
“Senior Ho! Saudari Lin!." Ho Chen yang sedang duduk bersila di bawah pohon melihat Qiao Ho yang datang menghampirinya.
“Chen'er tak di sangka kita bertemu di sini, aku baru saja ingin menemuimu ke Pilar Angin." Kata Qiao Ho.
“Menemuiku..?." Ho Chen terlihat bingung dan penasaran.
“Sebenarnya bukan aku, tapi Lin'er yang ingin berbicara padamu." Kata Qiao Ho menarik Qiao Lin maju.
Ho Chen memandangi Qiao Lin yang kini berdiri di hadapannya, dia penasaran apa yang ingin Qiao Lin katakan hingga jauh-jauh datang ingin menemui nya.
“Katakanlah..!." Kata Ho Chen.
“Eh.. Sa-saudara Chen! In-ini..! Aku..!." Qiao Lin menjadi gugup dan malu, bahkan dia bingung harus memulai dari mana dulu topik pembicaraannya.
Jiu Rui dan Qiao Ho mengerti terhadap sikap Qiao Lin yang gugup. Mereka berdua sedikit menjauh dan membiarkan Qiao Lin Dan Ho Chen berbicara dengan leluasa.
“Katakanlah Saudari Lin!." Kata Ho Chen yang masih menunggunya berbicara.
Qiao Lin menarik nafas panjang berusaha menekan rasa gugupnya. “Saudara Chen ada yang ingin aku sampaikan padamu, ini tentang bahaya mendatang yang akan kamu hadapi."
“Bahaya apa maksud mu?." Ho Chen semakin penasaran.
“Aku akan menceritakan dan menjelaskannya padamu."
Kemudian Qiao Lin menceritakan mimpinya dan hasil dari ramalan dari ahli tafsir mimpi, namun Qiao Lin tidak menceritakan tetang dirinya yang duduk berdua dalam mimpinya, karena menurutnya itu tidak terlalu penting.
Ho Chen membuka tutup mulutnya, dia tidak menyangka Qiao Lin datang jauh-jauh hanya ingin menyampaikan mimpinya, hanya karena di kuatkan oleh seorang ahli tafsir.
“Saudari Lin! Kamu tidak perlu hawatir, itu semua hanya mimpi. Tidak akan terjadi apa-apa denganku percayalah..!." Kata Ho Chen dengan tersenyum lembut.
“Apa kamu tidak mempercayai arti mimpiku?." Tanya Qiao Lin sambil mengangkat alisnya. Dia merasa Ho Chen tidak mempercayai ceritanya.
“Bukan begitu, maksudku kamu terlalu terbawa suasana mimpi saja." Kata Ho Chen.
“Itu sama saja bahwa kamu tidak percaya padaku..!." Kata Qiao Lin yang merasa sedikit kesal.
Ho Chen menggaruk kepalanya. Dia sadar Qiao Lin berusaha menemuinya karena ingin menyampaikan yang di anggapnya penting, walau menurut Ho Chen itu konyol. Namun Ho Chen tidak ingin menyinggung perasaan Qiao Lin.
__ADS_1
“Saudari Lin, aku hanya mau bilang kalau aku akan baik-baik saja, dan akan lebih berhati-hati, ceritamu akan menjadi peringatan bagi diriku. Terima kasih." Ho Chen berusaha membuat Qiao Lin tidak salah paham sehingga berpura-pura mempercayainya.
Namun Qiao Lin tetap kesal, dia bukan anak kecil lagi yang mudah di tipu hanya dengan perkataan. “Aku akan memastikan jika dirimu akan baik-baik saja..!."
“Apa yang akan kamu lakukan?." Tanya Ho Chen setelah mendengar perkataan Qiao Lin.
“Kamu akan mengetahuinya nanti..!." Jawabnya, kemudian berjalan menghampiri Qiao Ho yang sedang berbincang dengan Jiu Rui. Ho Chen menyusul kemudian.
“Kalian sudah selesai bicaranya?." Qiao Ho bertanya setelah keduanya tiba.
“Senior Ho! Aku lupa mengembalikan ini kepada senior." Ho Chen meyerahkan kitab Cristal Es kepada Qiao Ho.
“Chen'er kau tidak perlu memanggilku senior, panggil saja kakek supaya lebih mudah." Kata Qiao Ho namun belum mengambil kitab yang di somerahkan padanya
“Baiklah senior aku akan memanggil mu kakek..!." Kata Ho Chen yang masih menyodorkan kitab tersebut.
Qiao Ho mengangguk-angguk dengan senyuman yang memiliki arti berbeda.
“Lebih baik kamu simpan saja kitab itu, lagi pula selain dirimu tidak ada orang lain yang akan bisa mempelajari atau menguasainya."
Qiao Ho terpaksa menerima kembali kitab yang ia berikan kepada Ho Chen. “Kemana rancana kalian berdua setelah ini?." Tanya Qiao Ho setelah menyimpan kitab itu kedalam jubahnya.
“Kami akan pergi menuju ke puncak gunung Tirai Kabut.!." Kata Ho Chen.
“Gunung...?." Qiao Lin sedikit terkejut dia teringat kejadian dalam mimpinya.
“Di sana adalah tempat kediaman Guruku." Kata Ho Chen kepada Qiao Lin.
Qiao Lin terlihat gelisah, entah kenapa setelah Ho Chen menyebutkan nama gunung, perasaannya jadi tidak tenang. Karena kejadian di dalam mimpinya juga berkaitan dengan gunung.
“Aku akan ikut denganmu..!." Kata Qiao Lin secara tiba-tiba.
Ho Chen Jiu Rui dan Qiao Ho terkejut sama-sama terkejut mendengar Qiao Lin berkata ingin ikut pergi bersama Ho Chen.
“Lin'er! Kenapa Kau ingin pergi ikut dengan Chan'er?." Tanya Qiao Ho.
“Aku memiliki alasan yang tidak ingin aku katakan, jadi tolong ijinkan aku ikut pergi dengan saudara Chen kek?." Kata Qiao Lin.
__ADS_1
Ho Chen hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka berdua, sedangkan Jiu Rui memilih tidak peduli, dia pergi ke arah kudanya berada.
“Kalau kau pergi mengikuti Chan'er, apa kau yakin tidak akan menjadi beban baginya?." Tanya Qiao Ho.
Qiao Lin terdiam sejenak lalu menjawabnya. “Aku tidak akan membebaninya, aku tidak takut jika nantinya aku harus menghadapi bahaya nantinya. Yang penting bagiku bisa ber..!." Qiao Lin menghentikan kata-kata nya.
Qiao Ho mengangguk, walau Qiao Lin tidak meneruskan kata-katanya, Qiao Ho sudah mengetahui kelanjutan dari kata-katanya yang terhenti.
“Jika ini memang Takdir, maka aku juga tidak akan bisa berbuat banyak. Sekarang akan aku serahkan keputusan ini pada Chan'er jika dia setuju, maka aku juga setuju. Jika dia tidak setuju, maka aku akan membawa kembali ke Gunung Es.!
“Bagaimana Chen'er?." Tanya Qiao Ho
“Aku tidak Se...!." Ho Chen ingin bilang tidak setuju, namun Qiao Lin menatap tajam membuat dia sedikit menelan ludah.
“Apa sifat saudari Lin memang seperti ini?." Batin Ho Chen.
“Baiklah aku tidak akan menghalangi ke inginanmu lagi. Namun aku akan tetap mengingatkan, kamu harus tetap berhati-hati." Pesan Qiao Ho.
Qiao Ho yakin jika terjadi sesuatu kepada Cucunya Ho Chen pasti tidak akan membiarkannya cucunya dalam bahaya.
Qiao Ho dan Ho Chen saling berbincang sesaat sebelum mereka berniat kembali melanjutkan perjalanan.
“Kakek terima kasih sudah mengijinkan ku, sekarang Lin'er akan pergi.!." Qiao Lin berpamitan kepada Qiao Ho.
Qiao Ho sedikit berat untuk melepas kepergian cucunya, namun dia tetap memberikan senyum hangatnya untuk melepas kepergian Qiao Lin.
“Pergilah, dan berhati-hati di jalan!." Qiao Ho tidak tau harus berbicara seperti apa, jadi di hanya bisa menyuruh Qiao Lin untuk pergi.
Qiao Lin naik keatas naga putih sedangkan Ho Chen menghampiri Qiao Ho. “Chen'er aku titipkan Lin'er padamu.!." Kata Qiao Ho walau di berpesan pada Qiao Lin agar jangan membebani Ho Chen, namun dia tetap menghawatirkan keselamatan cucu satu-satunya.
“Akan ku pastikan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya, Itu janji ku.!." Kata Ho Chen kemudian membungkukan badan.
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan Qiao Ho, setelah sedikit jauh, Qiao Lin melambaikan tangannya ke pada Qiao Ho, dan Qiao Ho juga membalasnya, Tampa terasa sedikit air matanya mengalir melewati pipinya, Qiao Ho mengelap air matanya dan menatap air mata yang berada di jarinya. Dia sudah lupa kapan terakhir kali dia meneteskan air mata.
***
selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya.🙂
__ADS_1