
Qiao Lin dan Yihua sama-sama menunggu dengan hati berdebar-debar. Sebenarnya mereka berdua sama-sama mengharapkan untuk dipilih, namun kedua-duanya sadar hanya satu diantara mereka yang akan dipilih.
"Sebelum aku memilih salah satu diantara kalian, aku akan menyampaikan sesuatu! Aku harap kalian mendengarkan semuanya baik-baik dan jangan memotong atau menjawab perkataanku sebelum aku meminta kepada kalian," kata Ho Chen.
Qiao Lin dan Yihua saling berpandangan, mereka tidak tahu apa yang Ho Chen ingin sampaikan, dan akhirnya keduanya sama-sama mengangguk.
"Qiao Lin, kamu sangat cantik dan juga baik, sifatmu sangat lembut walau sebenarnya kamu memiliki sifat yang keras dan juga pemberani. Kamu adalah Cucu dari salah satu orang terhebat di kekaisaran Yun."
Qiao Lin terdiam, dia hanya bisa mendengarkan ucapan Ho Chen, dia tidak menduga jika Ho Chen akan bicara hal yang ada diluar rencana.
"Yihua, Kamu juga cantik dan baik, namun sifatmu sedikit manja dan sedikit angkuh, walau terkadang dibalik sifatmu itu ada kelembutan dan juga kasih sayang! Kamu adalah seorang putri dari orang yang sangat berpengaruh di kekaisaran Yun."
Yihua juga terdiam, sesuai seperti yang dipesankan oleh Ho Chen, dia tidak berani memotong atau bertanya sebelum Ho Chen memintanya.
"Aku memiliki cita-cita sekaligus janji kepada kedua orang tuaku, jika suatu saat nanti aku akan kembali ke desa Air Bukit membangun desa tersebut dan tinggal disana," Ho Chen menatap mereka berdua kemudian melanjutkan kembali perkataannya.
"Aku akan mencari Istri yang mau mengikutiku dan bersedia tinggal di desa Air Bukit yang sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana! Jadi siapakah diantara kalian yang mau menjadi istriku dan bersedia hidup berdua di desa yang tidak berpenghuni itu?" tanya Ho Chen.
Ho Chen sudah kehabisan akal dibuat oleh dua gadis dihadapannya, Ho chen berpikir dari pada dirinya yang memilih lebih baik mereka sendiri yang memutuskan ingin tetap terus bersama dirinya atau tidak.
Ho Chen sudah sangat mengerti sifat dan kepribadian mereka berdua. Qiao Lin adalah seorang pewaris sekte besar aliran putih, dia juga memiliki nama gelarnya sendiri, ditambah Qiao Lin sudah pernah mengikuti Ho Chen berpetualang sehingga sudah terbiasa tinggal di desa-desa kecil bahkan tidur di hutan.
Sedangkan Yihua, walau dia seorang pendekar, namun dia masih berasa di Tingkat Bumi puncak 2. Yihua adalah seorang Tuan Putri, walau dia bukan calon pewaris istana, namun Yihua masih memiliki kedudukan tinggi di istana, dan Yihua tidak pernah merasakan kehidupan diluar seperti desa-desa kecil atau tinggal di hutan, yang pasti Yihua tidak akan mampu bertahan jika harus tinggal di desa kecil yang tidak ada siapa-siapa.
Ho Chen duduk kembali di kursi sambil mengamati kedua gadis yang mulai bingung untuk mengambil keputusan. Ho Chen bisa melihat dari wajah mereka berdua, mereka terlihat berpikir keras mempertimbangkan pertanyaan Ho Chen.
Qiao Lin sendiri saling berpandangan dengan Yihua, mereka tidak menyangka jika mereka berdualah yang saat ini berada di posisi sulit.
Salah satu pelayan datang membawa tiga cangkir Teh hangat untuk diberikan kepada mereka bertiga dan kemudian kembali kedalam dengan membawa Hai Chuan.
__ADS_1
Sambil menunggu jawaban mereka berdua Ho Chen meminum teh hangat dengan wajah terlihat puas bisa memberi pertanyaan yang berhasil menyulitkan mereka.
Ho Chen mengelus-elus cincin pengisap yang dipakainya sambil menatap kolam ikan dan sesekali melirik mereka berdua.
Setelah agak lama, Yihua pun bersuara. "Chen, walau aku tidak tahu seperti apa rasanya hidup di desa kecil, namun aku akan mencoba untuk membiasakan diri agar bisa hidup di desa. Selama kamu berada disisiku aku pasti bisa!" kata Yihua.
"Yihua, Yang Mulia tidak akan mengijinkanmu!" kata Ho Chen, dia tidak menduga jika Yihua akan tetap mengikutinya kemanapun ia pergi dan dimanapun ia tinggal.
"Soal ayah, itu bukan masalah! Lagi pula Kaisar selanjutnya sudah memiliki penerus," kata Yihua.
Yang ia maksud tidak lain adalah Hai Chuan sang pangeran dan juga sebagai putra mahkota satu-satunya.
"Lin, bagaimana denganmu, apa jawabanmu?" tanya Ho Chen, dia mulai takut jika Qiao Lin benar-benar akan mengalah.
Qiao Lin menatap Ho Chen kemudian Yihua secara bergantian, dia sebenarnya tidak keberatan jika harus tinggal dimanapun, namun melihat Yihua juga tidak keberatan membuat hatinya ingin mengalah.
"Chen, kamu sudah mendengar sendiri jika Yihua tidak keberatan jika harus tinggal dimanapun, jadi ku rasa tidak ada yang perlu aku jawab lagi," kata Qiao Lin.
"Qiao Lin, ini tidak benar! Ini tidak sesuai seperti apa yang kita sepakati!" Yihua tidak terima akan sikap Qiao Lin yang mudah menyerah.
"Yihua, aku sudah memutuskannya! Jadi aku tidak akan menarik ulang kata-kataku," Qiao Lin berbicara namun bibirnya terlihat bergetar.
"Ini salah! Ini pasti salah!" seru Yihua.
Yihua merasa Qiao Lin sengaja mengalah untuk dirinya, walau demikian Yihua tetap tidak menerima itu. Padahal jika dilihat, dirinyalah yang akan bisa bersama dengan Ho Chen.
Begitu juga dengan Ho Chen, pikirannya juga menjadi kacau dia hanya bisa mendengarkan perdebatan mereka berdua. Namun sesaat kemudian dia merasakan firasat buruk.
"Yihua, aku serahkan Ho Chen padamu, tolong jaga hatinya untukku! Dan jangan pernah membuat hatinya terluka," kata Qiao Lin sambil menggenggam tangan Yihua dan air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Tidak Qiao Lin, Ho Chen belum memilih, dia hanya memberikan pertanyaan kepada kita!" kata Yihua berusaha untuk membujuk Qiao Lin menunggu keputusan Ho Chen.
Qiao Lin ingin kembali menjawab namun Ho Chen menghentikannya. "Diamlah!" kata Ho Chen membuat kedua-duanya terkejut dan menatap Ho Chen secara bersamaan.
Mereka terkejut ketika melihat mata Ho Chen yang bercahaya keemasan sambil menatap kelangit.
Mereka berdua segera ikut menatap kelangit namun tidak melihat siapa-siapa, namun beberapa saat kemudian terlihat pusaran kabut hitam mulai berputar diatasnya.
***
Saat pikiran Ho Chen merasa kacau, Ho Chen merasakan firasat buruk, dia merasakan ada energi hitam sedang mendekat namun tidak terlihat, ditambah lagi, dia merasakan jika hawa sedikit berubah menjadi lebih hangat.
Ho Chen mengaktifkan Mata Dewa untuk melihat dan mencari sumber energi hitam tersebut, dia menatap kelangit dan merasakan ada sepuluh sosok yang samar-samar akan muncul dari sana.
"Diamlah!" kata Ho Chen, konsentrasinya terganggu karena pembicaraan mereka berdua.
Setelah beberapa saat, terlihat kabut hitam mulai berkumpul di langit dan semakin lama semakin banyak kemudian berputar.
"Chen'er, itu bukan kabut biasa!" Ming Hao tidak pernah berbicara sama sekali setelah perdebatan Ho Chen dengan Qiao Lin di Gunung Es, namun sekarang dia kembali bersuara setelah melihat Kabut hitam yang berputar diatasnya.
Ho Chen pernah melihat Kabut hitam tersebut pernah digunakan oleh Jendral Sui. namun kabut ini lebih kuat dan mengandung energi hitam yang sangat besar.
"Apa guru mengetahui kabut ini?" tanya Ho Chen.
"Jika tebakanku tidak salah, ini adalah kabut energi milik Ratu Sihir!" kata Ming Hao.
"Jadi dia sudah dibangkitkan!" kata Ho Chen.
Setelah berkata demikian, muncul sepuluh sosok dari dalam kabut tersebut, salah satunya adalah seorang wanita berbaju merah, dan satu diantaranya Ho Chen mengenalnya.
__ADS_1
"Saudara Dunrui!" gumam Ho Chen sambil menatap tajam kearah Wang Dunrui, dia bisa langsung mengenali Wang Dunrui karena wajah Wang Dunrui hampir mirip dengan Wang Chunying.
Sepuluh sosok tersebut adalah, Wang Dunrui, Ratu Sihir, tiga Raja iblis, dan lima jendral iblis, mereka datang secara bersamaan.