
"Apakah ada kamar di kapal ini?" tanya Ho Chen kepada pekerja kapal.
"Tentu ada Tuan, Saat ini hanya tersisa dua kamar saja dan harganya 10 keping koin perak permalamnya," kata pekerja tersebut.
"Berapa hari kita akan sampai di kekaisaran Yun?" tanya Ho Chen.
"Kurang lebih satu bulan, itupun jika tidak ada halangan," jawab pekerja tersebut.
"Selama itu?" Ho Chen tidak habis pikir jika perjalanannya mengunakan kapal ternyata membutuhkan waktu yang cukup membosankan.
"Ambillah! Jika kurang akan aku tambah lagi nanti," Ho Chen membayar lima keping koin emas, tentu saja itu lebih jika perjalanan hanya memakan waktu satu bulan saja.
"Tuan, ini terlalu banyak," tangan pekerja tersebut gemetar saat menerima uang tersebut.
"Kita belum tahu akan sampai berapa lama, jadi simpanlah dan tunjukkan padaku dimana kamarnya!" kata Ho Chen.
Pekerja tersebut menurut dan segera mengantarkan Ho Chen ke kamar yang di sewanya.
"Tuan, ini kunci kamarnya! sebentar malam pelayan kapal akan mengantarkan makanan ke kamar Tuan." kata pekerja tersebut kemudian pamit pergi setelah menyerahkan kunci kamar Ho Chen.
Kamar Ho Chen tidaklah besar namun cukup nyaman untuk beristirahat. Ho Chen berdiri di samping jendela kamar yang kecil tersebut menatap lautan yang terlihat sangat luas serta sepanjang mata memandang, tidak terlihat adanya daratan kecuali di belakang kapal yang semakin menjauh.
Ho Chen kembali kembali duduk di tempat tidurnya, dia beristirahat sejenak sambil menunggu malam tiba.
Setelah cukup lama berada di dalam kamar, pelayan kamar mengetuk pintu kamar Ho Chen, pelayan tersebut mengantarkan makan malam untuk semua kamar yang disewa termasuk kamar Ho Chen.
Setelah selesai makan malam, Ho Chen ingin menikmati pemandangan malam diluar, dia ingin menikmati sejenak kedamaian di dunianya sendiri walau hanya sesaat saja.
Malam yang gelap, langit bertaburkan bintang yang gemerlapan, disertai dengan hembusan angin dingin dan suara ombak kecil setiap kali bertabrakan dengan badan kapal. Ho Chen berdiri di depan ditemani oleh suara para penghuni gelangnya.
Ming Hao keluar dari dalam gelang dan mengobrol dengan Ho Chen, hanya dia yang bisa keluar dan muncul sesuka hati tanpa ada yang bisa melihatnya.
"Baru kali ini aku melihat orang yang begitu hebat, namun memilih jalan yang lambat untuk bepergian," kata Ming Hao.
Ho Chen melirik Ming Hao, bukannya dia tidak mau terbang, namun dia ingin lebih mengenal dunianya sendiri lebih jauh sebelum kembali ke tempat asalnya.
__ADS_1
Ho Chen sadar akan apa yang dilakukannya saat ini, namun setidaknya dia masih bisa menikmati kedamaian sesaat sebelum kembali petugas yang harus ia selesaikan.
"Chen'er, aku mau bertanya sesuatu kepadamu!" Ming Hao tiba-tiba saja bertanya.
"Guru mau bertanya apa?"
"Adakah seseorang wanita yang mengisi hatimu?" tanya Ming Hao.
"Kenapa Guru bertanya hal itu?" Ho Chen balik bertanya.
"Kamu tahu, sekarang kamu sudah mendapatkan tubuh keabadian, tubuhmu tidak akan pernah menua, jika suatu hari kamu mendapatkan seorang istri, maka istrimulah yang akan menua, sedangkan dirimu tidak," kata Ming Hao.
Ho Chen terkejut dengan penjelasan Ming Hao, dia baru menyadari akan hal itu. "Guru, apakah sebaiknya aku tidak perlu mencari istri? Atau ada cara lain?"
"Cara lain! Mungkin ada," kata Ming Hao.
"Bagaimana caranya?" tanya Ho Chen.
Ming Hao tertawa kecil melihat expresi Ho Chen, kini dia yakin jika Ho Chen sebenarnya memiliki seseorang yang begitu berharga dihatinya.
Energi murni yang dimiliki oleh Ho Chen mengandung unsur kehidupan yang sangat besar. Energi kehidupan milik Ho Chen mampu menghilangkan sel-sel kulit yang mati, sehingga mampu menghentikan proses penuaan, dan juga mampu menyembuhkan diri mereka sendiri.
Ho Chen bisa mengalirkan energinya kepada seseorang yang ia sukai, tanpa harus ada resiko yang berarti. Walau orang yang diberikan energi murni milik Ho Chen bisa hidup abadi, bukan berarti dia juga menjadi kuat, ada perbedaan antara Ho Chen dengan orang yang mendapatkan energi tersebut.
Ho Chen bukan hanya memiliki tubuh yang abadi namun dia juga memiliki kekuatan Dewa, sedangkan orang yang diberi energi murni hanya memiliki tubuh yang abadi, namun tidak memiliki kekuatan Dewa.
Namun ada satu yang mengganjal di pikiran Ho Chen. "Guru mengetahui semua itu dari mana?" tanya Ho Chen.
"Ketika kamu sedang menyerap Bunga Lotus Emas, aku sudah menanyakan semuanya kepada Tuan Yinfei," jawab Ming Hao.
Ho Chen hanya menatap Ming Hao dengan takjub, Ming Hao bukan hanya terkenal akan kepintarannya, namun dia juga selalu selangkah lebih cepat dari yang dibayangkan.
"Tidak heran Guru disebut sebagai wujud dari energi pikiran!" batin Ho Chen.
Mereka berdua terus berbincang hingga malam semakin larut. Ming Hao kembali kedalam gelang, sedangkan Ho Chen kembali kedalam kamarnya.
__ADS_1
***
Di markas para pasukan iblis, Dua belas jendral bersama Wei Heng, Liu Qi Shu, dan para ketua sekte lain yang bersekutu sedang berkumpul.
"Kemana Raja, kenapa dia belum keluar juga?" Tanya salah satu Jendral kepada rekannya.
"Tunggu saja sebentar lagi! Lagi pula kita semua berkumpul disini karena permintaannya," jawab Jendral yang satunya.
Mereka semua berkumpul karena perintah Wang Dunrui. Setelah beberapa saat, Wang Dunrui keluar menemui mereka.
"Hormat kami kepada Raja!" mereka semua berlutut memberi hormat kepada Wang Dunrui.
Wang Dunrui hanya mengangguk pelan, kemudian mereka semua kembali bangun dan menunggu Wang Dunrui berbicara.
"Apa semua persiapan sudah lengkap?" tanya Wang Dunrui.
Liu Qi Shu maju dan berbicara kepada Wang Dunrui. "Raja, semua persiapan yang Raja minta sudah ada, sekarang kami menunggu perintah!" kata Liu Qi Shu.
"Bagus, Jendral Fu, bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?" Wang Dunrui bertanya kepada salah satu jendral iblis yang bernama Fu.
"Raja, sesuai yang anda suruh, saya sudah berhasil menemukan pihak mana yang akan kita serang terlebih dahulu!" kata Jendral Fu.
"Siapa yang pantas kita serang terlebih dahulu?" tanya Wang Dunrui.
"Mereka menyebutnya Gunung Es, mereka adalah target pertama kita. Setelah itu kita akan lanjut menyerang Bunga Teratai, dan berikutnya adalah Tiga Pulau," kata Jendral Fu menyebutkan satu persatu yang akan di jadikan target terlebih dahulu.
"Bagus, aku sudah menduga jika kamu cukup cekatan dalam memilih musuh!" kata Wang Dunrui.
"Terimakasih atas pujian Raja?" Jendral Fu tersenyum lebar.
Tubuh jendral Fu sangat unik, dia adalah salah satu jendral iblis yang memiliki tubuh kerdil. Keahliannya adalah menyamar menjadi anak laki-laki dan berbaur dengan masyarakat tanpa ada yang mengetahuinya.
"Persiapkan pasukan mayat, kekuatan sekte Gunung Es sangat tidak efektif kepada mereka," Seru Jendral iblis Xu.
Liu Qi Shu langsung mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, dia mengeluarkan sebuah kendi labu berwarna abu-abu. Liu Qi Shu membuka penutup kendi tersebut, dan seketika itu juga hawa kematian terpancar dari dalam kendi tersebut disertai dengan asap hitam yang semakin lama semakin melebar hingga akhirnya semuanya berubah menjadi pasukan mayat yang jumlahnya sudah tidak bisa dibayangkan lagi.
__ADS_1