melihatnya walau tidak ada kata-kata yang keluar.
"Istirahatlah dulu, sebentar lagi kita lanjutkan perjalanan kita." Kata Ho Chen.
Mereka akan tiba di desa tersebut dalam sepertiga hari, jadi mereka akan tiba di sana sebelum malam tiba.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah di rasa cukup beristirahat nya.
Dalam perjalanan menuju desa tersebut, Jiu Rui mengatakan pada Ho Chen jika gunung tinggi di depannya adalah gunung Tirai Kabut.
Ho Chen terus menatap Puncak gunung tersebut, memang puncak gunungnya sudah kelihatan, namun untuk bisa tiba kesana sepertinya masih butuh waktu satu atau dua minggu lagi agar tiba di puncak gunung Tirai Kabut.
Saat sore hari, mereka akhirnya tiba di desa Tirai Kabut. Desa tersebut hampir menyerupai sebuah kota karena bangunannya besar-besar.
Ho Chen bisa merasakan jika Desa ini memiliki banyak pendekar, lebih tepatnya sebagai Desanya para pendekar.
Hampir seluruh penghuni desa tersebut adalah pendekar, dan sisanya hanya manusia biasa saja. Ho Chen bisa merasakan jika Desa Tirai Kabut juga ada beberapa jagoan Tingkat Alam yang tinggal di desa tersebut.
Mereka bertiga sama-sama memakai topeng, sedangkan Qiao Lin memakai baju hitam agar tidak di kenali bajunya. Mereka mencari penginapan terlebih dahulu sebelum pergi mencari rumah makan.
__ADS_1
"Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu?." Seorang pelayan wanita berumur 30 tahun menyambut mereka di pintu masuk penginapan.
Penginapan ini adalah penginapan terbesar yang ada di Desa Tirai Kabut dan harganya juga pasti tidak murah mengingat penginapan ini begitu besar dan mewah, setidaknya itu yang di pikirkan oleh Qiao Lin dan Jiu Rui.
"Nyonya, kami butuh Dua kamar." Kata Ho Chen kepada wanita yang menyambutnya. Ho Chen bisa merasakan energi yang terpancar dari wanita tersebut yang berada di Tingkat Bumi Puncak 4 dan sedikit lagi menembus Tingkat Langit.
"Tentu saja ada tuan, namun yang tersisa tinggal kamar yang biasa saja, sedangkan kamar yang besar sudah terisi semuanya, apa tuan tidak keberatan?." Tanya pelayan tersebut yang merasa tidak enak jika tidak memberitahukan terlebih dahulu tentang kamar yang akan di sewa.
"Selama kami bisa menginap, itu tidak masalah!." Kata Ho Chen.
"Kalau begitu, mari ikut saya!." Ajak pelayan tersebut kemudian berjalan dan di ikuti oleh mereka bertiga.
Ho Chen dan Jiu Rui memasuki kamar nya, dan kamar Qiao Lin bersebelahan dengan mereka berdua. Pelayan itu menjelaskan harga sewa dua kamar ini hanya Lima keping perak saja permalamnya.
Ho Chen mengangguk dan membayar satu koin emas. Ho Chen menjelasakan jika dirinya berencana menginap beberapa malam saja sehingga tidak meminta kembali dari sisa koin nya.
Pelayan tersebut segera pamit karena masih ada pelanggan yang harus di urus kemudian meninggalkan Ho Chen dan Jiu Rui. Sebelum pergi, pelayan tersebut menyerahkan kunci kamar kepada Qiao Lin dan Ho Chen.
Setelah membersihkan badan, mereka bertiga keluar daru penginapan untuk mencari rumah makan terdekat, sebelum sempat menemukan rumah makan, Ho Chen bertemu dengan orang yang ia kenal, sudah lama tidak bertemu dengan orang itu dan kini malah bertemu kembali. Seorang pria berumur kurang lebih 45 tahun dan salah satu lengan nya buntung, dia sedang membantu beberapa wanita tua yang kesulitan mengangkat barang.
"Senior Gou, lama tidak bertemu!." Ho Chen menyapa orang tersebut yang ternyata adalah Gou Shen, mantan pemimpin kelompok Rantai Besi.
Gou Shen menoleh dan menyipitkan matanya begitu di sapa oleh Ho Chen. "Maaf, apa kita saling mengenal?." Tanya Gou Shen, dia tidak mengenali Ho Chen karena Ho Chen memakai topeng.
"Bisa di katakan begitu, jika anda penasaran mari ikut kami nanti senior akan mengetahui nya!." Kata Ho Chen.
Gou Shen sedikit waspada dan khawatir jika ini adalah jebakan. "Maaf, saya masih harus membantu orang-orang ini dulu, jika memang tidak ada keperluan lain dengan saya, saya permisi dulu." Kata Gou Shen kemudian kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Ho Chen tersenyum lebar di balik topeng nya, keputusan nya untuk tidak membunuh Gou Shen ternyata sangat tepat, karena dia benar-benar sudah berubah.
Ho Chen kemudian kembali melanjutkan perjalanan nya mencari rumah makan yang ternyata tidak jauh dari tempat Gou Shen berada.
Gou Shen sendiri melirik Ho Chen dan berusaha mengingat kapan dirinya pernah bertemu dengan pemuda bertopeng. Namun tidak pernah berhasil, dia berencana akan menyelidiki setelah urusannya selesai.
__ADS_1