
"Selamat datang mari silahkan masuk!." Seorang pelayan laki-laki menyambut kedatangan Mereka dengan sangat sopan.
"Tuan mau makan di lantai berapa? Kalau di lantai satu ini sudah penuh, jadi hanya tersisa lantai dua dan lantai tiga dan masih banyak yang kosong." Kata pelayan tersebut.
Ho Chen mengangguk sedangkan Qiao Lin dan Jiu Rui memilih mengikuti nya saja. Ho Chen mengamati ruangan lantai satu, semua meja sudah terisi oleh pelanggan, namun Ho Chen menyadari jika semua yang hadir di lantai satu adalah para pendekar, kebanyakan dari mereka adalah pendekar Bumi, sedang sisanya adalah pendekar Langit.
Ho Chen dan yang lainnya mengikuti pelayan tersebut ke lantai Dua. Di lantai dua memang tidak terlalu ramai dan ada beberapa meja yang kosong.
"Apa bedanya lantai satu dengan lantai di sini?." Jiu Rui bertanya.
"Di lantai satu harga makanan nya sangat murah, sedangkan di lantai Dua sedikit lebih mahal!." Kata pelayan tersebut.
"Perbedaannya?." Tanya lagi Jiu Rui, menurutnya lantai satu dan lantai dua tidak ada bedanya.
"Bedanya kalau lantai Dua harga makanan nya lebih mahal, karena di daftar menu makanan ada yang berbeda. Kalau di lantai satu, kami hanya memberi daftar menu yang harga nya lebih mudah untuk di jangkau oleh mereka kalangan bawah, di lantai Dua kami menyediakan daftar menu yang hanya mampu di pakai oleh kalangan atas, seperti para bangsawan dan ketua-ketua sekte untuk melakukan pertemuan." Pelayan tersebut menjelaskan.
Kini Jiu Rui melihat tangga yang ke lantai Tiga, menurutnya pasti akan lebih mahal lagi. "Berati di lantai Tiga pasti berbeda lagi bukan?."
"Di lantai Tiga menu makanan nya sama dengan di lantai Dua, namun untuk bisa naik ke lantai Tiga para pelanggan harus membayar meja sebanyak satu Koin emas setiap mejanya. Di lantai Tiga biasa nya di gunakan oleh para petinggi dan pejabat untuk pertemuan, terlebih lagi di lantai Tiga ada hiburan seperti musik dan tarian-tarian untuk menghibur para pelanggan."
Mata Jiu Rui melebar, dia tidak tahu jika ada rumah makan yang memiliki kelas tersendiri, walau pun di kota-kota banyak rumah makan yang seperti ini, namun baru kali ini mereka mengetahuinya.
"Kami makan di sini saja." Kata Ho Chen kemudian berjalan ke meja kosong. Qiao Lin mengikuti Ho Chen, dia sama sekali tidak mau bersuara karena takut suaranya akan menimbulkan masalah yang tidak di inginkan. Walau dia memakai Topeng dan memakai baju hitam yang sedikit lebih lebar, namun tatap saja dirinya menarik perhatian beberapa orang.
"Adik, bukan kah di lantai Tiga lebih menyenangkan, kenapa kita tidak ke sana saja?." Kata Jiu Rui bertanya setelah pelayan yang mengantar kan mereka pergi kembali ke bawah untuk menyambut pelanggan berikutnya.
"Ehem...! Kita kesini untuk makan, bukan untuk menonton hiburan, tadi kan sudah di jelaskan jika lantai atas khusus untuk para petinggi dan pejabat pemerintah, ku rasa di sini sudah cukup baik!." Kata Ho Chen, Qiao Lin mengangguk pertanda setuju dengan perkataan Ho Chen, sedangkan Jiu Rui hanya bisa menahan keinginan nya untuk naik ke lantai atas.
__ADS_1
"Ini daftar menu hidangan di tempat kami, silahkan..!." Seorang pelayan wanita muda berumur 25 tahun menyerahkan daftar makanan ke meja mereka.
Ho Chen membaca berbagai nama menu makanan, begitu juga Qiao Lin dan Jiu Rui. "Saya pesan ini dengan ini saja!." Ho Chen hanya memesan nasi sayur dan ikan air tawar.
Qiao Lin juga ikut memesan apa yang Ho Chen pesan. "Aku pesan ini, ini, ini dan ini! Oh iya ini juga." Jiu Rui yang berbeda dia memesan lima jenis makan sekaligus.
"Ka Rui ini lapar atau apa..?." Batin Ho Chen sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal, namun dia memakluminya, selama ini baik Jiu Rui maupun Qiao Lin jarang makan begini setiap hari, terutama Qiao Lin. Andai dia sendiri dan tidak bersama Ho Chen, mungkin pesanan nya akan sama dengan pesanan Jiu Rui. Namun karena ada Ho Chen yang di sampingnya tentu Qiao Lin merasa malu untuk ikut memesan makanan sebanyak itu.
"Maaf Tuan, apa tuan juga ingin memesan arak terbaik kami? Kami jamin rasanya tidak akan mengecewakan!." Kata pelayan tersebut.
Ho Chen menolak karena dia memang tidak pernah minum arak, apa lagi Qiao Lin, sedangkan Jiu Rui tidak menolaknya. Pelayan tersebut pergi untuk mengambil pesanan mereka bertiga.
Karena tempat duduk mereka berada di paling pojok, jadi tidak ada yang memperdulikan mereka kecuali beberapa orang yang melirik Qiao Lin.
Ho Chen melepaskan topenggya, karena dia tahu tidak akan ada yang mengenalnya di sini, sedangkan Qiao Lin mengganti topeng nya dengan cadar, kerana jika makan memakai topeng akan kesulitan.
"Kira-kira siapa yang menyerang sekte itu sampai lenyap tidak tersisa satupun dan hanya menyisakan debu?."
"Apa mungkin pasukan iblis? Karena yang bisa membakar seperti itu hanya kelompok itu saja!."
"Tidak mungkin! Yang ku dengar mereka itu sudah bersekutu dengan para iblis itu, jadi tidak mungkin mereka yang melakukannya."
Perbincangan antar para pendekar yang tidak jauh dari tempat Ho Chen berada dapat di dengar olehnya. Ho Chen tersenyum tipis, dia lega karena tidak ada satupun yang mengetahui akan dirinya meleyapkan sekte Ular Hijau.
Makanan yang di pesan kini sudah tiba dan di hidangkan di atas meja. Ho Chen dan Qiao Lin memakan makanan nya dengan santai, sedangkan Jiu Rui makan begitu lahap seperti sedang kelaparan.
Ho Chen makan sambil mendengarkan. Perbincangan mereka, namun perhatiannya teralihkan kepada Jiu Rui yang maka sangat lahap, dan dalam waktu singkat makanan di depan Jiu Rui habis tak tersisa.
__ADS_1
Ho Chen menelan ludah nya, andai dirinya yang makan makanan itu pasti tidak akan habis, namun Jiu Rui mampu menghabiskan makanan tersebut tanpa tersisa.
"Ah kenyang, makanan ini sungguh enak!." Kata Jiu Rui dengan mrngelus-elus perutnya.
"Jika kamu tidak kenyang setelah menghabiskan makanan itu, berarti kamu bukan manusia." Kata Qiao Lin yang sudah tidak tahan ingin berkomentar.
Jiu Rui tersenyum canggung, dia baru menyadari jika yang ia lakukan barusan sungguh sedikit keterlaluan namun dia tidak terlalu memikirkannya. Jiu Rui melirik satu guci kecil arak di depannya. Dia menuangkan ke cangkir lalu meminum arak tersebut. "Ah arak enak!." Kata Jiu Rui dan kembali meminumnya.
"Di kekaisaran ini yang memiliki Tehnik Api terkuat cuma anggota pasukan iblis dan senior Wang Chungying, tapi menurutku senio Wang tidak mungkin yang melakukan nya. Karena dia mati sebelum Sekte Ular Hijau musnah!."
"PUFFFT..!!!
Jiu Rui menyemburkan arak yang di minumnya Karena kaget, sedangkan Ho Chen dan Qiao Lin juga ikut terkejut.
"Senior Wang meninggal..?." Jiu Rui berbalik dan bertanya kepada mereka semua.
"Benar..! Apa saudara tidak tahu?." Tanya salah satu pendekar kepada Jiu Rui, menurutnya kabar ini terlalu besar mustahil bagi Jiu Rui tidak mengetahui nya.
"Aku baru tahu sekarang, tolong ceritakan pada ku!." Kata Jiu Rui bagaimanapun juga dirinya masih bagian dari Sekte Bukit Halilintar.
Mereka tidak keberatan untuk menceritakannya. Ho Chen mengerutkan alis setelah mendengar cerita tersebut, dia teringat akan mimpinya bertemu dengan Wang Chungying yang saat itu seperti terlihat sedih dan tersiksa.
"Jadi yang aku alami saat itu bukan mimpi, melainkan suatu pertanda!." Batin Ho Chen.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Ketua Jian pasti tidak sengaja melakukan nya." Reaksi Jiu Rui membuat para pendekar itu heran.
Ho Chen mengepal keras kedua tangannya. "Lagi-lagi ulah mereka..!."
__ADS_1
Yang lebih mengejutkan mereka lagi tentang keluarnya Wang Dunrui dari sekte, dan bergabung dengan para pasukan iblis sekaligus sumpah yang ia ucapkan sebelum meninggalkan sekte.
Ho Chen kehilangan selera makan nya, begitu juga dengan Qiao Lin. Jiu Rui terlihat begitu sedih, dia ingin kembali namun apalah daya, di samping belum kuat, dia sadar jika saat ini dirinya Jauh dari rumah.