Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Nenek Pengemis


__ADS_3

***


Sudah seminggu Ho Chen berada di dalam istana, saat malam ketika ada waktu, Ho Chen akan berlatih meningkatkan aura raja di dalam kamarnya.


Terkadang Ho Chen mengikuti acara pertemuan di istana jika pertemuan itu berhubungan dengan masalah pasukan iblis. Namun jika masalah politik, dia tidak mau mengikutinya.


Ho Chen bisa keluar masuk istana dengan leluasa. seluruh penjaga pintu gerbang istana tentu sudah mengetahui siapa Ho Chen sebenarnya.


“Pendekar Dewa!" “Pendekar Dewa!" Para penjaga menyapa Ho Chen yang sedang keluar melewati mereka.


Ho Chen menyambut sapaan mereka dengan senyuman lembut, namun perasaan hatinya sangat terganggu dengan nama gelarnya. “semakin lama aku tinggal di sini akan semakin sakit kepalaku." Gumam Ho Chen sambil melangkah pergi.


Ho Chen berjalan menuju pusat kota. “kota ini terlalu luas, Dimana aku mencari letak Toko Elang Emas?." Ho Chen menggaruk hidungnya. Kemudian berjalan menyusuri kota Anming yang luas itu.


“tuan! Tolong saya tuan, saya belum makan." Seorang wanita tua bertubuh kurus dengan baju lusuh dan kumuh sedang meminta minta kepada orang yang lewat.


Ho Chen memandangi wanita tersebut dan menghampirinya. “Nenek! Kenapa nenek mengemis? Apa Nenek tidak punya keluarga?" Tanya Ho Chen.


Nenek tersebut memandangi Ho Chen sebelum menjawab. “Tuan muda! Tolong saya Tuan muda, berikan saya sedikit uang, saya dan cucu saya belum makan." Pinta nenek tersebut dengan wajah memelas.


Ho Chen melihat ke sekelilingnya. “di mana cucu nenek?" Ho Chen bertanya karena tidak melihat anak kecil di dekat nenek itu.


“cucu saya ada di rumah, dia menunggu ku membawa makanan." Jawab sang nenek dengan wajah sedih.


“Baiklah nek, sekarang ayo kita beli makanan dan membawa pulang kerumah nenek.” kata Ho Chen dengan tersenyum.


Nenek tersebut kaget mendengarnya. “tu-tuan sungguh ingin membantu saya?" Tanya sang nenek seperti tidak percaya.


“tentu, mari bergegas nek, kasian cucunya menunggu nenek." Kata Ho Chen dan segera mengajak nenek tersebut ke sebuah toko roti .


Ho Chen memesan beberapa roti daging dan di bungkus untuk di bawa ke rumah sang nenek tersebut. Sedang sang nenek menunggu agak jauh dari tempat Ho Chen.


“ini tuan rotinya, semuanya harganya 20 koin perunggu." Kata pelayan dan menyerahkan roti tersebut kepada Ho Chen.

__ADS_1


Ho Chen segera membayar dengan 1 koin perak.“ tuan tunggu sebentar saya akan mengambil kembaliannya." Kata pelayan tersebut yang berniat masuk kedalam.


“nyonya simpan saja kembaliannya." Kata Ho Chen sambil melangkah meninggalkan toko tersebut menuju ke arah nenek itu berada.


Sang pelayan hanya berdiri mematung, saat Ho Chen sedikit agak jauh dia mengejarnya dan menyampaikan terima kasih kepada Ho Chen.


Ho Chen berjalan mengikuti sang nenek di belakang. Semakin lama semakin sedikit bangunannya yang Ho Chen lewati. Bahkan juga semakin kecil juga bangunannya.


Setelah berjalan lebih dari satu jam Ho Chen tiba di sebuah rumah kecil yang hampir roboh. “Tuan muda ini adalah rumah saya, semoga tuan muda tidak keberatan untuk ikut masuk kedalam." Kata sang nenek yang terlihat ragu untuk mengajak Ho Chen memasuki rumahnya.


“jangan bicara seperti itu nek, mari kita masuk dan memberikan roti ini kepada cucu nenek." Jawab Ho Chen dengan nada lembut.


Setibanya di dalam, Ho Chen melihat atap rumah yang banyak bolongnya dan jika turun hujan pasti akan bocor. Dinding dan tiang penyanggah yang lapuk hanya tinggal menunggu robohnya saja.


“Lang'er kemarilah!" Seorang anak kecil berumur 7 tahunan menghampiri sang nenek. tubuhnya sedikit kurus dan bajunya terlihat usang.


“nenek, apa nenek membawa makanan untukku? Aku sudah sangat lapar." Tanya anak kecil tersebut sambil memegangi perutnya.


Anak kecil tersebut begitu senang melihat roti di hadapannya begitu banyak. “terima kasih Tuan muda." Katanya dengan menunduk sopan.


“adik kecil..! Siapa namamu. " Tanya Ho Chen dengan mengusap rambut anak kecil tersebut.


“nama saya Shiao Lang tuan." Jawab anak itu dengan polos.


“Namaku Ho Chen, dan jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku kakak."


“Terima kasih kakak Chen." Ucap Shiao Lang dan memakan roti dengan lahapnya.


Ho Chen memandangi keduanya yang sedang makan, Dia ingin bertanya sesuatu kepada sang nenek, namun melihat sang nenek yang sedang makan Ho Chen mengurungkan niatnya.


“nenek maaf saya ingin bertanya?” ketika sang nenek dan Shiao Lang selesai makan, Shiao Lang pergi bermain sendiri di depan rumahnya. Ho Chen kembali berbicara dengan nenek tersebut.


“apa yang ingin tuan muda tanyakan?" Tanya sang nenek,

__ADS_1


“panggil saja saya Ho Chen nek!" Kemudian Ho Chen melihat Shiao Lang yang sedang bermain sendirian di luar.


“kemana orang tua Shiao Lang nek?" Pertanyaan Ho Chen membuat sang nenek terlihat sedih. “maaf nek kalau pertanyaan saya membuat nenek sedih. Jadi lupakan saja pertanyaan saya tadi." Ucap Ho Chen begitu melihat perubahan wajah sang nenek.


“tidak apa-apa. Anda sudah membantu kami, dan kami tidak bisa membalas apa pun." Kata sang nenek dengan tersenyum, kemudian sang nenek menceritakan tentang Orang tua Shiao Lang dan juga dirinya.


Sang nenek bernama Kiew Leen. Sedang Shiao Lang tinggal bersama Nenek Kiew semenjak kedua orang tuanya meninggal.


Ibu Shiao Lang meninggal karena menderita penyakit parah, saat itu Shiao Lang masih berumur 4 tahun.


Setelah Shiao Lang berumur 6 tahun, sang ayah pun juga meninggal, ketika berburu di hutan dan jatuh ke dalam jurang.


Sekarang Shiao hanya memiliki Nenek Kiew, Satu-satunya orang yang Shiao Lang miliki.


Setiap hari Nenek Kiew akan pergi mengemis. karena tubuhnya sudah tua Kiew Leen tidak bisa melakukan pekerjaan yang berat, sedang Shiao Lang masih berumur 7 tahun dan belum bisa untuk bekerja.


Terkadang Nenek Kiew dan Shiao Lang hanya makan 1 kali sehari. Terkadang pula tidak makan sampai 2 hari. Walaupun Shiao Lang masih berumur 7 tahun dia dapat memahami kesulitan tersebut dan tidak ingin mempersulit neneknya lebih jauh.


Ho Chen terharu mendengar kisah mereka berdua. Menurutnya ibukota yang terlihat indah dan damai, ternyata masih ada beberapa orang yang tidak bisa menikmati keindahan dan kedamaian kota ini.


“Nenek Kiew? Apa masih ada orang lain selain kalian yang bernasib sama dengan kalian?." Ho Chen melangkahkan kakinya ke jendala yang sudah lapuk sambil bertanya ke nenek Kiew.


***


semoga malam Minggu ini menjadi malam yang indah.


selamat bermalam Minggu.


dan terima kasih sudah membaca


Pendekar Dewa Abadi


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2