
Nenek Kiew menghela nafas panjang. “Di daerah sini Ada sekitar 4 rumah yang penghuninya juga bernasib sama dengan kami."jawab Nenek Kiew
“Di daearah sini?" Ho Chen mengerutkan dahi. “Maksud nenek selain di dearah nenek ini masih ada daerah lain yang bernasib sama dengan nenek?" Tanya Ho Chen sekaligus mengartikan maksud perkataan Nenek Kiew.
“Benar!." Jawab Nenek Kiew dan di ikuti dengan anggukan kepala.
Ho Chen terlihat sedang berpikir cukup lama.
“Nenek saya akan pergi dulu." Ho Chen memberikan 200 koin emas kepada Kiew Leen untuk membeli baju Shiao Lang dan juga sang nenek dan kebutuhan lainnya.
“Ini...!“ ini terlalu banyak Tuan Chen." Kata nenek Kiew dengan tangan sedikit bergetar. Seumur hidup belum pernah Nenek Kiew mendapatkan koin emas sebanyak itu.
Sekarang dengan 200 koin emas bukan hanya baju dan bahan makanan bisa mereka beli, bahkan untuk memperbaiki rumahnya pun koin itu tidak akan habis. “Nenek ambillah! Ini semua demi masa depan Shiao Lang." Kata Ho Chen sambil membujuknya.
Perkataan Ho Chen membuat Nenek Kiew tidak bisa menolak pemberian dari Ho Chen. setelah menyerahkan koin emas, Ho Chen keluar dan berniat untuk pergi.
“Kakak Chen? Apakah kakak ingin pergi?" Shiao Lang bertanya ketika melihat Ho Chen keluar dari rumahnya.
“Kakak akan pergi, nanti kakak pasti akan kesini lagi." Ho Chen mengelus kepala Shiao Lang dan kemudian berniat pergi.
Namun belum sempat Ho Chen berjalan 2 langkah, ada sekitar 3 orang lelaki bertubuh kekar dan membawa pedang di pinggang bejalan mendekatinya.
Awalnya Ho Chen bersikap biasa saja ketika melihat mereka mendekat. Namun begitu melihat Shiao Lang bersembunyi di belakang Ho Chen dengan expresi wajah sedikit ketakutan, Ho bisa mengerti kalau ke 3 orang tersebut tidak memiliki niat baik.
“Hai bocah..!" Salah seorang bertubuh besar dan memiliki kumis memintal ke atas berbicara dengan sedikit membentak ke arah Shiao Lang, sehingga membuat Shiao Lang semakin ketakutan.
“Kemana nenekmu? Ini sudah waktunya kalian membayar uang ke amanan!" Ucapnya dengan mata melotot.
Shiao Lang tidak berani menjawab, kemudian nenek Kiew keluar ketika mendengar suara membentak tersebut.
__ADS_1
“maafkan saya, bukan maksud saya tidak ingin membayar, namun dari kemarin kami memang belum dapat uang." Ucap Nenek Kiew dengan sedikit memelas.
Sedangkan Ho Chen hanya menyaksikan, Ho Chen sedikit memahami situasinya. Namun dia tidak ingin langsung bertindak.
“selalu saja mencari alasan." Salah seorang sedikit lebih muda dari pria yang berkumis ikut berbicara. “kalau begitu bagaimana kalau sekarang? Apa sekarang juga tidak ada uang?"
Nenek Kiew mengeluarkan 1 koin emas dari dalam bungkusan kantong yang di berikan Ho Chen kepadanya. “Ini tuan, satu Koin emas. Dengan ini seharusnya kami tidak perlu membayar lagi selama setahun bukan?" Tanya Nenek Kiew sambil memberikan koin kepada mereka.
Mereka terdiam dan menerima koin emas tersebut, mereka bahkan tidak menduga kalau sang nenek akan membayar dengan koin emas. Kini tatapan mereka tertuju ke kantong yang besar yang masih di pegang Nenek Kiew. Serta pikiran jahat dan serakah menguasai hati mereka.
“kami yang mengatur bayar atau tidaknya. Kalau kamu menyerahkan kantong itu maka kalian akan kami ampuni." Kini orang yang terlihat sedikit kurus ikut bicara dan berniat ingin mengambil paksa kantong yang di pegang Nenek Kiew.
Ho Chen mengerutkan dahinya mendengar perkataan mereka. “Tunggu dulu..!" Kini mereka bertiga menatap Ho Chen yang berjalan kesamping Nenek Kiew.
“Ada apa anak muda? Kenapa kamu berani menghentikan kami? Apa kamu sudah bosan hidup?" Pria yang memiliki kumis bertanya sekaligus dengan nada mengancam.
Namun Ho Chen tidak memperdulikannya dan menghampiri Nenek Kiew. “Siapa sebenarnya mereka ini nek?" Tanya Ho Chen setelah cukup dekat dengan Nenek Kiew.
Sasaran mereka adalah penduduk yang tinggal di pinggiran kota. Mereka tidak berani mengusik di dalam kota karena hawatir di ketahui oleh para prajurit.
Setiap satu bulan sekali mereka akan datang kepada para penduduk pinggir kota untuk memungut pajak. Dan para penduduk harus membayar pajak sebanyak 10 keping koin perak setiap bulannya.
Bagi yang tidak mau membayar atau menentang, maka mereka tidak segan segan memukul bahkan membunuhnya. Tidak satupun yang berani melapor ke istana karena mereka sudah mendapat ancaman.
“Sekarang kamu sudah mengetahui tentang kami. Apa kamu masih berani untuk menghentikan kami?" Pria yang berkumis berbicara setelah Nenek Kiew selesai menjelaskan.
“Seharusnya orang-orang seperti kalian tidak bisa di biarkan berbuat sesuka hati kalian di sini." Tatapan Ho Chen menjadi dingin Ho Chen juga merasakan kalau orang yang memiliki kumis memiliki kekuatan tingkat Langit Awal 1. Sedangkan kedua rekannya hanya tingkat Bumi puncak 1.
Walau Ho Chen hanya berada di tingkat Bumi puncak 3. Namun energinya cukup mampu untuk mengalahkan tingkat Langit puncak 2.
__ADS_1
“bah..! “bocah sepertimu mau menantang ku?" Pria yang memiliki kumis berkata dengan meremehkan Ho Chen.
“Aku tidak berniat menantangmu, namun jika kalian masih memaksa merampas barang yang bukan milik kalian, maka aku juga tidak akan tinggal diam." Jawab Ho Chen sembari melambaikan tangan meminta Nenek Kiew dan Shiao Lang untuk mendur.
“Sialan..! Kalau begitu kamu mati saja disini, agar mereka tau apa akibat kalau berani melawan kelompok Rantai Besi." Pria yang berkumis melepaskan Aura energi kematiannya berniat untuk menakuti Ho Chen.
Pria berkumis merasakan Ho Chen masih berada di tingkat Jiwa puncak 3. Itu karena Ho Chen sengaja menyembunyikan energi dan tingkatnya.
Ho Chen hanya tersenyum tipis merasakan aura energi kematian yang menekan dirinya, seolah-olah tidak terintimidasi.
Pria berkumis terkejut begitu melihat Ho Chen masih terlihat biasa saja. “Bagaimana mungkin? Ini mustahil." Gumam pria tersebut dan kembali mengeluarkan seluruh aura energi kematiannya.
“Apa hanya segini saja?" Tanya Ho Chen dengan nada mengejek.
Kini bukan hanya pria yang berkumis yang terkejut, namun kedua rekannya juga ikut menganga.
“Apa yang kalian lihat? cepat habisi dia!." Perintahnya kepada kedua rekannya.
Mereka berdua segera tersadar setelah di beri perintah. Kemudian maju menyerang Ho Chen secara bersamaan mengunakan pedang.
Ho Chen menghindari setiap serangan pedang yang mereka arahkan kepadanya dengan mudah, sehingga mereka sedikit frustasi.
“tidak mungkin? Bukan kah dia masih di tingkat Jiwa puncak 3.?" Salah seorang rekannya menjadi bingung.
“ayo kita gunakan ilmu tehnik pedang?" Seru teman yang satunya. “baik ayo." Jawab rekanya.
“Tehnik pe...!" Gerakan mereka terhenti
“Ke-kena-pa In-ini..?" Pria bertubuh kurus sulit berbicara dan berkeringat dingin
__ADS_1
Belum sempat mereka manyerang, kini tubuh mereka seakan tidak mampu bergerak dan terasa berat, seolah-olah ada yang mengikat dan menindih mereka.