
Ho Chen tertidur sambil duduk bersila, tubuhnya bersandar di Tiang gubuk kecil tersebut.
Jiu Rui dan Qiao Lin yang duduk menatap tetesan air hujan menoleh ke Ho Chen, mereka tahu jika Ho Chen sedang tertidur.
"Biarkan dia beristirahat sejenak!." Kata Jiu Rui.
Qiao Lin mengangguk namun tatapan nya tetap mengarah ke wajah Ho Chen yang saat ini sedang tertidur. Qiao Lin tersenyum-senyum sendiri ketika melihat wajah Ho Chen, hal itu juga di sadari oleh Jiu Rui.
"Ehemm..! Jangan terlalu lama menatap wajah nya, nanti bisa bosan!." Kata Jiu Rui.
Qiao Lin menoleh ke Jiu Rui dan tersenyum tipis. Bagi Qiao Lin, menatap wajah Ho Chen setiap hari tidak akan membuatnya bosan. Walau Ho Chen tidak terlihat terlalu tampan, namun bagi Qiao Lin wajah Ho Chen memiliki daya tarik tersendiri, itu menurut Qiao Lin.
Qiao Lin menoleh ke arah Jiu Rui dan ingin berbicara padanya, namun Jiu Rui sudah terbaring dan ikut tertidur. Kini hanya Qiao Lin yang duduk seorang diri menatap air hujan yang masih belum mau reda.
***
"Tolong...! Tolong..!."
Ho Chen berjalan seorang diri di tengah hutan yang tertutup kabut hitam yang tebal. Samar-samar dia mendengar teriakan seseorang meminta tolong, dan suara tersebut tidak asing baginya.
Ho Chen terus berusaha mencari sumber suara tersebut, semakin lama suara minta tolong tersebut semakin dekat dan jelas.
Setelah berjalan cukup lama. Ho Chen melihat seorang pria yang kedua tangannya di belenggu mengunakan rantai hitam yang sangat besar.
Rantai tersebut mengikat kedua tangan serta kakinya, dan ujung rantainya menancap di batu besar yang ada di samping kiri dan kanan nya.
Pria tersebut membelakangi Ho Chen, sehingga Ho Chen tidak bisa melihat wajahnya, namun Ho Chen cukup yakin jika dia mengenal suara pria tersebut.
Ho Chen lansung berjalan dan berdiri di hadapan pria tersebut yang masih menunduk dengan kondisi lemah.
"Maaf Tuan, kalau boleh saya bertanya, ini tempat apa? Dan kenapa Tuan di belenggu seperti ini?." Tanya Ho Chen dengan mengamati ke sekitarnya.
Dia tidak menemukan siapa-siapa lagi di tempat tersebut kecuali dirinya dan pria yang masih di belenggu dengan rantai.
Seingat Ho Chen, dia berada di hutan dan berteduh di dalam gubuk kecil bersama Jiu Rui dan Qiao Lin, namun entah kenapa dirinya tiba-tiba bisa berada di tempat ini.
Pria tersebut tidak menjawab, sedang kan Ho Chen kembali menatapnya. Tidak lama pria tersebut mengangkat kepalanya dan menatap Ho Chen.
Ho Chen terkejut bukan main setelah melihat wajah pria tersebut. "Senior Wang Chungying...! Kenapa anda di ikat seperti ini? Siapa yang melakukannya?." Tanya Ho Chen namun rasa keterkejutan nya masih belum hilang.
__ADS_1
"Tolong Chen'er.! Tolong bantu aku...!." Kata Wang Chungying dengan suara lemah.
Ho Chen masih kebingungan, dia tidak tahu dimana dia berada, dan juga keberadaan Wang Chungying yang begitu menyedihkan di tempat yang ia tidak ketahui.
"Tenang lah Senior, aku akan melepaskan mu." Kata Ho Chen yang mulai mengeluarkan energi api biru di telapak tanganya, dia berencana menghancurkan besi rantai tersebut dengan api birunya.
Namun sebelum Ho Chen sempat menyentuh rantai tersebut, Wang Chungying menggelengkan kepala nya sambil mengucapkan kata-kata yang mengejutkan Ho Chen.
"Kau tidak akan bisa menyelamatkan ku. Aku juga tidak meminta mu untuk menolong ku. Namun yang aku minta tolong padamu yaitu menyelamatkan anak ku." Kata Wang Chungying.
Ho Chen menoleh kiri dan kanan dan bertanya kepada Wang Chungying. "Di mana dia, kenapa aku tidak melihatnya?." Ho Chen bertanya keberadaan Wang Dunrui, namun dia tidak melihat siapa-siapa selain dia dan Wang Chungying.
"Chen'er, tolong kabulkan lah permintaan ku ini, aku percaya hanya kamu yang dapat menolong Dunrui dan mungkin juga bisa menghentikan nya.
Selain kamu tidak ada lagi yang bisa menolongnya. Jika dia masih bisa di tolong aku ucapkan terima kasih padamu. Namun jika tidak, kau bisa membunuhnya, semua itu agar dunia terhindar dari kehancuran." Kata Wang Chungying.
Ho Chen benar-benar tidak mengerti akan perkataan Wang Chungying, dia berusaha meminta penjelasan yang lebih lagi. Namun tetap saja Wang Chungying berbicara dengan kata-kata yang membuat kepala Ho Chen terasa sakit.
"Tidak lama lagi, dunia ini akan menghadapi masalah yang sangat besar, jika kamu tidak segera menghentikannya, maka dunia akan menghadapi kehancuran nya." Kata Wang Chungying.
"Senior, siapa yang kamu maksud, apa Raja iblis? Apakah Wang Dunrui di tawan oleh mereka?." Ho Chen mencoba bertanya.
"Langit benar-benar telah memilih mu untuk menghentikan sebuah bencana besar yang akan datang, karena itu lah kau harus berusaha menyelamatkan dia, atau setidak nya menghentikannya, dan yang terbaik membunuhnya." Wang Chungying berbicara lain.
"Senior tidak perlu banyak bicara, biar aku melepaskan mu dulu, dan nanti kita akan pergi mencari saudara Dunrui bersama." Kata Ho Chen.
"Chen'er, itu pesan dan permintaan terakhir ku. Jadi tolong kabulkan permintaan ku ini!." Kata Wang Chungying.
Ho Chen sedikit ter kejut setelah Wang Chungying berkata bahwa yang tadi ia katakan adalah pesan dan permintaan terakhirnya. Namun ia tetap akan menghancurkan rantai tersebut.
Ho Chen segera menyentuh rantai tersebut dan mengalirkan Energi api biru yang sangat kuat untuk menghancurkan nya. Dia sedikit aneh setelah melihat kejadian berikut nya.
Salah satu rantai tersebut meleleh dan jatuh, namun setelah itu, muncul rantai lainnya menggantikan rantai yang meleleh tersebut.
"Apa ini sihir..?." Batin Ho Chen dan mencoba dengan cara lain.
Ketika Ho Chen ingin mencoba membekukan rantai tersebut dengan Kristal Es nya, tiba-tiba ia merasa ada yang menggoyangkan tubuhnya sekaligus mendengar suara orang yang memanggil-manggil namanya.
Ho Chen menatap Wang Chungying di hadapannya. Wang Chungying juga menatap Ho Chen dengan tatapan sedih. Ho Chen merasakan tatapan Wang Chungying penuh kesedihan dan juga penyesalan.
__ADS_1
"Sekarang aku serahkan semua nya kepadamu. Selamat Tinggal, sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang." Kata Wang Chungying.
"Senior Apa maksud mu? Dan apa yang kau...!." Ho Chen belum sempat menyelesaikan perkataannya setelah mendengar panggilan yang begitu keras di telinganya.
"Adik Chen! Bangun adik Chen..!."
"Chen! Cepat bangun Chen..!
"Chen..!."
Panggilan tersebut berhasil membangunkan Ho Chen. Ho Chen sendiri mulai membuka matanya dan melihat Jiu Rui dan Qiao Lin di depannya, namun wajah keduanya terlihat panik.
"Lin, kak Rui, kenapa kalian terlihat panik? Apa yang sedang..!." Ho Chen menghenti pertanyaanya setelah melihat gubuk tempat ia berteduh sebagian sudah hangus terbakar.
"Ada apa ini? Siapa yang membakar gubuk ini?." Tanya Ho Chen.
Qiao Lin dan Jiu Rui saling berpandangan sebelum akhirnya menjawab nya secara serempak. "Kau sendiri yang membakarnya!." Kata mereka berdua.
'Aku...! Aku yang membakarnya?." Tanya Ho Chen dengan nada tidak percaya.
Mereka berdua mengangguk kemudian menceritakan kepada Ho Chen. Ketika Ho Chen sedang tertidur lelap, Jiu Rui juga membaringkan badan dan akhirnya ikut tertidur.
Qiao Lin yang hanya sendirian duduk diam menatap air Hujan yang sangat deras. Setelah hujan mulai reda, Hari sudah terlihat mulai gelap, karena malam akan segera tiba.
Qiao Lin bangkit setelah hujan berhenti, dia berniat ingin membuat api sebagai penghangat badan nya.
Namun belum sempat ia mengumpulkan kayu kering yang berada di bawah gubuk tersebut, tiba-tuba saja kedua telapak tangan Ho Chen mengeluarkan api biru yang sangat panas.
Suhu di area gubuk menjadi lebih hangat setelah kedua telapak tangan Ho Chen mengeluarkan api biru tersebut. Namun mata Ho Chen masih tertutup dan dia terlihat masih tertidur lelap.
Setelah cukup lama, api di telapak tangan Ho Chen semakin membesar dan terasa lebih panas sehingga gubuk tersebut mulai terbakar.
Qiao Lin segera membangunkan Jiu Rui karena khawatir Jiu Rui akan ikut terbakar.
Jiu Rui yang baru tersadar dari bangunnya langsung terkejut setelah melihat gubuk yang sebagian terbakar. Dia membangunkan Ho Chen, sedangkan Qiao Lin berusaha memadamkan api dengan energi Es nya.
"Begitu, jadi yang membakar gubuk ini memang benar diriku." Kata Ho Chen setelah mendengar cerita dari Qiao Lin dan juga Jiu Rui.
***
__ADS_1
Saya tidak tahu bagaiman menurut tanggapan kalian dengan gambar ini.