
Jendral iblis memandangi tubuhnya dan kemudian tersenyum kecut. “Tubuh ini tidak terlalu lemah. Kalau aku mengunakan kekuatan penuhku tubuh ini pasti akan hancur." Ucapnya.
Liu Qi Shu mengerti, tubuh manusia yang mampu menahan kekuatan Raja iblis Hitam adalah pendekar yang memiliki Tingkat Alam puncak 3 atau lebih. Namun untuk bisa menangkap pendekar sekuat itu tidaklah mudah.
“Mungkin di daearah kekaisaran Yun kita bisa menemukan orang yang memiliki tubuh dan kekuatan yang kuat." Kata Liu Qi Shu.
“Kita akan berangkat besok. Sekarang aku akan menyesuaikan tubuh ini terlebih dahulu." Kata Raja iblis dengan melangkah keluar.
Liu Qi Shu juga pergi meninggalkan ruangan tersebut dan pergi menuju ke ruangan utamanya untuk memberitahukan kepada seluruh para anggotanya akan kepergiannya besok.
Keesokan harinya mereka pergi berdua menuju ke daerah kekaisaran Yun. Mereka sengaja pergi berdua karena tidak ingin membuat perjalanan mereka terganggu akibat terlalu banyak orang yang ikut.
Mereka membutuhkan setidaknya 3 bulan untuk bisa sampai ke daerah wilayah kaisar Yun. Itupun kalau mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh. Namun jika berjalan seperti orang biasa, paling tidak butuh 1 tahun perjalanan.
Sebenarnya bisa saja Raja iblis terbang. Namun kondisi tubuh yang ia gunakan tidak mendukung untuk bisa terbang.
***
Semua ketua sekte masing-masing sudah pergi meninggalkan sekte Pilar Angin, dan pulang ke tempat masing.
Qiao Ho tiba di Gunung Es dan di sambut langsung oleh Qiao Jin dan Qiao Lin. Sekitar seminggu sebelum kedatangan Qiao Ho, mereka sudah mendengar tentang kabar jendral iblis yang di kalahkan oleh seorang pendekar muda. Qiao Lin bisa menebak jika pemuda tersebut adalah Ho Chen. Karena Qiao Lin juga pernah mayaksikan kekuatan Ho Chen ketika di kendalikan oleh Yu.
“Kakek...!" Qiao Lin langsung memeluk kakeknya. Sejak Qiao Ho pergi menuju sekte Pilar Angin untuk membantu sekte tersebut dari serangan jendral iblis. Qiao Lin terus menghawatirkan keselamatan kakeknya.
“Lin'er biarkan kakekku istirahat terlebih dahulu..!" Kata Qiao Jin
Qiao Lin melepaskan pelukannya dan mereka bertiga memasuki ruangan utama.
“Jin'er..! Apa tidak ada masalah di sekte selama aku pergi?." Tanya Qiao Ho.
__ADS_1
“Semuanya baik-baik saja ayah..!" Ucap Qiao Jin.
“Kakek...!" Qiao Lin ingin berbicara namun mengurungkannya.
Qiao Ho tersenyum dia mengerti apa yang ingin cucunya katakan. “Tenang saja, dia baik-baik saja, justru karena dia aku bisa selamat dan berada di sini. Jadi kau tidak usah menghawatirkan nya." Ucap Qiao Ho dengan tersenyum lebar.
Qiao Jin memiringkan kepalanya. “Siapa maksudmu?." Tanyanya.
“Siapa lagi! Tetntu calon menantumu...!" Kata Qiao Ho dengan tersenyum lebar.
Qiao Lin langsung malu mendengarnya, warna merah bagai tomat masak terlihat dari wajahnya yang sangat putih dan halus.
Qiao Jin semakin bingung, karena selama ini dia tidak pernah mengetahui perasaan putrinya. “Siapa yang ayah maksud Calon menantuku?." Tanya Qiao Jin yang semakin penasaran.
“Suatu hari kau akan mengetahuinya sendiri." Jawab Qiao Ho kemudian berjalan menuju ke kursi dan mengistirahatkan badannya.
Qiao Lin masih berusaha menenangkan perasaan malunya. “Kakek apa dia sudah menguasai kitab yang di berikan oleh kakek?."
“Kitab apa yang ayah berikan?." Tanya Qiao Jin.
“Kitab Kristal Es...!" Jawab Qiao Ho dengan santai.
Qiao Jin tersedak ludahnya, dia tidak menduga kitab yang begitu hebat sekaligus harta berharga mili Gunung Es di berikan kepada orang asing. “Kenapa ayah memberikan kitab itu kepada orang luar sekte? Ini kan melanggar aturan sekte kita."
“Aku tahu, namun di seluruh kekaisaran Yun hanya dia yang bisa menguasai kitab tersebut." Kata Qiao Ho.
Qiao Jin masih tidak percaya terhadap perkataan ayahnya menurutnya selain salah satu keturunan dari keluarganya, tidak mungkin akan ada orang lain yang bisa memiliki Energi Yin, kecuali orang itu memiliki Energi murni yang besar.
“Jin'er kamu tenang saja. Suatu hari dia akan menjadi anggota dari keluarga kita." Kemudia Qiao Ho melirik Qiao Lin. “Bukankah begitu kan Lin'er..?" Kata Qiao Ho dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Qiao Lin langsung melotot ketika kekeknya kembali menggodanya. Dia semakin tidak punya muka, dia ingin mencari lubang dan ingin menyembunyikan wajahnya di sana.
Qiao Jin hanya menghela nafas. Dia tahu jika ayahnya sudah memutuskan akan sulit baginya untuk di rubah kembali.
“Sudahlah hari ini aku ingin istirahat dulu. Besok panggil seluruh anggota penting dan suruh berkumpul di aula pertemuan, ada yang ingin aku bicarakan besok." Ucap Qiao Ho lalu bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke kamarnya.
Qiao Jin dan Qiao Lin hanya bisa melihat Qiao Ho yang memasuki kamar, sebenarnya banyak yang ingin mereka berdua pertanyakan. Namun mereka mengerti jika Qiao Ho begitu terlihat kelelahan.
Qiao Jin menatap Qiao Lin. “Lin'er! Apa benar kamu sudah memiliki kekasih?." Tanya Qiao Jin penuh selidik. Walau begitu dia senang melihat putrinya yang tumbuh semakin dewasa dan kini dia memiliki perasaan kepada lawan jenisnya.
“Ayah..! Ayah ini bicara apa...?" Kata Qiao Lin dengan malu-malu.
Dengan melihat expresi wajahnya, Qiao Jin yakin jika putrinya memang mencintai pemuda tersebut. Namun yang bikin Qiao Jin bingung, siapa pemuda tersebut? Kenapa hanya dia sendiri saja yang tidak mengetahuinya.
“Lin'er, suatu hari nanti kau perkenalkan pemuda tersebut pada ayah. Ayah juga ingin tahu calon mantu ayah ini.." Qiao Jin kembali menggodanya.
Qiao Lin yang wajahnya semakin merah menutupnya dengan kedua tangannya, dia lari ke kamarnya karena merasa tidak sanggup mendengar ayahnya yang terus menggodanya.
Qiao Jin tertawa kecil melihat putrinya yang salah tingkah. “Selama kamu senang ayah akan mendukungmu..!" Gumam Qiao Jin dan juga pergi menuju ke kamarnya.
Qiao Lin membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Terkadang dia tersenyum-senyum sendiri. Dia tidak tau apa dia menyukai Ho Chen atau tidak. Namun Qiao Lin selalu membayangkannya.
Bayangan Ho Chen terus ada dalam pikiranya, seolah-olah menjadi bayang-bayang yang terus mengikutinya.
Qiao Lin akhirnya tertidur dengan lelap, akibat terlalu memikirkan Ho Chen saat mau tidur, begitu sudah terlelap, Ho Chen pun sampai terbawa kedalam mimpinya.
Qiao Lin bermimpi seolah-olah duduk berduaan dengan Ho Chen di sebuah taman es yang sangat luas. Terlihat butiran bunga salju yang turun membuat suasana semakin dingin dan damai.
Qiao Lin menoleh ke arah Ho Chen yang duduk di sampingnya. “Chen! Apa suatu hari kita berdua bisa menikah?." Tanya Qiao Lin.
__ADS_1
Namun Ho Chen hanya menoleh dan tersenyum Tampa mengeluarkan sepatah katapun. “Kenapa kamu tidak menjawab?." Tanya Qiao Lin heran.