
"Chen'er, apa itu seluruh kemampuan yang kamu miliki?" tanya Feng Ying setelah semua berkumpul bersama.
Ho Chen hanya tersenyum pelan, dia tidak akan mengatakan jika dirinya hanya menggunakan 20 persen dari energinya untuk melawan mereka semua, jadi Ho Chen hanya mengangguk saja.
"Hebat, kamu mungkin akan mampu melawan manusia yang menjadi wadah kekuatan Raja iblis itu!" kata Feng Ying, menurutnya Kekuatan Ho Chen sebanding dengan kekuatan Wang Dunrui.
"Chen'er, bagaimana selanjutnya, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kang Jian.
"Aku berencana pergi ke markas mereka, aku ingin mengakhiri semua ini! tapi sebelum itu!" Ho Chen menatap Qiao Lin yang sejak tadi diam dan hanya memandangnya saja.
"Senior Ho, aku ingin melamar Lin'er! Aku minta restu dari senior Ho dan senior Jin!" kata Ho Chen.
Qiao Ho dan Qiao Jin sama-sama memasang senyum lebar, senyum terlebar yang tidak pernah mereka tunjukkan sebelumnya.
"Tentu kami akan merstui, sekarang hanya tinggal menunggu keputusan Lin'er saja, jika dia setuju, maka kami juga setuju, kami hanya bisa mengikuti dan menghargai keputusannya saja," kata Qiao Ho.
"Lin'er kemarilah!" Qiao Jin memanggil putrinya, dan Qiao Lin datang memenuhi panggilan ayahnya.
"Lin'er, kamu sudah dengar sendiri bukan? Sekarang semua keputusan aku serahkan sepenuhnya padamu, apapun keputusanmu, kami akan mengikutinya," kata Qiao Ho.
Qiao Lin tiba-tiba terlihat ragu, entah apa yang mengganggu pikirannya, dia hanya menatap Ho Chen sesaat dan ingin mengucapkan sesuatu namun membatalkan nya.
"Lin'er, ada apa?" Tanya Ho Chen.
Qiao Lin bukannya menjawab justru pergi berlari masuk kedalam membuat semua orang yang menyaksikan itu heran, mereka tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi dengan Qiao Lin.
Ho Chen pun hanya berdiri mematung melihat Qiao Lin yang lari kedalam, dia bingung karena tidak mengetahui akan apa yang Qiao Lin pikirkan.
"Chen'er, apa kamu tidak bisa membaca pikirannya?" tanya Ming Hao yang berada didalam gelang.
__ADS_1
Ho Chen hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Kang Jian, Xiu Huan, Feng Ying, Liu Yin, Jian Heeng, hanya bisa saling berpandangan, mereka bingung sebelumnya mereka berdua terlihat saling menyukai.
"Mungkin dia terlalu senang, atau mungkin butuh waktu untuk menjawab! Aku akan menyusulnya dulu," kata Qiao Ho, dia juga tidak mengerti ada apa dengan Qiao Lin.
Ho Chen mengangguk pelan, dia akhirnya hanya bisa menunggu, mungkin yang dikatakan oleh Qiao Ho ada benarnya.
Qiao Ho pergi menyusul Qiao Lin kedalam, sedangkan Ho Chen dan yang lainnya kembali berbincang-bincang.
"Benarkah? Jadi Kang Yelu bertunangan dengan Wei'er? Sepertinya aku harus kesana untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua!" Kang Jian menceritakan akan perjodohan antara Kang Yelu dengan Liu Wei.
Ho Chen terkejut mendengar kabar tersebut, dia mengangguk kemudian ingin pergi kesana untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Ho Chen sudah lama tidak bertemu dengan Kang Yelu dan juga Liu Wei, pastinya mereka berdua sudah sama-sama dewasa.
Jian Heeng dan Liu Yin heran dengan sikap Ho Chen, mereka pikir, Ho Chen mungkin memiliki perasaan kepada Liu Wei. Namun nyatanya, reaksi Ho Chen terlihat biasa saja.
Teman yang begitu berharga bagi Ho Chen adalah Jiu Rui dan Liu Wei, karena mereka berdualah yang pertama kali menerima kehadiran Ho Chen, sehingga Ho Chen menganggap mereka berdua sebagai saudara.
"Waktu sudah berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku berpisah dengan mereka!" batin Ho Chen.
"Lin'er, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu pergi begitu saja?" Qiao Ho baru tiba dikamar Qiao Lin, dia melihat Qiao Lin yang duduk dikursi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kakek, maafkan atas sikapku yang kurang pantas tadi!" kata Qiao Lin dengan wajah sedih.
Qiao Ho tersenyum lembut kemudian mengusap rambut cucu kesayangannya itu. "Tidak apa-apa, tapi aku butuh penjelasan atas sikapmu tadi!" kata Qiao Ho.
Saat Ho Chen dan dirinya melepaskan pelukannya, terlintas dipikiran Qiao Lin akan Yihua, dia ingat jika Putri Kaisar tersebut juga menyukai Ho Chen.
Dia bingung apakah dirinya harus senang karena Ho Chen ternyata memiliki perasaan yang sama padanya, atau justru merasa bersalah, karena ini akan membuat perasaan Yihua terluka.
Dia tidak ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain. Yang dia inginkan, Ho Chen harus tegas dalam memilih satu diantara keduanya. dan pastinya harus dihadapan mereka berdua. Setidaknya itu yang ada di pikirannya saat ini.
__ADS_1
"Lin'er, apa kamu yakin akan apa yang kamu lakukan? Jika sampai Chen'er berubah pikiran, apa kamu siap menerimanya?" tanya Qiao Ho, dia tidak menduga jika cucunya memiliki pemikiran seperti itu. dan yang lebih tidak ia duga, ternyata Putri Kaisar juga menyukai laki-laki yang sama.
"Berat! Tapi aku rela. Setidaknya dia pernah memiliki perasaan kepadaku," kata Qiao Lin dengan wajah semakin sedih, dan matanya mulai tergenangi air mata.
"Jika itu keputusanmu baiklah! Namun ingat jangan pernah menyesali keputusanmu sendiri!" Qiao Ho menepuk pundak Qiao Lin pelan lalu kembali berkata. "Kakek bangga padamu!" kata Qiao Ho kemudian pergi meninggalkan Qiao Lin sendiri di kamarnya.
Setelah Qiao Ho sudah tidak terlihat, tangis Qiao Lin pecah, dia sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
Qiao Lin menggenggam erat bajunya dengan suara tangis yang terisak-isak. Sakit..! Ya, itu yang dirasakannya, rela mengorbankan cintanya demi kebahagian orang lain tentu akan membuat hatinya sakit.
Dia melakukan semua itu karena janjinya kepada Yihua, walau berat terasa berat, janji tetaplah janji yang harus ditepati
Qiao Ho sebenarnya belum meninggalkan kamar Qiao Lin, dia berdiri disamping jendela kamar cucunya dan mendengar tangisan Qiao Lin yang mulai mengisi ruangan kamarnya.
Hati Qiao Ho juga sakit, air matanya perlahan keluar dan membasahi pipinya. Dia tidak pernah mendengar Qiao Lin menangis, sejak kecil Qiao Lin selalu menjadi anak yang kuat, bahkan hingga saat kekacauan mulai terjadi, Qiao Lin tidak pernah tidak ikut dalam pertempuran dan memiliki gelarnya sendiri dengan prestasi ia dapatkan dengan gagah. berani.
Namun wanita tetaplah wanita, perasaannya akan lemah jika menyangkut masalah orang yang di sayanginya, wanita yang terlihat kuat, kini menangis didalam kamar, lemah terhadap perasaannya sendiri.
"Sekuat apapun dirimu, kamu tetaplah seorang wanita berhati lembut!" gumam Qiao Ho.
Qiao Ho mengusap air mata yang membasahi pipi serta jenggotnya, dia ingin kembali kedalam dan ingin memeluk cucunya untuk memenangkannya, namun dia tahu, saat ini cucunya masih ingin sendiri, dan dia pergi menuju ruangan yang sudah ada Qiao Jin dan semua pendekar termasuk Ho Chen disana.
"Ayah, dimana Lin'er? Kenapa dia tidak ikut denganmu?" Qiao Jin bertanya kepada Qiao Ho.
Qiao Ho hanya tersenyum pahit, dia tidak ingin menceritakan apa yang sedang terjadi dengan Qiao Lin. Menurutnya urusan anak muda biar diselesaikan sendiri oleh mereka, sedangkan yang tua, cukup memantaunya saja dengan memberikan bimbingan.
"Chen'er, sebaiknya kamu menemuinya kedalam, mungkin ada yang ingin dia sampaikan padamu!" kata Qiao Ho.
Ho Chen terlihat ragu, manamungkin dia masuk ke kamar seorang gadis, rasanya tidak pantas, walau sudah mendapatkan ijin langsung dari Qiao Ho, namun Ho Chen masih ragu.
__ADS_1
"Tidak perlu ragu, aku tahu kamu adalah pemuda yang baik, karena itu aku mengijinkanmu untuk menemuinya sendiri di kamarnya," Qiao Ho dapat melihat keraguan Ho Chen sehingga kembali menyuruhnya.
"Baiklah jika senior mengijinkanku, aku akan menemuinya!" kata Ho Chen kemudian keluar dan berjalan menuju ke kamar Qiao Lin.