
“Selamat datang di Toko Elang Emas Tuan muda.“
Ho Chen tiba di depan Toko Elang Emas setelah berputar-putar cukup lama mencari toko tersebut. Tidak dia sangka mencari toko tersebut cukup sulit di kota yang begitu besar.
Bangunan Toko Elang Emas memiliki 5 lantai, dengan tulisan besar yang bewarna emas menghiasi ujung atas bangunannya. Walau begitu bagi Ho Chen yang bukan asli penduduk kota tersebut tetap kesulitan untuk menemukannya.
Ho Chen segera di sambut baik oleh pelayan Toko, yang berada di depan pintu. “Saya ingin mencari sesuatu, tolong antarkan saya ke tempat barang senjata." Kata Ho Chen dengan tersenyum lembut.
“Tentu Tuan Muda, mari ikut saya." Pelayan itu berjalan naik ke lantai atas, Ho Chen mengikuti dari belakang sambil melihat lihat di setiap Lantai yang ia lewati. Memang benar, di bandingkan di Desa Daan. Toko di kota Anming lebih besar dan lebih banyak barang yang di jual yang butuhkan para pendekar.
Ho Chen tiba di lantai 4, di lantai tersebut sangat banyak berbagai macam senjata terpajang dengan sangat rapi, ada juga pedang yang di gantung di dinding.
Ho Chen melihat semua senjata tersebut dan tidak menemukan pedang yang dia cari. “Aku mencari pedang pusaka namanya Pedang Lidah Api, apa pedang itu masih ada?." Tanya Ho Chen karena tidak menemukan pedang tersebut.
“Kalau Tuan memang mencari pedang tersebut, maka tuan bisa langsung berbicara dengan Meneger utama, tunggulah sebentar Tuan saya akan memanggilnya."
Pelayan tersebut segera pergi naik ke Lantai 5. Ho Chen kembali memandangi semua senjata sambil menunggu pelayan itu tiba. Sekitar 3 menit, seorang wanita berumur 20 tahun turun dengan pelayan tersebut, wajahnya sangat cantik dan memakai gaun sutra layaknya putri bangsawan.
“Tuan Muda maaf membuat anda menunggu. Saya yang bertanggung jawab di sini." Kata wanita tersebut.
“Em.. Nona Meneger ada yang ingin..!"
“Ah maaf kan atas ketidak sopanan saya kerena lupa memperkenalkan diri. Nama saya Lien Xianyin atau panggil saja dengan nama Lien." Kata Lien Xianyin sambil membungkuk. Pelayan yang di sampingnya kini pergi melayani pelanggan yang lain.
“Baik Nona Lien." Jawab Ho Chen, sedang dia sendiri tidak memperkenalkan namanya.
“Saya dengar Tuan muda mencari Pedang Lidah Api bukan?"
Ho Chen mengangguk, “Mari ikut keruangan saya." Ho Chen mengikuti Lien menuju ke lantai 5. Ruangan tersebut cukup besar, di tambah lagi banyak berbagai pusaka yang di simpan di dalamnya.
__ADS_1
Lien Xianyin membuka sebuah kain di samping tempat duduknya, terlihat sebuah pedang yang memiliki 4 cabang di dalam kotak kaca.
“Apakah pedang ini yang Tuan muda cari?." Tanyanya.
“Nona Lian, Nama saya adalah Ho Chen, Jadi jangan panggil saya tuan muda.!" Kata Ho Chen mengenalkan dirinya.
Benar, pedang ini yang saya cari. Jadi bagaimana? Apa bisa saya membelinya?"
“Apakah anda sudah mengetahui asal usul pedang ini?" Tanya Lian Xianyin.
“Saya sudah mengetahuinya ketika berada di Desa Daan." Jawab Ho Chen sambil memandangi pedang di dalam kotak tersebut.
“Bukan maksud saya tidak ingin menjualnya, namun pedang pusaka ini tidak seperti pedang pada umumnya. Pedang ini tidak memiliki sarung penutup, jadi akan sangat merepotkan tuan jika membawa pedang ini kemana-mana." Lien Xianyin menjelaskan.
Ho Chen hanya tersenyum lembut mendengar penjelasan Lien Xianyin. “Jika Nona Lien mengijinkan ku untuk membelinya, aku punya cara sendiri untuk menyimpannya." Ucap Ho Chen.
Lien Xianyin terlihat ragu untuk menjualnya kemudian menjelaskan akan fungsi pedang tersebut. “Pedang ini sesuai dengan namanya. Jika tuan memiliki Tehnik Perubahan Energi Api, maka pedang ini akan sangat berguna untuk tuan. Namun jika tidak memiliki Tehnik tersebut, maka pedang ini akan sama seperti pedang biasa."
“Baiklah aku mengerti dan akan tetap membelinya. Terima kasih sudah menjelaskannya." Ucap Ho Chen dengan kembali tersenyum.
“Baiklah Tuan Muda Chen, harga pedang ini tidak terlalu mahal, hanya 500 keping emas." Kata Lien Xianyin, pedang ini memang termasuk pusaka tingkat tinggi, namun tidak ada yang berminat untuk membeli Pedang tersebut, di karenakan pedang itu hanya khusus untuk pengguna Tehnik Api. Jadi Lien Xianyin menjual dengan harga murah.
“Baiklah aku akan membayarnya." Ucap Ho Chen sembari mengeluarkan 500 koin emas dan menyerahkannya pada Lien Xianyin.
Lien Xianyin membuka kotak kaca tersebut, ketika kaca tersebut di buka Ho Chen bisa merasakan sensasi Energi panas yang di pancarkan oleh pedang tersebut.
“Silahkan diambil Tuan muda Chen. Namun sebelumnya Anda harus menggunakan Energi Api untuk menyentuh atau mengangkatnya." Kata Lien Xianyin.
“Terima kasih Nona Lien, saya akan menyimpannya." Ho Chen kemudian mengibaskan lengannya ke arah Pedang Lidah Api tersebut, kemudian Pedang tersebut menghilang seketika membuat Lien Xianyin menahan nafasnya dan matanya melotot, dia berusaha mencerna apa yang ia lihat.
__ADS_1
“Tu-tuan muda Chen, kemana pedangnya? Dan apa yang sebenarnya terjadi?." Tanya Lien Xianyin dengan kebingungan melihat Pedang yang cukup besar menghilang begitu saja.
Ho Chen hanya tersenyum canggung. “Pedang itu berada di dalam ini." Kata Ho Chen sembari menunjukkan gelangnya.
“Itu...! Bukan kah itu Gelang pusaka Langit?."
“Owh.. Nona Lien juga mengetahuj gelang ini?. Benar ini gelang pusaka pemberian guruku." Jawab Ho Chen.
“Saya tentu tahu tuan, karena kaisar Ming juga memakai gelang yang hampir sama." Jelas Lien Xianyin.
“Tunggu dulu, Jangan-jangan Tuan muda adalah Pendekar...!"
“Sssttt....!"
Belum selesai Lien Xianyin melanjutkan perkataannya. Ho Chen memberi isyarat dengan telunjuk di bibirnya untuk membantu menutup identitasnya.
“Sa-saya mengerti Pendekar Dewa." Sikap Lien Xianyin berubah seketika, setelah mengetahui identitas Ho Chen.
“Nona, saya mohon panggil saja saya seperti biasanya, dan jangan memanggil nama gelar saya." Kata Ho Chen dengan wajah memelas, ia merasa capek mendengar orang-orang memanggilnya Pendekar Dewa Muda.
“Kalau begitu saya akan tetap memanggilmu Tuan muda Chen, bagaimana?." Kata Lien Xianyin.
“Terserah Nona saja asal jangan memanggil nama gelar itu." Kata Ho Chen, memang dia merasa konyol jika mendengar nama gelarnya tersebut.
“Baiklah. Ijinkan saya menjamu anda,mari kita duduk dulu, kita akan mengobrol sejenak." Lien Xianyin mengunakan kesempatan ini untuk mengenal Ho Chen lebih jauh, karena menurutnya akan sangat sulit untuk bisa bertemu dengannya lagi.
Ho Chen tidak menolaknya, dia duduk di kursi ber hadapan dengan Lien Xianyin dan hanya meja bundar yang memisahkan jarak mereka.
Lien Xianyin begitu mengetahui identitas Ho Chen berubah sedikit canggung. Namun dia tetap menjamu Ho Chen dengan sangat ramah. Mereka berdua ngobrol sampai sore, dan Ho Chen berniat pamit.
__ADS_1
“Tuan muda Chen bawalah ini, jika anda pergi dan menemukan cabang toko kami di kota atau desa lain, maka tunjukkanlah kepada manager toko agar anda bisa di layani dengan baik." Lien Xianyin memberikan sebuah giok berbentuk Elang yang berwarna emas.
Siapapun yang memegang giok tersebut, maka orang tersebut di anggap sebagai pelanggan penting atau orang yang harus di hormati di semua cabang Toko Elang Emas.