
Setelah mereka selesai melakukan kesepakatan kerja sama, Xiu Huan dan lainnya kembali ke sekte masing-masing untuk menyiapkan undangan dan akan di berikan kepada sekte aliran hitam yang sudah rencanakan.
Jian Heeng kembali ke kediamannya, dan bertemu Liu Yin sedang duduk dengan Liu Wei. Liu Wei heran karena tidak melihat Jiu Rui datang bersama gurunya.
“Guru.? Di mana senior..? Tanya Liu Wei.
Jian Heeng tersenyum canggung, dia tahu Liu Wei pasti akan mempertanyakannya. “Senior mu memilih untuk pergi bersama adiknya..!."
“Hah...?." Liu Wei kaget bercampur bingung.
Mendengar jawaban gurunya.
“Wei'er, aku tahu apa yang ada di dalam benakmu, namun aku yakin kalau keputusan seniormu adalah jalan yang terbaik untuk dirinya." Jian Heeng jelas sangat memahami perasaan Liu Wei.
“Saudari Yin aku ingin berbicara denganmu." Jian Heeng berkata kepada Liu Yin.
“baiklah..! Wei'er tolong tinggalkan kami berdua." Pinta Liu Yin
Jian Heeng menceritakan tentang rencana kerja sama antar aliran hitam dan putih kepada Liu Yin, sedangkan Liu Wei pergi meninggalkan mereka berdua, dan menuju ke halaman depan.
Saat ini pikiran Liu Wei hanya di penuhi banyak pertanyaan tentang Jiu Rui. Menurutnya lebih baik dirinya yang ikut gurunya pergi ke kota agar dia bisa ikut pergi bersama Ho Chen.
***
“Ayah aku akan pergi latihan dulu bersama adik Wei." Kang Yelu pamit kepada ayahnya.
Ketika pertama kali Kang Yelu melihat Liu Wei, Kang Yelu langsung tertarik dan jatuh hati padanya, Kang Yelu menyadari kekuatan dirinya lebih rendah di bandingkan Liu Wei.
Hampir sebulan Kang Yelu berada di sekte Bukit Halilintar, selama itu juga berbagai cara telah dia usahakan agar bisa membuat Liu Wei tertarik kepada dirinya. Namun Liu Wei bersikap seperti biasa saja, dan menganggap Kang Yelu sebagai temannya saja.
Kang Yelu tidak kecewa akan hal itu, justru karena itu dia menjadi lebih semangat dan rajin berlatih dengan berharap kelak bisa menjadi kuat dan dapat membuat Liu Wei tertarik padanya.
“Adik Wei.. mari kita berlatih bersama..!." Ajak Kang Yelu.
__ADS_1
“Baiklah kakak Lu, mari kita berlatih bersama." Liu Wei menerima ajakan Kang Yelu dengan datar.
Setelah sampai di halaman rumah, mereka berlatih pedang bersama. Liu Wei mengunakan Tehnik Pedang Bulan dan tanpa menggunakan perubahan energi. Sedangkan Kang Yelu mengunakan Tehnik Pedang 7 Halilintar yang di ajarkan oleh kakeknya.
Di karnakan Kang Yelu belum bisa mengunakan perubahan energi jadi mainan pedangnya tidak menimbulkan efek apapun, akan tetapi tetap memiliki pola serangan yang sangat berbahaya dan mematikan.
Kang Yelu dan Liu Wei sedang sibuk berlatih, di tempat Kang Jian, sedang berkumpul seluruh anggota Bukit Halilintar, mereka semua sedang membahas masalah keberangkatan ke sekte Pilar Angin.
“Aku akan pergi bersama Fingyun dan suadari Mayleen. Sedangkan urusan sekte akan aku serahkan kepada saudara Wang Chungying." Kata Kang Jian.
Sebenarnya banyak yang ingin ikut pergi ke pertemuan besar itu, namun karena ini keputusan dari ketua sekte tentu mereka tidak ada yang berani protes.
Setelah di putuskan, mereka semua meninggalkan ruangan tersebut, Kang Jian pergi mempersiapkan segala hal yang di butuhkan oleh Kang Yelu ketika dirinya nanti sedang tidak ada di sekte.
Setelah semuanya sudah selesai, keesokan harinya Kang Jian pun pergi berangkat bersama Fingyun dan Mayleen. Mereka berdua adalah jagoan yang berada di Tingkat Alam Puncak 3.
Bukan hanya sekte Bukit Halilintar, semua sekte besar kecil aliran hitam dan putih yang di undang juga berangkat, setiap sekte hanya 3 orang yang di ijinkan pergi agar tidak ada keributan yang tidak di perlukan, dan sisanya agar bisa menjaga sekte mereka masing-masing.
***
“Ketua, ini adalah pertemuan pertama kali dalam sepanjang sejarah." Kata seorang perempuan yang sedang berjalan mengikuti Yuen.
“Benar sekali saudari Yien, semoga saja bisa berjalan dengan lancar.." jawab Yuen.
Orang yang menemani Yuen adalah salah satu jagoan sekte Pilar Angin yang bernama Xia Yuyien, saat ini dia berada di Tingkat Alam puncak 3.
“Ketua, apa mungkin sesepuh Ying juga datang?."
“Aku tidak yakin tentang itu. Sesepuh tidak terikat dengan sekte manapun, jadi kemungkinan dia tidak mengetahui akan pertemuan ini."
Xia Yuyien menghela nafas panjang. “Bagaimana dengan muridnya?." Xia Yuyien kembali bertanya.
“Sama saja, sekitar sebulan yang lalu, saya mendengar kalau dia sudah pergi meninggalkan istana kaisar. Karakternya juga sama dengan sesepuh Ying." Kata Yuen sembari mengelus-elus jenggot pendeknya.
__ADS_1
Nama lengkap Yuen adalah Yuen Linchen. Namun lebih terkenal dengan nama Yuen.
Tinggal 5 hari lagi, aku ingin pengamanan di depan pintu di jaga oleh 150 orang Tingkat langit dan 10 orang jagoan Tingkat Alam. Sedangkan yang mengamankan jalur masuk 200 orang Tingkat Langit dan 6 orang jagoan Tingkat Alam.
Sedangkan di jalur pertemuan cukup 2 orang jagoan Tingakt Alam dan di tambah denganku. Sisanya bisa menjaga keamanan lokasi yang lain demi ke amanan." Kata Yuen.
Mengingat pertemuan ini begitu penting, Yuen akan memperketat penjagaan agar tidak ada penyusup atau penyerangan.
Bahkan Yuen juga akan melakukan pemeriksaan secara keseluruh terhadap anggota Pilar Angin, karena bisa saja pihak penyusup berbaur menjadi satu dengan anggotanya.
***
Ho Chen sedang duduk di pinggir sungai, dia sudah berhasil menguasai kitab Raja api tahap pertama yaitu - Membakar Jiwa.
Tehnik ini akan membuat tubuh penggunanya di selimuti oleh api biru, sehingga tidak akan ada musuh yang mampu menyentuh atau mendekatinya, bahkan jarak jangkauan panasnya mampu membakar sejauh 10 meter.
Dengan kekuatan yang saat ini Ho Chen miliki, dia mampu membakar pendekar Tingkat Langit Puncak 4.
Secara perlahan Ho Chen meredakan apinya, setelah api birunya menghilang, Ho Chen membuka mata, dan melihat ke sekelilingnya.alangkah kagetnya Ho Chen ketika melihat semuanya, seluruh tempat di sekitarnya habis terbakar.
Ho Chen bangun dan memadamkan api yang masih membakar sebagian rumput yang tersisa. “Kak Rui dimana?." Ho Chen menyelusuri di sekitarnya, namun tidak menemukan keberadaan Jiu Rui.
“Jangan-jangan Kak Rui..!." Ho Chen menjadi panik, dia mengira Jiu Rui ikut terbakar oleh apinya.
Ho Chen mencoba menghubungi Ming Hao, Namun Ming Hao tidak menjawab, Ho Chen mengira Ming Hao mungkin sedang meditasi yang lama.
“Adik apa yang terjadi di sini..?." Jiu Rui kaget melihat seluruh tempat yang tadinya banyak rumput hijau, kini menjadi arang.
“Kak Rui dari mana saja?." Ho Chen malah balik bertanya.
“Aku habis pergi mencari air minum, karena persediaan air minum kita sudah habis." Jawab Jiu Rui.
Ho Chen menghela nafas lega melihat Jiu Rui baik-baik saja, kemudian dia baru menjelaskan akan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
“Hebat...!." Kata Jiu Rui yang terkagum-kagum terhadap Ho Chen.