Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Ho Chen VS Shou Jie (2)


__ADS_3

Di saat Shou Jie sedang melepaskan energi nya dengan melayang di udara, Ho Chen diam dan menutup kedua matanya, dia sedang mengumpulkan energi dan ber transformasi dengan dengan tehnik gabungan.


Secara perlahan Energi cahaya berwarna merah dan putih mulai terlihat keluar dari tubuh Ho,Semakin lama semakin bercahaya.


Energi cahaya merah secara perlahan berubah menjadi Zirah sisik naga, sedangkan energi cahaya putih membesar membantu pelindung dengan pusaran angin kencang dan tanah tempat dia berpijak menjadi retak di sertai batu kerikil kecil yang beterbangan.


"Apa-apaan..?!!." Semua jagoan melotot, mulut mereka semua menganga lebar dengan pikiran penuh ketidak percayaan ketika merasakan energi Ho Chen yang sangat besar.


Senyuman Shou Jie menghilang setelah mengetahui energi milik Ho Chen. "Sebenarnya siapa anak ini?." Gumam Shou Jie .


Ho Chen tidak mengeluarkan seluruh energinya, dia mengeluarkan sedikit di bawah kekuatan Shou Jie. "Seharusnya ini sudah cukup.!." Kata Ho Chen dengan mengerakkan lengan nya keatas kebawah.


Ho Chen menoleh ke 9 jagoan yang masih melongo melihat Ho Chen. "Kalau mau ikut bergabung dengan ketua kalian aku tidak keberatan!." Kata Ho Chen dengan tersenyum dingin ke arah mereka.


Semua jagoan menelan ludah setelah di tatap oleh Ho Chen, kini mereka tahu kenapa rekannya bisa kalah dengan mudah saat bertarung dengan Ho Chen.


Ho Chen kembali melihat ke arah Shou Jie yang sudah mengeluarkan seluruh energinya, kemudian Ho Chen melayang ke udara dan berhenti di depan Shou Jie.


"Mari kita mulai!." Kata Ho Chen.


Shou Jie mengangguk kemudian dengan cepat bergerak menyerang Ho Chen dengan pukulan tinjunya.


"Tehnik Kera - Pukulan Raja kera."


Pukulan yang di arahkan ke Ho Chen kali ini lebih besar dari sebelumnya dan menyerang Ho Chen dengan pukulan beruntun.


"Tehnik Mata Angin - Hembusan angin barat."


Ho Chen yang sudah menguasai semua Tehnik Mata Angin juga membalas pukulan Shou Jie, mereka saling menyerang dan bertahan.

__ADS_1


Suara pukulan yang di timbulkan terdengar ke seluruh wilayah tersebut, gelombang kejut nya juga membuat langit yang awalnya terlihat ada awan kini semua sudah hilang dan menjadi langit biru dengan matahari yang panas tanpa penghalang.


Shou Jie mengerutkan dahi setelah bertukar beberapa serangan dengan Ho Chen, bukan hanya tidak terdesak, bahkan nafas Ho Chen masih terlihat stabil, tidak seperti dirinya yang nafasnya mulai memburu.


"Kenapa senior, apa senior mulai kelelahan?." Tanya Ho Chen dengan tawa terkekeh namun tetap menyerang tanpa memberi jeda sedikitpun.


Shou Jie tidak menjawab dia juga masih terus bertahan dan menyerang walau sesekali terkena beberpa pukulan dari Ho Chen.


"Tidak ada pilihan lain, aku harus mengunakan Tehnik itu untuk bisa mengalahkan pemuda ini." Batin Shou Jie kemudian mundur beberpa meter dan menstabilkan nafasnya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menyerah secepat ini?." Ho Chen bertanya dengan nada ngeledek karena Shou Jie lah yang meminta dirinya agar tidak mengecewakannya.


Shou Jie merapatkan gigi kemudian merentangkan kedua tangannya kedepan.


"Tehnik Raja Kera - Cakram Bulu kera."


Seluruh tempat di sekitar mereka berdua berhenti bergerak, bahkan angin pun juga mulai menipis.


Ho Chen dapat melihat seluruh energi alam yang ada di sekitarnya mulai terhisap dan masuk ke telapak tangan Shou Jie.


Dalam beberpa detik, di depan kedua telapak Shou Jie mengeluarkan energi yang melingkar menyerupai piringan cakram dan berputar dengan sangat cepat.


"Terimalah ini..!." Shou Jie mendorong energi tersebut ke arah Ho Chen.


Ho Chen melihat itu sedikit kagum kemudian dia menatap Zirah sisik naga nya. "Aku ingin lihat, apa kamu mampu untuk menahan Itu?." Batin Ho Chen


.Dia sudah melihat kemampuan Zirah sisik naga sebelumnya yang mampu menahan panasnya api hitam, namun Ho Chen masih ingin mencoba lagi dengan menggunakan energi dari manusia yang akan menyerangnya walau Ho Chen menyadari kekuatan Shou Jie lebih kecil jika di bandingkan dengan kekuatan tiga jendral iblis yang sudah dia hadapi sebelumnya.


Cakram tersebut segera melesat ke arah Ho Chen dan dengan sangat cepat mengenai perut Ho Chen, sangat terlihat di setiap putaran nya seperti bulu-bulu halus yang beterbangan namun sangat

__ADS_1


Shou Jie tertawa lebar melihat itu, namun dia sendiri juga sudah mulai kehabisan energinya, karena semua energi yang ia miliki sudah ia gunakan untuk membuat energi Cakram tersebut.


Tawa Shou Jie terhenti ketika melihat Ho Chen yang masih baik-baik saja, bahkan energi Cakram nya tidak mampu menembus tubuh Ho Chen.


Energi cakram tersebut terdengar seperti suara gesekan keras dan terlihat juga percikan api kecil.


"Tidak Mungkin! Seharusnya dia  mati!." Shou Jie mulai frustasi.


Shou Jie tidak menduga tehnik andalan yang selalu ia banggakan ternyata tidak berguna sama sekali terhadap Ho Chen, jangan kan memotongnya membuat goresan di zirahnya saja tidak mampu.


Shou Jie menoleh ke arah 9 jagoan yang berdiri di bawah dengan jarak sedikit jauh, kemudian memberi kode perintah untuk menyerang rombongan Zhu Yu yang berada sangat jauh dari mereka.


Shou Jie berpikir jika dirinya tidak bisa membunuh Ho Chen maka sebaiknya dia menyerang rombongan Zhu Yu yang kemungkinan ada salah satu dari mereka yang  sangat berharga bagi Ho Chen.


Setelah Energi cakram tersebut hilang Ho Chen mengangguk puas. "Terima kasih Naga Putih..!." Kata Ho Chen dia sadar jika tidak ada Zirah tersebut, kemungkinan sudah lama dia mati.


Ho Chen menoleh ke 9 jagoan yang sudah bergerak ke arah rombongan Zhu Yu kemudian berseru. "Silahkan jika kalian ingin menuruti keinginan ketua kalian ini, namun dengan satu syarat." Ucap Ho Chen kemudian mengeluarkan pedang lidah apinya dari gelang pusaka nya, setelah di kairo energi Raja Api Ho Chen melepas pedang tersebut dan melayang-layang di udara.


"Kalian harus bisa melewati pedang itu! Jika kalian berhasil aku tidak akan menghalangi kalian lagi.


Namun jika kalian gagal kalian akan mati menjadi arang seperti teman mu sebelumnya." Kata Ho Chen.


Mereka semua saling berpandangan dan kemudian menatap pedang yang melayang dan berhenti di jalan menghadang mereka.


"Aku tidak takut kapada pedang itu.!." Seru salah satu dari mereka kemudian maju dan berusaha menyerang pedang lidah api.


Pedang lidah api juga maju dan melesat lebih cepat dari jagoan tersebut sehingga pedang tersebut menembus tubuhnya kemudian terbakar habis dan menjadi arang.


Semua menahan nafas menyaksikan salah satu anggotanya mati begitu saja tanpa melakukan perlawanan yang berarti.

__ADS_1


__ADS_2