
"Kau harus tahu, Raja Iblis yang kau hadapi adalah raja yang terkuat dari dua raja iblis lainnya." Kata Hanzi setelah selesai bercerita.
Ho Chen menumpang dagu. "Apa memang benar-benar tidak bisa di kalahkan?." Tanya Ho Chen.
"Dengan kekuatanmu saat ini memang tidak akan bisa mengalahkannya, jangan kan Daji, bahkan saat ini kamu tidak akan bisa mengalahkan Wu bahkan yang terlemah sekalipun yaitu Zhao." Kata Hanzi.
Ho Chen terlihat bingung, dia tidak tahu sama sekali nama-nama dari ketiga raja iblis tersebut. "Jadi yang saya hadapi itu bernama Daji? Lalu yang bernama Wu dan Zhao itu...?." Kata Ho Chen mempertanyakan ke bingungan
nya.
Kemudian Hanzi mengenalkan satu persatu nama para raja iblis sekaligus julukan mereka.
"Pantas saja energi Raja Api ku terhisap!." Kata Ho Chen setelah mengetahui masing-masing dari raja iblis.
"Iya benar, namun kekuatan mereka bertiga bisa saling melemahkan, Api merah Milik Zhao bisa di lemahkan kan oleh api hitam milik Wu, jelasnya api hitam lebih kuat dari api merah, dan juga lebih panas.
Api Hitam milik Wu, bisa di lemahkan oleh api biru milik Daji, jelasnya api biru adalah api yang yang sebagiannya adalah unsur dari cahaya, api biru sebanding dengan petir, dari aspek manapun hitam dan cahaya saling berlawanan.
Api biru milik Daji bisa di lemahkan oleh api merah milik Zhao, jelasnya api merah adalah bentuk dari wujud api biru, walau panasnya tidak sepanas api biru, namun nyatanya api merah sanggup merubah wujud api biru kembali menjadi merah.
Namun kamu harus tahu jika semua itu tetaplah api, di manapun itu api tetap manjadi lawan sebanding bagi air, itu semua tergantung sebesar apa kekuatan yang kau miliki." Hanzi menutup penjelasannya.
Ho Chen akhirnya mengerti kenapa tehnik es nya tidak berfungsi kapada raja iblis Daji, itu di sebabkan energinya masih belum cukup untuk mengalahkan nya, begitu juga dengan tehnik raja apinya yang tidak berfungsi ketika melawan tiga jendral, itu di sebabkan energinya yang belum cukup di tambah lagi ada jendral Ori yang akan mampu menetralkan api birunya.
"Maaf jika boleh saya tahu, bagaiman cara anda bisa mengalahkan tiga raja iblis sekaligus dan juga berhasil menyegel energinya?." Tanya lagi Ho Chen, dia yakin jika dirinya sekalipun sudah memiliki kekuatan Dewa Abadi sekalipun, tidak akan mudah mengalahkan ketiga raja iblis itu secara bersamaan.
Hanzi tersenyum ringan kemudian berbicara. "Aku mengerti, aku juga tidak akan mampu melawan ketiganya sekaligus, namun dengan ilmu penghentian waktu aku bisa mengalahkan mereka bertiga, andai aku tidak memiliki ilmu tersebut, maka mustahil bagiku untuk bisa menang."
__ADS_1
Ho Chen tersenyum kecut, jika memang demikian tidak akan mudah baginya untuk mengalahkan ketiga raja iblis, kecuali dia juga mempelajari ilmu penghentian waktu.
"Senior Hanzi bisa kah saya mempelajari Tehnik penghentian waktu itu?." Ho Chen memberanikan diri meminta untuk mempelajari ilmu tersebut.
"Apa itu Tehnik?." Kini giliran Hanzi yang bingung karena tidak mengerti akan perkataan Ho Chen.
Ho Chen menggaruk kepalanya, dia juga bingung bagaimana menjelaskannya. "Tehnik itu adalah kekuatan yang saya gunakan sehingga mampu mengubah energi menjadi unsur api, air, tanah, angin, petir dan lain sebagainya." Kata Ho Chen.
Hanzi mengangguk seolah mengerti akan apa yang di katakan oleh Ho Chen.
"Ilmu penghentian waktu bukan lah ilmu yang yang menggunakan Qi, ini sejenis ilmu sihir yang memanipulasi ruang dan waktu, selain ilmu penghentian waktu ada juga ilmu sihir yang juga bisa melakukan hal yang sama yaitu ilmu ruang waktu yang bisa membuat penggunanya bisa berpindah dari satu tempat ke tempat yang ia inginkan tidak peduli seberapa jauh tempat tersebut, karena konsep nya sama ya itu memanipulasi ruang dan waktu."
Hanzi kembali melanjutkan. "Aku berhasil membuat tiga ilmu tersebut, yang pertama ilmu menghentikan waktu, yang kedua ilmu ruang waktu, yang ketiga ilmu mata dewa, semuanya sama, kecuali ilmu mata dewa yang berbeda karena ilmu itu hanya untuk memperluas pandangan dan akan mampu melihat sejauh yang ku mau."
Ho Chen mengetahui kedua ilmu tersebut, karena gurunya Feng Ying juga memilikinya, karena alasan itulah dia bersedia berkelana untuk ke tempat gurunya berada dan mempelajari kedua ilmu tersebut.
"Kau adalah penerus dari kekuatan ku, jadi sudah seharusnya aku mengajarkan ilmu ini kepadamu, karena suatu saat nanti kita akan bergabung menjadi satu." Kata Hanzi kemudian melangkah pergi.
"Senior mau kemana?." Tanya Ho Chen.
Hanzi berbalik lalu berkata. "Istirahatlah dulu, besok aku akan mengajarkan ilmu penghentian waktu kepadamu. Kata Hanzi kemudian menghilang dari pandangan Ho Chen.
Ho Chen menghela nafas panjang kemudian berjalan menuju ke arah beberapa pohon di depannya.
"Kau sangat beruntung manusia sudah di pilih sebagai pemilik kekuatan Hanzi." Salah satu pohon berbicara kepada Ho Chen.
Ho Chen tidak terkejut mendengar pohon yang bisa bicara, berbeda ketika dirinya baru tiba di tempat itu awalnya Ho Chen kaget terkejut sekaligus penasaran melihat banyak mahluk yang bisa berbicara, namun sekarang dia sudah mulai terbiasa.
__ADS_1
"Senior Pohon, itu mungkin sebuah keberuntungan bagiku, namun juga sebagai beban, karena setelah ini akan banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus aku pikul." Kata Ho Chen dengan tersenyum kecut, dia sadar jika dunianya saat ini akan menjadi tanggung jawabnya.
"Seharusnya memang seperti itu, karena jika bukan kamu lalu siapa lagi yang akan mampu mengalahkan para raja Orc itu? Dan kamu jangan panggil aku dengan nama Pohon, namaku adalah Hauben."
Ho Chen tersenyum canggung di samping itu juga, dia berpikir bagaimana jika dirinya menceritakan pengalamannya kepada Jiu Rui, apa dia akan percaya jika dirinya berbicara dengan pohon, dia yakin Jiu Rui pasti akan menganggap nya terkena gangguan otak.
"Baiklah senior Poh..! maksud saya senior Hauben!." Ho Chen membungkuk.
Seekor kucing hitam juga mendekat dan berdiri di samping kakinya. "Kau sudah berada di sini selama tiga hari, namun aku belum mengetahui namamu." Kata kucing tersebut.
Ho Chen menoleh ke belakang dan ke samping kiri dan kanan, namun dia tidak melihat siapa-siapa.
"Aku bertanya, siapa nama mu? Kenapa kamu malah kebingungan!." Kucing tersebut terlihat kesal.
Ho Chen baru menyadari jika yang berbicara ada di bawahnya kemudian menggaruk kepala belakang karena merasa tidak enak. "Maafkan aku Senior Kucing! Namaku Ho Chen."
"Jangan panggil aku Kucing..!." Kucing tersebut membentak Ho Chen dengan suara yang menyengat telinga.
"Aku harus panggil apa?." Tanya Ho Chen yang kebingungan, bagaimana mungkin kucing bisa tidak suka dengan nama umumnya.
"Namaku Ratu Choon, namun panggil saja aku Choon!." Kata kucing tersebut mengenalkan dirinya.
"Kau seekor ratu kucing?." Tanya Ho Chen
Pertanyaan Ho Chen memang tepat, namun seolah-olah pertanyaan itu salah bagi Choon. "Apa maksudmu dengan seekor? Aku memang ratu dari Kaum raas ku!."
Ho Chen jadi serba salah dan juga kebingungan. "Kalau bukan seekor, apa aku harus mengatakan seorang ratu? Dia kan kucing bukan manusia!." Batin Ho Chen dengan memijat keningnya.
__ADS_1