Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Masa lalu Feng Ying


__ADS_3

“Tentu saja.. Semoga kitab ini bisa berguna untukmu." Kata Wang Chungying.


“Terima kasih senior, kalau begitu saya tidak akan sungkan..!" Ho Chen menyimpan kitab Raja Api ke dalam gelangnya.


“Oh iya.. Paman..! Bagaimana kabar saudari Liu Wei?." Ho Chen teringat akan Liu Wei dan segera bertanya kepada Jian Heeng.


“Aku pikir setelah ada Tuan putri di sisimu, kamu tidak akan ingat sama Wei'er lagi..!" Kata Jiu Rui menggoda.


“Walau punya teman baru, bukan berarti aku harus melupakan teman lama kan Kak?." Kata Ho Chen. Jiu Rui tertawa mendengar perkataan adik angkatnya tersebut.


Bagi Ho Chen Jiu Rui dan Liu Wei adalah teman yang paling berharga, bagaimana pun mereka berdua adalah teman pertama Ho Chen setelah keluar dari Desa Air Bukit.


“Sekarang Wei'er sudah Berada di Tingkat Bumi puncak 1. Berbeda dengan Kakak mu itu..!" Kata Jian Heeng dengan nada sedikit menyindir ke arah Jiu Rui.


“Bukan karena aku tidak bisa guru, aku hanya sedikit terlambat saja.." Jawab Jiu Rui yang merasakan sindiran dari gurunya.


“Adik.. kamu kan berangkat besok, apa aku boleh ikut? Boleh ya.. Ku mohon...!" Jiu Rui berbisik sambil memohon kepada Ho Chen.


Ho Chen diam dan berpikir sejenak, dia tidak menduga kalau Jiu Rui ingin mengikutinya.


“Lebih baik Kakak minta ijin kepada paman saja." Kata Ho Chen. Menurutnya tidak pantas bagi Ho Chen membawa Jiu Rui Tampa ijin dari gurunya.


“Kakau guru mengijinkan apa kamu mau mengajakku?." Tanya Jiu Rui sambil mengangkat sebelah alisnya.


Ho Chen hanya mengguk pelan, namun Ho Chen yakin kalau Jian Heeng tidak akan mengijinkannya.


Jiu Rui menghampiri gurunya yang sedang berdiskusi dengan Wang Chungying. “Guru.. ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Kata Jiu Rui dengan sedikit was-was.


“Apa yang ingin kamu sampaikan? Katakanlah..!" Kata Jian Heeng.


“Guru aku ingin mencari pengalaman di luar, dan aku ingin mengikuti adik pergi berpetualang besok.." kata Jiu Rui dengan sedikit gugup.

__ADS_1


Jian Heeng terdiam, sedang Wang Chungying menatap Jiu Rui. “Katakanlah alasan mu kenapa ingin mengikuti adikmu, jika kamu memiliki alasan yang tepat kemungkinan aku akan mengijinkan mu." Kata Jian Heeng.


Kini tatapan Wang Chungying mengarah ke Jian Heeng dengan keheranan. “Saudara Heeng apa yang kamu katakan? Jika Jiu Rui ikut pergi, itu hanya akan mempersulit Chen'er. Tolong pikirkanlah baik-baik..!" Kata Wang Chungying.


Menurut Wang Chungying Jiu Rui hanya akan menjadi beban bagi Ho Chen, belum lagi jika ada masalah, Ho Chen akan kesulitan bertarung karena harus bertarung sambil melindungi Jiu Rui.


“Saya tahu senior, namun kita juga butuh alasannya. Rui'er pasti juga tahu akan konsekuensinya." Jawab Jian Heeng.


“Sekarang coba jelaskan alasanmu..!" Jian Heeng kembali menatap Jiu Rui.


“Guru, selama ini perkembangan latihan ku belum ada kemajuan, mungkin jika aku ikut berpetualang keluar dan mencari banyak pengalaman bisa meningkatkan kemampuanku." Jiu Rui bernafas sejenak lalu melanjutkan kembali alasannya.


“Selama ini latihanku tidak juga meningkat kemungkinan karena pengalamanku yang kurang. Jika aku bisa ikut berpetualang dengan Adik Chen, aku bisa belajar banyak pengalaman, dan aku berjanji tidak akan menyusahkan Adik Chen." Jiu Rui menutup penjelasannya.


Jian Heeng dan Wang Chungying saling berpandangan, mereka ragu untuk memberi keputusan pada Jiu Rui.


Sedangkan Ho Chen duduk sambil menunggu keputusan Jian Heeng kepada Jiu Rui, sebenarnya Ho Chen merasa keberatan jika Jiu Rui harus ikut pergi bersamanya mengingat banyak bahaya yang akan ia lewati. Namun Ho Chen juga menginginkan seorang teman dalam perjalanannya. Ini yang membuat Ho Chen bingung.


Jiu Rui merenungkan kata-kata Wang Chungying, dia juga tidak ingin membebani Ho Chen di dalam perjalanan, namun kalau dia tidak ikut, dia merasa Ho Chen akan kesepian dalam perjalanannya.


“Chen'er bagaimana dengan keputusanmu?.“


Jian Heeng akhirnya bertanya kepada Ho Chen.


“Terserah paman saja, semua keputusan ada pada paman dan juga senior." Kata Ho Chen singkat.


Nafas Jian Heeng dan Wang Chungying sama-sama sesak, mereka berdua semakin bingung. “Kalau begitu baiklah..! Karena semua ini atas keinginanmu sendiri, aku mengijinkan. Namun dengan satu sarat, Jangan membebani adikmu."


“Guru, ini adalah keputusan ku sendiri. Terima Kasih karena guru sudah mengijinkanku." Kata Jiu Rui yang begitu senang.


Ho Chen menghela nafas, kini dia akan memiliki teman dalam perjalanan, namun juga memiliki beban. Ho Chen tidak tahu bahaya apa yang akan menanti dirinya dalam perjalanannya besok.

__ADS_1


“Kalau begitu kami pamit dulu Chen'er." Kata Wang Chungying.


“Adik, besok pagi aku akan menunggumu di pintu gerbang kota." Kata Jiu Rui dengan semangat, dia sudah tidak sabar dan ingin cepat-cepat tidur.


“Terima kasih karena paman dan senior sudah datang ke sini." Kata Ho Chen.


Mereka semua berpamitan lalu kembali ke rumah Kakek Zhi, sedangkan Ho Chen memilih kembali ke kamarnya.


***


Di tempat lain Feng Ying sedang melayang di udara, dia mencoba mencari Jendral iblis dengan melacak Energinya. Namun sudah hampir sepertengah malam Feng Ying tidak menemukan apapun.


“Hem.. Apa Ming sedang mengerjai ku?" Pikir Feng Ying karena tidak menemukan jendral iblis, bahkan Energinya pun tidak terlacak.


Feng Ying kini berpindah tempat. Dia berada di sebuah tempat yang di penuhi rumput Padang. Feng Ying mulai turun perlahan-lahan sesampainya di bawah Feng Ying segera berbaring menghadap ke langit.


“Andai dari dulu dunia bisa setenang ini, pasti akan sangat menyenangkan." Batin Feng Ying sambil mengamati cahaya bintang yang tak terhitung jumlahnya.


Perlahan-lahan Feng Ying mengingat kembali akan masa lalunya, masa ketika dia masih kecil hingga remaja.


Feng Ying adalah anak dari kalangan orang miskin. Sejak masih kecil Feng Ying selalu menunjukkan kecerdasan yang sedikit melebihi anak lain segenerasi nya.


Feng Ying tidak pernah melihat ayah kandungnya sama sekali, karena ayahnya meninggal ketika Feng Ying masih dalam kandungan.


Ibu Feng Ying meninggal karena sakit,ibu Feng Ying yang sakit tidak mampu di obati kerena keterbatasan ekonomi dan akhirnya meninggal, saat itu Feng Ying sudah berumur 13 tahun.


Setelah ibunya meninggal, Feng Ying tinggal bersama kakeknya, pekerjaan sang kakek hanya tukang pembuat topi jerami yang di anyam kemudian di jual di pasaran.


Ketika Feng Ying berumur 14 Tahun sang kakek sakit parah, Feng Ying yang mengetahui kalau kakeknya sedang sakit segera pamit ke kakeknya untuk ke pasar membeli obat.


Namun sang kakek menolak, karena penyakit nya sangat parah, setelah dua hari sakit sang kakek pun juga meninggal.

__ADS_1


__ADS_2