Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Pedagang Zhu Yu


__ADS_3

Sudah dua minggu semenjak pertarungan antara Ho Chen dengan ketiga jendral iblis di hutan, saat ini mereka sedang melanjutkan perjalanan mereka.


Qiao Lin dan Jiu Rui merasa tidak nyaman dengan sikap Ho Chen yang masih terlihat dingin dan cuek kepada mereka berdua.


Setiap hari Ho Chen berlatih di Alam batin ketika malam dan berjalan tanpa bicara apapun ketika siang, hal ini juga di rasakan oleh naga putih, dia menyesal telah mengajari Ho Chen cara membuka pintu keabadian tersebut.


Yang lebih tersiksa adalah Ho Chen sendiri, dia ingin kembali memiliki perasaan rasa pertemanan dan rasa persaudaraan, namun beberapa kali dia berusaha hasilnya tetap sama, yang di rasa hanyalah rasa hambar dan sama sekali tidak bisa mengisi kembali perasaan ikatan di hatinya.


"Mau sampai kapan dia akan terus bersikap seperti itu sama kami berdua.?" Celetuk Qiao Lin dengan kesal.


Jiu Rui yang mendengar itu hanya menghela nafas, dia sendiri juga tidak mengerti kenapa Ho Chen bisa berubah sikap seperti itu kepada mereka berdua.


Ketika pikiran mereka berdua sedang sibuk memikirkan sikap Ho Chen, tiba-tiba Ho Chen menghentikan langkah naga putih yang di tungganginya.


"Ada apa Chen? Kenapa kita berhenti di sini? Bukan kah masih terlalu siang untuk istirahat disini?." Tanya Qiao Lin.


Ho Chen tidak menjawab melainkan berbalik badan kebelakang dan menatap ke arah belakang.


Ho Chen dapat merasakan akan adanya rombongan orang dari belakang mereka namun cukup jauh, Ho Chen juga dapat merasakan ada beberapa kuda di kerumunan orang tersebut.


Qiao Lin juga memandang ke arah yang Ho Chen lihat, namun dia tidak melihat apapun begitu juga dengan Jiu Rui. "Saudari Lin apa kau tau apa yang adik Chen lihat?." Tanya Jiu Rui dengan berbisik kepada Qiao Lin.


Qiao Lin hanya mengangkat pundaknya kemudian ingin kembali melanjutkan perjalanannya.


"Tunggu dulu! Kita istirahat dulu sebentar di sini, dan sepertinya kita juga akan disusul oleh rombongan orang-orang dari belakang." Kata Ho Chen.


Qiao Lin mengikuti apa yang di katakan Ho Chen, walau dia tidak melihat rombongan orang-orang yang Ho Chen maksud, namun Qiao Lin percaya karena dia sudah mengetahui jika Ho Chen bisa merasakan keberadaan orang dari jarak yang sangat jauh.


Jiu Rui hanya kebingungan namun dia tidak membantah perkataan Ho Chen, mereka berdua turun dari kudanya kemudian mengikat kuda mereka lalu duduk di bawah pohon tanpa berbicara apapun.

__ADS_1


Ho Chen sendiri juga memilih duduk di bawah namun menjaga jarak dengan mereka berdua, sedangkan naga putih memilih berbaring tidak jauh dari tempat Ho Chen berada.


Jiu Rui semakin kesal terhadap sikap Ho Chen, kemudian dia langsung menghampirinya untuk berbicara.


"Adik Chen! Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa sikap mu seperti itu kepada kami berdua? Apa kami sudah berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan mu...?." Tanya Jiu Rui yang tidak terima dengan sikap Ho Chen.


Ho Chen menatap Jiu Rui tanpa ekspresi dan menggelengkan kepala, dia bingung harus menjelaskan apa kepada Jiu Rui.


"Lalu Apa...?." Tanya lagi Jiu Rui kemudian menoleh ke arah Qiao Lin. "Ah.. aku tahu! Apa kau mengira aku memiliki hubungan khusus dengan saudari Lin sehingga kamu cemburu dan marah kepada kami?." Kata Jiu Rui dia mengira mungkin Ho Chen cemburu kepadanya karena berdekatan dengan Qiao Lin.


Ho Chen yang semula terlihat dingin kini terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri, dia tidak menduga kecurigaan Jiu Rui sampai sejauh itu. Qiao Lin juga mendengar ucapan Jiu Rui dia juga sama kagetnya dan melotot Jiu Rui yang masih menatap Ho Chen.


Jiu Rui semakin kesal karena tidak menemukan akar masalahnya, dia kembali ke tempat nya dengan mengembungkan pipinya.


Setelah beberapa saat terdengar beberapa  suara tapal kuda dari kejauhan, dan ada juga empat gerobak barang yang ditarik masing-masing oleh dua kuda.


Jumlah mereka hampir seratus orang, dan ada di antaranya seorang pedagang.


Mereka mengamati Ho Chen dengan posisi siaga, mereka takut jika Ho Chen adalah perampok atau begal yang akan menjarah harta mereka.


"Maaf Tuan! Bisakah kami lewat disini? Kami hanya pedagang kecil yang ingin pergi ke kota!." Seseorang pria setengah tua dangan tubuh gemuk berbicara kepada Ho Chen dan meminta ijin untuk melewatinya.


Ho Chen bangkit dari duduknya membuat mereka semakin waspada, namun mereka tidak ada yang mau bertindak gegabah.


"Aku bukan pemilik jalan ini, kebetulan kami lewat di sini dan beristirahat sebentar." Kata Ho Chen.


"Kalau boleh saya tahu kemanakah tujuan anda tuan?." Tanya lagi pria tersebut.


"Kami juga mau pergi ke kota." Kata Ho Chen.

__ADS_1


Pria tersebut memandangi Ho Chen lebih teliti dia tidak menemukan tanda kebohongan dari perkataan Ho Chen, kemudian memandangi Qiao Lin  dan Jiu Rui.


"Apa kalian adalah pendekar?." Tanya pria tersebut setelah melihat pedang yang di bawa oleh Qiao Lin dan Jiu Rui.


"Benar kami pendekar biasa yang sedang melakukan tugas sederhana." Kata Ho Chen dengan santai.


"Dari sekte manakah kalian berasal?." Tanya lagi pria tersebut memastikan perkataan Ho Chen.


Qiao Lin segera mengeluarkan tanda pengenal berupa lempengan giok berwarna biru dan ada gambar gunung di tengahnya sedangkan di bawahnya tertulis Gunung Es.


"Kalian dari sekte Gunung Es! Maafkan saya karena sudah mencurigai kalian. Perkenalkan nama saya Zhu Yu dan mereka adalah para pekerja dan juga pengawal sewaan untuk menjaga ke amanan barang-barang yang saya bawa." Kata Zhu Yu.


Ho Chen memperhatikan para pekerja dan juga pengawal Zhu Yu. Para pengawal tersebut rata-rata berada di tingkat Bumi puncak 1 dan ada juga yang masih berada di Tingkat jiwa puncak 4.


 Zhu Yu kembali berbicara kepada Ho Chen. "Kita menuju ke arah yang sama! Bagaimana jika Kalian bergabung dengan kami? Dan sekalian saya meminta bantuan kalian juga untuk menjaga saya dan juga orang-orang biasa yang saya bawa."


Ho Chen tidak menjawab dia hanya tersenyum tipis kepada Zhu Yu.


Zhu Yu merasa tidak enak melihat Ho Chen yang tidak menjawab tawarannya. "Tuan tidak usah khawatir. Jika tuan sekalian bersedia, setelah tiba di kota nanti saya pastikan akan memberikan konpensasi yang layak untuk tuan bertiga." Ucapnya.


Ho Chen menoleh ke arah Qiao Lin dan Jiu Rui, mereka berdua seolah-olah menyerahkan keputusan tersebut kepada Ho Chen.


"Baiklah kami akan ikut dengan kalian hingga ke kota dan setelah tiba di sana kita akan berpisah." Kata Ho Chen seolah-olah tidak tergiur akan bayaran yang akan di berikan oleh Zhu Yu.


"Baiklah Tuan kami mengerti, mari kita lanjutkan lagi perjalanannya." Kata Zhu Yu, dia senang karena mendapat tenaga tambahan yang bisa menjaga barang-barang nya.


Ho Chen memanggil naga putih kemudian berjalan lebih dulu di depan dan di ikuti oleh Qiao Lin dan Jiu Rui.


Zhu Yu kembali berjalan ke arah kota dan mengikuti Ho Chen di belakang bersama semua rombongannya.

__ADS_1


Beberpa pengawal Zhu Yu saling berbisik mereka membicarakan Ho Chen yang menurut mereka Ho Chen  terlalu percaya diri, mereka saja sejak memulai perjalan selalu di landa takut, takut akan serangan para bandit dan para rampok yang akhir-akhir ini sudah sering terlihat.


__ADS_2