
***
Para undangan satu persatu sudah tiba di sekte Pilar Angin. Mereka yang tiba adalah sekte menengah dan kecil. Kebanyakan juga sekte mereka yang jaraknya lebih dekat dengan sekte Pilar Angin.
Sekte Pilar Angin berada di puncak gunung yang sangat tinggi. Pemandangan yang di suguhkan membuat orang-orang yang pergi kesana akan di buat takjub.
Hamparan tanah yang luas bisa di saksikan dari puncak gunung, bahkan lautan yang bermil-mil jaraknya juga bisa di lihat walau tidak terlihat terlalu jelas.
Namun untuk mencapai puncak gunung sekte Pilar Angin sangatlah melelahkan, bagi manusia biasa akan sangat sulit untuk mendaki jalanan bertangga yang begitu tinggi. Bahkan bagi pendekar Tingkat Jiwa sekalipun akan kesulitan untuk bisa mencapai puncak gunung Pilar Angin.
Peraturan di sekte Pilar Angin membolehkan para muridnya untuk turun gunung itu pun jika sudah mencapai Tingkat Bumi. Jika murid yang masih berada di Tingkat Jiwa tidak akan mendapatkan ijin untuk turun mengingat jalannya yang begitu tinggi.
Setelah beberapa saat, para sekte besar juga tiba di sekte Pilar Angin, mereka langsung di arahkan menuju tempat pertemuan yang sudah di sediakan.
“Apa semua sudah datang?." Tanya Yuen kepada anggotanya yang bertugas mengurus para tamu undangan di ruang pertemuan.
“Masih ada beberapa yang belum datang, mungkin sebentar lagi mereka tiba." Kata sang pengurus.
“Baiklah kita tunggu sebentar lagi."
Di ruang pertemuan kini semakin banyak orang, mereka saling bercerita dan ada pula yang saling mengenalkan.
“Ketua Chu. Lama tidak bertemu..! Ternyata anda masih terlihat awet muda.“
“Hahaha.... Anda terlalu memujiku secara berlebihan saudara Qian."
Ketua Chu adalah ketua sekte Sisik Naga, namanya adalah Chu Thien. Sedangkan Qian adalah ketua sekte Bintang Emas yang bernama Qian Shin.
“Sepuluh tidak duapuluh tahun lamanya kita tidak bertemu..!" Kata Qian Shin dengan tertawa.
Mereka semua sedang berbicara masing-masing, kemudian para sekte aliran hitam pun juga tiba. Kedatangan mereka membuat suasana sedikit canggung.
__ADS_1
Kang Jian duduk di depan bersama Yuen. Di sebelahnya Xiu Huan bersama Whu Zhi.
Xiu Huan berbicara pelan kepada Kang Jian. “Saudara Jian apa kita bisa memulai sekarang?."
“Masih ada tiga sekte yang belum tiba, kita tunggu saja dulu sebentar. Jika belum juga datang kita akan segera memulainya." Jawab Kang Jian.
Tiga sekte yang belum tiba adalah Sekte Gunung Es, Sekte Bunga teratai, dan Lonceng Kuil Suci.
Tidak lama Kang Jian berkata demikian Biksu Shao Sheng bersama dua anggotanya.
Dan di susul oleh Qiao Ho bersama dua anggotanya di tambah dengan cucunya yang juga ikut.
Di salah satu tempat para undangan, ada satu yang terus-menerus menatap Biksu Shao Sheng. Dia adalah Shilin ketua sekte Lembah Tengkorak.
Shilin memang adalah pendekar aliran hitam terkuat, namun dia akan menghindar jika bertemu dengan Biksu Shao Sheng, kali ini dia pun ingin pergi meninggalkan pertemuan, namun setelah Xiu Huan memberi isyarat, maka Shilin mengurungkan niatnya dan berusaha bertahan dan mengikuti acara tersebut.
“Para ketua dan saudara semua yang hadir. Terima kasih sudah hadir dan memenuhi undangan kami." Kang Jian berbicara. Mengunakan energinya agar suaranya bisa di dengar dengan jelas.
Xiu Huan Bangkit lalu berbicara. “Para ketua dan saudara semua, tentu kalian sudah mengetahui maksud dari pertemuan kita hari ini."
“Saudara Huan, kami memang sudah mengetahuinya, namun kenapa kamu yakin kalau masalah ini berasal dari aliran hitam?." Tanya Shilin.
“Saya tau ketua Shi memang tidak akan percaya, bukankah kita juga sudah tahu, semua sekte aliran hitam juga menjadi korban. Dari semua sekte aliran hitam yang tidak ada jatuh korban hanyalah Dua sekte saja. Apa itu tidak cukup untuk menjadikannya sebagai alasan?." Kata Whu Zhi.
Semua yang mendengar itu sedikit setuju dengan perkataan Whu Zhi, namun sebagian juga masih belum bisa mempercayainya.
“Kita masih belum memiliki bukti yang kuat, Bukankah tidak baik menuduh seseorang tanpa bukti?."
“Biksu Sheng memang sangat baik dan bijak..! Namun bukankah kita juga tahu kalau sekte Darah iblis memang menyimpan sesuatu yang kami sendiri sebagia aliran yang sama tidak mengetahuinya.." Ucap Xiu Huan.
Salah satu sekte menengah aliran hitam bangkit dari tempat duduknya dan ikut membuka suara. “Kalau kita bisa membuat aliansi dengan aliran putih, bukankah mereka juga bisa membuat aliansi dengan aliran putih? Bahkan hingga saat ini mereka belum datang."
__ADS_1
“Saudari Whilin..! apa maksudmu?." Qiao Ho bertanya dengan nada sedikit curiga.
“Senior Ho, apa anda belum sadar, Saudari Ming Mei hingga saat ini belum juga datang. Bisa saja dia tidak mungkin datang, atau bahkan pergi memberitahukan kepada anggota sekte Darah iblis itu." Kata Lun Whilin sang ketua sekte Srigala Hitam.
“Bukankah tuduhanmu terlalu berlebihan saudari Lun..?" Ming Mei muncul dari pintu dan berbicara kepada Lun Whilin dengan nada tidak senang.
“Saudari Ming kenapa kamu datang terlambat?" Tanya seorang perempuan yang memakai baju zirah, dia adalah Jendral Yin Lun.
“Maaf kan aku, ada sedikit masalah saat mendaki kesini..!" Kata Ming Mei dengan sedikit tersenyum.
Ming Mei dan 2 anggotanya berjalan lebih dulu atas permintaan Ho Chen. Karena anak tangga yang begitu tinggi, Jiu Rui sampai kelelahan mendaki anak tangga tersebut.
Ho Chen tentu tidak bisa meninggalkan Jiu Rui begitu saja, dia akan menemani Jiu Rui untuk menaiki anak tangga dan meminta Ming Mei untuk pergi duluan, karena hawatir hanya karena kakaknya, Ming Mei sampai harus terlambat mengikuti pertemuan.
“Sudahlah..! Saudari Ming silahkan duduk, kita akan melanjutkan pembahasan ini.." Ucap Yuen
Ming Mei menatap Lun Whilin sejenak kemudia duduk, Ming Mei dan Lun Whilin memang saling membenci. Mereka bukan hanya berbeda aliran, namun juga memiliki dendam pribadi sendiri.
“Baiklah kita akan melanjutkan kembali."
Kang Jian, Whu Zhi, Xiu Huan, Yuen segera melanjutkan pembahasan, dan juga rencana yang sudah mereka bahas di sekte Bukit Halilintar.
***
“Adik... pergilah.. duluan...! aku akan... segera menyusul." Kata Jiu Rui dengan nafas terengah-engah. Dia memegangi lututnya sambil berjongkok kelelahan. Jiu Rui menelan ludah ketika melihat anak tangga yang masih jauh tinggi keatas.
“Kakak tidak perlu berbicara sok kuat, kita berjalan bersama, sesulit apapun kita akan tetap bersama." Kata Ho Chen.
Ho Chen memiliki energi yang begitu besar, karna itu dia tidak merasa kelelahan sama sekali.
“Terserah kamu saja.." Kata Jiu Rui. Dia sedikit terpana ketika mendengar ucapan Ho Chen.
__ADS_1
“Mari kita lanjutkan kembali.!" Ajak Ho Chen dan di sambut senyum kecut oleh Jiu Rui.