
***
“Saudari Lin! Apa kamu tidak keberatan jika kita menginap di jalan nanti? Menurut peta yang kubawa kita akan sampai di kota besok malam." Tanya Jiu Rui dan menjelaskan akan adanya kota yang akan mereka lewati.
Qiao Lin mengelengkan kepala lalu menjawab. “Di mana saja tempat menginap bagiku tidak masalah. Aku sudah terbiasa, dan beberapa kali menginap di jalan sewaktu melakukan perjalanan dengan kakek." Kata Jiu Rui.
“Ho Chen sampai kapan kau mau berjalan? Nanti kamu cari kuda untuk gadis ini." Naga putih berbicara kepada Ho Chen yang berjalan di sampingnya.
Semenjak Qiao Lin ikut bersamanya, Ho Chen lebih sering berjalan kaki, dan Qiao Lin yang dia suruh untuk menaiki Naga putih.
Qiao Lin sebenarnya ingin menolak, namun Ho Chen tetap memaksa. Mau tidak mau Qiao Lin harus menaiki naga putih tersebut.
Ho Chen hanya mengangguk. “Aku akan membelikannya nanti setelah tiba di kota." Jawab Ho Chen.
“Em..? Kenapa kuda ini, apa dia lelah atau lapar?." Tanya Qiao Lin setelah mendengar naga putih bersuara seperti mendengkur.
“Tidak apa-apa dia hanya bersuara saja.!." Kata Ho Chen.
“Owh..!." Qiao Lin hanya mengangguk, namun pikiranya mulai bertanya. “Apa Chen bisa mengerti bahasa binatang juga?." Batin Qiao Lin.
Qiao Lin Dan Ho Chen sudah tidak lagi memanggil saudara, atau saudari. Mereka sepakat akan memanggil nama seperti biasa, agar semakin enak ketika berbicara.
Mereka berjalan beberapa saat, namun Ho Chen merasakan ada yang mengamati mereka. "12 tidak 15 tidak 23 orang." Ho Chen menghitung orang-orang yang mengamati mereka.
“Naga putih pasang pelindung energimu.!." Kata Ho Chen.
“Tidak perlu kau beri tahuku." Jawab Naga putih, dia sudah mengetahui akan keberadaan orang-orang tersebut.
Ho Chen menarik kuda Jiu Rui ke dekat naga putih. “Adik ada apa?." Jiu Rui kaget setelah Ho Chen menarik kudanya ke dekat naga putih. Bahkan Qiao Lin juga ikut kaget.
__ADS_1
“Apapun yang akan terjadi, kalian jangan keluar!." Ucapnya, membuat keduanya bingung.
“Sekarang Naga putih..!." Kata Ho Chen dan segera berpindah ke dapan naga putih.
Naga putih segera membuat pelindung energi yang samar, namun terlihat Kilauan putih kecil menyerupai Kilauan cahaya yang samar.
Jiu Rui dan Qiao Lin semakin bingung melihat tingkah Ho Chen yang tiba-tiba berpindah ke depan mereka dengan jarak 3 meter. Namun beberapa saat kebingungan mereka segera terjawab.
Sebuah anak panah melesat dengan kecepatan tinggi dan mengarah ke Ho Chen. Namun Ho Chen bisa menangkapnya Tampa kesulitan.
“Siapa yang menyerang kita...?." Jiu Rui sedikit kaget, dia tidak mengetahui jika ada orang yang mengincar mereka.
Ho Chen menatap ke arah panah tersebut datang. Kemudian melempar kembali anak panah tersebut, dengan kecepatan 2 kali lipat. Ho Chen mengunakan tehnik anginnya untuk menambah kecepatan anak panah tersebut.
Anak panah tersebut terdengar membentur besi ketika sampai di tempat awal panah tersebut berasal. Kali ini bukan satu panah yang datang, tapi beberapa panah yang datang melesat namun tidak semua mengarah ke Ho Chen, beberapa panah tersebut juga mengincar Qiao Lin Dan Jiu Rui.
Dalam sekali gerakan tangan Ho Chen mengeluarkan hembusan angin yang mampu membelokan arah anak panah tersebut. Semua panah yang menuju ke arah mereka berbelok kasaping dan menancap ke berbagai kayu.
“Oho..! Ternyata lumayan juga kau anak muda.." Suara seseorang terdengar dari semak-semak, tidak lama mereka semua keluar, sekitar 23 orang keluar dengan busur di tangan dan pedang di pinggang.
“Siapa Kalian? Dan mau apa kalian menghalangi perjalan kami?." Tanya Ho Chen.
“Apa kami harus mengenalkan diri. Lebih baik kalian pergi dari sini, tingalkan barang-barang bawaan kalian dan gadis itu di sini. Jika tidak jangan salahkan kami jika kami berbuat kasar." Ucap pria tersebut.
“Ternyata kalian adalah perampok jalanan." Kata Ho Chen. Ho Chen mengukur kekuatan mereka semua, semuanya memiliki kekuatan Tingkat Bumi. Sedangkan pria yang berbicara berada di tingkat Langit puncak 3.
Pria tersebut tertawa lepas. “kau sudah mengetahui kami, jadi kau bisa pergi sekarang. Namun tetap biarkan gadis itu bersama barang-barang di sini.” kata pria tersebut sambil menjilati bibirnya menatap Qiao Lin.
Qiao Lin melihat sikap pria tersebut menjadi jijik dan marah, dia ingin turun dari naga putih namun teringat akan pesan Ho Chen, dia tidak ingin membebani Ho Chen. Dan menuruti perkataannya.
__ADS_1
“Apa yang membuatmu yakin jika aku akan menuruti kemauanmu?." Tanya Ho Chen.
“Tentu saja aku yakin, jika kamu ingin selamat, maka turuti perkataan ku." Jawabnya.
Pria tersebut segera memerintahkan anggotanya untuk mengepung Ho Chen. Semuanya mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.
Ho Chen menghela nafas. Semenjak dia selesai dari latihanya, yang pertama menyambutnya di depan pintu batu justru pertempuran sehingga mau tidak mau Ho Chen harus membunuh, entah itu pasukan iblis atau manusia yang bersekutu dengan Raja iblis.
Bahkan Ho Chen merasa akhir-akhir ini dia sering terlibat pertarungan yang memaksanya harus menjadi seorang pembunuh. Kali ini dia lagi-lagi di hadapkan akan situasi yang sama.
Ho Chen berpikir bagaimana caranya agar tidak membunuh mereka dan juga membuat mereka sadar. Namun melihat mereka yang tidak ingin membiarkan dirinya pergi, bukan tidak mungkin dia akan membunuh beberapa orang di antara mereka.
“Ini keputusan kalian, jadi maafkan aku jika aku terpaksa membunuh beberapa dari kalian..!." Kata Ho Chen.
Mereka semuanya tertawa mendengar perkataan Ho Chen, mereka pikir Ho Chen sudah gila karena tidak menemukan jalan keluar. Siapapun yang yang merasa terjepit seperti Ho Chen saat ini, biasanya akan menyerah atau terpaksa melawan walau harus merelakan nyawanya.
“Perkataanmu boleh juga anak muda, ayo kita lihat siapa yang akan mati terlebih dahulu!." Kata pria tersebut kemudian memberi perintah ke anggotanya untuk membunuh Ho Chen.
Mereka semua kecuali pria yang memberi periintah, menyerang Ho Chen secara bersamaan dengan pedang mereka.
Ho Chen juga bergerak dan tiba lebih dulu di hadapan salah satu dari mereka. Ho Chen segera menangkap tangan orang tersebut dan mengambil pedangnya dengan sangat cepat.
“Apa yang terjadi..?." Orang tersebut kaget begitu pedangnya sudah berpindah ketangan Ho Chen.
Ho Chen langsung menyerang orang tersebut dengan kepalan tinjunya, sekali pukul orang tersebut langsung terlempar belasan meter Kebelakang di sertai dengan jerit kesakitan.
“Tehnik Pedang terbang - Roh Dewa."
Pedang yang berhasil dia ambil dari salah satu dari mereka segera melayang ke udara dan melesat ke arah mereka, namun yang di incar hanya kakinya. Ho Chen tidak berniat membunuh mereka dan berusaha melumpuhkannya saja, dalam sekali gerak, pedang tersebut berhasil menyayat betis mereka semua, sehingga mereka terjatuh mengerang kesakitan sambil masing-masing memegang betisnya yang sudah terluka.
__ADS_1