
***
Kang Jian dan lainya juga sudah tiba di sekte Bukit Halilintar, sebelum kembali ke sekte kang Jian mampir ke Kuil Lonceng Suci dan menginap satu malam di sana.
Wang Chungying langsung menyambut kedatangan Kang Jian. Selama di tinggalkan oleh Kang Jian, yang menjadi penanggung jawab sepenuhnya adalah Wang Chungying.
Sejak awal Wang Chungying memang tidak suka jika di suruh mengurus masalah sekte, Wang Chungying lebih memilih melaksanakan misi dan tugas, dari pada harus mengatur Masalah sekte, yang membuat Wang Chungying pusing tentu adalah masalah pemasukan keuangan sekte.
“Selamat datang kembali, aku senang melihat mu baik-baik saja..!" Kata Wang Chungying.
Kang Jian hanya tersenyum, dia tahu jika Wang Chungying sudah tidak tahan mengurus masalah sekte, karena itu, Kang Jian menyukai sifat Wang Chungying dari pada yang lainya.
“Terima kasih saudara Chungying, kamu sudah menjaga dan mengurus sekte." Kata Kang Jian.
“Ini sudah menjadi tugasku juga. Sekarang kau sudah datang jadi aku kembalikan semuanya kepadamu." Kata Wang Chungying
“Ayah..!" Kang Yelu datang, dia mendengar kedatangan ayahnya dari Wang Dunrui, dan segera datang untuk menemui ayahnya.
“Lu'er! Bagaimana perkembangan latihanmu?." Tanya Kang Jian sambil memandangi anaknya.
Kang Jian sebenarnya berharap Ho Chen kembali ke sektenya dan melatih Kang Yelu agar bisa menjadi hebat seperti dirinya. Namun ia sadar bakat keduanya memanglah sangat jauh berbeda.
“Kata paman Heeng latihanmu sedikit ada kemajuan, namun aku masih tidak bisa menyusul Saudari Wei." Kata Kang Yelu dengan sedikit lemas.
Wang Chungying dan Kang Jian sama-sama tertawa mendengar itu. Walau perkembangan Kang Yelu sudah mulai meningkat, namun cukup sulit baginya mengejar perkembangan Liu Wei yang memang memiliki bakat sejak kecil.
“Kamu harus bersabar dan lebih giat berlatih, buatlah Liu Wei sebagai motivasi bagimu." Kata Wang Chungying memberi semangat padanya.
Kang Yelu mengangguk pelan, dia memang bertekad di ingin menjadi kuat. “Ayah aku akan pergi kehutan besok dengan saudara Dunrui, dan paman Heeng juga. Kami ingin mempelajari sesuatu disana." Kata Kang Yelu.
“Baiklah, tapi jangan pernah terpisah dari Paman Heeng dan lainya ingat itu.!" Kata Kang Jian memberi ijin putranya pergi kehutan.
Kang Jian yakin dengan adanya Jian Heeng yang menemaninya tidak akan ada masalah yang perlu di hawatirkan.
__ADS_1
Kang Yelu kemudian pamit dan pergi ke tempat Wang Dunrui berada. Sedangkan Kang Jian dan Wang Chungying kembali berbincang-bincang.
Perbincangan mereka tidak lain adalah tentang kekuatan Ho Chen. Setelah perang dengan pasukan iblis selesai, yang menjadi pembicaraan semua orang adalah Ho Chen.
Semakin lama Ho Chen semakin terkenal. Kalau dulu hanya para pendekar saja yang mengenal nama Pendekar Dewa Muda, itu di karenakan Ho Chen yang berhasil memukul mundur sekte aliran hitam yang menyerang bukit halilintar.
Namun sekarang Ho Chen hampir terkenal di seluruh kekaisaran Yun. Karena seluruh sekte sudah mengetahui akan kekuatan Ho Chen yang mampu mengalahkan jendral iblis .
“Aku hawatir kedepanya Chen'er akan menjadi target utama mereka.." Wang Chungying berpendapat.
“Kamu tidak perlu hawatir, kalau jendral mereka saja tidak mampu mengalahkan Chen'er. Apa Wei Heng akan mampu? Mereka pasti tidak cukup gila jika ingin menyerangnya.!" Kang Jian mencoba menepis keraguan Wang Chungying.
Wang Chungying tentu tau akan hal itu. Namun tetap saja, aliran hitam selalu memiliki cara kotor agar mereka bisa mengalahkan musuh-musuhnya.
Tanpa mereka ketahui ancaman sebenarnya bukan hanya dari Raja iblis yang ada di wilayah mereka, namun Raja iblis yang berada di wilayah lain kini juga sudah mulai mengunjungi wilayah mereka.
***
Ho Chen mengangguk. “Ketua Yuen, terima kasih sudah memberikanku tempat dan pelayanan yang baik, aku tidak akan melupakan kebaikan itu." Ucap Ho Chen.
“Kamu bercanda, justru akulah yang berterima kasih, kalau tidak ada kamu dan sesepuh Feng mungkin sekte Pilar Angin sudah tidak ada sekarang.!"
Disisi lain Jiu Rui juga berpamitan kepada Yuen Fang, semenjak tinggal di sekte Pilar Angin, Yuen Fang begitu dekat dengan Jiu Rui. Yuen Fang hanya memiliki satu kakak perempuan dan itu pun tidak pernah menemani Yuen Fang bermain atau berlatih, karena itu! begitu Jiu Rui hadir dan menemaninya bermain dan berlatih, Yuen Fang merasa senang dan sudah mengnggap Jiu Rui sebagai kakaknya.
“Yuen Fang jaga diri baik-baik ya.!" Ucap Jiu Rui dengan wajah konyolnya.
Yuen Fang tertawa melihat wajah Jiu Rui yang terlihat konyol itu. “Kak Rui tidak usah hawatir, aku akan berlatih dengan giat, dan suatu hari nanti aku akan membalas semua yang sudah kamu lakukan kepadaku." Kata Yuen Fang dengan tertawa kecil.
Jiu Rui selalu menjahili Yuen Fang ketika sedang berlatih. Dan banyak hal-hal konyol lainnya. “Baiklah aku tunggu sampai hari itu tiba.." kata Jiu Rui.
Xia Yuyien datang membawa satu kuda berwarna coklat untuk Jiu Rui bawa. Karena Ho Chen sudah memiliki kudanya sendiri.
Kuda tersebut diam tidak bergerak ketika melihat kuda naga putih di depanya. Ho Chen menghampiri Naga putih dan menanyainya. “Apa yang terjadi padanya?."
__ADS_1
“Aku hanya menatapnya, mungkin suatu hari aku bisa memakannya.” kata Naga putih.
Ho Chen terbatuk-batuk mendengar itu. “Kalau kamu memakannya nanti bagaimana dengan kak Rui?." Tanya Ho Chen.
“Baik-baik akau tidak akan memakannya." Kata Naga putih sembari memalingkan wajahnya.
Kuda coklat milik Jiu Rui sudah bisa bergerak setelah Naga putih berhenti menatapnya. Kemudian mereka berpamitan dan pergi meninggalkan Sekte Pilar Angin.
Mereka berjalan melewati menuruni tangga seperti biasanya. Akibat dampak pertempuran, kini puncak gunung sekte Pilar Angin sudah tidak lagi hijau.hampir seluruh hutan sudah menjadi tanah kosong yang sangat luas, tidak ada satu pohon pun yang hidup karena habis terbakar oleh api jendral iblis.
Ho Chen melihat hutan yang kini sudah menjadi tanah gundul hanya menghela nafas. “Suatu hari nanti tempat ini mungkin akan menjadi salah satu kota besar." Kata Ho Chen
Jiu Rui yang mendengar itu tidak menjawab.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan yang sudah lama tertunda.
Jiu Rui menaiki kuda coklatnya berlari mengejar Ho Chen yang menunggangi Kuda Naga putihnya.
****
**Sesuai janji saya
hari ini sudah saya kirim 5 Ch.
terima kasih kepada kalian yang sudah mendukung dan masih setia membaca karya saya yang tidak seberapa ini.
besok saya akan mengirim seperti biasanya lagi.
Bisa 2 atau 3 Ch setiap malam dan per Ch dengan waktu yang berbeda. namun tetap tergantung situasi dan kondisi.
terima kasih
dan semoga terhibur**.
__ADS_1