Pendekar Dewa Abadi

Pendekar Dewa Abadi
Mewarisi sifat gurunya


__ADS_3

“Ketua Cui! Ketua Han. Di depan ada ketua Qiao Ho dan cucunya ingin bertemu..!."


Ketika mereka berdua masing berbincang-bincang salah seorang murid datang melapokan kedatangan Qiao Ho.


Luo Han dan Cui Peng sama-sama terkejut. “Ada keperluan apa dia kesini..?." Kata Luo Han.


Mereka berdua bergegas keluar dan menemui Qiao Ho dan Qiao Lin yang masih menunggu.


“Ketua Ho! Kenapa tidak memberi tahu kami terlebih dahulu jika mau datang ke sekte kami, supaya kami bisa menyambut kedatangan mu secara langsung..!." Kata Luo Han.


“Ah.. maafkan atas ketidak sopanan orang tua ini.! Aku terlalu terburu-buru hingga lupa memberitahukan terlebih dahulu." Kata Qiao Ho , sedangkan Qiao Lin hanya diam dia memandangi seluruh tempat itu.


“Eh ketua Ho! Apa anda tadi tidak di..!."


“Maksudmu di hadang oleh buaya kecil itu? Tentu tidak, mereka hanya diam saja tidak bergerak ketika melihatku." Kata Qiao Ho dengan santai.


Tentu saja yang di katakan Qiao Ho benar. Ketika menyebrangi danau Qiao Ho bisa melihat ratusan buaya yang keluar dan menuju ke arahnya.


Qiao Ho baru ingat jika ada orang yang tidak di undang masuk ke kawasan sekte Tiga Pulau maka buaya itulah yang akan menahannya, namun jika berniat jahat buaya itu tidak akan menahannya melainkan memangsanya.


Qiao Ho jelas tidak mau jika harus menunggu di atas air sehingga dia membekukan danau tersebut, sehingga buaya-buaya tersebut tidak bisa bergerak dan hanya melihat Qiao Ho dan Qiao Lin berjalan di atas es menuju pulau


Namun Qiao Ho tidak membekukan danau tersebut terlalu lama, setelah sampai di pulau, Qiao Ho segera mengembalikan danau tersebut seperti semula.


“Mari ketua Ho kita berbicara di dalam saja." Luo Han mengajak Qiao Ho untuk masuk.


Qiao Ho dan Qiao Lin segera mengikuti mereka berdua menuju ruangan pertemuan. “Mari silahkan duduk..!."


“Ketua Ho! Kalau boleh tau, ada keperluan apa ketua Ho datang ke sekte kami ini?." Tanya Cui Peng yang sedari tadi penasaran.

__ADS_1


“Sebenarnya aku sedang melakukan perjalanan menuju sekte Pilar Angin untuk menemui murid sesepuh Feng. Namun di perjalanan aku mendengar dari beberapa muridmu bahwa saudara Cai Tang sedang sakit terkena racun ketika bertarung dengan salah satu jagoan dari Racun Langit. Apa itu benar..?." Tanya Qiao Ho setelah menceritakan apa yang ia dengar.


“Benar Ketua Ho! Saat ini Cai Tang sedang sakit karena terkena racun, kami sudah mengobatinya, walau sekarang sudah terlihat membaik namun racun yang menyatu dengan darahnya masih belum bisa kami keluarkan.!." Kata Luo Han.


“Boleh aku memeriksanya? Mungkin saja aku bisa menyembuhkannya!." Kata Qiao Ho


Mereka berdua jelas sedikit kaget, namun segera mengijinkannya untuk memeriksa Cai Tang yang saat ini berada di kamarnya.


“Ke.. ketua Ho..!." Cai Tang langsung bangkit dari tempat tidurnya ketika menyadari kedatangan Qiao Ho bersama Cui Peng dan Luo Han.


“Saudara Tang tidak perlu bangkit, duduklah di situ, aku akan mencoba memeriksa nadi mu!." Ucap Qiao Ho.


Cai Tang sedikit terkejut mendengar Qiao Ho ingin memeriksanya. Qiao Ho memeriksa nadi di pergelangan tangan Cai Tang. Alisnya naik turun ketika memeriksanya.


“Saudara Tang! Aku akan mencoba mengeluarkan racun yang ada di darahmu. Tolong jangan menolak energi yang akan aku alirkan nanti." Kata Qiao Ho.


Cai Tang bisa merasakan energi dingin yang mengalir ke dalam tubuhnya, setelah beberapa saat Cai Tang merasakan darahnya seperti membeku bibirnya sedikit bergetar akibat menahan rasa dingin.


Tidak lama Cai Tang mengeluarkan darah yang sangat hitam dari sudut bibirnya. Qiao Ho segera menghentikan mengalirkan energinya.


Cai Tang menggigil ke dingingan di mencoba mengalirkan energinya sendiri untuk bisa menahan rasa dingin yang ia rasakan. Setelah cukup lama wajah Cai Tang terlihat lebih segar dan rasa dingin yang ia rasa sebelumnya sudah mulai menghilang.


Qiao Ho kembali memeriksa nadi Cai Tang dia menggangguk dan tersenyum. “Racun yang ada di darahmu bisa di katakan sudah bersih, namun untuk sementara kamu harus beristirahat dulu dan minumlah beberapa pil pemulihan agar kondisimu cepat stabil."


“Terima kasih banyak atas bantuan ketua Ho, sekarang saya sudah merasa lebih baikan, dan saya akan menuruti nasehat yang ketua Ho sarankan." Kata Cai Tang.


Qiao Ho mengangguk kemudian ijin keluar karena Qiao Lin sedang menunggunya di ruangan pertemuan.


“Ketua Ho! Sekali lagi kami ucapkan terima kasih, sekarang sekte kami akan selalu menjadi bagian dari sekte Gunung Es, jika ketua Ho membutuhkan sesuatu dari kami, katakan saja! Kami akan membantu semampu yang kami bisa.!." Kata Luo Han

__ADS_1


“Tidak perlu seperti itu, lagi pula saudara Tang jadi begini juga karena bertarung dengan musuh yang menjadi musuh ku juga, jadi sudah seharusnya kita saling membantu." Kata Qiao Ho.


“Kalau begitu menginaplah dulu disini, kami akan menjamu kalian berdua malam ini." Kata Cui Peng.


“Terima kasih! Namun kami harus bergegas pergi ke sekte Pilar Angin, kalian tahu sendiri jika murid sesepuh Feng juga mewarisi sifat gurunya, dia tidak akan menetap di satu tempat dan pasti akan berpindah-pindah." Kata Qiao Ho.


Cui Peng dan Luo Han juga mengetahui jika Ho Chen tidak mungkin akan menetap di sekte Pilar Angin. Mereka akhirnya hanya bisa berterima kasih kepada Qiao Ho sambil mengantarkan mereka ke ujung Darmaga kayu yang berada di tepi danau.


Qiao Ho dan Qiao Lin pergi meninggalkan sekte tersebut dengan menaiki perahu rakit, dan di antar oleh dua orang murid dari sekte Tiga Pulau tersebut.


“Saudara Luo! Bagaiman dengan orang yang kita utus untuk meminta obat kepada Shilin?." Cui Peng bertanya setelah Qiao Ho pergi, dia teringat akan orang yang di utus untuk meminta obat kepada Shilin.


“Jika mereka mendapatkan obat tersebut, kita bisa memberikannya kepada saudara Tang sebagai pembantu penyembuhan, atau kita bisa menyimpannya untuk berjaga-jaga." Ucap Luo Han. Mereka berdua kembali kedalam untuk melihat kembali kondisi Cai Tang


***


“Kakek..! Apa menurut kakek Saudara Chen masih ada di sana?." Qiao Lin bertanya setelah meninggalkan sekte Tiga pulau cukup jauh.


“Aku tidak tau.! Namun aku berharap dia masih ada di sana." Kata Qiao Ho.


Qiao Lin kembali terdiam dan mengikuti kakeknya berjalan di sampingnya. Setelah berjalan cukup lama, mereka bertemu dengan dua pemuda yang sedang duduk di bawah pohon dan ada dua kuda di sampingnya, satu berwarna Putih dan satu berwarna coklat.


***


Terima kasih karena sudah mendukung saya dalam berkarya.


saya akan mendengar semua nasehat para pembaca, dan akan menganggap komentar negatif sebagai cambukan untuk saya agar tidak mudah menyerah.


terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2