Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Mengasah kemampuan


__ADS_3

Ho Chen melangkah mendekati Gou Shen dan tidak memperdulikan perkataan Lun Yu. Setelah tiba di samping Gou Shen, dia berbisik pelan padanya. "Senior, kita pancing mereka keluar dari sini." Kata Ho Chen.


Gou Shen mengangguk, dia mengerti akan maksud tersebut. Walau Desa Tirai Kabut memiliki banyak pendekar, jika mereka tetap memaksa bertarung di sini, justru kerusakan bangunan yang tidak akan bisa di hindari.


Gou Shen melemparkan satu pisau kecil ke arah salah satu pendekar Tingkat Langit, pisau yang di lemparnya sangat cepat sehingga pendekar tersebut terlambat menyadari jika pisau tersebut menuju ke arahnya.


Semuanya kaget setelah mendapatkan serangan mendadak seperti itu terlebih lagi pendekar yang akan menjadi sararan pisau tersebut.


Pisau tersebut menancap tepat di dahinya dengan mulus, pendekar tersebut tumbang ke tanah dan mati seketika itu juga.


Gou Shen melompat ke atas bangunan dan berlari keluar desa dengan sangat cepat, sedangkan Ho Chen terbang menaiki pedangnya dan menyusul Gou Shen.


"Jangan coba lari dari ku! Cepat kejar mereka!." Kata Shi Yao yang sangat kesal kepada Gou Shen yang terlihat ingin kabur.


Mereka baku kejar di atas bangunan membuat para penduduk Desa menatap  mereka yang berlari di atap rumah.


Dalam waktu singkat, mereka semua sudah berada jauh dari Desa. Ho Chen mendarat dan menunggu mereka datang, dia lebih dulu tiba karna tidak ada yang bisa menyamai kecepatan terbang pedang lidah apinya.


Tidak lama Gou Shen juga mulai terlihat berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Gou Shen hampir tiba di dekat Ho Chen, namun dia berbalik dan mengarahkan pukulan nya ke arah Shi Yao, sedangkan Shi Yao juga melepaskan pukulan nya ke arah Gou Shen.


Suara dentuman keras dari pukulan mereka membuat efek daya kejut yang cukup besar. Shi Yao terpental mundur begitu juga dengan Gou Shen.


"Dia masih sekuat ini.." Gumam Shi Yao setelah merasakan energi yang di miliki Gou Shen tidak berkurang sedikit pun walau hanya memiliki satu lengan saja.


Lun Yu juga tiba di samping Shi Yao, sedangkan ketujuh pendekar yang tersisa menuju tempat Ho Chen yang hanya memandangi Gou Shen dan dua lawannya.


Ketujuh pendekar tersebut langsung mengepung Ho Chen dan bersiap memberikan serangan.


Sebenarnya mereka tidak berani menyerang Ho Chen karena melihat Ho Chen yang mampu terbang walau hanya menggunakan alat bantu. Menurut mereka Pemuda bertopeng di hadapannya bukan lah pendekar sembarangan.

__ADS_1


Ho Chen nyatanya tidak terganggu sama sekali dengan para musuh yang mengelilinginya membuat mereka sangat geram, yang paling tidak terima adalah dua orang Jagoan Tingkat Alam yang merasa Ho Chen meremehkannya.


Dua jagoan tersebut mengeluarkan senjata mereka masing-masing, yang satu mengeluarkan palu, dan yang satunya mengeluarkan golok agak sedikit besar.


"Dia terlalu meremehkan kita..!." Ucap salah satu jagoan dengan geram. Merek bersiap menyerang kemudian berhenti ketika Ho Chen berbicara sesuatu pada mereka.


"Aku tidak ingin membunuh kalian, jika kalian tidak memiliki hubungan dengan kedua orang itu, lebih baik kalian segera pergi dari tempat ini." Perkataan Ho Chen tidak terlalu keras namun bisa di dengar oleh mereka ber tujuh.


Ho Chen sudah tahu kalau mereka hanyalah orang bayaran, jadi Ho Chen tidak berniat untuk bertarung dengan mereka, dia memilih ingin membantu Gou Shen yang saat ini berhadapan dengan dua lawan nya.


"Kamu bicara seperti itu seolah-olah kami akan kalah dari mu! Kita lihat siapa yang akan kalah dan mati lebih dulu..!." Salah satu jagoan pemegang golok menyerang Ho Chen terlebih dahulu kemudian diikuti oleh yang lainnya.


Ho Chen menggelengkan kepala pelan, mau tidak mau dia harus menyambut serangan mereka yang datang secara bersamaan. "Kalian benar-benar keras kepala. Baiklah, jika itu yang kalian inginkan." Ho Chen melepaskan Energinya, dan seketika itu juga, angin kencang keluar dari tubuhnya.


Ke Tujuh lawannya kaget bukan main ketika merasakan energi milik Ho Chen, mereka menghentikan serangan dan sama-sama saling menoleh. Muncul keraguan dalam hati mereka untuk terus maju.


Ho Chen melihat keraguan pada mereka, namun dia tidak akan membiarkan nya begitu saja, karena kesempatan sudah tidak ada lagi.


Serangan Ho Chen begitu cepat dan tajam membuat para pendekar Langit tidak sempat membuat pertahanan.


"Tehnik Angin - Tebasan Bulan Sabit."


Ho Chen menebas udara dengan pedang nya dan seketika itu juga energi angin bergerak dengan kecepatan penuh nya.


Tiga orang pendekar Langit yang belum siap dengan serangan mendadak tersebut terlambat bertahan dan tubuh mereka terbelah menjadi dua.


Dua jagoan dan dua pendekar Langit yang tersisa segera melompat mundur, mereka sekarang merasakan jika kekuatan pemuda bertopeng di hadapannya saat ini berada di Tingkat Alam puncak 1.


Ho Chen kembali memanfaatkan kesempatan tersebut dengan bergerak maju menyerang dua pendekar Langit yang tersisa, Dia kembali melepaskan tebasan anginnya dengan sangat cepat, namun kedua pendekar Langit sudah siaga lebih dulu dan menghindari tebasan angin tersebut.


Ho Chen mendadak muncul di belakang salah satu pendekar Langit dan menusuk pendekar tersebut dari arah belakang.

__ADS_1


Pedang lidah api menusuk punggung nya hingga tembus ke depan, pendekar tersebut mengerang sesaat dengan mengeluarkan darah dari mulutnya sebelum akhirnya lemas dan mati.


Semua terjadi begitu cepat, bahkan di luar dugaan kedua jagoan Tingkat Alam yang saat ini hanya mematung tidak mengerti akan apa yang barusan terjadi.


Jagoan tersebut tersadar setelah Ho Chen menatap nya, mereka berdua langsung siaga khawatir Ho Chen menyerang dengan secara tiba-tiba.


Pendekar Langit yang tersisa segera lari sekuat tenaga setelah melihat ke lima rekannya mati begitu saja, dia tidak cukup gila untuk terus berhadapan dengan pemuda bertopeng tersebut, jika pemuda bertopeng bisa membunuh ke lima rekannya semudah membalikkan telapak tangannya, bukan tidak mungkin dia juga akan bernasib sama seperti yang lainnya.


Ho Chen tidak mengejarnya, dia hanya memandang dua jagoan Tingkat Alam yang mulai waspada kepada Ho Chen.


"Dia begitu cepat, aku bisa mengalahkan mereka semua, namun tidak bisa mengalahkan secepat pemuda bertopeng itu." Kata salah satu jagoan tersebut, kini dia menyesali telah melewatkan tawaran Ho Chen sebelumnya untuk pergi.


"Kita sudah tidak punya pilihan lain, lagi pula pendekar itu juga tidak mungkin membiarkan kita pergi, mau tidak mau kita harus menggabungkan kekuatan kita."


Mereka berdua sepakat akan menggunakan serangan gabungan untuk menyerang Ho Chen.


Sebenarnya bisa saja Ho Chen membunuh mereka dengan cepat, dengan menggunakan Tehnik gabungan dan penghentian waktu.


Namun Ho Chen tidak mau terus menerus mengandalkan tehnik tersebut kecuali dalam keadaan terdesak. Ho Chen ingin mengasah kemampuan nya sendiri agar tidak terlalu mengandalkan tehnik gabungannya.


"Tehnik Angin - Tebasan Bulan Sabit."


Ho Chen kembali menyerang ketika mereka berdua sedang berdiskusi, kedua jagoan segera menyadarinya sekaligus bertahan.


Melihat serangan energinya mampu di tahan, Ho Chen lansung maju menyerang dari jarak dekat. Kedua jagoan pun menyambut serangan tersebut.


Ho Chen melawan dua jagoan Tingkat Alam Awal 1, dan Gou Shen melawan jagoan Tingkat Alam Puncak 3 dan awal 3.


Mereka bertarung sangat sengit hingga suara pertarungan mereka terdengar hingga ke dalam desa termasuk Qiao Lin yang baru meminta Niu untuk pergi membantu Ho Chen.


Niu berada di penginapan, dia tidak ikut keluar dengan yang lainnya, sehingga tidak mengetahui jika Ho Chen sedang dalam masalah. Begitu juga dengan Naga Putih, dia juga berada di kandang sedang berbaring santai.

__ADS_1


Sedangkan para penduduk desa yang kebanyakan pendekar keluar dari rumah masing-masing setelah mendengar pertarungan dari luar desa.


__ADS_2