
Bisa di katakan ini sebagai perang saudara. Kedua pangeran memiliki sifat yang berbeda-beda. Pangeran Zin adalah putra pertama, dia selalu berambisi ingin menjadi Raja.
Sewaktu Raja Tang Yu Ming masih hidup, pangeran Zin kerjanya hanya bermabuk-mabukan, main judi, dan sering ke rumah bordir, dia juga tidak segan-segan menghukum mati orang yang tidak sengaja menyenggol nya di jalan. Hal itu membuat Raja Tang Yu Ming tidak menyukai sifat putra pertamanya yang sangat arogan.
Berbeda dengan pangeran Li selaku putra kedua, sifatnya sangat lembut, ramah, dan sangat baik hati. Pangeran Li lebih suka bergaul dengan rakyat kecil, dan membantu mereka yang kesusahan. Karena itu Raja Tang Yu Ming menyukai sifat yang dimiliki pangeran Li.
Sebelum Raja Tang Yu Ming meninggal, dia telah mewasiatkan kepada Para menteri nya untuk mengumumkan kepada seluruh Rakyat kerajaan Luwuen bahwa penggantinya setelah meninggal adalah pangeran Li.
Hal ini menuai protes setelah mulai di umumkan nya wasiat tersebut, tepat setahun setelah meninggal nya Raja Tang Yu.
Pangeran Zin tidak terima akan pengumuman tersebut, menurutnya dia yang lebih pantas menjadi Raja, karena dia adalah putra pertama.
Berikutnya pangeran Zin mulai menghasut para pejabat penting dan juga para mentri serta para jendral perang untuk tidak mendukung adiknya menjadi Raja.
Dengan memberikan iming-iming yang menggiurkan bagi mereka yang mau mendukung pangeran Zin, sebagian petinggi dan jendral perang mulai memihak kepada pangeran Zin.
Saat itulah situasi semakin memanas. Pangeran Zin tidak segan-segan bergabung dengan perguruan aliran sesat untuk bisa mencapai tujuannya, para rakyat biasa di paksa untuk ikut berperang di pihaknya, jika menolak, maka orang tersebut beserta keluarga nya akan di bunuh.
Saat ini hanya sedikit yang mendukung dan berpihak kepada Pangeran Li, jika terus berlanjut kemungkinan Pangeran Zin yang akan memenangkan pertarungan.
Wu Jian di utus oleh Pangeran Li secara langsung untuk mengantarkan Sumbangan kepada rakyat yang di tinggal oleh suaminya pergi berperang.
Mereka adalah rakyat yang secara suka rela ingin mendukung Pangeran Li. Wu Jian tidak sendirian, dia pergi bersama tiga puluh prajurit dengan membawa tiga kereta gerobak yang berisi bahan kebutuhan hidup untuk di sumbangkan.
Seharusnya semuanya bisa berjalan dengan lancar, karena saat ini seharusnya semua prajurit sedang bertempur di Gurun.
Namun siapa sangka ternyata masih ada ratusan prajurit dari kubu Pangeran Zin yang tidak ikut berperang, mereka di pimpin oleh Ketua perguruan Bulan Merah dan Dua jendral untuk menghancurkan desa-desa yang di ketahui mendukung Pangeran Li.
__ADS_1
Wu Jian beserta ke tiga puluh prajurit terkejut setelah tiba di desa yang ingin mereka berikan sumbangan. Desa tersebut sudah habis terbakar, banyak mayat para wanita dan orang tua yang tergeletak di berbagai tempat, tidak luput juga anak-anak mau yang masih bayi sekalipun juga ikut terbunuh.
Saat mereka belum sempat bereaksi, tiba-tiba mereka di serang oleh ratusan prajurit dari berbagai arah, semuanya di bunuh oleh mereka dan hanya tersisa Wu Jian yang berhasil lolos dari serangan tersebut.
Wu Jian lari dengan menaiki kuda nya dengan sangat cepat, Wu Jian yakin mereka semua sedang bergerak ke istana, karena semua prajurit saat ini sedang pergi berperang, dan hanya tersisa sekitar 50 prajurit saja yang menjaga keamanan istana.
Ketika Wu Jian yakin jika dirinya sudah bisa lolos, tiba-tiba sebuah anak panah mengenai punggung nya, Wu Jian berusaha bertahan, karena dia harus cepat sampai ke istana, jika tidak maka semua nya mungkin akan terlambat.
Dengan susah payah Wu Jian berhasil mematahkan anak panah tersebut, namun masih tersisa ujung panah yang masih menancap di punggung nya, dia akhirnya kehabisan tenaga dan tidak sadarkan diri.
Ho Chen mengehela nafas panjang setelah selesai mendengar cerita dari Wu Jian. "Di mana-mana pasti ada kekacauan. Sepertinya sifat semua manusia di dunia manapun sama saja!." Gumam Ho Chen.
"Gawat aku hampir lupa..!." Wu Jian bangkit dari tempat duduk nya yang baru teringat akan sesuatu.
"Ada apa Tuan Wu?." Tanya Ho Chen
"Tuan Wu, apa ada yang bisa saya bantu?." Tanya Ho Chen.
Wu Jian menatap Ho Chen heran, dia sebenarnya masih penasaran, bagaimana caranya Ho Chen bisa menyembuhkan lukanya dengan sangat cepat, di tambah lagi tidak meninggalkan bekas sedikit pun di kulitnya. Namun saat ini dia harus memprioritaskan keselamatan pangeran Li, jika ada yang ingin memberikan bantuan Tentu saja dia tidak akan menolak.
"Tuan Chen, aku tidak tahu harus menjawab apa, namun jika Tuan Chen ingin membantu, aku dan juga pangeran Li akan sangat berhutang kepada Tuan!." Kata Wu Jian dengan membungkuk kan badan nya.
Ho Chen hanya tersenyum tipis, sebenarnya dia tidak mau ikut campur masalah perang saudara itu, namun begitu mendengar cerita dari Wu Jian, hati Ho Chen sedik berontak ingin ikut andil dalam bagian ini, namun ini bukan demi pangeran Li, melainkan demi rakyat yang tertindas.
"Tuan Wu, sebaiknya Tuan panggil saya Ho Chen saja atau saudara Chen." Kata Ho Chen.
"Baiklah, saya akan memanggil mu saudara Chen, jadi saudara Chen juga panggil aku saudara Wu. Mari kita berangkat dengan satu kuda." Kata Wu Jian.
__ADS_1
Ho Chen mengangguk. Wu Jian langsung naik ke atas kuda, kemudian di ikuti oleh Ho Chen. Ho Chen bisa saja terbang ke sana, namun dia lebih memilih melihat situasi terlebih dahulu. Ho Chen juga merasakan jika Wu Jian adalah pendekar, namun berada di Tingkat Jiwa Awal 3.
Wu Jian dan Ho Chen yang menaiki satu kuda bergegas menuju ke istana kerajaan, karena Pangeran Li berada di sana, sedangkan Pangeran Zin tinggal di perguruan Jurang Hitam, karena perguruan itu adalah perguruan aliran sesat terbesar dan terkuat di era ini.
Perguruan aliran lurus hanya sedikit yang memberi dukungan kepada Pangeran Li, itu pun hanya perguruan-perguruan kecil dan menengah, sehingga kekuatan Pangeran Li sangat tidak di untungkan.
Sedangkan perguruan besar aliran lurus, tidak mau ikut campur masalah politik, di tambah lagi mereka merasa tidak menguntungkan jika ikut terlibat dengan perebutan tahta yang memicu terjadinya Perang Saudara tersebut.
Dalam perjalan Wu Jian terus menjelaskan semuanya kepada Ho Chen, sebenarnya Ho Chen ingin bertanya kepada Wu Jian tentang Bunga Lotus Emas, namun menurutnya situasinya tidak tepat, sehingga Ho Chen lebih memilih menunggu sampai masalah ini selesai.
Setelah hari sudah gelap, mereka tiba di pintu gerbang istana, ada empat penjaga pintu yang berdiri di depan pintu.
"Wu Jian, apa yang terjadi, kenapa kalian hanya datang berdua?." salah satu penjaga pintu istana bertanya dengan nada heran, seingat nya, Wu Jian pergi bersama 30 prajurit, namun sekarang dia hanya datang berdua dengan seorang pemuda tampan memakai baju putih.
"Aku akan menceritakan kepada kalian nanti, namun sekarang aku harus menemui pangeran, aku minta kepada kalian ber empat untuk tidak menurunkan ke waspadaan!." Kata Wu Jian kemudian turun dan berjalan memasuki istana.
Ho Chen mengikuti Wu Jian di belakang, dia melihat ke sekelilingnya yang menurutnya istana ini tidak sebesar istana kekaisaran Yun. Bahkan Ketika dalam perjalanan, penduduk kota terlihat sangat sepi, mungkin karena situasi ini membuat mereka tidak ada yang berani keluar rumah.
sesampainya di dalam istana. Terlihat seorang Pria berumur 30 tahun dengan memakai pakai sederhana sedang duduk melamun, dia terlihat gelisah karena sedang memikirkan sesuatu. Dia adalah Pangeran Tang Li.
"Wu Jian memberi Hormat kepada Pangeran..!." Kata Wu Jian dengan berlutut dan mengepalkan kedua tangannya kedepan.
Wu Jian melirik Ho Chen yang masih berdiri dan tidak mengikuti dirinya berlutut di hadapan Pangeran. Ho Chen hanya terlihat membungkukkan badan dengan tersenyum lembut kepada Pangeran Li.
Ho Chen tidak menduga jika pria di hadapan nya ternyata seorang Pangeran, melihat cara berpakaian nya terlihat seperti masyrakat biasa. Kebanyakan seseorang yang memiliki jabatan dan kedudukan tinggi akan berpakaian serba mewah, namun Pangeran Li justru terlihat sederhana dengan status nya sebagai seorang Pangeran.
"Baik dan berpakaian sederhana, Pangeran ini sepertinya menarik!." Batin Ho Chen dengan tersenyum hangat.
__ADS_1