
Ho Chen terbang selama satu hari dan beristirahat di malam hari, kemudian kembali melanjutkan kembali saat pagi hari.
Dari jauh, Ho Chen bisa melihat puncak gunung tersebut, dengan sangat cepat, dia langsung terbang tampa ada hambatan sama sekali.
Saat sore hari barulah Ho Chen tiba di puncak gunung. Dia bisa melihat dari atas bangunan Kuil yang terlihat sederhana, di belakang kuil juga ada kolam besar berwarna Hijau.
Ho Chen mendarat agak jauh dari pintu Kuil tersebut supaya tidak menarik perhatian para penghuni Kuil tersebut.
Tok..!Tok..!Tok!!!
Ho Chen mengetuk pintu depan Kuil, yang ada besi bulat menempel di pintu tersebut, beberapa saat kemudian seorang biksu muda membuka pintu nya.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?." Tanya biksu muda dengan sopan, sebelah tangan kanannya berada di depan dada membentuk tapak miring lurus ke atas.
"Biksu, saya ingin bertemu dengan Kepala Biksu Gu Lixin." Kata Ho Chen berkata dengan sangat sopan juga.
"Tuan, guru sedang meditasi, jika Tuan bersedia menunggu mari masuk dan menunggu di dalam!." Kata Biksu muda tersebut.
"Saya akan menunggu nya, terima kasih!." Ho Chen masuk kedalam mengikuti biksu muda tersebut.
Ini baru pertama kalinya Ho Chen memasuki sebuah Kuil biksu seperti ini, selama berada di dunianya sendiri dia tidak pernah pergi berkunjung ke Kuil Lonceng Suci, sehingga Ho Chen membayangkan jika Kuil Lonceng Suci dan Kuil Gunung Suci mungkin memiliki bentuk bangunan yang sama.
Ternyata di dalam Kuil banyak sekali biksu muda dan juga beberapa yang lebih senior sedang berlatih, ada yang berlatih mengunakan tongkat panjang, ada yang memakai pedang, ada juga yang memakai tangan kosong, namun gerakan jari-jari tangannya seperti cakar naga.
"Tuan bisa menunggu guru di sini! Kemungkinan sebentar lagi guru sudah selesai dari meditasinya." Kata Biksu muda tersebut.
Ho Chen mengangguk menuruti perkataan biksu muda tersebut kemudian duduk di Kursi batu panjang yang sudah di sediakan sambil memperhatikan para biksu yang sedang latihan.
Setelah berpamitan, biksu muda tersebut meninggalkan Ho Chen sendirian dan kembali ke arah pintu untuk menutup nya.
"Jadi seperti ini suasana di dalam Kuil.?." Gumam Ho Chen.
Setelah matahari sudah mulai tidak terlihat, semua para biksu yang sedang latihan sudah berhenti. Ho Chen sendiri masih berusaha bersabar menunggu biksu Gu Lixin. Tidak lama setelah itu, seorang biksu berumur 40 tahun datang menghampirinya.
"Tuan, Maha Guru memanggil tuan ke ruangannya, mari ikut saya!." Kata Biksu tersebut kemudian berjalan kedalam kuil dan di ikuti oleh Ho Chen.
__ADS_1
Di dalam ruangan nya ternyata sangat luas. Ada sekitar enam pilar berwarna perak berdiri tegak sebagai penyangga bangunan Kuil tersebut.
Ke enam pilar tersebut semuanya memiliki gambar berukir naga panjang berwarna perak juga, ekor di atas dan kepala di bawah.
Di tempat paling depan ada tiga patung besar, dan di depan patung ada lilin merah serta dupa dan beberapa kertas kuning lebar yang di susun dengan sangat rapi.
Terlihat juga di depan patung seorang biksu tua sedang berdiri membacakan doa. Setelah Ho Chen sudah berada di belakangnya, biksu tersebut berhenti membaca doa.
"Tinggal kan saja kami berdua di sini!." Kata Biksu tua tersebut kepada biksu yang mengantar Ho Chen.
Setelah biksu yang mengantar Ho Chen pergi, barulah biksu tua tersebut membalikkan badan dan menyapa Ho Chen.
"Amitafa, saudara muda, maaf telah membuat mu menunggu lama. Nama ku Gu Lixin!." Kata Biksu tersebut.
"Saya Ho Chen, tidak apa-apa senior, dan terima kasih sudah mau menemui junior!." Kata Ho Chen.
"Saudara Muda, aku tahu akan maksud kedatangan mu, namun jika tidak keberatan sebaiknya besok siang saja kita pergi ke tempat itu." Kata Biksu Gu Lixin.
Ho Chen sangat takjub ternyata biksu Gu Lixin sudah mengetahui akan maksud kedatangannya, itu karena Biksu Gu Lixin bisa meramalkan akan apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk kedatangan Ho Chen ke tempatnya.
"Sebelum itu, aku akan menceritakan tentang apa yang ada di sana agar besok saudara muda tidak terkejut." Kata Biksu Gu Lixin.
Ho Chen mulai mendengarkan semua cerita Biksu Gu Lixin tanpa memotong cerita tersebut.
Bunga Lotus Emas berada di belakang Kuil Gunung Suci, tepatnya di atas air kolam berwarna Hijau. Bunga tersebut di jaga oleh dua orang hebat yang berasal dari dunia lain.
Konon ketika pertama kali Bunga Lotus Emas tersebut diketahui memiliki kekuatan besar, semua para pendekar dari aliran Lurus dan Sesat dan juga aliran Bebas berusaha mengambilnya.
Namun tidak ada satu pun yang berhasil, karena penjaga bunga tersebut muncul dan tidak mengijinkan siapapun boleh mengambilnya.
Awalnya mereka tetap berusaha merebut Bunga Lotus Emas itu, sampai-sampai mereka bekerja sama demi mendapatkan bunga.
Masalah nya Penjaga tersebut sangat kuat, bahkan kekuatannya seperti kekuatan Dewa, walau sudah menggabungkan kekuatan, ternyata tidak satupun yang berhasil melukai atau bahkan menyentuh penjaga tersebut.
Sejak saat itulah di ketahui jika ada kekuatan di atas Pendekar Api, dan sekaligus membuat semua orang yang menginginkan Bunga Lotus Emas tersebut mengurungkan niatnya karena sadar bahwa bunga tersebut di lindungi oleh Dewa.
__ADS_1
Saat semua berpikir bahwa penjaga tersebut hanya seorang saja, ternyata muncul penjaga lain. Penjaga tersebut seorang wanita yang yang sangat muda, namun wanita tersebut bisa melayang di udara.
Setelah melihat dua orang yang menjaga nya, akhirnya tidak satupun orang yang berniat lagi untuk merebutnya.
Setelah kejadian itu, Raja pertama pemimpin kerajaan ini membuatkan kuil dan menyuruh beberapa orang untuk menjaga kuil tersebut.
Namun siapa sangka, salah seorang penjaga kuil bertemu dengan salah satu penjaga Bunga Lotus Emas dan mengajari darma serta ilmu bela diri, alasannya adalah agar kedua penjaga Bunga Lotus Emas tidak perlu turun tangan ketika masalah sebelumnya kembali terjadi, hingga akhirnya orang tersebut menjadi kepala Kuil pertama.
Mereka juga berpesan untuk selalu menjaga bunga tersebut, dan sudah di pesankan bahwa suatu saat nanti akan datang seorang pemuda yang akan mengambil bunga tersebut. Setelah 800 tahun berlalu, pemuda yang di maksud tidak juga datang.
"Saudara Muda, aku tidak tahu, apakah pemuda yang di maksud adalah dirimu atau bukan, namun jika benar, maka tugas kami akan selesai, dan kami bisa turun gunung untuk menyebarkan darma." Kata Biksu Gu Lixin.
Ho Chen tidak menjawab, dia juga tidak yakin apakah pemuda yang di maksud adalah dirinya, atau orang lain. Namun Ho Chen tetap tersenyum lembut, berharap semua akan baik-baik saja.
Ho Chen menginap di kuil tersebut, dia di beri satu kamar untuk beristirahat. Selama semalaman penuh Ho Chen meditasi memasuki Alam Batin untuk memulihkan energinya, dia sudah mengeluarkan energi ketika bertarung di istana, di tambah lagi dia terbang dari istana ke Kuil Gunung Suci.
Lebih banyak energi yang di keluarkan dari pada energi yang ia kumpulkan, mengingat energi di dunia baru ini sangatlah tipis.
Untungnya Ho Chen memiliki Alam Batin sehingga bisa mengumpulkan energi dalam waktu semalam saja, sekaligus sebagai antisipasi, siapa tahu kedua penjaga Bunga Lotus Emas tersebut juga memiliki kekuatan yang sama dengan dirinya. Jika benar begitu, maka Ho Chen berharap tidak perlu terjadi pertarungan karena hanya akan membuat energinya cepat terkuras.
Ho Chen menyelesaikan meditasinya hingga pagi hari, dia membuka mata dan melihat ke luar, matahari belum muncul, namun para biksu sudah sangat terlihat sibuk.
Ada yang menyapu halaman, mengambil air dari bawah gunung di pikul ke atas dengan mengunakan dua ember kayu. Semuanya terlihat begitu semangat dan penuh tenaga.
"Andai di dunia ku bisa setenang ini..!." Batin Ho Chen yang berdecak kagum melihat suasana kuil di pagi hari.
__**__
Cerita ini mengisahkan petualangan Ho Chen untuk menjadi Pendekar Dewa, jadi lebih menceritakan tentang petualangan nya.
Karena itu Judulnya Pendekar Dewa Abadi.
Jika Judulnya adalah Pendekar Pembasmi Iblis, pastinya akan menceritakan pertarungan di sekitar iblis dan tokoh utamanya.
Jadi supaya tidak salah paham akan cerita ini. Terima kasih.
__ADS_1