Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Ahli Tafsir mimpi.


__ADS_3

Ho Chen bangkit dari duduknya kemudian berjalan lurus kedepan tanpa meoleh kebelakang.


“Chen tunggu aku...!" Qiao Lin mengejar Ho Chen dari belakang dan terus memanggilnya.


Taman es yang luas tiba-tiba berubah menjadi tempat yang aneh, banyak gunung-gunung batu yang menjulang tinggi di ke langit, sedangkan di bawah di penuhi banyak jurang kabut yang sangat dalam.


Ho Chen berhenti berjalan dan berbalik menoleh Qiao Lin yang berada di belakang. “Chen sebenarnya kamu mau kemana? dan kenapa kamu tidak mau berbicara ke padaku?."


Lagi-lagi Ho Chen terdiam dan hanya tersenyum. Hati Qiao Lin begitu gelisah bercampur bingung. “Chen ayo kita kembali, tempat ini membuatku tidak nyaman...!" Kata Qiao Lin sambil berbalik untuk meninggalkan tempat itu.


Setelah beberapa melangkah Qiao Lin menoleh kebelakang dan melihat Ho Chen hanya diam dan tidak mengikutinya. Qiao Lin ingin kembali ke Ho Chen namun tiba-tiba muncul mahluk seram yang sangat besar dari belakang Ho Chen.


Mahluk tersebut memiliki dua tanduk panjang berwarna merah dan wajahnya di penuhi bulu tebal berwarna hitam. Mahluk tersebut menoleh ke arah Qiao Lin, sehingga Qiao Lin tidak mampu bergerak dan sulit bernafas.


Mahluk seram tersebut mengangkat tangannya dan terlihat seperti api yang berkobar namun berwarna hitam menyala di tangan mahluk tersebut. Qiao Lin berusaha untuk berteriak dan ingin memperingatkan Ho Chen, namun suaranya tidak bisa di jelaskan.


“Tidak..! jangan lakukan itu..!" Qiao Lin bergumam pelan.


Ho Chen terlihat bingung dan menatap Qiao Lin yang tidak bisa bergerak di depannya. Sedangkan mahluk tersebut melepaskan apinya kepada Ho Chen.


“Chenn...! Awasss...!" Jantung Qiao Lin serasa berhenti berdetak melihat Ho Chen yang terbakar oleh api hitam tersebut dia berteriak sekuat tenaganya.


“Chen...! Tidaaaak...!" Teriak Qiao Lin sambil menangis histeris. Hatinya begitu sakit melihat Ho Chen yang terbakar di hadapanya.


“Lin'er..! Lin'er..!" Sebuah panggilan terdengar di telinga Qiao Lin. Dia membuka mata dan melihat kakek beserta ayahnya sudah di ada di hadapannya.


Secara refleks Qiao Lin memeluk ayahnya dan menangis histeris. “Ayah.! Kakek..! Tolong- tolong Ho Chen, dia sedang dalam bahaya..!" Kata Qiao Lin yang masih menangis dalam pelukan ayahnya.


“Ho Chen..?" Qiao Jin mengerutkan alisnya.

__ADS_1


“Lin'er tenangkan lah dulu dirimu..! Lalu Ceritakan pada kami apa yang terjadi." Kata Qiao Ho sambil mengusap kepala Qiao Lin.


Qiao Lin berusaha menenangkan diri kemudian menceritakan kejadian yang di alaminya, Qiao Lin tidak sadar kalau semua yang di alaminya hanyalah mimpi kosong.


Qiao Ho dan Qiao Jin tersenyum mendengar cerita dari Qiao Lin. “Tenanglah, semua itu hanya mimpi. Dan tidak akan ada yang mampu mencelakai Chen'er." Kata Qiao Ho.


Qiao Lin baru sadar kalau yang di alaminya hanyalah mimpi, dia hanya bisa mengangguk pelan, namun Qiao Lin masih ingat akan mimpinya akan tubuh Ho Chen yang terbakar, seolah-olah itu adalah nyata. “Chen semoga tidak terjadi apa-apa padamu!." Batin Qiao Lin dia sedikit merasakan firasat buruk yang akan terjadi pada Ho Chen.


Qiao Ho dan Qiao Jin meninggalkan Qiao Lin yang sudah tenang. “Ayah! Ho Chen yang di katakan Lin'er bukankah murid sang legenda?." Tanya Qiao Jin setelah berjalan sedikit jauh dari kamar Qiao Lin.


“Benar..! Dan dia juga orang yang telah memegang kitab Kristal Es." Jawab Qiao Ho.


Qiao Jin hanya terdiam, sekarang dia sudah mengetahui sosok pemuda yang telah berhasil mengambil hati putrinya.


“Aku sedikit hawatir akan mimpi Qiao Lin! Aku pernah mendengar tentang api yang berwarna hitam, namun tidak pernah sekalipun aku melihatnya secara langsung, bahkan dalam mimpi sekalipun." Kata Qiao Ho sambil mengelus-elus jenggotnya.


Qiao Ho memang sedikit memahami dan menguasai tafsir mimpi, namun di dalam sekte Gunung Es hanya ada satu yang benar-benar bisa menafsirkan mimpi, dia adalah Heng Yinzo.


“Panggil Yinzo kesini secepatnya..!" Perintah Qiao Ho.


Qiao Jin segera menuju ke kediaman Heng Yinzo, dan mengajaknya pergi menemui ayahnya. Heng Yinzo tiba di kediaman Qiao Ho beberapa saat dan segera masuk keruang pribadinya.


“Ada apa ketua memanggilku se pagi ini? Bukan kah terlalu dini untuk melakukan pertemuan?." Tanya Yinzo.


“Saudara Yinzo, aku butuh bantuanmu mengenai mimpi cucuku.!" Kata Qiao Ho.


“Ceritakanlah mungkin aku bisa menafsirkan nya..!" Kata Yinzo.


Qiao Ho menceritakan tentang apa yang di mimpikan cucunya, Qiao Ho tidak menceritakan tentang siapa pemuda yang ada di dalam mimpinya.

__ADS_1


Setelah selesai menceritakan keseluruhannya. Mereka diam dan menunggu Yinzo menafsirkan mimpi tersebut.


“Ketua, sepertinya pemuda yang di mimpikan oleh nona muda Lin adalah orang hebat, namun dia akan menghadapi sebuah bahaya yang sangat besar dan mungkin di luar kemampuan pemuda tersebut. Dan jika pemuda tidak berhati-hati, maka pemuda tersebut bisa mati. Kalau masalah api hitam, ini baru pertama kalinya aku mendengarnya..!"


Qiao Ho dan Qiao Jin saling berpandangan, mereka tidak menduga jika mimpi Qiao Lin adalah sebuah pertanda buruk yang bisa mencelakakan Ho Chen.


“Terima kasih saudara Yinzo." Kata Qiao Ho.


“Ketua tidak perlu sesungkan itu. Kalau ketua mengenal pemuda tersebut, segera memberikan peringatan padanya agar dia bisa waspada." Kata Yinzo sambil berdiri untuk undur diri.


Qiao Ho dan Qiao Jin mengantarkan Yinzo ke depan pintu. Setelah sampai di depan pintu, ternyata Qiao Lin sudah di sana dengan wajah sedikit pucat.


“Lin'er, sejak kapan kamu di sini?." Tanya Qiao Ho. Dia hawatir cucunya mendengar pembicaraan mereka.


“Kakek.! Ayah.! Aku sudah dengar semuanya kalau kakek tidak pergi menemui Chen, biar aku yang akan pergi menemuinya.." kata Qiao Lin.


Sebelumnya Qiao Lin tidak bisa tidur dan berniat pergi ke ruang tamu milik kakeknya, namu sesampainya disana Qiao Lin bisa mendengar perbincangan ayah dan kakeknya yang sedang berbicara dengan Yinzo.


Qiao Lin kaget begitu mendengar bahwa Ho Chen bisa mati jika tidak berhati-hati. Bahkan lawan yang akan ia hadapi juga jauh lebih kuat dari Ho Chen.


“Lin'er! Dengarkan dulu kakek. Kakek akan pergi menemui Chen'er besok, jadi kamu tidak usah hawatir lagi.." Kata Qiao Ho berusaha meyakinkan cucunya.


Qiao Ho dan Qiao Jin merasa heran atas perubahan sifat Qiao Lin. Sejak kecil Qiao Lin tidak pernah menunjukkan sikap seperti yang barusan ia tunjukkan.


“Aku akan ikut dengan kakek..!" Kata Qiao Lin.


Qiao Ho dan Qiao Jin hanya bisa pasrah, mereka tidak menduga jika Qiao Lin bisa berubah, dari anak yang lembut dan penurut, sekarang malah menjadi anak yang sedikit keras kepala.


“Ternyata perasaan seseorang memang bisa mengubah sifatnya saat sedang hatinya menyukai seseorang.!" Batin Qiao Ho dan tidak henti-hentinya menghela nafas.

__ADS_1


__ADS_2