Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Pergi menyerang istana kerajaan


__ADS_3

Ho Chen tidak mengobati mereka karena Pangeran Tang Li sudah memanggil beberapa tabib untuk mengobati mereka, sehingga hanya membantu mengangkat mereka ke tempat yang telah di sediakan.


Ho Chen sudah dua Hari berada di istana kerajaan. Ketika sore hari  rombongan prajurit yang bertempur di gurun sudah terlihat.


Pangeran Tang Li mengirim empat jendral dan tiga ketua dari perguruan menengah aliran lurus dan Dua ketua dari perguruan kecil aliran bebas, ke empat jendral memimpin prajurit sebanyak 50 ribu prajurit bersama dengan para Ketua dan murid-murid mereka.


Sedangkan Pangeran Tang Zin mengirim 70 ribu prajurit yang di pimpin oleh tiga jendral dan empat ketua perguruan tinggi aliran sesat di tambah beberapa ketua perguruan kecil aliran sesat dan netral.


Sekarang prajurit yang kembali dari pihak pangeran Tang Li tersisa kurang dari 40 ribu prajurit dan banyak yang terluka.


Sedangkan prajurit dari pihak pangeran Tang Zin masih tersisa lebih dari 60 ribu prajurit dan tidak terlalu banyak yang terluka. Artinya pihak pangeran Tang Zin lebih sedikit yang jatuh korban dari pada pihak pangeran Tang Li.


Jika perang tidak cepat berhenti, mungkin prajurit dari pangeran Tang Li akan banyak yang gugur, dan kemungkinan tidak akan ada yang kembali.


Pihak pangeran Tang Zin sendiri yakin kemenangan mutlak ada di pihak mereka, ketika semuanya masih berperang, tiba-tiba para jendral dan Ketua perguruan berseru untuk mundur, padahal mereka masih di posisi sangat di untungkan dalam perang tersebut, membuat para pasukan pangeran Tang Zin kebingungan, bahkan pihak pangeran Tang Li  pun juga di penuhi tanda tanya.


"Hormat kami pangeran..!." Empat jendral bersama para Ketua perguruan menemui Pangeran Tang Li, mereka semua dalam ke adaan terluka.


"Pangeran maafkan kami karena tidak bisa mengalah mereka!." Salah satu jendral menyampaikan penyesalannya dengan berlutut satu kaki.


Tang Li menggelengkan kepala seraya berkata. "Tidak jendral Xuan, justru akulah yang meminta maaf, karena diriku kalian harus jadi seperti ini, karena diriku banyak yang harus gugur." Kata Tang Li yang merasa bersalah, andai bukan karena wasiat sang ayah yang memintanya menjadi Raja, dia tidak mau untuk naik tahta.


"Pangeran, saat kami sedang bertempur, pasukan pangeran Tang Zin tiba-tiba mundur dari pertempuran tampa alasan yang jelas, apa mungkin pangeran tahu apa penyebabnya?." Tanya salah satu jendral lainnya.


Tang Li mengangguk membuat semua orang yang ada di hadapan nya jadi penasaran. Tang Li bisa merasakan rasa penasaran mereka dan terlihat sangat antusias untuk mendengarkan dirinya menceritakan apa yang telah terjadi.


"Ini semua karena Tio Bai, Loi Seng dan Rui Xien yang menyerang ku, mereka bertiga juga berhasil di kalahkan oleh seseorang dalam waktu singkat." Kata Pangeran Tang Li.

__ADS_1


"Tidak mungkin..!." Semua merasa tidak percaya, mereka tentu tahu siapa itu Tio Bai  dan dua orang yang di maksud, walau masih belum termasuk yang terkuat, namun mengalahkan mereka bertiga secara bersamaan adalah hal yang mustahil.


"Siapa orang itu Pangeran?." Tanya salah seorang ketua.


"Dialah orangnya, namanya adalah Ho Chen!." Kata Pangeran dengan nada keras sambil menunjuk ke arah Ho Chen yang sedang berdiri di luar istana sedang memandang ke arah prajurit.


Semua menoleh ke arah Ho Chen, mereka semua yakin jika Ho Chen masih sangat muda, kemungkinan belum sampai 20 tahun.


Melihat reaksi para jendral dan Ketua perguruan, Pangeran Tang Li tersenyum tipis, dia tahu jika mereka tidak percaya akan ceritanya, andai dirinya cuma mendengar kabar, mungkin dia juga akan bereaksi sama dengan mereka, namun pangeran Tang Li melihat dengan mata kepala sendiri.


Pangeran Tang Li mulai menjelaskan akan kedatangan Ho Chen dan bertemu nya Wu Jian sekaligus keputusan Ho Chen untuk membantunya.


Ho Chen sendiri tidak mengetahui jika dirinya sedang di perbincangan oleh mereka di dalam, setelah selesai membantu para prajurit yang terluka, dia berdiri di depan istana memperhatikan para prajurit yang berlalu lalang.


"Bukankah orang itu adalah..!?." Beberapa prajurit ternyata ada yang mengenal Ho Chen, mereka adalah para prajurit pemanah yang bertemu Ho Chen di atas gunung.


"Apa dia itu manusia, atau Dewa.?."


"Percuma kita bicara di sini, sebaiknya kita kesana dan meminta maaf padanya, karena kita sudah berusaha menyerangnya!."


Setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk mendekati Ho Chen sekaligus meminta maaf atas sikap mereka sebelumnya, andai mereka tahu jika Ho Chen berada di pihak mereka, maka mereka tidak akan menyerang nya.


"Tuan, Ah bukan.! Maksud saya Dewa. Maaf atas kelancangan kami sebelumnya karena telah menyinggung Dewa ketika berada di atas Gunung!." Salah seorang bicara mewakili semuanya, namun dengan perasaan takut.


Ho Chen mengamati mereka semua yang jumlah nya sekitar 30 orang. Sebenarnya ada 70 orang saat itu, namun beberapa ada yang gugur dan juga ada yang terluka, sisanya adalah yang ada di hadapan Ho Chen.


"Dewa..? Siapa yang kalian panggil Dewa?." Ho Chen bertanya dengan mengangkat satu alis nya.

__ADS_1


"Te..tentu saja anda." Jawab salah seorang.


"Senior sekalian, nama ku adalah Ho Chen, dan aku bukan Dewa, jadi jangan memanggil ku Dewa lagi, sedangkan masalah di atas gunung! Anggap saja semua itu adalah salah paham." Kata Ho Chen kemudian berjalan meninggalkan mereka semua.


Sejak saat itu, munculnya seorang pendekar sakti di istana tersebar ke seluruh Wilayah Kerajaan Luwuen, bahkan perguruan besar aliran Lurus dan aliran Bebas pun juga mendengar kabar tersebut.


Mereka semua menganggap kabar tersebut terlalu di lebih-lebih kan bahkan di anggap omong kosong saja.


Terutama di kubu Pangeran Tang Zin. Para ketua perguruan besar aliran Hitam dan para jendral berkumpul di satu tempat, mereka membahas masalah pendekar yang berhasil mengalahkan Tio Bai dan Ketua perguruan Bulan Merah.


"Aku yakin pendekar ini tidak sendiri, pasti ada pendekar lain yang membantunya!." Ucap salah satu Jendral.


"Ketua Ma, bagaimana pendapat anda?." Pangeran Tang Zin yang tidak tenang semenjak salah satu murid dari Bulan Merah menyampaikan kabar tersebut, dia mencoba meminta pendapat pria sepuh yang sejak tadi duduk dengan tenang sambil mengusap jenggot putihnya yang panjang.


Nama pria sepuh tersebut adalah Ma Gou Ketua perguruan Besar terkuat aliran sesat, yaitu perguruan Jurang Hitam yang saat ini menjadi markas besar pangeran Tang Zin.


"Hem.! Aku setuju dengan pendapat Jendral Ni Lao, aku yakin pendekar ini tidak sendiri, melainkan ada rekannya yang kemungkinan juga adalah Pendekar Api." Kata Ma Gou dengan tenang seolah-olah Ho Chen bukan ancaman besar baginya.


"Jadi, apa rencana kita selanjutnya?." Salah satu ketua bertanya kepada Ma Gou.


Ma Gou berpikir sejenak sebelum akhirnya berbicara. "Sekarang kekuatan mereka sudah melemah, sebaiknya kita segera menyerang ke istana dengan kekuatan penuh, jangan menunggu mereka kembali memulihkan kekuatan mereka!." Kata Ma Gou kemudian bangkit dan kembali berbicara.


"Sun Xi Zin, ketua perguruan Gunung Tengkorak. He Yung, ketua perguruan Lembah Kematian. Tao Xi, ketua perguruan Pedang Hitam. Aku minta kepada kalian untuk membawa semua murid yang kalian miliki, sekaligus dengan Pendekar penjaga pilar perguruan kalian." Ke tiga ketua yang di sebut berdiri dan menyanggupi permintaan Ma Gou.


"Jendral Xio San,  jendral Fang Hai dan jendral Ni Lao. Kalian segera persiapkan semua prajurit, aku juga ingin tahu, seberapa hebatnya Pendekar yang telah menangkap Jendral Tio Bai dan Ketua Loi Seng itu. kita pergi menyerang istana kerajaan hari ini juga." Kata Ma Gou.


Mereka akhirnya mulai mempersiapkan semua nya, mulai dari panah, pedang, perisai dan tombak. Para ketua dan juga pendekar lainnya juga mempersiapakan senjata pusaka mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2