Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Perasaan kecewa


__ADS_3

Mereka berlima mulai mengelilingi Ho Chen, sedangkan Ho Chen sendiri sedikit bingung. "Kenapa mereka malah mengincar cincin ini? Bukan kah ini hanya cincin biasa saja!." Batin Ho Chen namun dia tidak terlalu memikirkannya dan kembali fokus kapada kelima jagoan di hadapannya.


"Ah, sudah lama sekali aku tidak menggunakan Tehnik itu, sekarang mari kita coba!." Kata Ho Chen membuat mereka berlima sedikit bingung dan tidak mengerti apa yang Ho Chen maksud.


Kelima jagoan tidak mau menunggu Ho Chen bergerak lebih dulu dan langsung membuat tehnik mereka masing-masing.


"Tehnik Api Bumi - Kobaran Bunga Api."


"Tehnik Elang - Angin Sayap Elang."


"Tehnik Racun - Serbuk Pelumpuh."


"Tehnik Kipas - Pisau Kipas."


"Tehnik Pedang - Membelah Angin."


Kelima jagoan secara bersamaan melepaskan tehnik mereka ke arah Ho Chen. Mereka semua yakin Ho Chen tidak akan mampu menghindari serangan tersebut.


"Tehnik Dewa Api - Membakar Jiwa."


Tubuh Ho Chen di selimuti Api biru yang sangat panas, kelima senjata dan energi pun tidak mampu menembus nya.


Hawa Panas bukan hanya membuat tempat di sekitarnya menjadi panas, namun Niu juga ikut merasakannya. Niu menarik kembali akar-akar pohon agar tidak terbakar oleh Api milik Ho Chen.


"Panas sekali..! Cepat jaga jarak..!."


Mereka berlima mundur beberapa meter, namun tetap saja jangkauan panasnya mengenai mereka semua.


Sedang kan ke sembilan pendekar berhasil melepaskan para gadis tawanan dan membawa mereka ke tempat Niu berada, setelah mereka tiba, Niu membuat pelindung agar panas api milik Ho Chen tidak sampai membakar mereka.


Ho Chen mengeluarkan pedang lidah apinya yang juga di selimuti Api biru dan melepaskan pedang tersebut. Pedang lidah api bergerak sendiri menyerang para jagoan tersebut.


"Banyak sekali trik yang ia miliki..!."


Seru mereka dan berusaha melawan serangan pedang lidah api. Kelima jagoan saat ini sudah di sibukkan oleh pedang tersebut, sedangkan Ho Chen berjalan ke arah Shuo Zie yang saat ini sendirian tanpa perlindungan siapa pun.

__ADS_1


Shuo Zie berjalan mundur seiring Ho Chen yang berjalan mendekatinya, setiap langkah Ho Chen bagai hitungan mundur untuk menuju kematiannya.


"Katakan kepadaku apa yang sebenarnya kalian cari di desa ini?." Tanya Ho Chen namun tidak menghentikan langkah nya.


"Jika aku menceritakan alasan yang sebenarnya apa kamu mau melepaskan ku?." Tanya Shuo Zie.


"Jika penjelasan mu benar dan masuk akal, mungkin aku bisa mempertimbangkan nya!." Jawab Ho Chen dan menghentikan langkahnya.


Shuo Zie juga tidak lagi mundur setelah Ho Chen juga tidak mendekat. "Baiklah, sejak awal kami bersikap baik terhadap desa ini, itu semua untuk mendapat kan informasi tentang adanya cincin penghisap.


Setelah kami mendapatkan kabar yang pasti jika cincin hitam itu berada di sini kami mulai bergerak dengan terang-terangan, namun kami tidak memberi alasan kepada penduduk desa bahwa yang kami cari adalah cincin penghisap."


"Apa yang kau maksud adalah cincin ini?." Ho Chen bertanya dengan menunjukkan cincin di jarinya.


"Benar, itu adalah cincin penghisap yang kami cari." Jawab Shuo Zie.


"Bagaimana cara kerja cincin ini? Jelaskan padaku!." Ucap Ho Chen yang bertanya tentang cincin yang ia kenakan.


Tanpa rasa khawatir lagi Shuo Zie menjelaskan cara kerja cincin penghisap tersebut.


Jika seseorang terhisap ke dalam cincin tersebut, maka bisa di pastikan orang tersebut akan mati. Seseorang yang terhisap akan di kirim ke ruang hampa tanpa udara. Di dalam ruang hampa sangat lah gelap dan juga tidak ada dasar apapun di sana.


Jika orang tersebut bisa terbang itu tidak akan ada gunanya, karena semua yang mengandung angin dan oksigen akan menghilang, bahkan api pun dapat padam.


Cara kerja dari cincin tersebut  yaitu dengan meneteskan darah si pemilik cincin tersebut agar cincin mengenali tuan nya. untuk mengendalikannya membutuh energi yang sangat banyak untuk bisa mengunakan nya dengan sempurna, setidak nya pendekar Tingkat Langit puncak 3 yang bisa mengunakan nya.


"Dari mana kalian mendengar tentang cincin ini, dan selain kalian! Siapa lagi yang mengetahui tentang cincin ini?." Ho Chen kembali bertanya.


"Paman ku mendengar nya dari salah satu pendekar pengikut Iblis, menurut kabar, pemilik cincin pertama adalah seorang ratu sihir. Selain kami, para pengikut iblis juga mengetahui nya, namun mereka tidak bergerak untuk mencarinya." Kata Shuo Zie.


Ho Chen diam sesaat kemudian mencoba bertanya kepada Ming Hao. "Apa yang ia katakan benar guru?." Tanya Ho Chen namun tidak ada jawaban dari Ming Hao.


"Guru..! Ah pergi kemana lagi dia!." Gerutu Ho Chen dan kemudian menoleh ke arah Shuo Zie.


Shuo Zie sendiri memperhatikan kelima jagoannya yang sudah mulai terpojok, sebab mereka tidak bisa mendekati atau menyerang pedang lidah api dari dekat, bahkan tehnik apapun tidak berpengaruh sama sekali terhadap pedang tersebut.

__ADS_1


"Mendengar penjelasan mu tadi, membuatku berpikir, jika aku membiarkan kalian semua hidup, maka akan banyak lagi korban berjatuhan, jadi aku tidak akan membiarkan kalian untuk tetap hidup." Kata Ho Chen.


"Tunggu! Bukan kah kamu sudah berjanji akan melepaskan ku, kenapa kamu mengikari janji mu?." Kata Shuo Zie yang mulai panik setelah mendengar perkataan Ho Chen.


"Aku tidak pernah mengingkari janji, namun aku belum mengucapkan janji pada mu, bukankah aku sudah bilang akan mempertimbangkan nya terlebih dahulu, dan sekarang inilah keputusan ku." Kata Ho Chen setelah itu dia menghilang dari pandangan Shuo Zie dan muncul kembali tepat di hadapan nya.


"Pergilah dan temui Raja Neraka di sana!." Kata Ho Chen kemudian menyentuh pundak Shuo Zie.


Tubuh Shuo Zie yang tidak sempat lagi untuk menghindar dari Ho Chen terbakar, dia berteriak sesaat merasakan sakit dan akhirnya diam tak bersuara karena sudah tidak lagi bernafas.


Shuo Zie tidak pernah mengetahui siapa pendekar bertopeng tersebut hingga mati pun dia tidak mengetahui identitas pendekar yang membunuhnya.


Kelima jagoan yang sedang berhadapan dengan pedang lidah api terkejut setelah melihat tubuh Shuo Zie sudah menjadi arang, perhatian mereka terpecah dan akhirnya lengah sehingga pedang lidah api dapat menyerang mereka dengan sangat mudah.


Empat jagoan berhasil terkena tebasan pedang lidah api dan kemudian tubuh mereka terbakar sampai menjadi arang, dan kini hanya tersisa satu jagoan lagi yang masih hidup.


"Kamu tadi menggunakan Tehnik Racun, apa kamu mantan anggota sekte Racun Langit?." Tanya Ho Chen yang tiba-tiba muncul di dekat jagoan tersebut namun api biru di tubuhnya sudah menghilang.


Jagoan tersebut jelas kaget dengan kemunculan Ho Chen yang secara tiba-tiba itu dan sekaligus menjawab pertanyaan Ho Chen.


"Benar, aku adalah salah satu mantan jagoan sekte Racun Langit." Jawabnya.


"Sekte mu dulu sudah hancur, namun kamu, bukannya bertobat malah semakin menyusahkan banyak orang." Kata Ho Chen sekaligus meraih pedang lidah api yang melayang di atasnya.


Jagoan tersebut ingin berbicara namun Ho Chen lebih dulu menebas leher jagoan tersebut hingga terlepas dari tubuhnya.


Ho Chen sudah tidak ingin lagi membiarkan nya untuk hidup, menurutnya mereka sudah di beri kesempatan kedua, namun mereka malah menyia-nyiakan kesempatan itu.


Niu menghilangkan pelindung nya setelah melihat pertarungan telah usai, ke sembilan pendekar yang tersisa beserta para gadis mendekati Ho Chen dan bersujud lansung di depannya.


"Terima kasih pendekar telah menyelamatkan kami, jika tidak mungkin kami sudah tidak hidup lagi saat ini!." Kata salah satu pendekar.


"Bangunlah kalian semua!." Kata Ho Chen dan kemudian melanjutkan perkataan nya. "Rasa terima kasih kalian tidak pantas ku terima, lihatlah! Andai aku tiba lebih dulu ke desa ini mungkin tidak ada korban yang jatuh." Kata Ho Chen dengan perasaan kecewa.


Melihat banyak mayat dari para pendekar Desa Jinhu dan juga para warga, hati Ho Chen sangat perih, ini mengingatkannya akan pembantaian sekte Darah Iblis di desa nya.

__ADS_1


Yang paling Ho Chen sesalkan adalah dirinya sendiri yang tidak membunuh Shuo Jie saat itu, bisa di katakan ini semua adalah salah nya.


__ADS_2