Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Desa Hutan Bambu


__ADS_3

***


"Saudari Lin, apa sebaiknya kita kembali ke Kota Dayuan? Kita sudah berada di sini hampir 7 bulan dan belum ada kabar sama sekali dari adik Chen, aku khawatir adik Chen sudah mencari kita dan tidak mengetahui letak desa ini." Jiu Rui berbicara sambil menatap langit malam.


Mereka tidak pernah mendengar tetang kabar kematian Ho Chen karena desa Hutan Bambu sangat jauh dari kota, di samping desanya yang kecil, di desa Hutan Bambu sangatlah minim informasi.


"Tidak, kita tunggu saja di sini, aku yakin jika Ho Chen tiba di Kota Dayuan, dia pasti akan mencari Tuan Zhu Yu untuk menanyakan keberadaan kita, bisa jadi saat ini Ho Chen sedang dalam perjalanan kesini." Ucap Qiao Lin dengan penuh keyakinan.


Jiu Rui menatap Qiao Lin kemudian tertawa kecil. "Kenapa tertawa, apa Ada yang lucu dengan perkataan ku tadi?." Tanya Qiao Lin heran.


Jiu Rui menggelengkan kepala kemudian kembali menatap langit malam. "Saudari Lin, apa kau merindukannya?." Tanya Jiu Rui membuat Qiao Lin terkejut mendengar pertanyaan yang Jiu Rui lontarkan padanya.


Qiao Lin tersenyum canggung ketika Jiu Rui bertanya demikian, jujur di dalam hatinya dia sangat merindukan Ho Chen, namun dia malu untuk mengungkapkan nya, namun Qiao Lin tidak yakin nantinya jika sudah bertemu lagi dengan Ho Chen.


Sudah sering terjadi ketika Qiao Lin bertemu dengan Ho Chen! Qiao Lin terkadang hilang kendali akan dirinya sendiri. Ingin rasanya dia menyampaikan akan perasaannya kepada Ho Chen, namun dia terlalu malu untuk mengatakannnya. Walau sangat besar perasaannya kepada Ho Chen, namun sebagai wanita, Qiao Lin masih memiliki harga diri.


Namun berbeda ceritanya jika Qiao Lin mengetahui jika dirinya memiliki saingan, Qiao Lin justru lebih agresif.


Ketika mereka berdua sedang asik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah pintu masuk desa.


"Kalian berdua keluarlah! Malam ini aku pastikan kalian akan mati."


Jiu Rui segera bangkit begitu mendengar teriakan tersebut. "Kenapa mereka tidak ada kapok-kapok nya." Ucapnya dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Mungkin mereka membawa orang yang lebih kuat untuk membalas dendam kepada kita." Kata Qiao Lin kemudian ikut bangkit.


"Mari kita temui mereka!." Kata Jiu Rui kemudian pergi menuju ke pintu masuk desa bersama Qiao Lin.


Begitu tiba di pintu masuk, mereka melihat ada sekitar 20 orang yang berumur 25 sampai 35 tahun sudah berdiri di depan pintu dengan membawa pedang di pinggang, kekuatan mereka semua rata-rata berada di Tingkat pendekar Bumi Awal 1.


"Bagus, kalian berdua  benar-benar membuatku marah, jadi hari ini aku akan melenyapkan kalian berdua, dan khusus kamu, karena kamu seorang wanita, aku akan memberikan mu kesempatan, jika kau mau ikut kami ke markas, dan menemani kami semua di sana, aku janji akan membiarkan mu tetap hidup, namun jika tidak, maka aku tidak segan-segan untuk memisahkan kepala mu dari tempatnya." Ucap salah seorang dari mereka yang terlihat sebagai pimpinan rombongan tersebut.

__ADS_1


Qiao Lin tersenyum sinis mendengar perkataan pria tersebut lalu menjawabnya. "Apa kalian sanggup untuk melakukannya? Bukankah sudah berkali-kali kalian mencoba namun hasilnya tetap sama bukan?." Kata Qiao Lin seraya mengejek.


"Benar! Lagi pula kami sudah memberi kalian kesempatan berkali-kali agar kalian berubah dan berhenti mengganggu desa ini lagi! Namun sepertinya itu tidak membuat kalian menyadarinya, apa sebaiknya kami membunuh kalian semua saja agar desa ini bisa aman?." Jiu Rui ikut bersuara.


Pria tersebut tertawa keras kalu menjawabnya. "Aku tahu kami tidak mampu mengalahkan kalian berdua, namun kali ini aku pastikan kali ini kau akan menyesali semuanya karena membiarkan namun tetap hidup, aku sudah membawa pendekar hebat untuk membunuh mu." Ucapnya dengan tersenyum lebar.


Qiao Lin memeriksa sekelilingnya namun tidak juga menemukan keberadaan pendekar lainnya selain mereka yang ada di hadapannya.


"Semuanya cepat serang mereka!." Perintah pria tersebut kemudian segera di laksanakan oleh anggotanya.


Semua warga desa hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut dari rumah mereka, tidak satupun dari para warga desa yang berani membantu.


Yang Qiao Lin dan Jiu Rui hadapi saat ini adalah para kelompok perampok kecil yang sering meminta pajak dari para warga Desa Hutan Bambu yang hanya desa terpencil.


Di desa tersebut tidak ada pendekar satupun yang tinggal, mereka hanyalah orang-orang biasa yang kehidupannya jauh dari keramaian kota, sehingga mereka jadi sasaran para kelompok pejahat dan menjadi bulan-bulanan para kelompok tersebut.


Kedatangan Qiao Lin dan Jiu Rui ke desa tersebut adalah sebuah anugerah bagi para penduduk, para kelompok perampok tersebut berkali-kali berhadapan dengan mereka berdua, namun selalu kalah karena kekuatan Qiao Lin lebih tinggi di bandingkan dengan mereka semua.


Anehnya mereka tidak merasa kapok dan justru terus menerus berusaha kembali untuk menyerang Qiao Lin dan Jiu Rui, Qiao Lin yang memiliki sifat lembut dan tidak pernah ingin membunuh selalu membiarkan mereka selamat dan tetap hidup, harapannya agar mereka sadar dan berhenti datang lagi ke desa tersebut.


Mereka semua menyerang secara bersamaan, Jiu Rui yang sudah sangat geram sudah tidak tahan lagi kemudian mencabut pedangnya. "Saudari Lin, maafkan aku, sepertinya kali ini aku akan membunuh mereka, percuma membiarkan mereka tetap hidup." Kata Jiu Rui dengan singkat kemudian maju menyambut serangan mereka dengan pedangnya.


Pedang Jiu Rui mulai di aliri energi listrik, ilmu yang ia gunakan adalah ilmu yang di ajarkan oleh Jian Heeng ketika masih berada di Tingkat Jiwa. Semenjak Jiu Rui sudah berada di Tingkat Bumi dia sudah bisa membuat perubahan energi.


Namun para lawannya juga melakukan hal yang sama yaitu mengunakan perubahan energi, suara pedang yang sama-sama di aliri energi saling berbenturan sehingga menimbulkan kilatan dan percikan api dari benturan pedang tersebut.


Jiu Rui segera merubah serangan menjadi posisi bertahan, sementara dia berencana mengumpulkan energi yang lebih banyak sebelum kembali menyerang dengan kekuatan yang lebih besar.


"Tehnik Petir - Tebasan petir"


Dengan cepat Jiu Rui melepaskan energi petir yang jauh lebih besar dari sebelumnya kemudian mengarah kepada mereka semua.

__ADS_1


Serangan energi petir tersebut berhasil membuat mereka mundur dengan tangan gemetar karena kesemutan akibat terkena percikan petir berbentuk listrik yang menjalar melewati pedang mereka.


Jiu Rui tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut kemudian kembali menyerang dengan Tehnik yang sama.


"Tehnik Petir - Tebasan Petir."


Dengan sekali ayun, pedang Jiu Rui kembali melepaskan energi petir dan energi tersebut melesat ke arah mereka.


"Tehnik Tongkat - Penahan langit."


Tiba -tiba muncul sosok lain dan menahan serangan Jiu Rui dengan mudah mengunakan Tehnik Tongkat aneh.


"Serangan mu terlalu lemah anak muda." Ucapnya sedangkan tongkat yang berputar di hadapannya masih belum berhenti menahan petir tersebut.


"Tehnik Tongkat - Putaran Keadilan."


Putaran tongkat tersebut mengembalikan petir tersebut dan menyerang balik ke Jiu Rui, dengan sigap Jiu Rui menghindar dan kembali menyerang


Qiao Lin akhirnya tidak mau tinggal diam, dia bisa merasakan Tingkat energi sosok tersebut berada di Tingkat langit, sehingga jauh dari kekuatan mereka berdua.


"Kak Rui, Kita serang secara bersamaan!." Kata Qiao Lin dan segera di setujui oleh Jiu Rui.


"Tehnik Es - Pembekuan Alam."


Qiao Lin menggunakan Tehnik Es nya dan berencana mengurangi kecepatan putaran Tongkat tersebut. Walau pun bukan Tehnik Kristal Es yang di gunakan, namun kekuatannya cukup mampu untuk melemahkan putaran tersebut ketika seluruh suhu di sekeliling nya menjadi dingin.


"Sekarang..!."


"Tehnik Es - Tebasan Pembeku."


"Tehnik Petir - Tebasan Petir."

__ADS_1


Secara bersamaan Qiao Lin dan Jiu Rui melepaskan energi masing-masing, kedua energi tersebut menyatu dan menyerang Tongkat tersebut dengan sangat kuat.


Jdaaaarr!!!


__ADS_2