
Kang Jian hanya diam membeku, dia sama sekali masih belum sadar jika dirinya sudah membunuh orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Wang Dunrui sendiri memeluk tubuh Ayahnya dengan erat dengan airmata yang mengalir membasahi pipinya.
Bukan Hanya itu saja, bahkan semua anggota sekte Bukit Halilintar terdiam dan hanya menatap Wang Dunrui yang memeluk tubuh Ayahnya yang sudah tidak bernyawa.
Yin Fei sendiri yang baru tiba juga ikut terkejut, rasanya baru tadi dia melihat Gurunya yang sedang berbincang-bincang dengan Jian Heeng dan Liu Yin. Dan sekarang dia melihat Gurunya sudah terbaring tidak bernyawa dangan lubang besar di dadanya.
Mereka semua jadi lupa kepada musuh mereka yang masih berdiri dan memandang Wang Dunrui dengan tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa mereka sadari sesuatu keluar dari tubuh Wang Chungying melewati tanah dan bergerak menjauh kemudian berubah wujud menjadi sosok manusia bermata gelap.
Kang Jian terdengar hanya ratapan Wang Dunrui, sedangkan yang lain masih termenung dengan pikiran masing-masing.
"Ketua Jian, kenapa anda membunuh Ayah ku? Apa salahnya?." Tanya Wang Dunrui namun dia masih memeluk Ayah nya dan berbicara kepada Kang Jian tanpa menoleh.
Kang Jian baru tersadar mendapat pertanyaan tersebut, dia segera duduk berlutut di samping Wang Dunrui dengan perasaan bersalah. "Ini adalah ketidak sengaja an murid Wang! Aku tidak berniat membunuh Ayah mu..! Aku..!."
"Heh..! Alasan saja kamu, bilang saja jika kamu memang sengaja ingin membunuh Saudara Chungying kerena takut posisi mu sebagai ketua sekte di rebut olehnya." Kata Wei Heng yang sengaja mengunakan kesempatan tersebut untuk mengadu domba mereka.
"Jaga ucapan mu! Ini semua terjadi karena ulah mu..!." Bentak Kang Jian yang merasa tidak terima akan fitnah yang di ucapkan Wei Heng.
Wei Heng tersenyum sinis sekaligus menjawabnya. "Bukti sudah sangat jelas, bahkan banyak saksi yang melihat jika kamu yang membunuhnya, kenapa justru aku yang kamu tuduh?." Kata Wei Heng.
"Kau...!." Kang Jian naik pitam, namun dia tidak ingin menyerang Wei Heng, karena takut Wang Dunrui terkena imbas dari serangannya karena mereka terlalu dekat dengan Wang Dunrui.
"Anak Muda, kamu tidak perlu mempercayainya. Bukan kah kamu sudah melihat sendiri ayah mu di bunuh olehnya! Sekte aliran putih, sekte yang sering di bela oleh ayah mu dengan nyawanya sendiri, kini justru kehilangan nyawa di tangan ketua sekte yang ia bela." Kata Wei Heng dengan menggelengkan kepala nya.
Wei Heng tidak henti-hentinya memfitnah Kang Jian di depan Wang Dunrui, semua anggota yang mendengar itu menjadi geram atas perkataan Wei Heng dan ingin segera menghabisinya. Namun mereka juga tidak menyangkal jika yang membunuh Wang Chungying memang adalah Kang Jian sendiri, walau mereka tahu, itu semua bukanlah kesengajaan.
__ADS_1
Berbeda dengan yang lain. Wang Dunrui justru percaya dengan perkataan Wei Heng, dia percaya jika Kang Jian memang membunuh ayahnya karena takut posisinya sebagai ketua di rebut oleh ayahnya.
Mata Wang Dunrui menjadi merah, emosinya dan amarahnya sudah mencapai puncaknya. Dia menatap Kang Jian dengan penuh kebencian yang sangat besar, baginya Wang Chungying adalah ayah terbaik baginya, sekaligus pengganti ibunya.
Sejak kecil Wang Dunrui selalu di manja oleh Wang Chungying, walau wang Dunrui tidak terlihat berbakat, namun Wang Chungying tidak mem permasalah kan nya.
Wang Dunrui bangkit dengan mengangkat tubub ayahnya. Kang Jian berusaha ingin menghentikan nya, namun segera di tolak oleh Waang Dunrui dengan bentakan kasar sekaligus di iringi dengan perkataan yang mengejutkan semuanya.
"Kang Jian, ketua sekte Bukit Halilintar dengarkan dan ingat baik-baik sumpah ku ini. Aku Wang Dunrui, dengan ini menyatakan keluar dari sekte Bukit Halilintar. Aku bersumpah demi Langit dan Bumi, suatu hari aku akan datang lagi untuk menuntut balas padamu. Sekte manapun yang berani ikut campur, maka sekte tersebut akan menjadi musuh ku!." Kata Wang Dunrui dengan suara yang menggema di udara.
Petir tiba-tiba menyambar disertai angin kencang, setelah itu hujan lebat turun dengan sangat deras.
Semua yang mendengar sumpah Wang Dunrui menahan nafas setelah suara petir menyambar, yang artinya sumpahnya di dengar oleh Langit dan Bumi.
Jendral Ori segera menghilang begitu merasakan akan turun hujan, entah kemana dia perginya. Sedangkan Raja iblis hitam tersenyum lebar mendengar sumpah yang di ucapkan oleh Wang Dunrui.
Wang Dunrui berjalan menggendong jasad Ayahnya di tengah derasnya hujan. Wei Heng tersenyum kecil kepada Kang Jian dan akhirnya berjalan mengikuti Wang Dunrui.
Tidak satupun orang yang menghentikan langkah Wang Dunrui. Yin Fei sendiri ingin menghentikannya namun ia sadar, jika saat ini Wang Dunrui memiliki dendam kepada ayahnya, besar kemungkinan Wang Dunrui juga akan membeci nya.
Dalam aturan sekte, setiap anggota yang keluar dari sekte harus di hukum mati, namun melihat Wang Dunrui yang sudah mengumumkan dirinya keluar dari sekte, tidak ada yang mencegahnya, padahal yang di lakukan oleh Wang Dunrui telah melanggar aturan.
Mereka bukan tidak mau, namun mereka masih penuh di lema, dimana Wang Dunrui adalah anak dari Wang Chungying, salah satu jagoan terkuat setelah Kang Jian.
Wang Chungying menjadi salah satu tokoh terkuat sekaligus paling berjasa ketika Kang Jian baru di angkat menjadi ketua sekte.
Dua orang ini adalah teman bersama sejak masih anak-anak. Mereka tumbuh bersama hingga sekarang, dan Kang Jian menganggap Wang Chungying seperti saudara nya sendiri.
Tentu Kang Jian tidak sampai hati jika harus menghukum mati Wang Dunrui, mengingat ayahnya yang sangat berjasa kepada sekte nya.
__ADS_1
Liu Wei dan Yin Fei hanya bisa menutup mulut mereka dengan telapak tangan nya, mereka menangis melihat Wang Dunrui yang melangkah pergi menggendong jasad Ayahnya di tengah turun nya hujan yang begitu deras.
Siang yang seharusnya cerah, kini menjadi gelap karena hujan, suasana duka pun begitu terasa di hati mereka.
Jian Heeng salah satunya, dia baru beberapa saat yang lalu berbicara dengan Wang Chungying, dan bahkan sempat berjanji akan bertemu di pertemuan besok. Siapa sangka jika Wang Chungying yang berpamitan ingin pergi ke Hutan justru malah pergi untuk selamanya.
Wang Chungying yang seharusnya mendapatkan makam yang layak dan juga mendapatkan penghormatan, justru tidak ada. Jenasah nya di bawa oleh putra nya sendiri entah kemana.
Kini hanya tersisa kenangan dan nama saja yang ada di hati mereka. "Pendekar Dari Neraka." Begitulah mereka menyebutnya saat ini, dengan memberi gelar tersebut, mereka akan selalu mengenang nya.
Mereka semua kembali ketempat masing-masing, namun tidak ada lagi keceriaan yang terlihat di wajah mereka semua. Saat ini yang tersisa di hutan yang yang sudah menjadi arang akibat terbakar, hanya Kang Jian seorang.
Kang Jian begitu terpukul, sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa ia suruh untuk menjaga sekte ketika harus pergi mengurus sesuatu.
Cukup lama Kang Jian berada di sana sebelum akhirnya seorang pemuda datang menjemputnya. Dia tidak lain adalah Kang Yelu.
Kang Yelu berusaha membujuk ayahnya untuk kembali, sedangkan Kang Jian sama sekali tidak menghiraukannya. Butuh waktu lama bagi Kang Yelu membujuknya sebelum akhirnya Kang Jian menurut dan ikut kembali bersama Kang Yelu. Kang Jian kembali namun tatapan Kang Jian terlihat Kosong dan sangat terlihat jika dirinya begitu sangat kehilangan.
***
Ho Chen sedang beristirahat di bawah sebuah gubuk kecil, mereka bertiga berteduh karena hujan begitu deras.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa mengantuk? Ah mungkin aku memang kelelahan!." Batin Ho Chen.
Semenjak beberapa hari dia tidak pernah tidur, siang berjalan, malam nya berlatih, sehingga kesempatan untuk bisa tidur nyenyak sangat jarang ia rasakan. Di tambah lagi dirinya yang habis bertarung Di Desa Jinhu.
***
__ADS_1